Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 139. Akhir Kisah Yang Sempurna


__ADS_3


"Bunda ... Kita mau ke mana? Kok jalannya berkelok-kelok seperti ini?"


Malika tiada henti bertanya kepada sang bunda akan ke mana tujuan mereka pergi. Jalanan berkelok-kelok yang di dominasi oleh barisan hijau tanaman teh seolah menjadi pusat perhatian bagi gadis kecil itu. Sedari tadi pandangannya tidak berhenti memandangi keadaan sekitar.


"Sepertinya kita mau piknik Dek, atau mungkin Bunda dan ayah mau mengajak kita camping," celetuk Alina sembari menggigit pucuk batang cokelat kesukaannya.


"Waaahhh camping? Sepertinya seru sekali ya Kak?" ucap Malika dengan wajah berbinar.


Cahya hanya tersenyum tipis. Ia memang sengaja belum memberitahu ke mana mereka akan pergi, mengingat ini semua ada hubungannya dengan sang mantan suami. Setelah mendengar kabar bahwa Awan mengalami kecelakaan, ia memang berencana untuk menjenguk Awan di rumah sakit dan kebetulan semua keluarga sudah berkumpul di kota ini, ia pun mengajak semua untuk ikut.


"Kalau untuk camping, nanti bisa kita rencanakan lagi ya Sayang. Namun untuk saat ini kita tidak akan camping dulu. Kita akan pergi ke suatu tempat dahulu."


"Tapi kemana Bunda? Alina penasaran ini," desak Alina yang semakin penasaran.


"Sabar Sayang, sebentar lagi sampai kok. Kakak sama adek nikmati perjalanannya dulu saja ya," tutur Langit sembari fokus mengemudikan mobil.


Candra dan Bintari yang mendengar pembicaraan orang tua dan anak-anaknya ini juga hanya bisa mengernyitkan dahi. Dalam hati dan benak mereka juga sama penasaran akan ke mana tujuan dari perjalanan ini, namun mereka hanya bisa terus mengurung rasa ingin tahu mereka di dalam hati.


"Ayah dan Ibu juga penasaran mau pergi ke mana?" tanya Cahya sembari terkekeh pelan saat melihat raut wajah kedua orang tuanya dari kaca spion.


"Iya Ay, Ibu juga penasaran. Tapi mau bagaimana lagi? Sedari tadi kamu tidak juga memberi tahu?" cicit Bintari.


"Sudah, seperti apa yang dikatakan oleh mas Langit, Ibu dan Ayah nikmati saja perjalanannya. Di Kalimantan jarang bukan ada pemandangan kebun teh seperti ini?"


"Iya benar Ay. Suasana di sini sungguh sejuk. Sepertinya Ayah akan betah tinggal di kota ini," ucap Candra yang sorot matanya tidak lepas dari arah luar jendela.


"Kalau begitu, kita sama-sama tinggal di Jogja saja ya?" timpal Langit memberikan usulan.


"Wah, wah, wah, ide yang bagus itu Nak."


"Hahahaha..."


Cahya yang mendengar penuturan Langit hanya bisa terkekeh pelan. Dalam benaknya teringat akan kata-kata yang dulu sempat ia dengar dari orang-orang yang tinggal di Jogja. Ya, seberapa jauh mereka pergi, maka kota itulah yang akan menjadi tempat mereka kembali.


***


"Sudah Wan, jangan terlalu hanyut dalam kesedihan itu. Kamu harus ikhlas menerima kenyataan."


Marni menatap nanar wajah sang anak yang terlihat begitu tidak bersemangat ini. Sudah sejak kemarin ketika ia tahu bahwa kedua kakinya lumpuh permanen, ia hanya terus menatap ke seluruh penjuru ruangan dengan tatapan kosong. Sang anak terlihat begitu terpukul akan kenyataan yang ia jalani ini.


Sejatinya Marni juga turut merasakan kehancuran itu. Namun sebagai seorang ibu, ia harus bisa menghibur sang anak dengan memberikan dorongan semangat agar sang anak tidak berputus asa dan terus percaya bahwa apa yang terjadi memang sebuah ketetapan dari Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


"Dulu aku pernah membuang Ibu karena lumpuh. Ternyata saat ini aku sendirilah yang mengalami kelumpuhan itu, Bu. Sungguh, Allah benar-benar membayar tunai semua kedurhakaan yang aku lakukan kepada Ibu."


Tatapan Awan terlihat kosong dan juga menerawang. Namun tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes membasahi bingkai wajahnya. Ada satu hal yang terasa begitu menohok hati sehingga dadanya terasa sesak sekali.


Marni meraih telapak tangan Awan dan ia genggam dengan erat. "Sudahlah Nak, kamu yang ikhlas. Semoga dengan keikhlasanmu menjalani ini semua bisa menggugurkan dosa-dosamu. Jangan lupa untuk memperbanyak istighfar, agar hatimu terasa tentram."


Awan menoleh ke arah sang ibu. Air matanya semakin deras mengalir ketika melihat wajah Marni yang semakin terlihat tua.


"Seharusnya di saat aku menyesali semua kesalahan dan dosaku, aku masih bisa merawat Ibu dengan sempurna. Tapi jika keadaanku seperti ini, bagaimana aku bisa merawat dan menjaga Ibu? Saat ini akupun juga sudah lumpuh, Bu. Aku sudah menjadi seorang laki-laki yang tidak berguna. Bahkan untuk mengurus diriku sendiri saja aku sudah tidak mampu."


Melihat Awan yang berderai air mata, membuat hati Marni juga seakan kian tergerus perih. Ia mengecup punggung tangan sang anak dan kemudian ia letakkan di pipi.


