
"Ayah pamit ya Sayang. Tiga hari ke depan, Ayah harus berada di Semarang."
Jumat pagi, Awan sudah terlihat rapi dengan pakaian semi formalnya. Seperti agenda yang sudah ditentukan, setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu ia harus berada di Semarang. Pastinya untuk menghandle semua permasalahan perusahaan yang ada di kota tersebut.
"Kalau Ayah di Semarang sampai hari Minggu, itu artinya Ayah tidak bisa mengajak Malika jalan-jalan dan liburan dong. Malika kan liburnya hanya di hari Minggu," protes si bungsu dengan sedikit raut kecewanya.
Malika tetaplah Malika. Anak kecil yang juga ingin menghabiskan hari liburnya bersama keluarga terlebih bersama sang ayah. Namun sepertinya gadis kecil itu harus menelan rasa kecewa di saat sang ayah tidak bisa menemaninya di hari libur.
Mendengar celotehan si bungsu, hati Cahya seakan kian tercubit. Entah agenda di Semarang itu benar atau tidak, namun hati wanita itu justru semakin meragu. Ia ragu, jika Awan benar-benar ada agenda di Semarang. Ataukah itu hanya sebagai alasan sang suami saja untuk bisa berduaan dengan selingkuhannya.
Awan melirik ke arah Cahya yang kebetulan wanita itu juga menatap manik mata sang suami. Sorot mata Awan seakan berbicara, meminta Cahya untuk memberikan pengertian kepada Malika, namun Cahya hanya mengedikkan bahu, sebagai isyarat jika perkara ini ia tidak ingin ikut campur. Akan ia persilahkan Awan untuk memberikan penjelasan secara langsung kepada Malika.
Awan mengusap pucuk kepala si bungsu sembari tersenyum tipis. "Sayang, jangan khawatir. Itu semua bisa Ayah atur. Kalau pekerjaan Ayah selesai sebelum hari Minggu, Ayah pasti akan pulang. Oke?"
"Ya sudahlah." Pandangan Malika bergeser untuk menatap wajah sang bunda yang berdiri tak jauh dari posisi Awan. "Bunda, besok kita main ke tempat om baik ya. Katanya, di kantor om baik kan ada es krim."
Cahya tersenyum kikuk. Ia tidak menyangka jika Malika ingat saja akan janji yang diucapkan oleh Langit beberapa waktu yang lalu. Namun, ia hanya bisa menganggukkan kepala untuk menyenangkan hati sang putri.
"Coba lihat besok ya Nak."
Dahi Awan berkerut dalam kala mendengar obrolan anak dan istrinya ini. "Om baik? Om baik siapa Ay? Kok mereka bisa kenal sama om baik?"
"Oh, om baik yang dimaksud Malika ini adalah lelaki yang beberapa waktu yang lalu membantu memperbaiki mesin mobil ku ketika mogok di jalan Mas. Dia seorang pengusaha properti namanya La..."
Ucapan Cahya terpangkas kala dering ponsel Awan mulai berdering memekakkan telinga. Cahya melirik ke arah ponsel yang berdering itu, lagi-lagi ponsel baru milik Awan yang berbunyi.
"Kok tidak diangkat Mas?" tanya Cahya sedikit penasaran karena sang suami memilih untuk tidak mengangkat telepon itu.
Awan nampak gugup seraya menggeser warna merah di ponselnya dan buru-buru kembali ia masukkan ke dalam saku celana. "Ah, ini hanya telepon dari pimpinan Semarang, Ay. Mungkin dia memintaku untuk segera berangkat ke sana."
"Oh kalau begitu segera berangkat saja Mas. Kasihan kalau pimpinan Semarang terlalu lama menunggumu," usul Cahya dengan perasaan yang dipenuhi oleh tanda tanya kala melihat rona kegugupan terpancar di wajah sang suami.
"Baiklah kalau begitu Ay. Aku berangkat ya."
"Oke Mas, hati-hati di jalan." Cahya meraih telapak tangan Awan untuk kemudian ia kecup dengan intens. "Aku harap kamu tidak lupa di hari Minggu besok ada apa Mas."
