
"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak. Mengingat jumlah pinjaman pak Awan cukup besar yang senilai satu milyar, maka saya harap pak Awan bisa mengangsur pinjaman beserta bunganya setiap bulan."
"Itu sudah pasti Pak. Saya akan tepat waktu untuk mengangsur setiap bulan. Bapak kan tahu sendiri bahwa saya tidak memiliki track record yang buruk perihal utang piutang seperti ini, jadi Bapak jangan khawatir."
"Baik Pak, saya percaya. Karena jika sampai pak Awan mengalami kredit macet maksimal selama enam bulan, maka rumah beserta semua isinya akan kami sita."
"Bapak tenang saja. Saya pasti bisa menunaikan kewajiban dengan tepat waktu."
Mendapatkan usulan yang cukup bagus dari sang mertua, Awan memilih untuk menjaminkan sertifikat rumah ke pihak bank. Setelah menandatangani semua berkas utang piutang, akhirnya Awan berhasil mendapatkan kucuran dana senilai satu milyar dari salah satu bank yang ada di pusat kota. Kini, lelaki itu bisa tersenyum lega karena ia mendapatkan jalan keluar untuk semua kesulitan yang melilit geraknya.
Di dampingi oleh Mega, lelaki itu keluar dari ruangan untuk kemudian meninggalkan salah satu bank konvensional ini.
"Lalu, mau kita apakan uang satu milyar ini Han?" tanya Awan di sela-sela langkah kakinya menuju parkiran depan.
Sepasang suami-istri itu harus rela menggunakan jasa taksi online untuk bisa mengantarkan kemana-mana mengingat mobil yang mereka miliki ditarik oleh leasing.
"Yang jelas kita harus membayar tunggakan leasing dulu Mas. Aku mau mobilku kembali ke tanganku. Aku tidak bisa hidup tanpa mobil itu. Karena mobil itu merupakan mobil impianku."
"Itu sudah pasti Han. Kita akan ke leasing untuk membayar tunggakan angsuran kita. Lalu, setelah itu sisa uang yang kita miliki akan kita gunakan untuk apa? Apakah kita lanjutkan lagi bisnis ekspedisi seperti yang aku bangun sebelumnya?"
Mega menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Awan. Namun sejenak kemudian wanita itu menggelengkan kepala.
"Tidak Mas. Aku rasa nasibmu di dunia ekspedisi sudah tidak begitu hoki. Lebih baik kita cari bisnis lainnya saja."
Dahi Awan sedikit mengernyit. "Bisnis lain? Contohnya apa Han? Selain ekspedisi, aku tidak terlalu paham dengan bisnis lain."
Mega mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, hingga tatapan wanita itu tertuju pada sebuah restoran yang ada di seberang jalan. Ada tatapan takjub dari sorot mata wanita itu. Terlebih saat melihat begitu banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di pelataran area parkir.
"Apa kita buka usaha restoran saja ya Mas? Aku rasa usaha di bidang kuliner tidak terlalu buruk dan bisa menghasilkan income yang tinggi. Lihatlah restoran yang ada di seberang jalan itu. Jika setiap hari jumlah pengunjung restoran sebanyak itu, tidak sampai satu tahun pasti sudah balik modal."
Pandangan Awan tertuju pada telunjuk tangan Mega. Lelaki itu juga tidak kalah takjub dengan apa yang ia lihat. Begitu banyak mobil-mobil mewah yang terparkir di area parkir. Dalam otak Awan seakan berhamburan lembaran-lembaran uang yang begitu banyak sampai menenggelamkannya.
"Ide yang bagus itu Han. Tapi aku masih terlalu awam dengan usaha kuliner seperti itu. Aku takut salah langkah."
Ada keinginan yang menggebu dalam diri Awan, namun di samping itu ia juga dilema karena ia sama sekali tidak tahu menahu perihal usaha di bidang kuliner. Ia hanya khawatir tidak bisa maksimal menjalankannya.
"Kenapa harus bingung memulai dari mana Mas?Daripada kita bingung-bingung merintis usaha baru, lebih baik kita beli brand dan juga sistem restoran yang sudah terkenal di mana-mana. Dengan begitu kita tinggal bersantai ria."
Kedua bola mata Awan membulat penuh dengan bibir yang menganga lebar. Namun sejenak kemudian ada binar bahagia yang terpancar di wajah lelaki itu.
"Ya ampun, kamu sungguh cerdas Han. Aku tidak menyangka jika kamu memiliki ide yang cukup cemerlang seperti itu. Franchise merupakan jalan pintas untuk bisa sukses dalam waktu singkat," puji Awan sembari mengusap-usap pucuk kepala sang istri.
Mega tersenyum bangga seraya mengendikkan bahu. "Ya, itulah aku Mas. Aku memang cerdas. Maka dari itu, kamu harusnya bersyukur memilikiku."
__ADS_1
"Itu sudah pasti Han. Aku sungguh bersyukur memilikimu sebagai istriku. Lalu, uang yang aku pinjam kepada pak Andre?"
"Sudahlah Mas, biarkan saja bangunan dan beberapa sisa aset ekspedisimu itu dimiliki oleh pak Andre. Toh, kita juga tidak akan melanjutkan bisnis ekspedisi itu lagi kan?"
