
"Loh kamu mengenal mereka Wan?" tanya Mentari ketika mendengar Awan menyebut nama-nama yang ada di foto itu.
Awan masih terlihat hening tak berucap sepatah katapun. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang terjadi, namun foto sepasang pengantin baru itu cukup membuatnya shock setengah mati.
"Pak Langit ini pengusaha sukses loh Wan. Selain sukses di bidang properti dan kontraktor dia juga terkenal dermawan. Kabarnya dia memiliki beberapa yayasan panti asuhan dan juga rumah baca. Benar-benar sosok lelaki yang tampan, mapan dan beriman."
Mentari bercerita dengan menggebu-gebu. Wajahnya juga nampak berbinar kala menceritakan betapa hebatnya sosok lelaki bernama Langit biru ini. Sesekali, Mentari melirik ke arah Awan dan ia pun bisa menilai jika lelaki ini masih terkejut setengah mati. Hal itulah yang membuatnya tertawa di dalam hati.
"Dan yang lebih menarik lagi, istri dari Pak Langit ini ternyata dulunya pernah menikah tapi dikhianati suaminya. Dengar-dengar dulu suaminya berselingkuh dan wanita bernama Cahya ini memilih untuk mengakhiri rumah tangganya."
Mentari masih bersemangat untuk bercerita meskipun tak ada sedikitpun respon dari Awan. Lelaki itu seakan kian larut dalam pikiran yang bermacam-macam.
"Beruntung banget gak sih Wan wanita bernama Cahya ini? Setelah melepaskan suami penghianat, ternyata dia menemukan sosok lelaki yang jauh lebih segala-galanya. Lebih tampan, lebih kaya, lebih sholeh dan lebih berkharisma. Memang betul apa kata orang, ketika ada seorang istri dicampakkan seperti sampah oleh suaminya, maka suatu saat dia akan bertemu dengan lelaki lain yang memungutnya seperti berlian. Dan itu terjadi kepada wanita bernama Cahya ini. Lihatlah, dia diperlakukan begitu manis oleh suaminya."
Netra Awan masih begitu lekat menatap foto pengantin baru itu. Sayup-sayup terdengar cerita yang disampaikan oleh Mentari seakan kian menyulut api kedengkiannya.
Ternyata setelah Cahya berpisah dariku, hidupnya justru semakin bersinar. Dia sukses menjadi seorang desainer yang memiliki banyak butik dan konveksi. Ditambah saat ini ia diperistri oleh lelaki kaya raya yang pasti akan meninggikan derajat status sosialnya. Aarrrrggghhhh .... Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bisa lebih kaya dari Cahya. Aku harus bisa memiliki banyak resto agar bisa menyaingi Cahya. Mau ditaruh mana mukaku jika bertemu dengan Cahya dalam keadaan yang jauh lebih buruk dirinya?
"Wan, kamu kenapa kok tiba-tiba diam begitu? Kamu terkesima ya dengan acara pernikahan pengusaha asal Kalimantan ini?"
Seakan begitu penasaran akan sikap dan perilaku Awan, Mentari menyenggol lengan tangan lelaki ini sekaligus untuk menyadarkannya dari lamunan. Padahal tanpa dijawab oleh Awan pun ia juga paham jika Awan begitu terkejut akan berita ini.
Awan tersenyum tipis. Sebisa mungkin ia harus bersikap biasa saja. Ia tidak ingin jika sampai Mentari tahu bahwa wanita yang menjadi istri pengusaha Kalimantan itu adalah mantan istrinya.
"Ah biasa-biasa saja Tar. Saat ini banyak kok acara pernikahan yang diliput oleh media lokal. Jadi, aku tidak begitu waooww, dengan berita ini," kilah Awan mencoba untuk menutupi. Padahal sejatinya, ia begitu iri dan dengki karena mantan istrinya mendapatkan kebahagiaan yang bertubi-tubi.
"Begitu ya Wan?" tanya Mentari seakan tidak percaya jika Awan tidak terkejut mendengar berita ini. "Tapi kalau memang bukan orang yang berpengaruh, mana mau media meliput acara seperti itu Wan. Itu artinya si pengusaha asal Kalimantan itu benar-benar terkenal."
"Aahhhh terkenal apa? Nyatanya aku juga tidak terlalu kenal. Itu artinya dia tidak terlalu terkenal. Hahahahahaha!"
__ADS_1
Sungguh pandai lelaki itu menutupi perasaannya yang tengah kacau balau. Gara-gara mendengar berita bahwa Cahya mendapatkan suami yang kaya raya, ia sampai memiliki niat untuk menyainginya. Ia harus mencari cara agar resto miliknya ini juga diliput oleh media lokal.
"Isssshhhh ... Kamu ini. Bisa-bisanya ngeles seperti bajaj, Wan."
Mentari hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat keteguhan hati Awan yang tidak mau mengakui. Padahal ekspresi penuh keterkejutan itu nampak jelas di raut wajah Awan.
"Sudahlah, daripada kita membicarakan orang itu, lebih baik kita membicarakan hal lain Tar," usul Awan.
