
Pagi ini aku berangkat ke kantor Telkomsel, ya aku baru saja kerja disitu sebagai marketing executive kartu perdana.
Beberapa saat kemudian handphoneku bergetar.
Ada chat masuk whatsapp tercantum nama Ryan di situ.
Aku sedikit terkejut melihatnya.
Ia Ryan mantan suamiku.
Semenjak aku berselisih dengannya nomor dan whatsappku dia blokir. Sekarang dia tiba-tiba whatsapp aku aneh kan.
"Yang semalam kencan di Pizza Hut ciye,
Ibu model apa ya kamu, anaknya nyariin enggak di jengukin sama sekali malah enak-enakan jalan sama laki lain."
Kenapa ya ni orang udah dua bulan lebih enggak pernah hubungin tiba-tiba sekarang whatsApp kayak gini. Lucu engga sih?
"Ada apa?" tanyaku padanya.
"Kamu itu loh engga pengen jenguk anakmu ya? Ibu macam apa kamu itu ? engga mikirin anaknya masih bayi !"
Kenapa sih orang ini selalu aja suka bikin emosi. Padahal dia sendiri yang ngusir aku.
Padahal dia sendiri yang ngambil anak-anakku. Padahal dia sendiri yang bilang aku nggak boleh ketemu sama anak, sekarang tiba-tiba ngomong kayak gini.
"Maumu apa sih ? kamu sendiri yang ngusir aku, kamu sendiri yang milih perempuan itu kamu sendiri yang ngambil anak-anakku. Kamu sendiri yang bilang aku nggak boleh ketemu sama anak, sekarang kamu ngomong kayak gini maunya apa ?" tanyaku penuh emosi padanya.
"Seorang Ibu yang baik meskipun diusir pasti nyariin anaknya dong. Gimana denganmu? kamu nggak nyari anak justru keluar sama laki-laki lain!" katanya padaku.
"Kamu itu lucu banget ya, gini deh sekarang maumu apa? aku lagi nggak pengen debat sama kamu, aku capek aku ini cuma pengen hidup tenang. Aku udah bebasin kamu kan, aku juga udah lepasin kamu ! Terserah kamu mau apa, kalau kamu pengen aku jenguk anak oke besok aku jenguk."
"Kenapa harus nunggu besok? hari ini juga jenguk."
"oke nanti aku kesana." jawabku singkat.
"Enggak usah deh ntar kamu sakit hati lagi sama perkataan Ibuku.Kamu kan bukan menantu yang baik..," memang ya dia itu menyebalkan. Entahlah dulu aku ngeliat apanya dari pria itu.
Setelah itu Ryan ngomong apa aja nggak aku jawab bahkan aku Read pun enggak.
"Ayu gimana nih udah mau tengah bulan salesmu nyampe berapa persen? udah growth berapa ? Jangan lupa ya akhir tahun udah harus growth!" suara pak Mahendra mengejutkanku aku segera mematikan handphoneku.
drrt drrt .... getar handphoneku berkali-kali disaku celanaku. Aku mengambilnya dengan tangan kananku dan mengintipnya astaga 10 panggilan tidak terjawab Ryan.
Mau apa lagi sih dia? aku masukkan lagi handphoneku dalam saku celana, tapi masih saja terus menyala dengan nada getar.
Aku beneran terganggu deh karna sekarang lagi meeting di kantor dan Pak Mahendra masih presentasi di depan.
Aku segera pamit keluar sebentar, "Maaf Pak saya keluar sebentar ya mau jawab panggilan dari customer."
"Silakan." jawab Pak Mahendra kemudian dia melanjutkan presentasinya sementara aku keluar ruangan.
Aku mengangkat telepon dari Ryan.
"Kenapa sih kamu tuh ganggu aja, aku tuh lagi kerja ngerti nggak sih!" kataku dengan nada emosi.
"Emangnya kamu pikir aku nggak lagi kerja ?" jawabnya ikut nyolot.
"Terus kenapa masih aja telepon ganggu kayak gitu,"
"Eh siapa yang ganggu aku cuma mau ngomong kasihan itu loh Sia masih baby 5 bulan butuh ASI ngerti nggak sih !"
