
"Silakan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga Pak!!"
Awan terkejut setengah mati saat rumahnya tiba-tiba didatangi oleh tiga orang debt collector dengan postur tubuh tinggi tegap. Otot-otot tubuh para debt collector ini terlihat menonjol yang seakan membuat lawan bicaranya merinding seketika. Rahang di wajahnya tegas, seakan membuat siapapun ketakutan jika berhadapan langsung dengannya.
"Apa-apaan kalian ini? Mengapa aku diusir dari rumahku sendiri? Apa hak kalian untuk mengusir ku?"
Meskipun sedikit bergidik ngeri, namun Awan berupaya untuk tampil berani di depan para debt collector ini. Ia tidak mau dianggap lemah hanya karena didatangi oleh orang-orang berperawakan tinggi dan besar seperti ini.
"Tidak usah banyak bicara! Ini adalah perintah dari atasan. Kamu harus pergi dari rumah ini!"
"Tunggu, tunggu! Aku sama sekali tidak menunggak angsuran. Bulan ini pun masih ada sisa hari sebelum pergantian bulan. Jadi apa hak kalian mengusir ku, hah?"
"Anda ini sudah bangkrut, pak Awan! Berita kebangkrutan resto yang Anda bangun juga sudah terdengar sampai ke telinga pimpinan saya, itu artinya Anda sudah tidak akan bisa lagi untuk mengangsur cicilan hutang-hutang Bapak," jelas salah satu debt collector dengan tato bergambar naga di lengan tangannya.
"Tidak bisa seperti itu! Ini sudah menyalahi perjanjian jika aku diusir dari sini. Dan ingat, batas maksimal tunggakan adalah enam bulan, jadi aku masih memiliki banyak waktu!"
Para debt collector itu saling melempar pandangan. Dari raut wajah mereka seakan mengisyaratkan jika apa yang diucapkan oleh Awan ada benarnya.
"Baiklah kalau begitu. Kami tidak akan mengusir Anda dari sini. Tapi ingat kalau sampai ada tunggakan selama enam bulan, maka Anda harus segera keluar dari rumah ini!"
"Akan aku buktikan bahwa aku bisa mengangsur cicilan setiap bulan!"
Pada akhirnya, para debt collector itu melenggang pergi meninggalkan kediaman Awan. Sedangkan Awan kembali masuk ke dalam dan ia daratkan bokongnya di sofa ruang tamu.
Ia ambil batang ber nikotin yang ada di dalam saku celananya. Ia nyalakan korek api dan mulai meghisap batang itu. Ia menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa dan ia hembuskan napas melalui mulutnya. Kini ruangan ini dihiasi oleh asap putih yang berasal dari rokok itu.
"Aku tidak bisa begini terus. Aku harus mencari pekerjaan. Kalau aku menganggur seperti ini bagaimana bisa aku membayar cicilan? Tapi pekerjaan apa yang bisa menggajiku di atas sepuluh juta setiap bulannya?"
Awan semakin frustrasi kala teringat bahwa UMR di kota Jogja tidak sampai sepuluh juta. Dalam keadaan seperti ini kepala lelaki itu seakan mau pecah karena tidak kunjung mendapatkan solusi.
"Aaarrgghhhhh ... Bodo amat, yang penting aku harus punya pekerjaan terlebih dahulu. Untuk cicilan, bisa aku pikirkan sambil jalan. Lagipula aku sudah habis-habisan setelah membayar ganti rugi ke pihak brand The Ceker's Ayam akibat pencemaran nama baik."
Awan bangkit dari posisi duduknya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk menuju jendela. Ia tatap lekat suasana jalanan kampung yang terlihat sedikit lengang.
"Aku harus keliling untuk mencari lowongan pekerjaan. Aku harus bisa mendapatkan uang untuk menyambung hidup. Jika seperti ini terus menerus, bisa-bisa aku mati perlahan karena kelaparan."
Seakan mendapatkan suplay semangat, Awan kembali bersemangat untuk mencari pekerjaan. Lelaki itu bersiap-siap untuk membersihkan diri dan segera mencari pekerjaan.
__ADS_1
****
"Pak, pak, pak stop Pak!"
Ckiiittttttt.....
"Astaga Pak! Kok mendadak seperti ini? Saya sampai kaget!"
Tukang ojek prapatan yang membawa tubuh Awan terhenyak seketika kala tiba-tiba Awan berteriak kencang sembari menepuk pundaknya. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan, namun syukurnya dapat ia kendalikan.
Awan turun dari motor. Ia serahkan helm ke arah tukang ojek ini. "Aku turun di sini saja Pak. Ini ongkosnya!"
