Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 25. Mega dan Kehidupannya


__ADS_3


Mega berjalan menyusuri jalanan setapak yang terlihat becek sembari menenteng alas kakinya. Ia tidak ingin jika sepatu branded yang baru saja dibelikan oleh Awan kotor terkena tanah merah yang sudah bercampur dengan air. Ia pun rela bertelanjang kaki demi sepatu mahal itu.


Inilah salah satu alasan mengapa Mega tidak mau untuk berlama-lama berada di tanah kelahirannya. Mengingat kampung halamannya ini sangat minim fasilitas. Jangankan fasilitas seperti mall, minimarket, butik dan lain sebagainya, jalanan di kampung halamannya ini saja seperti tidak pernah terjamah oleh bantuan dari pemerintah.


Sejatinya, Mega merupakan salah satu anak yang berprestasi saat ia berada di bangku sekolah. Dulu sewaktu bersekolah, ia selalu mendapatkan peringkat sehingga ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di ibu kota. Kehidupannya di ibu kota lah yang perlahan juga mengubah lifestyle Mega. Wanita itu selalu ingin terlihat wah di mata orang lain. Alhasil kedua orang tuanya lah yang jungkir balik memenuhi permintaan sang anak yang hedonis itu.


"Kamu Mega kan?" sapa salah satu tetangga yang kebetulan berpapasan dengan wanita itu.


Mega menatap sinis wajah tetangga yang berpapasan dengannya itu. "Iya, aku Mega. Ada apa?"


"Wah, wah, wah, sudah lama tidak bertemu ternyata kamu terlihat jauh lebih cantik. Jauh berbeda dari saat kamu masih tinggal di sini," puji si tetangga yang dilihat dari parasnya seumuran dengan Mega.


Mega membuka kacamata hitamnya. Ia sematkan di atas kepala. Angin sore yang berhembus sedikit kencang pun juga turut membuat rambut wanita itu bergerak-gerak seiring dengan hembusannya.


"Jelaslah, secara aku tinggal di kota besar bukan di tempat udik seperti ini. Sudah, aku duluan. Aku tidak punya banyak waktu untuk menanggapi kekagumanmu itu."


Tanpa banyak kata lagi, Mega melenggang pergi meninggalkan si tetangga yang masih berdiri dengan mode terperangah. Tetangga Mega itupun hanya bisa mengelus dada melihat keangkuhan dan kesombongan Mega ini.


"Sombong sekali dia. Memang berapa gajinya di kota? Pakaian dan tasnya pun juga terlihat mahal-mahal."


Tetangga Mega itu hanya bisa bermonolog lirih. Ternyata sama saja. Siapa saja yang telah berhasil merubah nasib, maka kesombongan lah yang semakin mereka perlihatkan.


Sedangkan Mega, wanita itu masih berupaya keras untuk bisa segera tiba di rumahnya. Masih bergelut dengan tanah becek dan juga rintik gerimis kecil. Berkali-kali ia terdengar mengumpat karena sudah tidak tahan lagi dengan kondisi alam kampung halamannya ini.


"Hah .... Tiba juga di gubug reot ini!" Mega menggedor-gedor pitu yang kayunya sudah terlihat begitu lapuk. "Pak, Bu, buka pintunya! Aku pulang."


Suara alas kaki yang beradu dengan lantai yang masih berbalut semen kasar sayup-sayup terdengar mendekat ke arah pintu. Pintu pun terbuka dan...


"Mega!"

__ADS_1


Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah memutih memekik penuh keterkejutan saat melihat siapa gerangan yang mengetuk pintu. Tanpa banyak kata lagi, wanita itu memeluk tubuh Mega.


"Iihhhh... Lepaskan Bu. Aku tidak bisa bernapas!"


Mega sedikit meronta untuk bisa terlepas dari pelukan wanita paruh baya ini. Bahkan ia sampai mengibaskan-ibaskan pakaiannya seakan tidak ingin jika ada kotoran yang menempel setelah dipeluk oleh wanita ini.


Dialah Lastri, yang tak lain adalah ibu dari Mega. Ia sedikit dibuat kebingungan karena perubahan sikap putrinya ini. Namun semua seakan tidak menjadi masalah karena pada akhirnya, rasa rindu pada Mega terbayar tuntas.


"Ayo Nak, masuk. Entah mengapa hari ini Ibu memasak sayur daun kelor dan ikan asin yang selalu menjadi kesukaanmu. Ibu seperti memiliki firasat jika kamu akan pulang."


"Apa Bu? Ikan asin dan sayur daun kelor?" Wajah Mega menunjukkan rona bergidik ngeri. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Makanan apa itu Bu?"


