
"Aaaarrrgggghhhh .... Mengapa semua bisa jadi begini!!!!"
Pranggg... Pranggg... Pranggg...
Awan berteriak histeris sembari melempar perabotan dapur ke sembarang arah. Wajah lelaki itu memerah seakan menampakkan api amarah yang membara dalam raga. Rambutnya juga terlihat berantakan yang menjadi tanda bahwa dia teramat frustrasi dengan keadaan yang ia hadapi saat ini. Akibat amarahnya itu yang membuat suasana dapur terdengar begitu riuh meskipun jarum jam sudah menunjukkan tepat pukul setengah satusatu malam.
Awan mendaratkan bokongnya di sebuah kursi yang ada di dapur resto miliknya. Ia raih gelas yang berisikan air putih dan ia teguk isi di dalamnya. Ia raup udara dalam-dalam dan kemudian ia hembuskan perlahan.
Pandangan mengedar ke sekeliling. Freezer yang ada di dapur menjadi perhatiannya. Gegas, ia melangkah ke arah freezer itu dan ia buka.
"Ya Tuhan ... Spoil hari ini masih banyak sekali."
Awan kembali terduduk lemas di atas kursi. Ingatannya tertuju pada operasional outlet di hari ini. Buka normal dari pagi sampai malam hari hanya mendapatkan uang lima ratus ribu. Tak ayal hal itulah yang membuat spoil penjualan hari ini masih banyak sekali.
"Sungguh hebat pengaruh media sosial. Hanya karena wajahku tertangkap kamera wartawan, semua bisa langsung mengenali siapa aku. Kalau seperti ini, resto benar-benar bisa gulung tikar. Aaaarrrgggghhhhh!!!!"
Awan kembali berteriak frustrasi. Ia nampak menjambak-jambak rambutnya sendiri seperti orang gila yang kehabisan obat. Namun hanya dengan cara seperti inilah ia bisa melupakan amarahnya.
"Sialan!!! Mentari juga tiba-tiba pergi entah kemana dengan membawa mobil dan juga uang tiga ratus juta. Sepertinya aku ditipu juga olehnya."
Tubuh Awan kian terasa melemas kala teringat akan Mentari. Ia yang sejak awal sudah terpikat akan pesona yang ada di dalam diri wanita itu, kini seakan ia menyesal. Ternyata pesona yang ada di dalam diri Mentari yang membuatnya semakin bodoh dan mudah untuk dikelabui.
"Jika sudah seperti ini, aku harus bagaimana Tuhaannnn!!!!!"
***
Crew yang tiba di resto menampakkan raut wajah penuh keterkejutan kala melihat bagian dapur yang sudah berantakan. Banyak barang-barang yang berserakan di setiap sudut ruangan dan juga piring-piring yang pecah.
"Astaga ... Mengapa bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi semalam?" ucap Fahri lirih saat melihat kondisi dapur yang sudah seperti kapal pecah.
"Mas, sepertinya hari ini kita tidak bisa bisa buka outlet. Lihatlah banyak barang-barang yang rusak begini," timpal Desi yang juga turut mengelus dada melihat keadaan dapur.
"Apakah semalam pak Awan mengamuk dan yang membuat dapur berantakan seperti ini?" tanya Fahri menebak-nebak.
"Sepertinya memang pak Awan sendiri Mas. Mau siapa lagi jika bukan pak Awan. Hanya ada pak Awan kan di outlet ketika semalam kita pulang?"
"Ya Allah, ternyata pak Awan frustrasi karena berita yang viral dan tranding itu. Sampai-sampai membuatnya marah kemudian melakukan hal semacam ini."
"Ya bagaimna tidak frustrasi Mas? Mendadak pak Awan terkenal seantero jagad loh. Mana terkenalnya karena skandal dan bukan karena prestasi. Jelas dia frustrasi," terang Desi mengemukakan pendapatnya.
"Ckckckck .... Ternyata hanya sekejap ya kesuksesan itu diraih oleh resto ini? Setelah ini sepertinya akan benar-benar gulung tikar," decak Fahri yang menunjukkan keprihatinannya.
"Bagaimana tidak gulung tikar Mas. Kemarin loh omset kita hanya lima ratus ribu. Jomplang sekali kan dibandingkan saat awal kita mulai kerja di sini?"
__ADS_1
Fahri menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. "Sepertinya kita harus berancang-ancang untuk mencari pekerjaan baru lagi Des. Jika kondisinya seperti ini aku rasa memang tidak bisa dipertahankan."
"Ya, akupun juga berpikir demikian Mas. Toh aku juga sudah mencoba untuk memasukkan lamaran di beberapa lowongan pekerjaan."
Desi maupun Fahri hanya bisa menatap nanar kondisi dapur yang serba berantakan seperti ini. Sebagai dua orang yang sudah bekerja di resto ini sejak pertama opening, mereka bisa merasakan perbedaan antara saat ini dengan saat-saat awal buka.
Tap... Tap... Tap...
Derap langkah kaki seseorang terdengar menggema semakin mendekati ke arah keduanya. Hal itulah yang membuat Fahri dan Desi sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Sigit?"
"Pak Awan ada Ri?"
"Sepertinya ada Pak."
Dahi Sigit berkerut dalam. "Kok sepertinya? Yang jelas dong kalau berbicara!"
"Pak Awan sejak tadi belum terlihat Pak. Sepertinya beliau masih berada di ruang pribadinya."
"Kalau begitu, tolong segera panggilkan!"
