Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 54. Rencana Terakhir


__ADS_3


"Ayah pergi lagi ya Bun? Kok dari tadi tidak kelihatan?"


Sembari menyantap menu sarapan pagi, Malika melontarkan sebuah tanya di hadapan sang bunda. Gadis kecil itu mempertanyakan keberadaan sang ayah yang tidak ia dapati di pagi hari ini.


Cahya hanya bisa tersenyum tipis. Karena kebohongan yang diutarakan oleh Awan, membuatnya juga ikut berbohong di depan anak-anaknya.


"Iya Sayang, ayah ke Semarang. Kata ayah di sana sedang ada kasus pencurian."


"Astaga ... Kasus pencurian Ay? Memang apa yang dicuri?" timpal Marni yang juga terkejut karena berita yang disampaikan oleh Cahya.


"Aku juga tidak begitu tahu apa saja yang hilang Bu. Tapi kata mas Awan, gudang paket yang ada di sana dibobol oleh pencuri."


"Ya Allah ... Kok bisa seperti itu. Ujian hidup ini seakan begitu berat dihadapi oleh Awan," lirih Marni yang merasa iba karena kasus pencurian itu.


Mendengar perkataan Marni yang lirih semakin membuat ingin terbahak saja. Namun sebisa mungkin ia tahan.


Padahal aku yakin kantor di Semarang dalam keadaan baik-baik saja, Bu. Mas Awan bukan ke Semarang, tapi ke rumah pelakor itu.


"Sudah Dek, jangan tanya-tanya lagi tentang ayah. Ayah itu sekarang sudah tidak pernah punya waktu lagi untuk kita. Waktunya selalu dihabiskan untuk kerja saja. Kita sama seperti anak yang tidak mempunyai ayah."


Hati Cahya mencelos saat tiba-tiba mendengar Alina mengatakan hal itu di depan sang adik. Cahya menatap lekat manik mata Alina. Terpancar jelas sorot kekecewaan di mata bening gadis kecil itu.


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Ayah mungkin memang benar sedang sibuk saat ini, jadi jarang memiliki waktu bersama di rumah."


"Ayah itu pemilik perusahaan kan Bun? Mengapa tidak bisa mengambil libur satu hari saja untuk bisa mengajak kami jalan-jalan? Padahal teman Alina, yang ayahnya seorang tukang kayu pun bisa mengajak jalan-jalan."


"Doakan saja semoga pekerjaan ayah bisa segera selesai ya Sayang dan setelah itu bisa mengajak kalian jalan-jalan."


Hembusan napas kasar lirih terdengar keluar dari bibir mungil gadis kecil itu. "Alina sekarang sudah tidak terlalu kaget jika ayah tiba-tiba tidak ada di tengah-tengah kita, Bun. Cukup ada Bunda saja. Tidak perlu ada ayah."


Hati Cahya kian tercubit mendengarkan penuturan Alina. Sikap yang ditunjukkan oleh Awan justru yang menjadikan Alina sebagai sosok yang seolah tidak lagi membutuhkan keberadaan sang ayah.


Lihatlah putrimu Mas. Dia sudah teramat kecewa dengan sikap dan perilakumu. Sampai-sampai membuatnya tidak lagi membutuhkan kehadiranmu.


Kasim dan Asih yang turut mendengar penuturan Alina juga hanya mengelus dada. Perlahan namun pasti. Semua kecurangan yang dilakukan oleh majikannya ini akan menjadi bom waktu yang akan membuatnya kehilangan semuanya.

__ADS_1


Cahya mendekat ke arah Alina. Ia peluk tubuh putrinya ini dengan erat dan ia kecup pucuk kepalanya yang berbalut hijab.


"Seburuk apapun ayah, dia tetaplah ayah Alina yang harus Alina hormati. Doakan saja, semoga ayah bisa segera menyadari semua kelalaiannya."


Tak ada respon apapun yang ditunjukkan oleh Alina. Bahkan hanya sekedar menganggukkan kepala pun tidak. Sepertinya gadis itu benar-benar sudah teramat kecewa dengan sikap sang ayah.


***


Cahya memberhentikan mobilnya tak jauh dari rumah yang dibelikan oleh Awan untuk Mega. Dari tempatnya saat ini terlihat jelas mobil sang suami yang terparkir di sana.


"Ternyata benar, kasus pencurian di gudang Semarang itu hanya cerita fiktifmu, Mas. Nyatanya kamu sedang berada di rumah ini. Apalagi yang kamu lakukan jika tidak sedang bermesraan dengan wanita ******* itu."


Cahya keluar dari dalam mobil. Ia mengayunkan tungkai kakinya untuk berjalan-jalan di sekitar rumah mewah itu. Hingga akhirnya ia pun sampai di sebuah perkampungan yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah yang ditempati oleh suami dan Mega.


"Satu hal lagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkan hak kedua putriku. Aku tidak rela jika tabungan mas Awan juga dinikmati oleh wanita tidak tahu diri itu."


