
Masih di Kalimantan...
Wulan, wanita berusia separuh abad itu tersenyum penuh arti kala berdiri di balik jendela. Dari tempatnya berdiri saat ini, ia bisa melihat sang suami yang keadaannya sudah semakin pulih. Setelah mengalami koma selama dua bulan, pada akhirnya Cakra bisa kembali bangun dari tidur panjangnya. Suatu keajaiban yang telah Allah berikan untuk keluarganya.
Wulan mengayunkan tungkai kaki, menyusul sang suami yang tengah sibuk memangkas tanaman di taman belakang. Di sore hari seperti ini merupakan waktu yang pas untuk menikmati suasana senja yang terlihat memanjakan mata. Terlebih jika dinikmati bersama sang pendamping hidup, suasana romantis semakin kian terasa.
"Pa, dari tadi sibuk mangkas tanaman saja. Lama-lama bisa habis tuh daunnya."
Wulan menyapa Cakra sembari mendaratkan bokongnya di kursi taman. Wanita itu terkekeh pelan melihat sang suami yang sibuk sendiri dengan gunting taman yang ada di tangan. Saking sibuknya, suaminya ini sampai tidak menyadari kedatangannya.
"Tidak mungkin Ma. Lihatlah, dedaunan ini masih rimbun. Jadi tidak mungkin habis." Cakra hanya menanggapi santai ucapan sang istri. Pandangannya masih fokus ke arah tanaman yang ia pangkas. "Oh iya Ma, Langit kapan pulang? Perasaan sudah satu minggu dia di Jogja."
"Sabarlah Pa, kalau semua urusan di Jogja sudah selesai, dia pasti akan pulang. Lagipula ia juga harus ikut terlibat untuk mempersiapkan acara Nawang kan? Jadi sesegera mungkin dia pasti pulang." Wulan beranjak dari posisi duduknya, ia dekati suaminya yang tengah sibuk ini. "Memang ada apa sih Pa? Papa kok sepertinya sudah tidak sabar menunggu Langit pulang?"
Cakra menghentikan aktivitasnya. Ia pandang sang istri yang berdiri di sampingnya. "Mama masih ingat dengan Candra?"
Dahi Wulan sedikit mengernyit. Mencoba mengingat-ingat nama Candra yang dilontarkan oleh sang suami.
"Candra? Candra siapa sih Pa? Mama lupa."
"Candra itu sahabat Papa yang dulu ...."
"Aaaaahhh .... yang dulu anaknya pernah Papa jodohkan dengan Langit kan?" pangkas Wulan yang seketika ingat akan siapa Candra yang diceritakan oleh Cakra.
Cakra tersenyum simpul seraya menganggukkan kepala. "Nah, itu Mama ingat."
"Lantas, ada apa lagi saat ini Papa membahas perihal Candra? Apa Papa berniat untuk menjodohkan Langit dengan anaknya Candra lagi? Bukankah anak Candra saat itu sudah menolak Langit ya Pa?"
Cakra tergelak pelan mendengar berondongan pertanyaan sang istri. Padahal sejatinya bukan karena hal itu ia membicarakan tentang Candra. Tapi Wulan terkesan berprasangka buruk terlebih dahulu.
"Bukan Ma, bukan itu. Masalah perjodohan itu sudah selesai sejak anak Candra menolak Langit."
__ADS_1
"Lalu, saat ini Papa membicarakan Candra karena maksud dan tujuan apa?"
Cakra menghela napas panjang dan ia hembuskan perlahan. Ada sedikit hal yang sejatinya mengusik pikiran serta jiwanya sejak ia bangun dari koma.
"Saat Papa koma, diantara sadar atau tidak, Papa seperti didatangi oleh Candra, Ma. Dan setelah bangun dari koma, rasa-rasanya Papa rindu sekali dengan Candra. Oleh karena itu Papa berniat untuk menjumpainya."
"Papa tahu nomor kontaknya?"
Cakra menggeleng pelan. "Tidak Ma. Nomor yang dulu Papa simpan sudah tidak aktif. Semenjak itu kita lost kontak."
"Lalu bagaimana caranya kita bisa membuat janji sama Candra itu Pa?" tanya Wulan sedikit gusar. Jika tidak ada nomor kontak, ia rasa akan sangat sulit untuk bisa bertemu. "Atau Papa tahu alamat rumahnya?" tanya Wulan pula mencoba mencari celah agar sang suami bisa bertemu dengan sahabatnya itu.
"Kalau alamat rumahnya Papa masih ingat Ma. Rencananya Papa ingin sekali mendatanginya, sekalian untuk menyambung silaturahmi."
"Di buat planning saja Pa. Nanti setelah Langit pulang, kita minta dia untuk mengantar ke rumah Candra."
"Baik Ma."