Tukang ojek menerima uang yang diberikan oleh Awan. "Opo kiiii??? Kok cuma sepuluh ribu?"
"Lah memang berapa Pak?" tanya Awan dengan kerutan di dahi.
"Astaga ... Bapak ini naik ojek saya dari perempatan besar sana dan sampai sini jaraknya hampir lima kilo lebih, masak cuma dibayar sepuluh ribu?"
"Lalu aku harus bayar berapa Pak?"
"Lima puluh ribu!"
"Eh, eh, eh tidak mau bagaimana? Bapak ini sudah saya antar sampai sini. Bisa-bisanya tidak mau membayar!" teriak tukang ojek yang tak kalah garang pula.
Awan membuang napas sedikit kasar. Ia rogoh saku celananya. "Aku tambahin ini Pak. Uangku hanya tinggal ini satu-satunya."
"Astaga... Tampilan elit tapi ekonomi sulit. Dasar jin ifrit!" umpat si tukang ojek karena hanya ditambah sepuluh ribu oleh Awan.
Tukang ojek itu kembali menghidupkan mesin motor dan bergegas meninggalkan Awan yang masih berdiri di depan bekas kantornya dulu. Ia tatap lekat gedung yang ada di depan matanya ini.
"CLA ekspress? Sepertinya bekas kantorku dulu juga digunakan untuk kantor ekspedisi," lirih Awan saat membaca sebuah pelakat yang menempel di gedung ini.
Pandangan mata Awan tertuju pada lembaran kertas yang tertempel di depan pintu gerbang. Wajahnya berbinar terang saat membaca bahwa di kantor ini tengah membutuhkan kurir.
"Wah, sepertinya ini bisa jadi peluang bagiku untuk mendapatkan pekerjaan. Eh, tapi aku sama sekali tidak membawa CV, apa mungkin bisa diterima? Ah tapi coba dulu saja lah."
Meski sedikit ragu, namun Awan tetap melanjutkan langkah kakinya. Ia masuk ke pelataran gedung dan langsung menuju pos security.
"Selamat siang Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa security itu menyambut kedatangan Awan.
__ADS_1
"Siang Pak. Saya mau tanya, apa di sini masih ada lowongan pekerjaan?"
"Oh masih Pak. Silakan tinggalkan lamaran dan CV nya di sini. Nanti untuk kelanjutannya akan kami hubungi."
Awan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf Pak, saya tidak membawa lamaran ataupun CV."
"Loh Anda ini bagaimana, mau mendaftar kerja tapi tidak membawa surat lamaran maupun CV? Lalu cara kami menyeleksi bagaimana?"
"Tapi saya ini dulunya pemilik ekspedisi Pak, jadi saya sudah punya banyak pengalaman," timpal Awan memberikan informasi yang justru membuat si security mengernyitkan dahi.
"Anda pemilik ekspedisi?" tanya si security. "Hahahahahaha gara-gara sulit mencari pekerjaan jadi banyak manusia yang halu ya ternyata. Termasuk Anda ini."
"Loh, serius Pak, saya itu dulu punya perusahaan ekspedisi yang cukup terkenal dan di sini juga tempatnya."
"Ckkckkckk.... Semakin halu lagi nih orang. Sudah, lebih baik Bapak segera pergi dari sini. Selain orang yang punya kredibilitas di bidang ini, karyawan di sini juga harus bisa memastikan bahwa dia tidak mengalami gangguan jiwa. Saya lihat Bapak ini memiliki ganguan jiwa, jadi dilarang untuk melamar kerja di sini!"
"Eh, Anda jangan asal bicara ya Pak. Saya ini waras dan tidak memiliki gangguan jiwa!" ucap Awan memperingatkan.
Tap... Tap... Tap....
Derap langkah kaki dari balik punggung Awan terdengar mendekat.
"Pak Heri, ada apa sih ini? Aku lihat kok sepertinya ribut-ribut?"
Awan yang mendengar suara ini seketika mengerutkan dahi. Suara ini terdengar begitu familiar di telinganya.
"Ini loh Mbak, ada orang gila yang ingin melamar pekerjaan."
Kedua bola mata Awan terbelalak. Seketika ingatannya tertuju pada seseorang yang sudah sekian lama tidak ia temui. Awan membalikkan tubuh dan...
"Dina!!!!!"
Wanita yang ternyata Dina itu juga ikut terkejut. Ekspresi wajahnya sungguh sukar untuk diartikan. "Pak Awan???"
.
.
.
__ADS_1