"Memang membicarakan apa lagi Wan? Untuk strategi-strategi marketing di bulan depan sudah aku rancang, jadi kamu tenang saja. Aku yakin kalau setiap bulan omset kita akan meningkat meskipun hanya sekitar sepuluh sampai dua puluh persen."
Wajah Awan yang sebelumnya nampak frustrasi karena melihat kesuksesan sang mantan istri, kini seketika berubah cerah kala mendengar ucapan Mentari.
"Ini, ini yang aku suka dari kamu Tar. Kamu benar-benar totalitas dalam bekerja. Tanpa aku minta pun, kamu sudah bergerak lebih cepat. Kalau cara kerjamu seperti ini, sepertinya menjadi keputusan yang tepat jika aku akan menaikkan gajimu."
"Apa? Kamu mau menaikkan gajiku Wan?" tanya Mega dengan kedua bola mata yang membeliak. "Lalu, mau kamu naikkan berapa gajiku?"
"Aku naikkan dua kali lipat Tar!"
"Iya, aku serius Tar. Kamu memang hebat. Pekerjaanmu sungguh memuaskan," puji Awan.
"Aku senang sekali Wan. Dengan begitu aku bisa merenovasi rumah. Kamu tahu sendiri kan kalau rumahku itu banyak yang harus dibenahi?"
Awan berpikir sejenak. Jika teringat akan keadaan rumah Mentari, ia juga merasa iba sendiri. Banyak plafon yang sudah mulai rusak yang bisa jadi akan rubuh secara tiba-tiba.
"Sudah, tenang saja jika hanya soal renovasi rumah Tar. Nanti akan aku panggilkan tukang untuk merenovasi rumahmu dan satu hal lagi. Kamu tidak perlu mengeluarkan uang."
"Tidak perlu mengeluarkan uang? Maksudmu bagaimana Wan?"
Awan tersenyum penuh arti. Dengan cara seperti ini ia yakin jika Mentari akan lebih bersemangat dalam bekerja atau kalau nasibnya baik, Mentari akan terkesima dengan kebaikan-kebaikan yang telah ia berikan.
"Semua biaya renovasi rumah, akan menjadi tangggung jawabku. Ya anggap saja itu sebagai bonus yang aku berikan untukmu."
__ADS_1
"Hah, serius Wan?" tanya Tari dengan wajah berbinar.
"Kapan aku pernah bohong sama kamu Tar. Pokonya akan aku sulap tempat tinggalmu itu menjadi rumah yang lebih layak huni."
Mentari merasa bahagia setengah mati. Ia raih jemari tangan Awan dan ia genggam dengan erat. "Terima kasih banyak untuk kebaikanmu Wan. Ternyata kamu adalah bos yang baik. Yang peduli dengan nasib karyawannya."
Awan terhenyak sembari melirik ke arah jemari tangannya yang digenggaman oleh Mentari. Lelaki itu tersenyum simpul karena baru kali ini tangannya digenggaman oleh Tari.
"Itu sudah pasti Tari. Aku akan peduli dengan semua karyawan ku terlebih kamu. Karena berkat kerja kerasmu tiap bulan aku bisa meraih keuntungan yang besar."
"Ya ampun Wan, aku sungguh bahagia. Sangat bahagia. Terima kasih ya." Tari berujar dengan penuh kebahagiaan. "Eh maaf, aku tidak bermaksud lancang untuk menggenggam tanganmu Wan. Aku hanya terlalu bahagia sampai lupa jika aku tidak pantas untuk memegang tanganmu," sambung Tari sedikit merasa kikuk. Buru-buru ia lepaskan genggaman tangannya.
Awan meraih tangan Mentari dan kini justru dia yang seakan tidak ingin jika wanita ini melepaskan genggaman tangannya.
"Sudah, tidak apa-apa Tar. Lagipula aku senang kok tanganku kamu genggam seperti ini. Ini menunjukkan kesolidan kita dalam bekerja. Benar begitu kan?"
Tidak hanya menggenggam tangan Mentari, Awan pun juga mulai mer*aba- raba lengan tangan wanita ini. Entah apa yang menjadi tujuannya, namun wajah Awan benar-benar terlihat me*sum sekali.
Ahhhhh .... Masuk juga kamu dalam perangkapku Wan. Setelah ini, aku pastikan kalau kamu akan semakin terjerat dalam pesonaku.
Mentari hanya tersipu malu dan hal itulah yang semakin membuat jiwa Awan tertantang untuk menaklukkan wanita yang dulu pernah ia tolak ini.
Tari memang berbeda. Wanita ini sangat sulit untuk aku dekati. Sering bersama dengan wanita ini juga tidak dapat aku ingkari jika aku mengaguminya. Aku yakin dengan jalan merenovasi rumahnya, ia akan semakin mudah untuk aku taklukkan.
Kedua manusia itu sama-sama terdiam dengan tangan saling menggenggam. Sampai mereka terkesiap dan terhenyak kala mendengar suara heels yang mendekat ke arah mereka. Mereka melihat ke arah sumber suara dan buru-buru melepaskan genggaman tangan masing-masing.
"Mega?" pekik Awan yang melihat istrinya datang ke resto.
.
.
__ADS_1
.