"Baik Pak!"
"Pak, Pak Awan ... Ada pak Sigit di depan. Beliau ingin bertemu Bapak!"
Fahri hampir menyerah mengetuk pintu dan menyerukan nama Awan. Namun di saat ia hampir menyerah tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan munculah Awan dari dalam sana.
"Ada apa Ri?"
"Ada pak Sigit di depan mencari Bapak."
"Oh baiklah. Aku akan segera menemuinya."
"Lalu, untuk outlet bagaimana Pak? Dapur berantakan sekali soalnya."
"Sudah, untuk hari ini outlet close dulu. Besok atau lusa kembali buka."
"Baik Pak!"
Fahri kembali ke depan menemui Sigit. Sedangkan Awan hanya bisa terus menghembuskan napas kasar. Kepala lelaki itu masih terasa begitu pening. Memikirkan cara untuk bisa keluar dari kondisi seperti ini.
"Semoga Pak Sigit datang kemari dengan membawa solusi. Outlet ku benar-benar sepi setelah berita viral itu."
***
__ADS_1
Awan sudah nampak sedikit rapi setelah membersihkan diri. Raut wajah yang sebelumnya nampak kacau kini sedikit lebih cerah setelah dibasuh dengan air dingin. Dengan langkah kaki lebar, ia berjalan menghampiri Sigit yang menunggunya di depan.
"Selamat pagi Pak Sigit, maaf menunggu terlalu lama."
Sigit yang tengah fokus dengan tablet yang ada di tangan, sekilas menatap kedatangan Awan. Lelaki itu tersenyum tipis dan kemudian fokus pada tabletnya lagi.
"Tidak apa-apa Pak. Silakan duduk. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
Awan menganggukkan kepala. Ia daratkan bokongnya di atas kursi yang ada di hadapan Sigit.
"Pak, sebelumnya saya minta maaf atas berita yang kemarin sempat viral dan tranding. Saya sungguh tidak menyangka akan kejadian seperti ini, Pak!"
Sebelum dikuliti, Awan berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu kepada Sigit. Ia yakin jika kedatangan Sigit ke resto ada hubungannya dengan kejadian kemarin.
"Saya terima permintaan maaf dari pak Awan, namun permintaan maaf itupun tidak bisa mengembalikan citra brand The Ceker's Ayam yang sudah tercoreng akibat skandal pak Awan."
"Pak, saya benar-benar minta maaf. Ini semua terjadi di luar kuasa saya Pak."
"Di luar kuasa Anda?" tanya Sigit dengan senyum miring. "Anda diberikan akal pikiran dan hati nurani. Seharusnya sebelum Anda melakukan hal itu, Anda berpikir dampaknya terlebih dahulu. Kalau seperti ini siapa yang rugi? Tidak hanya pak Awan sendiri, tapi juga brand Thr Ceker's Ayam."
Hening. Kepala Awan menunduk. Mulut lelaki itu seakan terkunci tidak bisa mengatakan apapun.
"Apakah pak Awan tahu? Kami membangun nama brand The Ceker's Ayam tidak bukan dalam waktu singkat. Bertahun-tahun kami berusaha membesarkan nama brand itu. Jatuh, bangun, badai, angin, pasang, surut sudah kami lalui semua. Dan sekarang nama brand itu hancur dalam waktu sekejap mata. Sebegitu teganya kah pak Awan kepada kami yang sejak awal ikut merintis dan membesarkan nama brand ini?"
"Tapi pak, saya yakin ini semua akan ada jalan keluarnya. Saya yakin setelah ini berita tentang razia itu sudah tidak lagi tranding. Jadi saya yakin masih bisa memperbaiki semuanya, Pak," ucap Awan mengutarakan argumentasinya.
"Tidak lagi tranding tapi untuk efek masih akan tetap ada." Sigit memperlihatkan sesuatu yang berada di tablet yang ia bawa. "Pak Awan bisa lihat, akibat berita viral kemarin, seluruh outlet mitra mengalami penurunan omset yang sangat drastis. Jika seperti ini, bukan hanya outlet milik pak Awan saja tapi semua outlet dengan brand The Ceker's Ayam yang akan menanggung akibatnya."
Awan melihat grafik yang ditunjukkan oleh Sigit. Seharian kemarin memang semua outlet mengalami penurunan omset.
"Lalu, sekarang saya harus bagaimana Pak? Tolong bantu saya untuk keluar dari permasalahan ini. Saya benar-benar merasa buntu."
Sigit tersenyum penuh arti. Sejatinya ia sudah membuat keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Karena keputusan ini sudah menjadi keputusan bersama oleh para dewan direksi.
"Satu-satunya jalan keluar dari permasalahan ini, pak Awan harus keluar dari menjadi mitra The Ceker's Ayam. Kemudian pak Awan harus membuat konferensi pers untuk membersihkan nama brand setelah itu silakan pak Awan membayar ganti rugi sesuai dengan MOU yang sudah kita sepakati!"
Awan terhenyak dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. "Apakah harus dengan cara seperti itu Pak? Itu artinya saya sudah tidak memiliki usaha apa-apa lagi?"
"Itu sudah menjadi konsekuensi yang harus diterima oleh pak Awan. Daripada saya kehilangan beberapa mitra karena kasus razia kemarin, lebih baik saya memutus kerja sama dengan pak Awan. Jadi, silakan persiapkan untuk konferensi pers dan persiapkan sejumlah uang untuk ganti rugi!"
.
.
.
__ADS_1