Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 43. Mengumpulkan Bukti-Bukti


__ADS_3


"Mas Langit!"


Langit mendekat ke arah Cahya yang berada tidak jauh dari mobilnya berhenti. Lelaki itu sedikit keheranan akan apa yang dilakukan oleh Cahya di kantor milik saudaranya ini.


"Loh, mbak Cahya? Sedang apa kamu di sini Mbak?"


"Aku baru saja bertemu dengan pengacara keluarga, Mas dan sekarang aku mau pulang karena urusanku sudah selesai."


"Pengacara keluarga? Maksud kamu pak Pras?" tanya Langit memastikan.


"Iya Mas, pak Pras. Kok mas Langit kenal?"


"MashaAllah, pak Pras itu masih saudara denganku Mbak. Neneknya pak Pras merupakan kakak dari nenekku."


"MashaAllah .... Ternyata dunia itu sempit ya Mas."


Langit menyunggingkan senyum seraya tersenyum tipis. "Lantas mbak Cahya mau kemana sekarang? Kok berdiri di depan kantor seperti ini?"


"Aku mau pulang Mas, dan ini sedang memesan taksi online. Kebetulan aku tidak bawa mobil."


"Mbak, aku antarkan saja bagaimana? Daripada kamu naik taksi online?"


"Terima kasih untuk tawarannya Mas. Tapi tidak perlu. Aku naik taksi saja."


Cahya kembali sibuk dengan gawainya. Namun pada saat ia akan memesan taksi online, tiba-tiba wanita itu teringat akan satu hal. Ia urungkan kembali niatnya untuk memesan taksi.


"Oh iya Mas, aku ada perlu sedikit. Bisa kita bicara sebentar?"


Langit mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Ia mencari tempat yang pas untuk berbincang dengan wanita ini. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah sebuah sofa yang berada di dalam lobi kantor Prasetyo.


"Kita duduk di sana saja, Mbak. Kalau di sini sepertinya panas sekali."


Cahya yang sebelumnya sudah berada di area luar kantor, kini ia kembali masuk ke dalam. Ia berjalan mendahului Langit yang berada di belakang punggungnya. Dan kedua orang itu duduk di sebuah sofa yang berada di lobi kantor.


"Lalu, apa yang ingin mbak Cahya sampaikan?" tanya Langit langsung pada pokok pembahasan.

__ADS_1


"Mas, aku minta rekaman video dan juga surat-surat jual beli rumah yang beberapa waktu lalu kamu perlihatkan kepadaku."


Langit terkesiap. Dengan perkataan Cahya ini seakan menegaskan akan satu hal. "Mbak, apakah ini sebagai tanda jika kamu akan memperkarakan perselingkuhan suamimu ke jalur hukum?"


Cahya tersenyum tipis. Ia mengedikkan bahu dengan tatapan yang menerawang. "Entahlah. Aku masih belum bisa memutuskan, Mas. Yang terpenting aku kumpulkan semua bukti-bukti perselingkuhan mas Awan terlebih dahulu. Dengan begitu aku bisa sedikit lebih tenang."


Langit mengambil ponsel dari dalam saku celana. Ia kirimkan file video yang sempat ia rekam beberapa hari yang lalu ke ponsel milik Cahya.


"Sudah aku kirim, Mbak. Untuk surat jual-beli rumah, nanti bisa aku copy kan dan akan aku berikan kepadamu. Apa ada lagi yang bisa aku bantu Mbak?"


"Ada Mas. Tolong berikan shareloc alamat rumah baru yang ditinggali oleh mas Awan. Aku ingin melihat secara langsung bagaimana situasi di sana!"


"Yakin mbak Cahya mau melakukan hal itu?" tanya Langit memastikan.


"Iya Mas, aku akan ke sana hari ini juga. Aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang mereka lakukan di sana."


Langit termangu mendengar untaian kata yang keluar dari bibir wanita yang duduk di hadapannya ini. Ia juga seolah menahan sebuah gejolak antara rasa marah, kecewa, dan benci yang bercampur menjadi satu dalam dada yang kapanpun semua rasa itu dapat melumpuhkan kekuatannya.


Jantung Langit kian berdenyut nyeri kala melihat Cahya yang berusaha untuk tetap tegar di sela-sela suaranya yang terdengar bergetar. Ia sungguh tidak menyangka jika sosok seorang istri seperti Cahya yang di matanya teramat sempurna, mendapatkan sebuah ujian rumah tangga yang begitu dahsyat seperti ini.