"Hari Minggu?"
Cahya menganggukkan kepala. "Hehem. Kamu tidak lupa kan jika hari Minggu besok adalah hari ulang tahunku?"
"Hahahaha jelas aku tidak akan lupa Ay. Karena hari ulang tahunmu itu berdekatan dengan hari ulang tahun perusahaan. Kalau tidak keliru hanya berjarak dua minggu saja."
Cahya tersenyum simpul. Ia juga baru ingat jika di bulan ini perusahaan yang didirikan oleh Awan genap berusia lima tahun.
"Syukurlah kalau kamu ingat Mas. Aku harap kamu bisa pulang untuk bersama-sama merayakannya denganku."
__ADS_1
"Tenang Ay. Aku sudah menyiapkan kado spesial untukmu." Awan mencium kening Cahya dengan intens sembari membelai lembut pipi istrinya ini. "Aku berangkat ya. Kamu hati-hati di rumah. Jika ingin jalan-jalan keluar, minta diantar oleh pak Kasim."
"Baik Mas. Kamu hati-hati di jalan."
Awan melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Lambat laun, mobil hitam yang dikemudikan oleh Awan itu tak lagi nampak di mata Cahya.
Mas Awan sudah menyiapkan kado spesial untukku? Apakah yang ia maksud rumah, mobil dan berlian itu?
***
"Yeaay .... Kita sampai!"
Alina dan Malika berteriak kegirangan saat mobil yang dikemudikan oleh sang bunda masuk ke area parkiran kantor milik Langit. Sedari tadi kedua putri Cahya itu merengek meminta untuk diantarkan ke kantor Langit untuk menagih janji es krim yang sudah dijanjikan oleh lelaki itu.
Cahya merasa ini juga waktu yang tepat untuk meminta maaf kepada Langit. Ia merasa bersalah karena tempo hari sempat tersinggung dengan perkataan Langit perihal suaminya. Padahal, apa yang diucapkan oleh lelaki itu sedikit banyak ada benarnya.
"Janji tidak boleh nakal ya Sayang. Ingat, jangan teriak-teriak. Nanti mengganggu orang-orang yang sedang bekerja di kantor om Langit."
Turun dari mobil, Cahya tiada henti memberikan wejangan untuk kedua putrinya ini. Ia hanya khawatir jika sampai celotehan anak-anaknya ini mengganggu karyawan yang berada di kantor Langit.
"Janji Bunda. Alina tidak akan nakal dan tidak akan teriak-teriak!" janji Alina kepada sang bunda.
"Ya sudah, ayo kita masuk."
Cahya dan kedua putrinya berjalan memasuki lobi. Seperti biasa, kedatangan mereka sudah disambut ramah oleh security yang berjaga di kantor.
"Mohon maaf Bu, pak Langit sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang survei lokasi dengan client."
"Yahhh ... Om baik tidak ada di kantor Kak, bagaimana ini?" cicit Malika sedikit kecewa mendengar informasi dari pak security.
"Pak Security!" panggil Alina sembari menepuk-nepuk lengan tangan security.
"Iya Non cantik?"
"Pak Security bisa telepon om baik tidak? Beritahu om baik kalau kami datang kemari," pinta Alina kepada security ini.
"Eh, jangan seperti itu Nak. Itu tidak sopan. Om Langit pasti sedang sibuk di luar," timpal Cahya memberikan pemahaman. Ia sungguh merasa tidak enak hati karena putrinya ini terkesan memaksakan kehendak. "Maafkan putri saya ya Pak."
"Tidak apa-apa Bu. Ada benarnya yang diucapkan oleh Nona cantik ini, biar saya hubungi pak Langit."
"Eh tapi Pak...?"
Belum sempat Cahya menyanggah ucapan security, lelaki itu justru lebih dulu mengayunkan tungkai kakinya untuk ke bagian customer service. Ia meminta bagian CS untuk menghubungi Langit.