"Bukankah itu makanan kesukaanmu Nak?"


"Iuuuhhhh ... Semenjak aku kuliah dan bekerja di Jakarta dan sekarang di pindah ke Jogja, aku tidak lagi kenal makanan kampung seperti itu Bu."


"Lantas, kamu mau makan apa Nak? Biar Ibu siapkan!"


Lastri nampak sejenak memikirkan sesuatu. Akhirnya, pikirannya tertuju pada ayam jago yang menjadi satu-satunya peliharaannya bersama sang suami. Sebelumnya ia berniat akan menyem*belih ayam itu ketika lebaran tiba. Namun sepertinya hari ini ia harus merelakannya demi sang putri tercinta.


"Ibu masakkan untukmu Nak. Tunggu sebentar. Kamu bersih-bersih badan terlebih dahulu."


Lastri mengayunkan tungkai kakinya untuk pergi ke kandang belakang. Ia lihat seekor ayam jago yang ada di sana. Itulah satu-satunya ayam yang tersisa setelah beberapa hari yang lalu terkena virus tetelo.


Mega memasuki sebuah kamar yang merupakan kamar pribadi miliknya. Sebuah kamar yang tidak terlalu luas yang hanya berisikan dipan dengan kasur zaman dahulu. Sebuah lemari kecil dan juga sebuah meja yang kaki-kakinya sudah hampir patah karena lapuk.


"Hah ... Kalau seperti ini rasa-rasanya malas sekali aku berlama-lama berada di sini. Hidup di kota berkali-kali lipat jauh lebih nikmat.


Mega membuang napas kasar. Hidup di kota dengan fasilitas mewah dan semua serba modern ternyata telah menjadi patokan bahwa hidup yang sempurna adalah hidup yang serba wah dan mewah.


***

__ADS_1


Puas menikmati ayam panggang buatan Lastri, Mega memilih untuk bertandang ke rumah Ki Suprana yang jarak rumahnya hanya beberapa meter saja dari kediamannya. Ia mengetuk pintu dan tak selang lama muncullah seorang lelaki yang usianya tidak terpaut jauh dari sang ibu. Sejatinya nama lelaki ini hanyalah Suprana saja. Namun karena terkenal dengan ajian sakti mandraguna, maka orang-orang tambahkan 'Ki' di depan namanya.


"Kamu datang Nduk?" sapa Suprana.


"Iya Ki."


"Ayo masuk!"


Mega berjalan mengekor di belakang punggung Suprana. Wanita itu dibawa ke sebuah ruangan khusus yang merupakan ruang praktek ketika kedatangan pasien. Ruangan dengan nuansa hitam di mana di sana terdapat patung-patung kepala hewan. Entah apa maksud dan tujuannya. Namun setelah memasuki ruangan ini yang tersisa hanyalah suasana mistis semata.


Sebuah tambir berisikan kembang tujuh rupa dengan anglo kecil yang berisikan dupa juga teronggok di sana. Keberadaan kedua benda itulah yang semakin membuat merinding bagi siapa saja yang baru pertama kali memasuki ruangan ini. Mega dan Suprana duduk bersila saling berhadapan di mana keduanya sama-sama menghadap tambir juga anglo itu.


"Hal apa yang membuatmu datang kemari Nduk? Rasa-rasanya sudah lama kamu tidak pulang kampung dan datang kemari?" tanya Suprana membuka pembicaraan.


Mega tersenyum lebar. Ia ambil sebuah amplop putih dari dalam tas yang ia bawa. Ia serahkan amplop putih itu kepada Suprana.


"Ini untuk Ki Suprana. Aku sangat berterima kasih, karena susuk yang Ki Suprana tanam membuatku menemukan lelaki yang begitu memanjakanku."


Suprana menerima amplop putih itu. "Hahaha ... Aku pernah bilang kepadamu bahwa susuk dariku adalah susuk paling ampuh yang ada di jagad raya. Dan sekarang kamu percaya kan?"


"Iya Ki, aku percaya. Lalu apa yang harus aku lakukan agar susuk ini selalu memancarkan aura kecantikan dan pengasih?"


"Kamu tidak perlu melakukan apapun Nduk. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menghindari pantangan. Memakan pisang mas dan juga melakukan ritual ibadah. Dengan menghindari dua hal itu maka susuk yang ada di wajahmu akan semakin memancarkan aura pengasih."


Mega mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lantas, apakah lelaki yang saat ini ada bersamaku bisa selamanya terpikat? Maksudku tidak akan berpaling?"


"Itu sudah pasti. Terlebih jika kamu sudah berhasil bersetubuh dengan lelaki itu. Aku pastikan dia tidak akan pernah lepas dari pesonamu."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2