Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 29. Kotak Merah


__ADS_3


Pagi ini, menjadi pagi pertama bagi Cahya di mana ia tidak lagi disibukkan dengan rutinitas yang biasa ia kerjakan. Biasanya di jam-jam seperti ini ia sudah sibuk berjibaku dengan segala macam pekerjaan rumah tangga terutama memasak. Namun hari ini ia bisa bersantai ria karena pekerjaannya sudah diambil alih oleh Asih. Keberadaan Asih memang sangat berguna dan berjasa.


Dengan keberadaan Asih, membuat Cahya bisa bersolek untuk menyejukkan pandangan suaminya. Di pagi hari seperti ini, ia yang biasanya hanya mengenakan daster rumahan, kini bisa tampil lebih menawan. Cahya memakai maxi dress dengan motif floral berwarna kuning seakan menyambut pagi ini dengan penuh kebahagiaan.


"Bagaimana masakan bik Asih Non?" tanya Asih meminta pendapat sembari melihat anak-anak majikannya ini sarapan.


"Enak Bik. Masakan bik Asih sama seperti masakan Bunda. Enak!" puji Alina sembari melahap ayam goreng tepung kesukaannya.


"Iya, kalau seperti ini Malika mau tambah lagi!" timpal si bungsu yang juga tidak kalah memuji masakan bik Asih.


"Alhamdulillah kalau Non cantik ini menyukainya."


Bagi Asih tidak ada yang jauh lebih membahagiakan selain hasil pekerjaannya diapresiasi oleh majikannya. Dan di hari pertama ia bekerja di kediaman Cahya sudah mendapatkan apresiasi dari Alina dan Malika. Hal itu sungguh membuatnya bahagia.


Cahya yang tengah menyiapkan bekal makanan untuk kedua putrinya hanya bisa tergelak pelan melihat tingkah mereka. Ia bersyukur karena keberadaan Asih dan Kasim di rumahnya ini disambut baik oleh putri-putrinya.


"Itu sudah jelas Sayang, bik Asih ini jago memasak jadi masakannya pasti enak-enak semua. Bilang apa coba sama bik Asih?"


"Terima kasih ya Bik. Besok masak seperti ini lagi ya!" pinta Alina.


"Sama-sama Non Cantik. Siap, besok bik Asih masakan seperti ini lagi."


Asih kembali dengan aktivitasnya. Ia mulai mencicil mencuci beberapa peralatan dapur yang sudah tidak terpakai. Pastinya agar tidak bertumpuk.


"Oh iya Bik, pak Kasim apa sudah dibikinkan kopi? Kalau belum, dibikinkan dulu Bik, biar paginya lebih bersemangat," titah Cahya.


Setelah memasukkan bekal ke dalam totebag, ia beralih untuk membuatkan kopi untuk Awan. Meskipun sudah ada asisten rumah tangga, namun untuk hidangan kopi sang suami, tetap ia sendiri yang membuatnya.


"Sudah Bu. Pak Kasim malah sudah sejak subuh tadi ngopi."


"Syukurlah kalau begitu Bik. Pokoknya jangan sungkan ya. Anggap saja ini seperti rumah saudara bik Asih sendiri."


"Iya Bu, terima kasih."


"Aku berangkat Ay, anak-anak biarkan aku yang mengantar ke sekolah," ujar Awan sembari menuju meja makan. Ia daratkan bokongnya di kursi makan dan mulai menyeruput secangkir kopi yang sudah disajikan oleh sang istri.


"Tidak sarapan dulu Mas?"


Awan menggelengkan kepala. "Tidak Ay, sejak semalam perutku rasanya kurang enak. Jadi malas untuk sarapan. Nanti agak siang saja aku makan di dekat kantor."


"Baiklah kalau begitu Mas. Sudah minum obat kan?"


"Sudah Ay."

__ADS_1


"Oh iya Mas, sepertinya bros hijabku jatuh di dalam mobil. Apa kamu lihat Mas?"


"Tidak Ay. Aku sama sekali tidak menemukan bros. Coba kamu cari di mobil. Barangkali ketemu."


Cahya menganggukkan kepala. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas masuk ke mobil untuk mencari bros kesayangannya. Cahya terlihat begitu intens mencari-cari di mana benda warna silver itu berada. Bahkan sampai ke kolong-kolong bangku pun tidak lepas dari indera penglihatannya.


"Kok tidak ada ya? Kalau tidak jatuh di dalam mobil apa jatuh di pantai? Tapi sepertinya tidak."


Cahya sibuk bermonolog lirih sembari mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menjumpai bros itu. Ia ingat betul jika semalam, saat perjalanan pulang, bros itu masih ada di hijab yang ia kenakan.


"Bu Cahya sedang mencari apa? Kok sepertinya panik begitu? Apa perlu saya bantu Bu?"


Kasim yang baru saja selesai menyapu halaman dan mencabuti rumput sedikit keheranan saat melihat Cahya kebingungan. Ia mencoba untuk menawarkan bantuan. Barangkali majikannya ini sedang mencari sesuatu yang sangat berharga yang jatuh di dalam mobil.


"Tidak perlu Pak, terima kasih. Hanya bros kok yang jatuh. Katapun tidak ketemu juga tidak apa-apa Pak. Lebih baik Pak Kasim sarapan dulu bareng bik Asih."


"Sungguh tidak perlu bantuan Bu?" tanya Kasim sekali lagi untuk memastikan.


"Tidak Pak."


"Kalau begitu saya permisi masuk ke dalam Bu."


"Silakan Pak."