Senyum mengembang di bibir Cahya kala melihat sekumpulan pemuda yang tengah berkumpul di pos ronda. Mereka berjumlah sekitar lima orang dengan postur tubuh yang kekar. Siapapun yang bertemu dengan sekumpulan pemuda ini pasti akan menyangka jika mereka adalah kumpulan para preman.


Meskipun sedikit takut, namun inilah satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh Cahya untuk bisa mencapai tujuannya.


"Permisi Mas!" ucap Cahya memberikan salam saat melintas di depan kumpulan pemuda berbadan kekar ini.


Cahya bisa bernapas lega kala mendengar respon yang cukup baik dari orang-orang ini. Ternyata sikap kumpulan pemuda ini tidak semenakutkan postur tubuh mereka.


"Sebelumnya kenalakan, nama saya Cahya. Saya ingin memberikan sebuah informasi kepada Anda semua yang ada di sini."


"Informasi apa itu Mbak?"


"Di rumah besar itu. Merupakan tempat mesum seorang laki-laki beristri dengan selingkuhannya Mas," ucap Cahya sembari menunjuk ke arah rumah yang dihuni oleh Mega.


Kumpulan pemuda itu mengarahkan pandangan mereka ke arah jari telunjuk Cahya dan mereka sama-sama melemparkan pandangan.


"Ah yang benar Mbak? Kok Mbak ini bisa tahu jika rumah itu merupakan tempat mesum? Jangan-jangan yang Mbak ucapkan ini hanya berita bohong lagi?"


Salah seorang pemuda itu tidak serta merta langsung mempercayai informasi yang diberikan oleh Cahya. Karena tidak ada buktinya sama sekali.


"Saya jamin informasi yang saya sampaikan itu benar Mas. Mereka adalah pasangan kumpul kebo yang tidak terikat oleh tali pernikahan. Saya bisa mengatakan hal ini karena saya adalah istri sah lelaki yang ada di rumah itu."

__ADS_1


"Ah yang benar Mbak? Kalau memang dia adalah suami Mbak ini, mengapa tidak langsung dilabrak saja? Kan lebih asyik dan puas Mbak?" seloroh yang lainnya dengan tergelak.


Cahya menggelengkan kepala. "Tidak Mas, saya tidak menggunakan cara seperti itu. Dengan melabrak keduanya justru hanya akan mengotori tangan saya sendiri. Karena hal itu pulalah yang menjadi alasan saya untuk berbicara dengan Anda semua yang ada di sini."


"Maksudnya bagaimana Mbak? Aku sungguh tidak paham."


Cahya memaparkan apa yang menjadi rencananya kepada kumpulan para pemuda karang taruna ini. Mereka terlihat begitu seksama mendengarkan semua yang diucapkan oleh Cahya. Mereka mengangguk-anggukan kepala sebagai pertanda bahwa mereka paham dengan instruksi yang diberikan oleh Cahya.


"Bagaimana Mas? Mengerti kan?" tanya Cahya memastikan.


"Itu sih perkara gampang Mbak, asalkan jangan lupa dengan uang yang Mbak ini janjikan."


Cahya mengambil ponsel dari dalam tas. "Sekarang kirimkan nomor rekening Anda, Mas. Agar bisa langsung saya transfer!"


Wajah kumpulan pemuda itu berbinar terang karena mendapatkan rezeki nomplok. Salah satu dari mereka bersegera memberikan nomor rekeningnya kepada Cahya.


"Lima juta sudah masuk ya Mas. Yang jelas Anda-Anda ini hanya cukup mengerjakan sesuai dengan yang saya perintahkan. Mengerti ya Mas?"


"Mengerti Mbak. Kami pasti akan melakukannya dengan maksimal."


Senyum seringai terbit di bibir Cahya. Ia menatap sinis bangunan rumah yang berdiri megah itu. Kali ini adalah rencana terakhir yang ia lakukan untuk menguras habis tabungan milik Awan. Ia tidak pernah rela jika uang tabungan Awan dinikmati oleh Mega.


Kamu salah mencari lawan Mas. Kamu kira aku lemah dan bisa menerima keadaan seperti ini begitu saja? Jangan mimpi kamu Mas. Setelah ini, aku yakin uang tabunganmu akan terkuras dan hanya menyisakan perusahaan yang aku yakin tak lama lagi juga akan bangkrut. Kamu lah yang menyalakan api itu dan bersiaplah jika tubuhmu akan terbakar oleh api yang sudah kamu ciptakan sendiri.


.


.


.


📌pojok kuis...


hayooo kira-kira apa yang direncanakan oleh Cahya dengan para pemuda karang taruna itu ya???


silakan jawab di kolom komentar ya kak... bagi pembaca yang bisa menjawab dengan benar, akan ada bonus pulsa sebesar 20k untuk satu orang yang beruntung..


selamat mencoba

__ADS_1


semoga beruntung 🥰🥰🥰


__ADS_2