
"Aku tidak menyangka jika seperti itu cara kamu memperlakukan customer, Meg. Benar-benar tidak ada tata kramanya!" sungut Awan setelah mendengar dan melihat secara langsung bagaimana sang istri menerima komplain dari pelanggan.
Mega, Awan dan Mentari berada di ruang khusus, di mana ruangan itu merupakan ruang pribadi Awan. Biasanya, Awan selalu berada di ruangan itu untuk beristirahat dan mengerjakan pekerjaannya.
Mega terhenyak dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. Ada ucapan dari Awan yang sedikit asing di dalam pendengarannya.
"Apa Mas, kamu panggil aku apa? Meg? Apa kamu tiba-tiba amnesia karena memanggilku dengan seperti itu?"
Mega tak habis pikir, jika sang suami memanggilnya hanya dengan namanya saja. Padahal sebelumnya, ia selalu memanggil dengan mesra dan mungkin bisa membuat iri orang-orang yang mendengarnya.
"Aaahhh, itu tidak penting. Toh namamu juga Mega, kan? Kalau aku panggil kamu monyet gitu, kamu bisa langsung protes!" jawab Awan yang semakin kesal. Entah mengapa mood nya kali ini mendadak hilang setelah melihat Mega dalam menerima komplain dari pelanggan.
"Keterlaluan kamu Mas! Semakin ngelunjak saja kamu!"
"Aku tidak ngelunjak, justru kamu yang ngelunjak karena tidak punya tata krama dalam menghadapi komplain dari pelanggan. Apa kamu tidak sadar jika perilakumu itu bisa membuat citra resto kita semakin buruk? Kita ini baru awal merintis dan sedang merangkak naik, Meg. Masa iya sudah mau kamu hancurkan dengan perilakumu itu?"
Intonasi suara Awan sudah semakin lirih. Ia seperti sudah hilang kesabaran dalam menghadapi sikap Mega. Semakin hari, ia merasa jika Mega ini semakin berubah saja. Semuanya berubah. Mulai dari sikap yang lebih ngelunjak. Emosi yang sulit terkontrol. Pelayanan di ranjang yang menurun dan wajahnya yang semakin hari nampak tak menarik lagi.
"Tapi Mas, aku yakin seratus persen jika karyawan kita sudah sangat teliti memasukkan ayam ke dalam semua box nasi tanpa ada yang tertinggal!" ucap Mega yang seakan membela para karyawan. Padahal ia tidak tahu persis bagaimana cara karyawannya bekerja karena pada saat pesanan itu dibuat, ia tidak berada di tempat ataupun mengecek satu persatu.
Awan menghembuskan napas kasar. Ia benar-benar tidak menyangka jika Mega masih tetap kekeuh pada pendiriannya bahwa karyawan di sini tidak mungkin melakukan kesalahan. Padahal kesalahan seperti itu sangatlah wajar terjadi pada pengerjaan pesanan sebanyak itu.
"Se-teliti apapun yang sudah karyawan kita kerjakan, namun pada kenyataannya masih ada yang terlewat, bukan? Di sini yang aku sayangkan adalah cara kamu menyelesaikan sebuah komplain. Seharusnya kamu tahu, sesempurna apapun yang kita lakukan namun di sini customer adalah aset berharga bagi kita dan tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari kita!" ucap Awan sedikit lebih tenang. Rasa-rasanya percuma jika ia tetap adu nada tinggi dengan istrinya ini.
Mentari yang melihat perdebatan suami istri ini hanya bisa terdiam dan menundukkan wajah. Baru kali ini ia melihat begitu emosinya Awan menghadapi tingkah sang istri. Ia yakin sekali bahwa Awan semakin dibuat ilfil oleh sikap Mega sendiri.
Bagus, semakin sering kalian bertengkar, maka semakin memudahkanku untuk masuk ke dalam rumah tangga kalian. Dengan begitu, aku semakin mudah untuk melancarkan niatku.
__ADS_1
"Tapi Mas, bisa saja customer itu yang mengada-ada? Dia sengaja mengarang cerita bohong seperti itu untuk mendapatkan ganti rugi dari kita?" sanggah Mega yang tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
Awan mengurut pelipisnya. Semakin lama ucapan Mega ini tidak berbobot sama sekali. Ia tatap lekat mata istrinya ini.
"Tujuan dia mengada-ada apa, Meg? Tidak mungkin dalam hal ini ibu itu mengada-ada. Justru saat itu si ibu yang malu karena ada beberapa peserta seminar tidak mendapatkan jatah yang seharusnya mereka dapatkan!" ucap Awan yang seperti sudah hilang kesabaran memberikan Mega pengertian.
Mega kicep. Melihat sang suami dipenuhi oleh amarah seperti ini hanya membuatnya ciut nyali. Kali ini, ia benar-benar tidak mengutarakan argumen dan membela diri lagi.
Awan menghela nafas dalam. Ia tautkan pandangannya ke arah Mentari. "Bagaimana menurutmu Tar?"
Mentari yang saat ini tengah menghisap terdiam dan menundukkan wajah, ia tegakkan kepalanya. Wanita itu tersenyum manis dengan raut wajah yang tenang.