Cahya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Jika sudah memiliki keinginan, kedua putrinya ini berusaha betul untuk mewujudkannya. Ia pun mengajak kedua putrinya untuk duduk di sofa panjang yang berada di depan lobi.
"Bu Cahya!"
__ADS_1
Baru sejenak Cahya mendaratkan bokongnya, security itu sudah memanggil namanya. Ia kembali berdiri. "Iya Pak, bagaimana?"
"Pak Langit masih ada di lokasi yang nantinya akan dijadikan proyek perumahan. Mungkin sekitar satu jam lagi beliau tiba di kantor. Bu Cahya dan nona-nona cantik ini diminta pak Langit untuk menunggu di ruangannya."
"Oh seperti itu ya Pak? Tapi mungkin ada baiknya kami pulang saja Pak. Tidak enak jika kami menunggu di ruangan pak Langit."
"Kita tunggu om baik saja Bunda. Pulangnya nanti kalau sudah bertemu dengan om baik," timpal Malika yang seakan tidak rela jika harus pulang sebelum bertemu dengan Langit.
"Tapi Sayang...."
"Sudah Bu, tidak apa-apa. Ini semua juga atas izin dari pak Langit. Jadi, bu Cahya tidak perlu merasa sungkan," pangkas pak security yang membuat Cahya mau tak mau menuruti keinginan anak-anaknya ini.
Pada akhirnya, Cahya berjalan mengekor di belakang punggung security. Ia merasa sedikit tidak enak hati saat beberapa karyawan di kantor Langit yang berpapasan dengannya, menatap dirinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Mereka seakan bertanya-tanya tentang siapa dirinya yang bisa dengan bebas keluar masuk ruangan Langit.
"Waaaa ... Lihat Dek, itu ada freezer. Itu pasti es krim yang dijanjikan oleh om baik!"
Alina berteriak lantang kala netranya menangkap bayangan benda berbentuk kotak berwarna putih yang berada di sudut ruangan. Gadis kecil itu yakin jika di dalam sana ada es krim yang menjadi favoritnya.
"Ayo kita serbu, Kak!" teriak Malika pula tidak kalah heboh seperti sang kakak.
"Kakak, Adek ... Tidak boleh seperti itu, Sayang. Om Langit belum mempersilakan kalian untuk mengambil es krim itu loh ya. Jadi, kalian tidak boleh asal ambil. Itu namanya tidak sopan," tutur Cahya yang sontak membuat kedua gadis kecil itu mengurungkan niatnya.
"Yaahhh ... Padahal kami ingin sekali menikmati es krim itu Bunda," cicit Alina dengan wajah memelas.
"Tunggu sampai om Langit datang ya Sayang. Sekarang kita duduk manis sembari menunggu om Langit terlebih dahulu."
Wajah kedua putri Cahya itu nampak sedikit kecewa. Hal itu terlihat jelas dari raut wajah mereka yang sedikit muram.
Pak Security terkekeh geli melihat ekspresi anak-anak ini. Wajah-wajah kesal yang bercampur kecewa itu justru membuat mereka terlihat semakin menggemaskan.
"Nona-nona cantik ini boleh langsung menikmati es krim itu kok. Tadi om Langit sudah mempersilakan dan memberikan izin, jadi tidak perlu menunggu om Langit terlebih dahulu!"
"Benar begitu pak Security?" tanya Malika yang raut wajahnya sudah mulai berbinar.
"Tentu. Ayo silakan diambil!"
"Hore!!!!"
Melihat wajah-wajah sang putri yang berbinar terang membuat hati Cahya menghangat. Ternyata dengan hal-hal sederhana seperti ini, sudah bisa membuat kedua putrinya ini bahagia tiada terkira. Ia pun memilih duduk di sebuah sofa yang berada di ruangan Langit. Sembari menunggu kedatangan lelaki yang baru beberapa hari ia kenal itu.
.
.
.
Cahya dan Langit bakal bertemu lagi nih... Kira-kira Langit bakal membongkar semuanya gak ya??.... Tunggu episode selanjutnya ya Kak... 🤗🤗
__ADS_1