Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 122. Serabi Lempit


__ADS_3


"Ini uang tiga ratus juta dan juga BPKB mobil yang sudah menjadi atas namamu Tari. Terimalah, semoga dengan dua hal ini bisa menjadi bukti bahwa aku benar-benar mencintaimu dan kamu merasa bahagia karena memiliki aku."


Awan tidak main-main dengan ucapannya. Siang tadi, meskipun wajahnya masih lebam-lebam namun lelaki itu tetap memaksakan diri untuk pergi ke bank dan juga samsat setempat. Pastinya untuk menunaikan janji yang telah terucap. Memberikan uang tiga ratus juta untuk biaya renovasi rumah dan juga membalik nama mobil yang ia punya untuk sang kekasih.


Dengan wajah berbinar, Mentari menerima dua barang berharga itu. Hatinya seakan bersorak gembira karena rencana awal berjalan mulus tanpa cela.


"Terima kasih ya Wan karena kamu sudah membuktikan keseriusanmu. Kalau seperti ini, aku semakin percaya."


"Percaya bahwa aku mencintaimu kan Tar?" tanya Awan dengan mengeringkan sebelah mata.


Semakin percaya kalau kamu benar-benar lelaki bodoh yang kebesaran nafsu, Wan. Di otakmu cuma ada perihal s e l a n g k a n g a n saja.


Mentari tersenyum tipis. "Iya Wan. Aku percaya bahwa kamu memang mencintaiku."


Awan tersenyum simpul. Ia merapatkan tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Mentari yang kini duduk di bangku yang berada di sebelah bangku kemudinya.


"Kalau kamu percaya, kamu pasti mau kan untuk aku ajak check-in di hotel? Kita nikmati kebersamaan kita di sana?" bujuk Awan sembari mengecup punggung tangan Mentari.


Setelah sempat gagal menikmati tubuh Tari di ruang pribadinya pagi tadi, Awan masih belum menyerah untuk membujuk dan merayu wanita ini agar mau diajak bercinta. Beberapa hari terkungkung dalam situasi tidak terpuaskan oleh pelayanan Mega, seakan membuat hasrat lelaki itu semakin berkobar.


Mentari nyengir kuda melihat kegigihan Awan untuk mengajaknya bercinta. Namun buru-buru ia gelengkan kepala.


"Tidak Wan, aku tidak mau. Jika saat ini aku menurutimu berarti aku tidak berbeda jauh dari Mega mantan istrimu kan? Dulu dia pasti juga selalu menuruti semua kemauanmu untuk bercinta sebelum ada ikatan pernikahan. Apa kamu belum bisa move-on dari Mega sampai-sampai memintaku hal yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh Mega?"


Mentari memberondong Awan dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia rasa bisa membuat Awan kian tersudut. Ia yakin jika setelah ini Awan tidak lagi memaksanya untuk bercinta.


Awan semakin keki. Ia hanya bisa menggaruk ujung hidungnya yang tidak gatal. Rasa bersalah itu kian menggelayuti hati saat melihat Mentari merasa seperti disamakan dengan sang mantan istri.


"Bukan, bukan seperti itu maksudku Tari. Aku jelas sudah move-on dari Mega karena saat ini ada kamu di sisiku."


"Kalau begitu buktikan juga dong Wan. Kamu akan memperlakukanku beda dari apa yang pernah kalian lakukan sebelum menikah."


Awan membuang napas sedikit kasar. Kali ini ia harus benar-benar bisa menahan hasratnya untuk tidak mengajak Mentari bercinta. Karena bisa berantakan jika sampai wanita ini hilang kepercayaan.


"Baiklah Tari, akan aku buktikan ke kamu bahwa aku sudah move-on dari Mega. Aku tidak akan memintamu melakukan hal-hal seperti apa yang pernah aku lakukan dengan Mega sebelum menikah."

__ADS_1


"Nah, itu baru calon suamiku." Tari tersenyum lebar karena pada akhirnya kadal buntung ini tidak lagi membujuknya untuk check-in. Ia merasa terselamatkan. "Ya sudah, kita kembali ke resto yuk. Hari ini ada reservasi lima puluh orang loh Wan. Kita pastikan semua berjalan lancar."


"Oke Tar!"


Pada akhirnya Awan menyerah. Berkali-kali membujuk Mentari untuk bisa diajak bercinta pada kenyataannya selalu gagal. Wanita ini memang berbeda jauh dari Mega. Mentari terkesan menjaga dirinya baik-baik agar tidak sampai berbuat sesuatu yang melampaui batas.


Aku salut dengan pendirian Mentari. Itu membuktikan bahwa dia memang wanita baik-baik. Tapi jika seperti ini aku mana tahan. Sudah lama aku tidak pernah mencapai puncak ketika berhubungan dengan Mega. Hal itulah yang sepertinya membuat l i b i d o k u semakin besar.


"Wan, ada apa? Kok mobilnya gak jalan-jalan?"


Mentari menepuk pundak Awan di mana lelaki ini justru terlihat bengong sendiri. Ia yang ingin cepat-cepat tiba di resto untuk prepare reservasi, harus terhalang karena Awan yang justru melamun, larut dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang dipikirkan oleh lelaki ini.


Tubuh Awan sedikit terperanjat, sadar dari lamunannya. Gara-gara l i b i d o yang tinggi sampai-sampai membuatnya lupa bahwa harus segera tiba di resto. Lelaki itu tersenyum kikuk, merasa keki.


