Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 103. Sedikit Kusam


__ADS_3


"Wan, Bapak kok bosan ya di sini? Kamu masih banyak acara?"


Setengah hari lebih berada di resto, membuat Kardi merasa bosan sekali. Sejak tadi, lelaki paruh baya itu terlihat mondar-mandir ke sana kemari tanpa ada sesuatu yang ia kerjakan.


"Masih banyak yang harus aku kerjakan sih Pak. Kalau Bapak bosan, mending tidur di kamar yang ada di dalam saja," usul Awan sembari fokus ke layar gawainya.


"Ah malas juga Wan. Bagaimana kalau kamu mengantar Bapak pulang terlebih dahulu? Bapak benar-benar bosan di sini."


"Wah kalau untuk mengantar pulang tidak bisa Pak. Kan malah bolak-balik yang membuat boros bensin. Bapak tahu sendiri kan kalau rumah dengan resto jaraknya lumayan jauh?" ucap Awan memberikan alasan.


"Lalu gimana dong Wan?"


"Sudah, Bapak pulang naik taksi online saja ya. Aku masih harus di sini. Besok itu merupakan hari bersejarah karena aku akan opening resto, jadi harus dipersiapkan secara matang."


Kardi hanya bisa berdecak kesal karena sang menantu tidak bersedia mengantarnya pulang dengan dalih ingin lebih irit bensin. Namun akhirnya ia pun mengalah juga. Karena tidak tahan didera rasa bosan, ia pun memilih untuk menerima usulan dari Awan. Lelaki paruh baya itu meminta sang menantu untuk memesan taksi online.


Selang beberapa saat, Kardi mulai meninggalkan resto ini setelah taksi online yang dipesan sudah tiba di resto.


Awan mengayunkan tungkai kakinya. Ia menyusuri setiap sudut ruangan untuk memastikan semua telah sempurna untuk acara besok. Lama lelaki itu berkeliling hingga langkahnya terhenti di dapur resto.


"Wah, ini sih enak sekali Bu. Baru kali ini saya merasakan ayam bakar yang nikmat seperti ini!"


"Benarkah? Kalau memang enak ayo kita makan sama-sama. Daripada kalian jajan di luar, lebih baik makan ini."


Terlihat keramaian di dapur resto, di mana Mentari dikerumuni oleh para calon waiter dan waiters yang nantinya akan bekerja di tempat ini. Saking penasaran akan apa yang dilakukan oleh wanita itu, Awan mencoba untuk mendekat.


"Ehemmmm .... Kalian sedang apa? Kok ramai-ramai seperti ini?"


Suara deheman dari Awan dengan rasa keingintahuannya membuat semua yang ada di dapur menoleh ke arah sumber suara. Mereka yang sebelumnya terdengar asyik tertawa seketika mereka hentikan tawa mereka.


"Eh ada pak Awan. Mari sini Pak!" ajak Mentari ketika melihat kedatangan Awan. Ia harus memanggil Awan dengan sebutan 'pak' agar terdengar lebih sopan di depan para karyawan. "Kebetulan saya tadi membuat menu ayam bakar madu, mari silakan dicoba!" sambung Mentari pula.

__ADS_1


"Iya Pak, ayam bakar madu buatan Bu Mentari enak sekali loh Pak. Pasti pak Awan ketagihan," timpal salah seorang karyawan memuji ayam bakar madu buatan Mentari.


"Kok kamu bisa buat ayam bakar madu, Tar? Memang dapat ayam dari mana? Kamu memakai stok ayam untuk besok ya?" tanya Awan sedikit penasaran. Ia heran, mengapa wanita ini bisa membuat ayam bakar.


Mentari hanya tergelak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Astaga Pak Awan, mengapa Bapak berpikiran buruk terhadap saya? Mana berani saya menggunakan stok ayam untuk besok."


"Lantas, dapat dari mana kamu ayam itu?"


"Tadi Pak Sigit membawakan daging ayam mentah khusus untuk jatah makan para karyawan Pak. Lumayan banyak sih. Maka dari itu saya olah menjadi ayam bakar madu. Jadi saya sama sekali tidak menggunakan stok ayam untuk besok."


Awan merasa kikuk sendiri setelah sempat berpikir buruk terhadap Mentari. Ia pun hanya bisa menggaruk ujung hidungnya yang tiada gatal.


"Oh seperti itu? Maaf ya, aku sudah salah sangka."


"Tidak apa-apa Pak, santai saja. Ayo kita makan sama-sama."