"Aku antar saja ya Mbak karena lokasinya lumayan jauh dari sini," ucap Langit kembali menawarkan diri.


Lagi, Cahya menggelengkan kepala. Sebagai sebuah isyarat jika wanita itu menolak tawaran Langit.


"Tidak perlu Mas, biarkan aku ke sana naik taksi online saja. Lagipula, masih ada di kota yang sama bukan?"


"Memang masih dalam satu kota yang sama Mbak, tapi aku khawatir jika sampai terjadi sesuatu sama kamu. Keadaan kamu sedang kalut seperti ini, Mbak."


"Kamu tidak perlu khawatir, Mas. Aku akan baik-baik saja. Beberapa hari terakhir ini, aku sudah menumpahkan semua kesedihan, kepedihan dan rasa kecewaku di atas sajadah. Saat ini, aku sudah bisa berdiri jauh lebih tegar dengan sisa-sisa harapan yang aku punya."


Langit mencuri pandang ke arah wanita yang sedari tadi memilih untuk melihat ke arah sekeliling daripada menatap ke arahnya ini. Dalam hati ia memuji Cahya. Meskipun dalam posisi dikhianati dan dicurangi oleh suaminya pun, wanita ini tetap menjaga pandangannya dan menolak niat baik yang ia utarakan. Langit paham betul, Cahya menolak niat baiknya ini untuk menjaga dirinya dari fitnah.


Langit kembali membuka ponselnya. Ia kirim alamat rumah baru Awan ke ponsel milik Cahya.


"Itu alamatnya Mbak. Aku hanya bisa mendoakan, semoga semua permasalahanmu bisa segera terselesaikan ya Mbak. Langkah apapun yang nantinya akan kamu ambil, aku percaya jika itu semua yang terbaik untukmu."


Cahya membuka pesan dari Langit. Wanita itu kembali tersenyum simpul sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. "Terima kasih banyak untuk semua bantuanmu, Mas. Aku permisi."

__ADS_1


"Hati-hati Mbak. Semoga Allah senantiasa menjagamu."


"Aamiin."


Cahya beranjak dari posisi duduknya untuk kemudian ia ayunkan tungkai kakinya ke depan kantor Prasetyo. Langit masih menatap intens tubuh Cahya yang masih dapat ia lihat dari tempat duduknya ini. Hingga pada akhirnya Cahya masuk ke dalam taksi online yang akan membawa wanita itu ke tempat suaminya berada.


Langit menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Entah perasaan apa yang ia miliki untuk wanita yang baru bebrapa hari ia kenal itu. Namun rasa-rasanya ia ikut terluka melihat Cahya menjalani ujian hidup seperti ini sendirian. Terlebih wanita itu harus tetap tangguh untuk kedua putrinya.


Tubuh Langit sedikit terperanjat kala ponsel yang ia letakkan di samping bokongnya berdering. Ia raih ponsel miliknya ini dan terpampang nama sang mama di sana.


"Assalamualaikum Ma."


"Waalaikumsalam ... Lang...."


Dahi Langit mengernyit kala ia dengar suara isak tangis dari seberang. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang karena tidak biasanya sang mama menelpon dalam keadaan menangis seperti ini.


"Ma, ada apa? Mengapa Mama menangis seperti ini? Ada apa Ma?"


"Papa, Lang .... Papa..."


Jantung Langit semakin berdegup kencang. Firasatnya mengatakan jika ada hal buruk yang menimpa sang papa.


"Papa kenapa Ma? Tolong jangan buat Langit bingung seperti ini!"


Langit semakin dibuat kalut karena tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh sang mama. Hanya suara tangis yang semakin kencang terdengar melalui sambungan telepon ini.


"Kak, kak Langit pulang ya. Papa kecelakaan dan sekarang keadaannya kritis!"


"Apa!!!!?"


Kabar yang disampaikan oleh Nawang sudah cukup membuat tubuh Langit terperanjat seketika. Kedua bola mata lelaki itu membulat sempurna dengan degup jantung yang semakin bertalu-talu. Tangannya bergetar hingga membuat ponsel dalam genggamannya terlepas begitu saja.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.... Papa...."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2