
Dua keluarga yang sedang berkumpul di ruang tengah itu sama-sama terdiam. Mereka seakan tengah meresapi goresan tinta takdir yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Semua terangkai begitu indah dan menyisakan satu kekaguman yang tiada batas. Memang benar apa yang berada di dalam kitab suci umat muslim, bahwa sejatinya Allah SWT lah sebaik-baik pengatur jalan hidup hambaNya.
"Can, bagaimana? Setelah upaya kita untuk menjodohkan anak-anak kita sempat gagal beberapa tahun yang lalu, apakah saat ini kita perlu membuat rencana perjodohan ulang? Entah mengapa, aku memiliki keyakinan yang kuat jika Cahya lah yang menjadi jodoh putraku?"
Di sela-sela keheningan yang ada, Cakra mulai membuka sebuah obrolan yang seketika memecah kebekuan yang ada. Lelaki paruh baya itu seakan menangkap ada satu hikmah yang Allah berikan melalui jalan takdir seperti ini.
Sekilas, Candra melirik ke arah Langit. Lelaki itu sejatinya merasa bahagia saat Cakra mengutarakan niat baiknya untuk kembali menjodohkan kedua anaknya. Namun ada satu hal yang sedikit mengganjal di hati lelaki itu.
"Aku sungguh bahagia mendengar rencanamu itu Kra. Namun untuk saat ini aku serahkan semua ke anak kita masing-masing. Meskipun saat ini mereka kembali dipertemukan tapi keadaannya sudah jauh berbeda. Kamu paham kan maksudku?"
Cakra menganggukkan kepala. Ia paham betul dengan apa yang dimaksud oleh sahabatnya ini, yang tak lain adalah status yang melekat dalam diri Cahya.
Cakra menautkan pandangannya ke arah Cahya. Semua keputusan saat ini memang ada dalam diri masing-masing sang anak.
"Nak, bagaimana? Apakah kamu bersedia untuk menerima kembali perjodohan yang sempat tertunda di masa lalu?"
Cahya tersenyum sumbang. Sejatinya masih ada rasa sakit yang menghimpit di dada untuk kembali membuka lembaran hidup bersama lelaki lain. Tidak dapat ia pungkiri jika trauma itu masih terpatri dalam diri.
"Om, untuk saat ini saya masih belum bisa memutuskan apapun. Ada banyak pertimbangan yang harus saya pikiran dengan matang."
"Apa itu Nak? Coba katakan!"
"Yang pertama, perihal status saya yang sebagai seorang janda. Apa mas Langit dan keluarga besar tidak malu memiliki anggota keluarga baru seorang janda yang pernah gagal dalam mempertahankan bahtera rumah tangganya?"
Cakra tersenyum simpul. Persis dengan apa yang ada di dalam pikirannya bahwa perkara status yang membuat keluarga sahabatnya ini ragu.
"Nak, tidak ada yang keliru dengan status seorang janda. Bagi Om dan keluarga tidak mempermasalahkan perkara status. Baik perawan ataupun janda semua sama saja. Yang membedakan adalah kepribadian masing-masing. Om yakin kamu adalah wanita baik-baik karena kamu merupakan keturunan dari Candra yang memiliki akhlak yang baik pula."
"Tapi saya merasa begitu rendah diri, Om. Mas Langit pantas untuk mendapatkan istri yang jauh lebih segala-galanya dari saya."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Om langsung tanya saja ke putra Om ya?" Cakra melabuhkan netranya pada sang putrra. "Lang, bagaimana? Saat ini kamu dan juga Cahya kembali dipertemukan dalam keadaan yang menurut Allah jauh lebih baik. Apakah kamu bersedia menerima perjodohan ini dengan semua yang ada di dalam diri Cahya?"
Langit yang semenjak tadi hanya terdiam, membisu dan menundukkan kepala, perlahan ia tegakkan kepala. Ia tatap lekat wajah Cahya dari tempatnya duduk saat ini. Tidak dapat ia ingkari, jika kekagumannya pada sosok Cahya tidak pernah berhenti sejak ia melihat betapa kuat dan tangguhnya sosok wanita itu saat menghadapi perselingkuhan dan penghianatan mantan suaminya.
"Aku beri tahu satu hal kepada semua yang ada di sini. Kepada keluargaku, keluarga om Candra dan Cahya sendiri. Sejujurnya, aku mulai mengagumi sosok Cahya ketika aku mulai dipertemukan dengannya beberapa bulan yang lalu. Saat itu, aku terpaku melihat betapa tangguhnya sosok wanita yang ada di hadapanku ini. Dia begitu tenang dalam melihat penghianatan yang ada di depan mata."
"Lantas, apa maksud dari ucapanmu itu Lang?" tanya Cakra yang sudah sangat tidak sabar.