Karena dilanda oleh rasa lapar juga, membuat Awan tanpa berlama-lama lagi menikmati sajian ayam bakar madu buatan Mentari. Kedua bola matanya terbelalak penuh kala cita rasa ayam bakar madu buatan Mentari ini mulai memanjakan indera pengecapnya.


"Waaaooowww ... Ini sih enak sekali Tar. Aku tidak menyangka kalau ternyata kamu pandai memasak," puji Awan yang begitu puas dengan rasa ayam bakar madu buatan Mentari.


"Iya Tar. Ini nikmat sekali. Kalau menu di restoku rasanya seperti ini aku yakin pasti akan semakin ramai."


"Hahahaha Pak Awan ini bisa saja memujinya. Tapi tenang saja Pak, saya sudah memberikan resep ayam bakar madu ini kepada juru masak di resto milik pak Awan. Kalau memungkinkan bisa dijadikan sebagai menu baru."


"Bisa dipertimbangkan!"


Semua orang yang berada di area dapur ini larut dalam kebersamaan yang ada. Meskipun mereka baru saja saling mengenal namun tidak menyurutkan keakraban yang tercipta. Diam-diam, Awan melirik ke arah Mentari yang terlihat begitu lepas tertawa-tawa bersama para karyawan.


Ternyata di balik wajah dan tubuhnya yang dulu begitu dekil, Mentari menyimpan sejuta pesona yang luar biasa. Dia pandai bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan yang lebih mengagumkan lagi, dia pandai memasak. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan masakan se-enak ini. Karena dulu Aya lah yang selalu memasak dengan rasa yang begitu nikmat seperti ini.


***


"Han, aku pulang!"

__ADS_1


Tepat pukul delapan, Awan tiba di rumah. Malam ini ia tidak mau tidur di luar lagi hanya gara-gara terlambat pulang. Oleh karena hal itu, setelah semua urusan di resto sudah selesai, ia cepat-cepat pulang ke rumah.


Awan mendaratkan bokongnya di sofa ruang tengah. Sembari melepas penat dan lelah, lelaki itu mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Dahinya pun berkerut dalam.


"Astaga, mengapa rumah terlihat kotor dan berantakan sekali? Itu tumpukan jemuran kering masih berada di ruang tamu. Padahal sudah sejak tiga hari yang lalu ada di sana. Seharian ini memang apa yang dilakukan oleh Mega?"


Awan sampai keheranan dengan kondisi rumah yang teramat berantakan. Keadaan seperti ini kembali mengingatkannya pada saat ia marah-marah kepada Aya. Jika Aya mungkin hal yang wajar karena ia mengurus anak serta mertua. Sedangkan Mega, ia hanya mengurus dirinya sendiri tapi tidak sempat untuk beres-beres dan bersih-bersih rumah.


"Oh, kamu sudah pulang Mas? Apa sudah makan? Kalau belum, itu di dapur ada telor balado."


Mega yang masih berada di lantai dua perlahan menuruni anak tangga. Ia ikut duduk di samping sang suami yang tengah melepas lelah.


"Han, seharian ini kamu ngapain aja sih? Mengapa rumah terlihat begitu berantakan seperti ini?" tanya Awan yang sudah tidak tahan untuk tidak berkomentar.


"Jangan protes dan berkomentar, Mas. Aku memang tidak melakukan satupun pekerjaan rumah selain memasak karena aku sedang malas. Hari ini aku benar-benar ingin bersantai ria."


"Malas kok setiap hari Han? Aku lihat jemuran kering itu sudah ada di ruang tamu sejak dua hari yang lalu. Tapi belum kamu pindah juga."


"Aaahhhh sudahlah Mas, sekarang aku yang tanya. Kamu sudah makan atau belum? Aku masak telor balado untukmu."


Awan seperti kesusahan menelan salivanya. Lagi-lagi ia dibenturkan pada menu telor. Entah sudah berapa banyak telor-telor yang masuk ke dalam mulutnya.


"Aku tidak makan Han, perutku sudah kenyang."


"Sudah kenyang? Memang makan apa Mas?"


"Itu tadi di resto anak-anak pada buat ayam bakar madu," bohong Awan. Ia memperhatikan dengan lekat wajah istrinya ini. "Kamu tidak pakai krim malam ya Han?"


"Yeeee ... Aku sudah pakai krim malam Mas. Memang kenapa sih?" tanya Mega penasaran.


"Aku lihat wajahmu kok tidak seperti biasanya ya. Wajahmu malam ini terlihat begitu kusam dan tidak bercahaya."


.

__ADS_1


.


__ADS_2