"Baiklah Han, nanti biar aku menemui pak Andre untuk menyerahkan bangunan dan sisa aset ekspedisi milikku dulu."
Pembicaraan sepasang suami istri itu terhenti kala taksi online yang mereka pesan sudah berhenti di depan mereka. Keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area bank konvensional ini.
***
"Jadi pak Awan benar-benar tidak bisa mengembalikan uang yang saya pinjamkan?"
Di salah satu kedai mie ayam yang ada di pinggir kota, Awan bertemu dengan Andre. Sembari menikmati sajian spesial mie ayam di kedai ini, keduanya mengobrol asyik perihal utang piutang.
"Iya Pak. Sebenarnya saya bisa untuk membayar uang yang saya pinjam, namun saya memilih untuk tidak mengembalikannya saja."
"Mengapa bisa begitu Pak? Bukankah perusahaan ekpedisi milik pak Awan sangat berarti untuk pak Awan sendiri?"
"Ya begitulah Pak, tapi untuk saat ini saya sudah tidak berhasrat untuk melanjutkan perusahaan itu lagi. Saya berencana untuk membuka usaha lain."
"Ohhh begitu ya Pak? Kalau boleh tahu, pak Awan mau pindah haluan ke usaha apa?"
"Di bidang kuliner Pak. Besok kalau restoran saya sudah buka, pak Andre jangan lupa untuk mampir ya."
Andre tersenyum simpul seraya menganggukkan kepala. "Ahhhh... Itu sudah pasti Pak. Saya pastikan akan menjadi orang pertama yang akan mencicipi menu di restoran Pak Awan."
"Pasti Pak," ucap Andre dengan mantap. "Jadi setelah ini saya panggilkan notaris untuk pengalihan kepemilikan perusahaan pak Awan ya?"
"Ah, itu terserah pak Andre saja. Saya ikut bagaimana enaknya."
"Baiklah kalau begitu Pak."
Awan beranjak dari posisi duduknya setelah satu porsi mie ayam yang ia nikmati telah tandas tanpa bekas. Ia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan Andre.
"Saya permisi pulang dulu ya Pak. Ini saya harus bergerak cepat untuk membuka usaha baru saya. Pokoknya perihal pengalihan kepemilikan perusahaan, saya serahkan kepada pak Andre."
Andre ikut bangkit dari posisi duduknya. Ia ulurkan tangan untuk menjabat tangan Awan. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih Pak. Semoga usaha baru pak Awan lebih berkah dari sebelumnya."
"Aamiin Pak. Terima kasih untuk doanya. Saya permisi dulu."
Awan melenggang pergi meninggalkan Andre yang masih berdiri di samping meja. Lelaki itu tersenyum penuh arti dan segera mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Tanpa basa-basi, ia menghubungi seseorang.
"Hallo bu Cahya... Sesuai dengan rencana, pak Awan menyerahkan perusahaan kepada kita."
***
__ADS_1
Kalimantan...
Mobil yang dikemudikan oleh Langit berhenti di depan pelataran sebuah ruko yang berada di pusat kota. Lelaki itu turun dari mobil dan memperhatikan ruko tiga lantai yang ada di depan mata. Ada rasa takjub yang menggelayuti hati. Melihat betapa hebatnya pemilik ruko ini.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?"
Kedatangan Langit sudah di sambut ramah oleh Rina yang kebetulan berada di depan ruko. Wanita itu baru saja mengecek barang yang dikirim ke Surabaya.
"Maaf Mbak, saya ingin bertemu dengan pemilik butik dan konveksi ini. Apa beliau ada di tempat?"
"Oh, Bapak ingin bertemu dengan bu Cahya?" tanya Rina sembari menyebutkan nama pemilik ruko ini.
Deg!!!
Cahya? Kenapa namanya sama persis dengan bunda Malika dan Alina? Apakah mungkin....? Ah tidak, tidak, tidak. Di dunia ini ada banyak nama Cahya. Tidak mungkin jika satu orang yang sama.
Langit termangu kala mendengar nama Cahya. Sampai-sampai ia tidak sadar termenung dan membeku.
"Pak, apa Bapak ingin bertemu dengan bu Cahya?" ulang Rina yang seketika menyadarkan lamunan Langit.
"Eh iya Mbak. Saya ingin bertemu dengan bu Cahya."
"Mari ikut saya Pak."
Langit berjalan mengekor di balik punggung Rina meniti anak-anak tangga yang mengantarkan ke lantai tiga. Tiba di depan sebuah ruangan, Rina mempersilahkan Langit untuk menunggu sejenak.
Di dalam ruangan, Cahya yang baru saja menerima telepon dari Andre sedikit terkejut kala suara Rina terdengar di telinga.
"Masuk Rin!"
"Maaf Bu Cahya, itu ada tamu. Putranya bu Wulan yang mau ukur baju."
"Oh iya, persilakan masuk Rin. Lalu tolong panggilkan Dena untuk mengukur ya."
"Baik Bu."
Rina keluar mempersilakan Langit untuk masuk ke ruangan Cahya. Sampai di ambang pintu, bibir lelaki itu menganga lebar dengan bola mata yang membulat sempurna kala pandangannya bersiborok dengan tatapan wanita yang ada di dalam ruangan ini.
"M-mbak Cahya?"
"M-Mas Langit?"
.
.
__ADS_1
.