"Ahhahaha ... Maaf ya Tar. Tiba-tiba saja dalam otakku muncul konsep saat kita menikah nanti. Aku seperti dibuat sibuk memilih konsep seperti apa untuk acara pernikahan kita nanti," dusta Awan.


"Issshhh, kenapa harus dipikirkan sekarang sih Wan? Itu nanti-nati saja, toh tidak dalam waktu dekat ini juga kan? Aku masih dalam masa iddah loh."


"Ahhhh iya, aku sampai lupa. Ya sudah, sekarang ayo kita kembali ke resto!"


Isshhhhh mana paham kamu soal masa iddah Wan. Yang ada di otakmu itu kan hanya ada pikiran-pikiran kotor.


***


Kerlip bintang tak nampak menghias langit kala Awan melajukan laju mobilnya menyusuri jalanan yang nampak lengang ini. Setelah resto tutup, ia bergegas untuk pulang. Namun entah apa yang terjadi, laju kemudinya malah melenceng jauh dari kediamannya. Saat tersadar, lelaki itu sudah berada di kawasan wisata di kaki gunung.


Awan menghentikan laju mobilnya. Ia mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Nampak beberapa villa dan juga losmen berjajar di sana. Tak selang lama, pandangan matanya tertuju pada sebuah warung yang nampak remang penerangannya.


"Ah, sepertinya itu warung kopi. Bukan hal yang buruk juga jika aku mampir sebentar untuk ngopi. Kepalaku rasanya pening sekali."


Awan mengarahkan laju mobilnya ke arah warung remang-remang itu. Ia parkirkan mobilnya di depan warung di mana di tempat ini juga terparkir beberapa motor. Lelaki itu gegas keluar dari dalam mobil.


"Gila, ramai juga ya. Banyak sekali pelanggannya. Memang apa yang spesial di tempat yang terlihat biasa saja seperti ini?"


Awan semakin dibuat penasaran akan warung kopi yang terlihat begitu ramai oleh pengunjung. Tak ingin berlama-lama dibuat penasaran, ia langsung masuk ke dalam.


"Selamat malam Boss! Mau ngopi?" ucap salah seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun menyambut kedatangan Awan.

__ADS_1


"Iya Pak, tolong buatkan aku kopi tubruk tanpa gula ya!"


Bapak itu tergelak. "Tanpa gula? Gak takut pahit Boss?"


"Ah biasa saja Pak. Aku biasa minum kopi pahit soalnya."


"Oh kalau sudah biasa sih ya tidak apa-apa." Bapak itu mulai membuatkan pesanan Awan. "Ke sini sendirian saja Boss?"


"Ya sendiri saja Pak, memang kenapa?"


"Ah tidak apa-apa Boss!" Pesanan Awan sudah siap. Ia sajikan di hadapan Awan dengan senyum manis yang tersungging di bibir. "Silakan dinikmati Boss."


"Terima kasih Pak!" Awan mulai menyeruput kopi tubruk yang masih panas ini. Netranya pun tiada henti mengedar ke arah sekeliling. "Aku lihat di luar banyak motor yang terparkir tapi di dalam kok tidak ada orang sama sekali. Memang motor-motor itu punya siapa Pak?"


Awan sampai dibuat bingung sendiri dengan keadaan warung kopi ini. Dari luar terlihat ramai dengan motor-motor yang berjajar tapi setelah masuk ia sama sekali tidak menemukan pelanggan yang ngopi. Ia sampai berpikir jika pemilik warung ini menyewa motor-motor tetangga untuk diparkir di depan warung agar terkesan ramai.


"Ya punya pelanggan Boss. Mereka ada kok, tapi sedang ada di dalam sana!" ucap si penjual kopi seraya menunjuk ke arah bangunan yang berada di belakang warung kopi ini.


Mata Awan tertuju pada telunjuk tangan si bapak. Terlihat sebuah rumah dengan dua lantai yang terlihat biasa-biasa saja.


"Memang mereka di sana ngapain Pak?" tanya Awan penasaran.


"Sedang menikmati serabi, Boss!"


"Serabi? Malam-malam seperti ini ada yang jualan serabi?"


"Ya justru malam-malam seperti ini serabinya pada banyak yang beli Boss. Namanya juga serabi lempit."


Dahi Awan berkerut dengan kedua alis yang bertaut. Ia semakin tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh bapak penjual kopi ini.


"Maksudnya bagaimana sih Pak? Apa pemilik rumah itu menjual serabi? Atau bagaimana sih?"


"Hahaha hahaha Boss ... Boss..... Sampeyan ini terlalu polos atau bagaimana sih? Maksudnya serabi lempit itu adalah...."


Si Bapak penjual kopi mendekatkan bibirnya ke telinga Awan. Ia pun berbisik lirih di sana.


Awan hanya bisa membeliakkan kedua bola matanya ketika baru paham bahwa serabi lempit merupakan jasa wanita malam untuk menemani para lelaki hidung belang.

__ADS_1


"Bagaimana Boss? Apa Boss berminat? Kebetulan masih ada satu orang yang free. Spek istimewa karena masih sempit dan menjepit. Satu orang ini memang sengaja aku simpan khusus untuk pelanggan bermobil seperti Boss ini."


__ADS_2