"Tenang Pak, semua sudah teratasi, bukan? Saya rasa semua yang ada di sini perlu banyak belajar dari kejadian ini. Dari kejadian ini para karyawan bisa lebih teliti lagi dalam bekerja dan dari kejadian ini kita juga bisa sama-sama belajar dalam menghadapi komplain dari pelanggan. Toh, tidak terlalu merugikan juga kan kalau kita bertanggung jawab atas kejadian itu? Yang terpenting customer puas dengan cara kita menyelesaikan komplain dan citra baik resto kita bisa tetap terjaga."
"Buka telingamu lebar-lebar Meg. Kamu harus bisa banyak belajar dari Mentari. Dia saja bisa bijak dan tenang dalam menghadapi komplain. Tapi kamu malah emosi dan lupa jika mencari pelanggan setia itu susah."
Mega kian tersudut. Ia lirik ke arah Mentari yang saat ini wajah wanita itu terpancar kepuasan karena lebih dibela oleh Awan.
"Ini, ini yang membuatku semakin muak kepadamu Meg. Kamu semakin hari semakin tidak bisa mengendalikan emosi. Kamu pun juga egois karena tidak mau mendengar kritik dari orang lain."
Mega terperanjat. "Apa kamu bilang? Muak? Yang ada aku yang muak melihat kalian berdua ini, Mas. Aku yakin, kamu pasti sudah bermain serong dengan wanita murahan ini di belakangku!"
Awan terhenyak mendengar tuduhan yang dilayangkan oleh Mega. Reflek, tangan Awan terangkat dan.. .
Plak.... Plak...
"Aaaahhhhhh!!!"
Dua tamparan mendarat tepat di pipi Mega. Wanita itu memekik kesakitan sembari memegang pipinya. Seketika, rasa nyeri itu menjalar melalui syaraf-syaraf yang ada di sana.
__ADS_1
"Jaga mulutmu Meg. Mentari ini wanita baik-baik dan sama sekali tidak murahan. Jika kamu terus menerus menuduhku berselingkuh, bisa-bisa aku berselingkuh beneran dengan Mentari. Aku sungguh muak dengan tingkah lakumu Meg. Aku sungguh muak!"
"Pak, sudah Pak, sudah. Pak Awan yang sabar dalam mengahadapi Bu Mega. Mungkin saat ini mood Bu Mega sedang kacau."
Mentari mengusap-usap lengan tangan Awan mencoba untuk mentransfer ketenangan dalam diri Awan. Sejatinya, ia juga sedikit shock saat melihat Awan menampar pipi Mega, namun dalam hati ia tertawa puas. Puas karena Awan semakin ilfil pada istrinya sendiri.
"Aku tidak menyangka jika hati Mega sekeras ini, Tar. Ia sama sekali tidak mau di salahkan dan justru mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahannya. Aku benar-benar muak!"
Mentari berjalan ke arah Mega yang masih memilih terdiam dan membisu sembari memegangi pipinya. Kali ini, ia akan berperan sebagai orang yang netral agar mendapatkan simpati dari Awan.
"Bu Mega ada baiknya saat ini pulang saja dulu."
"Enak saja kamu menyuruhku pulang. Memang kamu ini siapa? Resto ini juga milikku dan aku berhak berada di sini kapanpun yang aku mau," timpal Mega dengan suara tinggi. Sepertinya emosi wanita itu masih meledak-ledak.
"Ini semua demi kebaikan kita semua, Bu. Saat ini pak Awan dan bu Mega sedang sama-sama dikuasai oleh emosi. Jadi, ada baiknya ada salah satu pergi dari tempat ini," ucap Mentari memberikan pendapat.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pergi dari sini. Resto ini punyaku. Jadi aku berhak ada di sini," sungut Mega. "Kenapa tidak kamu saja yang pergi dari sini, hah? Karena kamu lah yang sudah membuat aku dan suamiku bertengkar seperti ini!"
Mentari tersenyum penuh arti. "Baiklah kalau begitu. Saya yang akan pergi dari sini!"
Mentari mengayunkan tungkai kakinya, bermaksud untuk keluar dari ruangan ini. Namun tiba-tiba.. .
"Kamu tetap di sini Tari, karena resto membutuhkan kamu. Biarkan aku yang pergi dari sini untuk sejenak menenangkan diri. Aku benar-benar muak melihat Mega ada di sini!"
Awan bergegas melangkahkan untuk keluar dari ruangan ini. Kesabarannya benar-benar diuji di sini kala melihat sang istri yang semakin tiada terkendali. Dengan sejenak menyendiri, ia yakin bisa kembali bersemangat seperti sedia kala.
"Mas, kamu mau kemana Mas? Aku ini istrimu. Aku sedang mengandung anakmu. Kamu tega memperlakukan aku seperti ini?" teriak Mega kala melihat Awan yang sudah berada di luar ruangan.
Awan tidak mempedulikan teriakan Mega. Lelaki itu tetap melangkah pergi meninggalkan resto ini.
__ADS_1
.
.