"Aduh ... Kemana ya?" lirih Cahya kembali melihat dengan lekat setiap sudut mobil.


Masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sudut mata Cahya menangkap lembaran kertas yang terjepit di dalam dashboard. Karena penasaran, ia julurkan tangannya untuk membuka dashboard.


Dahi Cahya sedikit berkerut saat melihat ada sebuah kotak warna merah yang tersimpan di sana. Sejenak mengabaikan kotak itu, ia fokus untuk melihat kertas yang sebelumnya ia lihat.


"Nota pembelian perhiasan seharga empat puluh juta? Perhiasan apa ini? Apakah yang ada di dalam kotak warna merah ini yang berisikan perhiasan seharga empat puluh juta?"


Didera oleh rasa penasaran yang semakin membuncah memenuhi rongga-rongga dada, Cahya mengambil kotak merah ini. Dengan perlahan dan jantung yang berdegup kencang, Cahya membukanya. Kedua bola matanya terbelalak sempurna dan bibirnya menganga lebar kala melihat beraneka rupa perhiasan bermatakan berlian ada di sana.


"Bukankah Mas Awan kemarin sudah membelikan perhiasan emas untukku? Lantas perhiasan ini untuk siapa? Jika aku lihat di nota pembelian, sama persis dengan hari di mana kemarin Mas Awan memberikan perhiasan itu untukku."


Cahya semakin terjebak dalam pikirannya sendiri. Namun sesaat kemudian, sebuah senyum simpul terbit di bibirnya. Ia tiba-tiba teringat akan satu hal.


"Apakah ini adalah salah satu hadiah yang Mas Awan persiapkan untuk ulang tahunku di minggu depan? Mas Awan sengaja menyimpan perhiasan ini di dalam dashboard agar tidak ketahuan olehku?"


Wajah yang sebelumnya diselimuti oleh rasa ingin tahu perihal perhiasan itu, kini wajah wanita itu justru menampakkan binar bahagia yang begitu kentara. Cahya merasa jika suaminya ini sangat romantis karena sudah mempersiapkan kado spesial buntuk ulang tahunnya jauh-jauh hari.


"Bagaimana Ay, apakah ketemu?"


Lengkingan suara Awan membuat tubuh Cahya terperanjat. Dengan gerak cepat wanita itu kembali menyimpan kotak perhiasan warna merah ke tempat semula. Ia akan berpura-pura seakan tidak pernah mengetahui perihal perhiasan seharga empat puluh juta itu.

__ADS_1


"Tidak Mas. Aku cari sampai mana-mana bahkan sampai kolong-kolong bangku pun tetap tidak ketemu. Hmmmmm... Padahal itu bros kesayanganku Mas."


"Terus bagaimana?"


"Ya sudah tidak apa-apa Mas. Kalau memang hilang berarti harus aku ikhlaskan."


"Apa perlu aku belikan lagi Ay?"


Cahya menggelengkan kepala. Perhiasan seharga empat puluh juta yang ia yakini akan menjadi kado ulang tahun untuknya, sudah cukup mengobati rasa kehilangan bros kesayangannya itu.


"Tidak perlu Mas. Aku masih punya beberapa yang modelnya hampir mirip dengan yang hilang itu kok."


"Ya sudah kalau begitu. Aku dan anak-anak berangkat ya." Awan mengalihkan pandangannya ke arah kedua putrinya. "Sayang, ayo pamit sama Bunda!"


Dua gadis kecil itu saling bergantian menjabat tangan Cahya. Diikuti oleh Cahya yang turut membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Kami berangkat dulu ya Bun!"


"Iya Sayang, hati-hati dan semangat belajar ya Nak."


"Iya Bunda."


Cahya kembali menegakkan tubuh. Ia ulurkan tangannya untuk bersalaman kepada sang suami. Seperti biasa, wanita itu selalu mengiringi kepergian Awan menjemput rezeki dengan doa-doa tulusnya.


Awan dan anak-anak sudah masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil yang dikemudikan oleh Awan melaju meninggalkan halaman.


***


Langit sudah terlihat rapi dengan pakaian formalnya. Pagi ini ia sudah sangat siap bertemu dengan Awan untuk melakukan akad jual beli di hadapan notaris. Sebelum berangkat, pria dengan lensa mata cokelat itu menyempatkan diri untuk sarapan pagi yang sebelumnya sudah ia siapkan sendiri.


Perlahan, Langit gigit potongan sandwich buatannya sedikit demi sedikit. Ia tersenyum getir. Jika dalam keadaan seperti ini rasa-rasanya sungguh menyedihkan sekali. Masak sendiri, cuci baju sendiri namun lebih sering ia lempar ke laundry, dan yang paling menyedihkan adalah tidur sendiri.


Langit menghembuskan napas perlahan. "Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Mama. Seharusnya aku sudah memikirkan untuk mencari pendamping hidup. Masa iya aku hidup sendiri seperti ini terus?"


Langit hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tiba-tiba saja bayang wajah Senja yang dulu pernah mengisi harinya kembali hadir memenuhi otaknya. Seakan syarafnya lumpuh yang membuatnya tidak bisa lupa akan cinta yang ia miliki untuk Senja. Jika seperti ini ia merasa tidak akan pernah menemukan kebahagiaan lain selain dari sang kekasih yang kini telah tiada.


"Ayo Lang, move on. Senja pasti akan bersedih jika melihatmu seperti ini. Ia pasti juga ingin melihatmu hidup bersama wanita lain!"


Bisikan hati itulah yang justru membuat Langit kian larut dalam pikirannya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2