"Ya sudah, sekarang Papa mandi dulu mumpung belum terlalu sore."
***
"Nak, jangan lari-larian seperti itu. Nanti jatuh!"
Candra berteriak lantang ke arah kedua cucunya yang saling berkejaran di taman. Sudah tidak punya tenaga untuk mengejar ke mana kedua cucunya ini berlarian, lelaki paruh baya ini pun hanya bisa berteriak kencang sembari terduduk di atas bangku taman. Ternyata tenaga yang ia miliki sudah tidak lagi bisa mengimbangi tenaga Malika dan Alina yang begitu aktif ini.
Alina dan Malika segera menghentikan aksi kejar-kejaran mereka setelah mendengar teriakan dari sang kakek. Keduanya berbalik arah untuk mendekati Candra yang sudah nampak ngos-ngosan.
"Kakek duduk saja di sini. Alina biar main sama adek," ucap Alina kepada kakeknya.
"Iya Kek, Malika dan kakak masih ingin bermain sebelum bunda pulang. Kalau bunda pulang pasti kami langsung disuruh mandi," cicit gadis kecil itu seakan tidak suka jika disuruh mandi.
Candra tersenyum gemas. Malika memang cucunya yang susah disuruh mandi. Apalagi sudah terlanjur bermain seperti ini, pasti lebih susah lagi untuk dihentikan.
__ADS_1
"Nak, ini sudah sore. Mainnya dilanjutkan besok lagi ya. Lagipula sebentar lagi bunda tiba di rumah. Apa kalian mau menyambut kedatangan bunda dalam keadaan masih berkeringat seperti ini?"
"Tapi Kek, meskipun Alina atau adek berkeringat, Bunda masih tetap mau mencium kami kok Kek. Kata bunda, keringat Alina dan adek ini wangi," ucap Alina memaparkan alasannya yang justru terdengar menggelitik telinga Candra. Alhasil lelaki itu semakin tergelak karena ucapan cucunya ini.
"Kalian ini ada saja alasannya. Ya sudah, boleh lanjut main tapi jangan berlarian ya. Agar keringatnya cepat mengering."
"Baik Kek."
Belum sempat dua gadis kecil itu menjauh dari tempat di mana sang kakek berada, sebuah mobil warna silver terlihat memasuki halaman dan tak selang lama, muncul Cahya yang keluar dari dalam sana.
"Waduh, Bunda sudah pulang Kak. Gawat, kita bisa langsung disuruh mandi!" teriak Malika saat melihat sang bunda yang keluar dari mobil.
"Ayo kita lari Dek!" ajak si sulung yang seakan masih belum rela untuk berhenti bermain. Keduanya pun berlarian ke sudut taman untuk bersembunyi dari sang bunda.
Cahya yang melihat polah tingkah kedua putrinya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia paham betul makna yang tersirat pada sikap kedua putrinya ini.
"Anak-anak masih belum mau mandi ya Yah?" tanya Cahya sembari mendekat ke arah Candra untuk kemudian ia daratkan bokongnya di samping sang ayah.
"Ya seperti itulah kedua putrimu Ay. Setiap sore selalu saja ada drama susah mandi," ucap Candra dengan binar yang begitu kentara di wajahnya. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini Ay? Semua lancar?"
"Alhamdulillah lancar semua Yah. Setiap hari ada saja pesanan yang masuk. Terakhir, ada pesanan dari seseorang yang ingin membuat seragam keluarga untuk acara pernikahan dan jumlahnya cukup besar Yah."
"Alhamdulillah, Ayah turut senang mendengarnya Ay. Semoga usaha kamu semakin hari semakin berkah dan bisa membawa banyak manfaat untuk orang lain."
"Aamiin Yah. Ini semua juga tidak luput dari doa Ayah, ibu, kak Angkasa dan juga anak-anak. Alhamdulillah Allah benar-benar memberikan keberkahanNya melalui usaha Aya ini, Yah."
Ayah dan anak itu larut dalam obrolan ringan sembari menikmati langit senja di bumi Kalimantan yang nampak memerah. Diiringi dengan hembusan angin sore yang terasa begitu menyejukkan dan juga cicit suara burung pipit yang tengah kelaparan yang berada di atas dahan.
Wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari tempat Candra dan Cahya, tersenyum penuh syukur melihat hubungan ayah dan anak itu bisa kembali seperti sedia kala. Satu mimpi terbesar yang ia punyai di sisa umurnya, pada akhirnya dikabulkan oleh Sang Maha penggenggam kehidupan. Kebersamaan seperti inilah yang membuat Bintari tiada henti bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah beri.
.
.
__ADS_1
.
Part kehidupan Aya di Kalimantan dulu ya Kak.. setelah itu baru kita lanjut ke kehidupan Mega dan Awan... 😂😂😂😂