
"Bagaimana Han? Apa kamu menyukainya?"
Awan, Langit, Bima dan Mega berjalan mengelilingi area dalam rumah. Mereka memasuki satu per satu ruangan yang ada di dalam rumah ini. Mulai dari lantai satu hingga lantai dua.
Budget delapan ratus juta yang sudah dipersiapkan oleh Awan ternyata masih kurang, karena harga rumah ini beserta full furnished senilai satu koma lima milyar. Alhasil, ia harus menggunakan uang perusahaan lagi untuk menutupi kekurangannya.
Mega bergelayut manja di tubuh Awan. Sedari tadi sepasang kekasih yang tidak halal itu selalu menampakkan kemesraannya di depan Langit dan juga Bima. Awan memeluk pinggang Mega dengan posesif seakan tidak ingin sedetikpun jauh darinya.
"Iya Mas, aku suka sekali dengan rumah ini. Terima kasih banyak ya Mas."
"Sama-sama Han. Semua akan aku berikan untukmu," tutur Awan yang membuat Mega semakin cinta.
"Aaaaahhhh ... Kalau seperti ini aku semakin cinta sama kamu Mas," tutur Mega dengan nada yang manja.
Langit yang berdiri di hadapan Mega dan Awan hanya bisa menatap sinis keduanya. Sungguh, sikap yang mereka perlihatkan persis seperti anak-anak ABG yang sedang kasmaran. Sungguh sangat berlebihan.
Awan menautkan pandangannya ke arah Langit. Dahinya sedikit mengernyit, merasa heran karena sedari tadi pengusaha properti ini lebih banyak diam.
"Pak Langit, ada apa? Saya lihat Anda sejak tadi kok lebih banyak diam?"
Langit hanya tersenyum tipis. Sejak melihat Awan datang kemari dengan wanita simpanannya, membuat Langit kesulitan untuk bersikap. Ia yang sebelumnya begitu mengagumi Awan sebagai sosok suami yang manis terhadap istri, kini semua seakan berbalik seratus delapan puluh derajat.
Langit benar-benar merutuki perbuatan Awan ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit itu harus ditanggung oleh istri dan anak-anak Awan jika sampai mengetahui jika sosok suami dan ayah kebanggaan mereka berselingkuh.
"Tidak apa-apa Pak. Mungkin saya hanya sedikit lelah karena beberapa hari ini saya disibukkan oleh beberapa pekerjaan." Langit kembali menyimpan beberapa berkas ke dalam tas. Ia bermaksud untuk pamitan. "Baiklah kalau begitu saya dan Bima pamit terlebih dahulu Pak. Untuk sertifikat rumah inshaAllah satu minggu lagi jadi."
"Baik Pak Langit. Ingat ya Pak, di sertifikat nanti ditulis nama istri saya, bukan nama saya," ucap Awan mengingatkan.
"Baik Pak, akan kami ingat." Langit menautkan pandangannya ke arah Bima. "Ayo Bim kita pulang."
"Oke Lang!"
Langit dan Bima berjalan meninggalkan Mega dan juga Awan yang masih setia berdiri di tempatnya. Bagi Langit sendiri, ingin rasanya ia cepat-cepat pergi dari rumah ini.
"Lang, ada apa denganmu? Seperti yang dikatakan oleh Pak Awan, kamu lebih banyak diam sejak tadi. Kamu sedang tidak enak badan?"
Tiba di dalam mobil, Bima tidak bisa untuk tidak segera menanyakan keadaan sahabatnya ini. Langit memang terlihat berbeda semenjak bertemu dengan client nya itu. Lelaki itu nampak lebih irit bicara.
__ADS_1
"Ayo jalan Bim. Aku ingin segera pergi dari tempat ini."
"Ada apa sih Lang? Sikap kamu ini sungguh sangat berbeda dari saat kita berangkat tadi. Apa kamu melihat penampakan? Atau apa?"
Langit hanya hening, tak menanggapi. Ia masih larut dalam pikirannya sendiri. Bima hanya bisa membuang napas kasar. Ia turuti kemauan Langit untuk segera pergi. Karena jika dalam situasi seperti ini, berapa kalipun ia bertanya, pasti tidak akan pernah dijawab oleh Langit. Lelaki itu sungguh sangat pandai menyimpan apa yang mengganjal dalam hati.
***
"Astaga, pak Awan memakai uang perusahaan lagi? Sebenarnya untuk apa uang sebanyak itu?"
Dina hanya bisa bertanya-tanya dalam hati setelah Awan kembali menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadinya. Meskipun Awan adalah pemilik perusahaan ekspedisi ini, namun jika terus menerus ia gunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi, Dina hanya takut jika sampai perusahaan ini kolaps dan tidak memiliki uang cadangan sama sekali. Namun, ia juga tidak bisa berbuat banyak karena Awan lah yang memegang kekuasaan tertinggi.
