Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 126. Viral


__ADS_3


Flashback 2 bulan yang lalu...


Satu persatu orang-orang dengan pakaian serba hitam itu mulai meninggalkan tempat pemakaman umum kala jenazah sang suami dan anaknya selesai dikebumikan. Masih dengan hati yang hancur, Mentari keluar dari makam untuk kembali ke kediamannya. Bagaimana tidak hancur? Dalam waktu bersamaan, ia kehilangan ayah, suami serta anaknya akibat kecelakaan. Begitu hancur raga serta batinnya, ia sampai meminta untuk ikut diambil nyawanya saja karena sudah tidak ada yang ia miliki di dunia ini.


"Mbak Tari?"


Sapaan dari seorang laki-laki yang berada di depan teras, membuat perhatian Tari sedikit terusik. Ia yang sedari tadi menundukkan kepala, menekuri jejak-jejak langkah kaki dari pemakaman kini kepala wanita itu mendongak. Dahinya mengernyit kala melihat siapa gerangan yang datang.


"Maaf, Anda siapa?" tanya Tari dengan sedikit kernyitan di dahi. Pasalnya ia sama sekali tidak mengenal lelaki yang bertandang di rumahnya ini.


"Saya Angkasa, pimpinan di perusahaan tempat suami Anda bekerja. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya suami, anak serta ayah Anda. Semoga semua amal ibadah mereka di terima di sisi Allah SWT."


"Terima kasih Pak. Maaf, karena saya sungguh tidak mengenal Anda."


"Tidak masalah. Saya juga ingin minta maaf tidak bisa mengantarkan ke pemakaman karena saya baru saja tiba dari Kalimantan jadi saya terlambat tidak bisa ikut ke pemakaman."


"Oh tidak apa-apa Pak. Saya malah merasa tidak enak karena Anda repot-repot datang kemari."


"Tidak sama sekali." Angkasa mengambil sebuah amplop dari dalam tas yang ia bawa. Untuk kemudian ia serahkan kepada Mentari. "Silakan diterima Mbak!"


"Ini apa ya Pak?"


"Ini dana santunan dari perusahaan untuk karyawan ataupun keluarga karyawan yang meninggal. Mohon diterima."


Mentari menggelengkan kepala seraya menolak pemberian dana santunan ini. "Tapi sepertinya saya tidak berhak menerima dana santunan ini Pak. Bukankah baru dua minggu suami saya bekerja di perusahaan Bapak?"


"Baik dua minggu, dua bulan ataupun dua tahun, semua berhak mendapatkan dana santunan ini Mbak. Jadi tolong diterima."


Meskipun sedikit ragu, namun pada akhirnya Mentari menerima juga amplop putih yang diberikan oleh atasan suaminya ini.


"Saya ucapkan terima kasih Pak."


"Sama-sama Mbak."


Angkasa sedikit meringis kala merasakan perutnya tiba-tiba melilit. Ia pun mengedarkan pandangan ke arah sekeliling untuk mencari kamar mandi.


"Bapak kenapa? Kok seperti gelisah seperti itu?"


"Saya numpang di kamar mandi Mbak."


"Oh Anda mencari kamar mandi?" Mentari membuka pintu masuk yang sedari tadi masih tertutup. Ia bahkan kelupaan untuk mempersilahkan masuk lelaki ini. "Bapak masuk aja lurus. Nanti belok kiri mentok dan kamar mandinya ada di sebelah kanan."


"Oke Mbak, saya numpang ke kamar mandi sebentar."


Angkasa dengan sedikit tergesa-gesa memasuki area dalam rumah Mentari. Sesuai dengan instruksi, akhirnya ia menemukan kamar mandi yang ia cari.


Beberapa saat kemudian, Angkasa sudah selesai dengan segala hajatnya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk kembali ke tempat Mentari berada. Namun langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat melintas di ruang tengah. Ada sebingkai foto yang membuatnya tertarik untuk melihatnya.


"Loh, ini bukannya Awan? Kok Mentari dan Awan bisa foto bersama seperti ini?"

__ADS_1


Foto yang menampakkan keadaan satu kelas di mana mereka berfoto bersama. Foto yang meskipun sedikit usang, namun Angkasa bisa dengan jelas melihat bahwa itu adalah Awan. Tak ingin dibelenggu oleh rasa penasaran, Awan bergegas kembali ke teras untuk menemui Mentari.


"Mbak, aku mau tanya sesuatu. Boleh?"


"Boleh Pak, silakan!"


Angkasa mendaratkan bokongnya di kursi rotan yang ada di depan teras. Meskipun sedari tadi tidak dipersilahkan untuk duduk oleh si pemilik rumah.


"Apa Mbak Tari ini dulu teman satu kelas Awan?" tanya Angkasa langsung pada pokok pembahasan.


Dahi Tari berkerut. "Loh kok Bapak bisa tahu?"


"Tadi aku sempat melihat bingkai foto yang ada di ruang tengah. Sepertinya itu foto satu kelas Mbak Tari dulu."


"Oh iya betul Pak. Dulu saya memang teman satu kelas Awan. Tapi sudahlah, jangan bahas soal Awan lagi. Saya mendadak kehilangan mood jika membahas soal Awan."