"Iya aku ngerti, kamu sendiri yang bawa anakku gimana aku mau nyusuin ?"
"Ya udah kayak dulu aja kamu perah tuh susu masukin botol ntar aku ambil botolnya, nggak tau juga air susumu masih keluar atau engga. Jangan-jangan sudah dihabiskan sama cowok yang dari Pizza Hut kemarin." omongannya makin lama makin ngawur dia.
"Engga ada otak emang kamu, udah aku matiin aja !" setelah itu aku tutup telfonnya.
Aku reject panggilan telepon nya, kemudian aku balik masuk ke ruang meeting.
Enggak penting banget sih ni orang.
__ADS_1
drrt drrt..... ini HP mau ngapain lagi sih ganggu aja, panggilan masuk dari Kevin.
Aku whatsapp dia
"Ya ada apa mas ? aku lagi di kantor masih meeting, maaf nggak bisa angkat telepon."
"Oke nggak apa-apa lanjutin dulu deh kerjaannya, Ntar aku bawain makanan, jam berapa istirahatnya ?"
"Jam 1 mas."
"Oke ntar jam 1 aku kantormu ya."
"Aduh nggak bisa mas, aku habis meeting mau keliling ini jual kartu perdana nomor cantik."
" Ya udah aku aja yang beli semuanya."
"Nggak bisa gitu juga dong mas kan pendaftarannya harus pakai KTP."
"Hmm bener juga ya. Sayang gimana kalo kamu enggak usah kerja, aku enggak tega liat kamu kerja. intinya tiap bulan aku nafkahin."
Aku engga jawab whatsapp-nya, jujur aja aku males kalo dia nyuruh aku berhenti kerja kaya gitu.
drrt drrt...
Ya ampun getar aja mulu ni HP, ada chat masuk dari Yeni.
"Mba Ayu masih meeting ?"
"Kenapa Yen ?"
"Enggak cuma nanya doang soalnya mas Kevin galau gegara kamu enggak balas whatsappnya !"
Aku menepuk jidatku, astaga ni orang ya bener-bener deh udah kepala tiga punya istri punya anak pacaran udah kayak anak ABG aja chat enggak dibales bingung.
Ini kali ya yang dinamakan ABG tua.
"Ya udah kamu temenin aja dia whatsappan." balasku toh dia sering chat sama Kevin, pikirku.
"Emang kamu ngga ada kuliah Yen ?"
"Iya ini aku lagi nunggu dosen."
***
Pulang kerja sore hari di Apartemen Yeni.
drrt..drrrt....
Ada whatsapp dari Ryan.
"Aku di lobby Apartemen Yeni, kamu keluar sekarang !" yang benar saja tiba-tiba dia kesini.
"Mau apa kamu kesini ? mau ambil susu nya Sia ? Aku baru pulang kerja belum merah Asi." balasku di whatsapp.
Aku masih ingat saat Ryan mengusir aku, usia Sia masih 3 bulan dan sekarang ya tepat 5 bulan. Aku masih memberinya ASI tapi karena kejadian itu, aku bahkan sempat depresi mikirin anakku yang masih bayi. Aku berusaha hub Ryan, tapi dia blokir aku. Aku berusaha ke rumah mertua aku tapi mereka engga bukain pintu buat aku.
Awal aku tinggal di apartemen Yeni, dada aku sampai bengkak sakit. Karna seharusnya air susu itu diminum Sia, tapi akhirnya malah kejadian kayak gitu.
Aku seperti orang gila, setiap hari aku merah ASI aku masukin botol dan menyimpan di freezer kulkas.
Aku berharap semua itu hanya mimpi, aku berharap secepat mungkin Ryan nyari aku buat ambil susu itu. Tapi apa yang terjadi ? selama 2 bulan itu juga botol asi itu enggak berguna.
Seandainya semua itu mimpi aku hampir seperti orang gila engga bisa menerima kenyataan, dan setiap hari aku nangis sampai bengkak mikirin anak-anak aku.
Aku menuruni lift dan kulihat Ryan duduk di lobby, tanpa banyak ngomong dia langsung menarik tanganku keluar dan masuk kemobilnya.
Aku melepas tanganku paksa, "Apa sih kasar banget!"