"Dina!"
Dina yang tengah terdiam membisu di depan laptop itu sedikit terkejut ketika terdengar suara seseorang yang mulai merembet masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia menoleh ke arah sumber suara dan ternyata istri dari pemilik perusahaan yang datang.
"Bu Cahya?"
Dina bangkit dari posisi duduknya. Tubuh finance di ekspedisi milik Awan ini sedikit membungkuk sebagai bentuk rasa hormatnya.
Cahya tersenyum tipis seraya mendekat ke arah Dina. Ia daratkan bokongnya di sebuah kursi yang ada di sana. Ia letakkan totebag berisikan rantang makananan yang ia bawakan khusus untuk sang suami.
"Bagaimana kabarmu Din? Rasa-rasanya aku sudah lama tidak berkunjung kemari. Aman semua kan?"
"Alhamdulillah aku juga baik Din. Oh iya, mas Awan kemana? Kok tidak ada di ruang kerjanya? Apakah dia sedang ada janji bertemu dengan client?"
Dina sedikit mengerutkan kening. "Pak Awan sejak pagi tadi belum tiba di kantor Bu. Saya sama sekali belum bertemu dengan beliau."
"Belum tiba di kantor? Memang hari ini mas Awan ada janji bertemu dengan relasi di luar?"
"Kalau itu saya kurang paham Bu. Karena biasanya relasi langsung menghubungi dan membuat janji dengan pak Awan sendiri."
Cahya mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Dina. Benar saja Dina tidak mengetahui agenda sang suami karena dia hanya sebagai seorang finance di kantor ini. Cahya mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas. Ia mencoba menghubungi sang suami.
Cahya hanya bisa menghembuskan napas berat ketika ponsel milik Awan tidak aktif sama sekali. Niat hati datang ke kantor sang suami untuk mengirim makan siang ternyata harus pupus ketika Awan tidak berada di tempat dan tidak tahu di mana keberadaan suaminya itu.
"Tidak aktif Din." Cahya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Sebenarnya aku kemari untuk membawakan bekal makan siang untuk mas Awan tapi ternyata dia tidak ada di tempat. Atau aku titipkan saja rantang ini ke kamu Din?"
"Eh jangan Bu. Saya takutnya kalau sampai sore Pak Awan bertemu dengan relasi. Bisa jadi makanan ini basi."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan rantang ini Din? Atau kamu makan saja, daripda mubadzir?"
"Maaf Bu, di jam makan siang, saya sudah ada janji dengan kekasih saya untuk makan di luar. Jadi saya tidak bisa memakan makanan yang Bu Cahya bawa."
Wajah Cahya mendadak pias. "Baiklah kalau begitu, aku bawa pulang lagi saja makanan ini." Cahya bangkit dari posisi duduknya bermaksud untuk pulang. "Aku pulang dulu ya Din."
"Baik Bu, hati-hati di jalan."
***
Cahya mengarahkan laju mobilnya ke sebuah supermarket yang berada tak begitu jauh dari kantor Awan. Ia ingat jika stok dapur sudah banyak yang kosong. Oleh karena hal itu ia bermaksud untuk berbelanja terlebih dahulu sebelum menjemput kedua putrinya. Setengah jam berada di dalam supermarket, sudah ada beberapa barang yang menghiasi keranjang belanja yang Cahya dorong.
"Loh mbak Cahya?"
Cahya yang tengah memilih sayuran segar sedikit dibuat terkejut kala mendengar seseorang menyapa namanya. Gegas, wanita itu mendongakkan wajahnya.
"Mas Langit? Sedang apa Mas?"
"Sedang belanja sama seperti mbak Cahya!"
Cahya melirik ke arah keranjang belanja yang di bawa oleh Langit. Barang-barang yang berada di dalam keranjang itu hampir sama dengan apa yang ada di dalam keranjang miliknya.
"Kok belanja sendiri Mas?"
Langit hanya bisa tergelak pelan. Bagaimana tidak belanja sendiri jika selama ini dia juga hidup sendiri.
"Iya Mbak, kebetulan saya tinggal sendirian jadi apa-apa harus dilakukan sendiri. Termasuk berbelanja keperluan dapur seperti ini."
"MashaAllah ...," puji Cahya. "Mengapa tidak memakai jasa asisten rumah tangga saja Mas?"
"Masih belum perlu Mbak. Untuk sekedar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah masih bisa saya handle sendiri. Oh iya, apa mbak Cahya sedang sibuk? Saya ingin berbincang sebentar dengan mbak Cahya."
Cahya melirik penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan. "Masih ada satu jam lagi sebelum menjemput anak-anak Mas."
"Baiklah, setelah ini kita ngobrol di kedai teh yang ada di seberang jalan ini ya Mbak."
"Baik Mas."
.
__ADS_1
.
.