Meskipun sedikit terkejut dengan respon yang diberikan oleh Mentari perihal Awan. Namun Angkasa menangkap sinyal baik dari wanita ini. Ia merasa pernah ada sesuatu yang terjadi diantara Awan dan Mentari sampai membuat wanita ini seperti memiliki dendam pribadi.


"Kok bisa seperti itu Mbak?" desak Angkasa berharap Tari mau bercerita.


Mentari membuang napas sedikit kasar. Meskipun kejadian itu sudah beberapa tahun yang lalu, tapi jika mengingatnya sungguh membuat kesal sendiri.


"Dulu saya pernah dipermalukan Awan di depan teman-teman satu angkatan Pak."


"Kok bisa begitu?"


"Dulu saya itu terkenal dekil di sekolah dan jatuh hati sama Awan. Saya berusaha mengejar untuk mendapatkan cintanya. Bahkan saya sempat menulis surat cinta untuk lelaki itu. Apesnya, menjelang upacara bendera surat itu jatuh dan ditemukan oleh teman dekat Awan akhirnya terjadilah tragedi memalukan itu. Surat cinta yang saya buat dibaca oleh Awan di depan seluruh peserta upacara."


"Hahahaha... Jadi begitu? Ya Allah, kasihan sekali kamu Mbak."


"Aahhhh sudahlah Pak, tidak usah dibahas lagi. Gara-gara Bapak nih, saya jadi teringat akan kejadian memalukan itu lagi."


Angkasa menghentikan tawanya. Ia merasa memiliki kesempatan untuk bekerjasama dengan Tari.


"Jadi, Anda membenci lelaki itu?"


"Tidak hanya benci Pak. Tapi sangat-sangat benci. Saya juga belum sempat untuk membalas Awan yang super tega itu."


"Seandainya saat ini Anda dipertemukan dengan Awan lagi, apa yang ingin Anda lakukan?"


Mentari berpikir sejenak. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja muncul sesuatu di kepalanya.


"Dulu saya ditolak karena dekil. Jika saat ini saya bisa kembali dipertemukan dengan Awan, akan saya buat dia jatuh cinta dan mengejar-ngejar saya. Dan setelah itu akan saya tinggalkan."


"Pas, pas sekali!"


"Maksud Bapak pas bagaimana?"


"Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menghancurkan Awan? Anda dekati dia dan buat dia jatuh cinta kemudian Anda tinggalkan. Aku hanya minta Anda mendapatkan mobil Civic Turbo milik Awan dan setelah itu tugas Anda selesai."


Mentari sedikit terkejut dengan apa yang dibicarakan oleh Angkasa. "Memang apa yang terjadi sampai Anda menginginkan mobil itu untuk saya ambil dari Awan?"

__ADS_1


"Nanti, nanti akan aku ceritakan setelah Anda berhasil menjalankan misi itu!"


Flashback off


***


"Tumben ya sudah jam segini tapi belum ada satupun pelanggan yang datang? Padahal biasanya jam segini kita sudah tembus dua juta loh."


Desi, salah satu crew outlet resto milik Awan sedikit mengeluh karena di jam sebelas siang ini belum ada satupun pelanggan yang datang. Biasanya menjelang jam makan siang seperti ini, resto sudah ramai dengan pembeli. Baik offline maupun online.


"Iya ya, tumben banget lho resto sepi begini," ucap salah seorang crew membenarkan ucapan Desi.


Desi menautkan pandangannya ke arah Fahri ssng supervisor. Ia sedikit heran karena supervisor nya ini terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Mas, kamu kok khusyuk sekali melihat ponsel itu? Memang ada berita apa?"


"Gawat Des, gawat!"


"Gawat kenapa Ri?" timpal Awan yang tiba-tiba berada di depan crew-crew outlet yang tengah berkumpul.


Fahri mendongakkan kepala. "P-Pak Awan..."


"Aku dengar kamu bilang gawat, gawat, memang apanya yang gawat?" tanya Awan penasaran.


Fahri serba salah akan mengatakan hal ini atau tidak. Namun ia rasa perlu memberitahu Awan perihal berita yang ia baca.


"Media sosial kita ramai oleh komentar beberapa netizen Pak."


"Ramai oleh komentar beberapa netizen? Bukankah itu bagus? Kok kamu malah bilang gawat?"


"Masalahnya mereka tidak berkomentar baik Pak, tapi justru mengolok-olok resto kita."


"Mengolok-olok resto kita? Memang apa masalahnya?"


"Ini silakan Pak Awan baca sendiri." Fahri menyerahkan ponselnya ke arah Awan. "IG resto di tag di salah satu postingan yang memberitakan perihal razia lokalisasi kemarin malam Pak. Dan di postingan ini wajah Pak Awan terlihat jelas sekali!"


Awan sedikit terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Fahri. Kedua bola matanya pun membulat sempurna saat melihat foto dirinya terpampang nyata dan jelas di salah satu portal berita online.


"Mengapa bisa begini?"


"Entahlah Pak, tapi sepertinya berita ini viral di IG dan menjadi tranding topic di twitter dengan hashtag awan the ceker's ayam tukang jajan."


Tubuh Awan mendadak terasa begitu lemas. Kepalanya pun terasa begitu berat membayangkan bahwa namanya sudah hancur karena razia itu. Tiba-tiba saja tubuhnya terduduk di lantai dan ia pun berteriak kencang....


"Aku tidak mau miskiiiinnnnnnn!!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2