Tanpa banyak ngomong dia langsung ngegas mobilnya cepat.
"Mau kemana?" tanyaku padanya.
__ADS_1
Tapi dia tetap diam aja enggak jawab pertanyaanku, dia menghentikan mobilnya didepan sebuah kafe.
Lagi-lagi dia turun membuka pintu mobil dan menarik turun tanganku dengan kasar.
di Cafe.
Ryan memesan expresso panas dan bertanya padaku, "Kamu pesan apa ? kamu sudah makan ?"
aku jawab "Aku nggak pesan apa-apa nggak enak makan."
Kemudian dia terus menatapku dengan tajam.
Ryan itu tingginya 185 cm dan badannya tinggi besar, berkulit putih, matanya bulat. Dia pria tampan yang playboy.
"Aku masih belum merah susu asinya."
Terus dia tertawa," Enggak usah nggak butuh Asimu, susunya Sia uda aku ganti pake susu botol."
Pikirku dalam hati terus ngapain tadi kamu whatsApp dan telfon aku bahas-bahas susu segala! nggak jelas emang nih orang. Tapi aku males debat sama dia , jadi enggak aku bahas soal whatsApp dan telepon dia tadi pagi.
"Terus kamu nemuin aku ada apa ?" tanyaku to the point.
Dia tersenyum menyeringai, "Kamu daridulu engga berubah, enggak ada basa basinya !"
"Aku mau ngasih ini buat kamu !" katanya sambil mengeluarkan map dari tas kerjanya.
Air mataku terus bercucuran saat aku membukanya, isinya surat Akta perceraian. Secepat itu dia ceraikan aku, air mataku terus turun sejadi-jadinya hingga orang-orang sekitar memperhatikan kami.
Rian tampak kebingungan dia mengambil tisu dan menyeka air mataku,"Jangan nangis di sini dong lihat tuh malu diliatin orang banyak, ntar dipikirnya aku lagi yang bikin nangis."
"Kamu cuman mau ngasih akta cerai ini kan? kalau gitu aku mau pulang sekarang," kataku padanya.
"Ya udah aku anterin pulang," kemudian dia beranjak membayar di kasir tanpa menunggu pesanannya.
Kami kembali ke mobilnya, aku memegang erat lembaran akta cerai itu air mataku masih terus keluar.
Kemudian tiba-tiba Ryan mencium bibirku ia menarik akta cerai dari tanganku dan meletakkannya dikursi belakang.
"Lepaskan !" kataku sambil mendorongnya.
Tapi aku terlalu kecil mendorong tubuh besarnya, dia masih nggak mau melepasku.
Ryan terus mencium dan melumat bibirku paksa.
Dapat kurasakan hasratnya yang naik turun, ia seperti orang yang kesurupan.
Aku mencakar menarik kemejanya, Ryan menurunkan kursiku ke belakang.
"Kamu tuh gila yang ngelakuin kayak gini."
Dia menjawab dengan senyum yang menyeringai, "Kamu tahu enggak aku paling nggak tahan lihat kamu nangis, bikin nafsu sumpah !" tanpa membuka baju atasku dia menarik celana dan juga celana dalamku.
Dan secepat kilat memasukkan miliknya ke dalam liang bawahku, dia menindihku.
Gila aja dia melakukannya didalam mobil.
Air mataku terus bercucuran sama sekali nggak ngerti apa sih yang dipikirannya.
"Kamu gila ya ! Kamu itu nggak waras, kelainan jiwa !!" umpatku sambil mengenakan kembali celanaku.
Ryan membersihkan miliknya dengan tissue dan tertawa lebar enggak mempedulikan aku.
"Milikmu masih seenak dulu, nggak berubah !" katanya sambil mencium tanganku.
"Iya memang aku gila, aku kelainan jiwa, aku nggak waras karna kamu !" katanya padaku dan aku menarik tanganku darinya. Mungkin aku yang terlalu bodoh nggak bisa menolaknya, aku masih sedikit mencintainya.
drrrt.... drrrrt.... handphoneku bergetar, Kevin whatsapp aku.
Aku membukanya sebentar, ada banyak panggilan tidak terjawab.
Aku menghela nafas, nanti saja deh aku balas.
__ADS_1
*** bersambung