Langit menghela napas dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Sorot mata lelaki itu tidak henti tertuju pada sosok Cahya yang sedari tadi menundukkan wajah.
"Ay, aku sama sekali tidak mempermasalahkan perihal status yang ada dalam dirimu. Karena aku mengagumimu bukan karena status tapi karena kepribadianmu. Dan jika saat ini orang tua kita ingin melanjutkan kembali perjodohan yang sempat batal di masa lalu, maka dengan ini aku menyatakan bahwa aku bersedia."
Cakra tersenyum lega mendengar jawaban dari sang putra. "Nah, kamu dengar sendiri kan Nak, kalau Langit tidak mempermasalahkan perihal statusmu. Lalu, hal apa lagi yang membuat hatimu masih meragu?"
"Saya masih trauma untuk kembali membuka lembaran hidup baru, Om. Saya takut jika nantinya...."
"Ay, aku memang tidak bisa menjanjikan bahwa selalu ada pelangi di dalam bahtera rumah tangga yang nantinya kita bangun. Pasti akan ada badai yang datang menerpa untuk menguji seberapa kokoh perahu kita. Namun satu hal yang bisa aku pastikan. Bahwa badai itu tidak akan pernah aku ciptakan. Kamu paham bukan maksudku?" ucap Langit memangkas ucapan Cahya.
"A-aku paham Mas. Tapi ..."
"Kamu hanya perlu meyakini bahwa kehidupanmu di masa yang akan datang jauh lebih bahagia dari masa yang telah lalu Ay. Dan inshaAllah aku yang akan menciptakan kebahagiaan itu untukmu juga untuk kedua putrimu yang bahkan sudah aku anggap seperti putriku sendiri."
Bertambah deras kristal bening yang mengalir dari netra Cahya. Entah ekspresi seperti apa yang harus ia tampakkan kala berhadapan langsung pada jalan hidup yang serba menakjubkan ini. Ia merasa bahwa Allah Maha Baik karena secepat itu Dia mempertemukannya dengan sosok seorang lelaki yang mungkin akan menjadi pengganti sang mantan suami.
Tak sanggup menahan segala rasa bahagia yang membuncah dalam dada, akhirnya wanita itu memilih untuk memeluk tubuh sang ibu yang duduk di sampingnya.
"Benar kata nak Langit, Nak. Jangan takut untuk melangkah. Yakinlah bahwa hidupmu akan jauh lebih bahagia dari sebelumnya," ucap Bintari seraya mengusap-usap punggung Cahya dengan lembut.
"Ayah pun juga percaya bahwa nak Langit memanglah lelaki terbaik untukmu, Nak. Bahkan sejak tujuh tahun yang lalu Ayah merasakannya meskipun Ayah belum pernah bertemu secara langsung."
"Bagaimana Ay? Apakah kamu bersedia untuk menerima perjodohan ini? Jika iya, aku tidak ingin lama-lama lagi untuk menghalalkanmu. Satu bulan setelah Nawang menikah, aku akan mempersuntingmu."
__ADS_1
Cahya melepaskan pelukannya dari tubuh sang ibu. Sekilas, ia memandang wajah Bintari dan Candra secara bergantian untuk ikut memutuskan. Dan dua paruh baya itu sama-sama menganggukkan kepala.
"Untuk keputusannya, aku ingin mas Langit meminta izin secara langsung kepada kedua putriku. Jika mereka bersedia menjadikan mas Langit sebagai ayah sambung, maka aku juga bersedia dipersunting olehmu."
"Akan aku lakukan Ay. Di mana Alina dan Malika? Aku akan meminta izin secara langsung kepada mereka berdua."
"Kami mau Om... Alina dan Malika mau punya ayah Om baik."
Suara dua putri kecil dari arah ruang tamu seketika membuat orang-orang yang berada di ruang keluarga terhenyak seketika. Mereka tautkan pandangannya ke arah sumber suara dan terlihat kedua putri Cahya sudah berada di dalam gendongan Angkasa.
"Angkasa?" lirih Langit dengan ekspresi terkejut karena melihat orang kepercayaannya ada di rumah ini.
Angkasa tersenyum simpul. "Itu artinya sebentar lagi pak Langit akan menjadi adik ipar saya!"
Langit terkesiap. "A-Adik ipar?"
"Betul Pak. Cahya adalah adik saya satu-satunya, yang dulu pernah saya ceritakan ke pak Langit."
"Allahu Akbar. Maha Besar Allah yang sudah menuliskan skenario hidup yang indah seperti ini," ucap Langit tiada henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri.
.
.
.
Yuk, yuk, ramaikan karya saya yang satunya Kak.. bantu saya untuk mem viral kan tulisan saya yang ini ya...
Jangan lupa untuk berikan like, komentar, favorit, rate bintang 5, vote, gift dan share sebanyak-banyaknya... 😘😘😘😘
__ADS_1