"Sabar Nak. Sekarang kita lewati semua sama-sama. InshaAllah kita sanggup untuk menjalani ini semua."


Ada sebuah gejolak yang berkobar di dalam dada Awan. Gejolak rasa yang membuatnya semakin sesak dan ingin menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, bak sebuah tanggul yang jebol, tangis Awan semakin pecah tiada terkendali.


"Maafkan aku Bu, maafkan aku. Dosa-dosa yang sudah aku lakukan sangatlah besar. Entah, apakah Allah akan memberikan pengampunan atau tidak."


"Allah pasti akan mengampunimu, Mas. Sebesar apapun dosa seorang hamba, jauh lebih besar ampunan Allah yang akan diberikan untuk hambaNya, asalkan dia bertaubat dengan taubatan nasuha."


Awan dan Marni sama-sama terhenyak kala mendengar suara seorang wanita yang berasal dari arah pintu. Gelombang suara yang terasa begitu familiar di telinga masing-masing yang membuat keduanya gegas menoleh ke arah sumber suara.


"Cahya!!!!"


***


"Maafkan saya Pak, Bu, maafkan saya. Saya sudah melakukan kesalahan besar kepada Cahya. Saya minta maaf."


"Saya juga minta maaf Pak Candra, bu Bintari, karena tidak bisa mendidik anak saya dengan baik sampai-sampai dia bisa melakukan hal ini kepada Cahya. Maafkan saya, Pak, Bu..."


Awan dan Marni sama-sama menangis di hadapan Candra dan Bintari. Tangis air mata yang menunjukkan rasa bersalah dan penyesalan atas semua yang terjadi.


Candra dan Bintari yang sebelumnya hanya terdiam dan membeku, kini keduanya sama-sama memberikan respon. Sejatinya kedua paruh baya itu masih dalam keadaan terkejut karena tidak menyangka jika akan dipertemukan dengan Awan dan Bintari. Namun, keduanya berusaha untuk menata hati dan emosi agar tetap tenang untuk bertemu dengan mantan menantunya ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada kekecewaan dalam diri karena sang anak pernah diselingkuhi dan juga dicampakkan.


Candra dan Bintari mendekat ke arah Marni. Mereka usap punggung wanita ini dengan lembut.


"Sudah ya Bu. Saya dan suami saya sudah memaafkan semua. Jadi mulai saat ini kita sama-sama membuka lembaran hidup yang baru. Dengan saling memaafkan. Semoga yang telah terjadi bisa menjadi pelajaran hidup berharga untuk kita semua," ucap Bintari dengan bijak.


"Jadikan ini semua sebagai sarana untukmu bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, Wan. Kamu harus ingat bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai," ucap Candra kepada Awan.


"Iya Pak, saya menyesal. Saya ingin bertaubat atas semua dosa yang sudah saya lakukan. Semoga saya masih pantas untuk mendapatkan ampunan dari Allah."


"Aamiin...."

__ADS_1


Awan menautkan pandangannya ke arah sofa yang ada di ruangannya. Hatinya sedikit berdenyut nyeri saat melihat Malika yang nampak nyaman di dalam gendongan Langit dan juga Alina yang nampak nyaman memeluk kaki sang ayah sambung. Kedua putrinya itu hanya bisa terdiam dan membisu melihat suasana yang terjadi di kamar ini.


"Alina, Malika.... putri-putri Ayah... Sini Nak! Ayah ingin memeluk kalian semua!"


Kedua gadis kecil itu masih bergeming. Mereka seakan tidak paham akan ekspresi apa yang harus mereka tunjukkan. Sejak kehadiran Langit, sosok ayah benar-benar sudah mereka dapatkan darinya dan lupa jika ia memiliki seorang ayah kandung yang masih hidup.


Alina dan Malika justru semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Langit. Dari pelukan itu mereka seakan tidak mau untuk memenuhi permintaan Awan.


"Kakak, Adek, kita ke sana ya. Itu ayah ingin memeluk Kakak dan juga Adek," ucap Langit mencoba untuk membujuk kedua anak sambungnya.


Meski tidak ada jawaban dari Alina dan Malika, Langit tetap mengayunkan tungkai kaki. Ia berjalan sembari menggandeng Alina dan menggendong Malika. Tak membutuhkan waktu yang lama, Langit sudah tiba di sisi ranjang Awan.


"Nak.... Saat ini Ayah Awan sedang sakit. Peluk Ayah Awan ya. Semoga dengan pelukan Kakak dan Adek bisa membuat Ayah Awan segera pulih."


Awan merentangkan kedua tangannya. Dengan mata berkaca-kaca ia memandang teduh wajah kedua putrinya ini.


"Sini Sayang. Ayah ingin memeluk kalian."


Langit menempatkan kedua putri sambungnya di atas ranjang. Dan tanpa banyak bicara, Awan langsung memeluk tubuh kedua putrinya ini.


"Ayah minta maaf Nak, Ayah minta maaf. Karena kurang bersyukur atas semua karunia yang telah Allah berikan, membuat Ayah menjadi seorang Ayah yang jahat untuk kalian. Maafkan Ayah, Nak!"


Hidung Alina dan Malika kembang kempis menahan tangis. Namun pada akhirnya tangis itu pecah juga saat Awan memeluk erat tubuh mereka.


"Ayahhhh!!!"


Mendadak atmosfer di ruangan ini dipenuhi oleh keharuan yang luar biasa. Awan, Alina, Malika, dan Marni sama-sama menangis tergugu. Sedangkan Bintari dan Candra juga turut menatap sendiri wajah mantan besan dan juga mantan menantunya ini.


Langit kembali mendekat ke arah Cahya. Ia raih telapak tangan sang istri dan ia genggam jemarinya dengan erat. Cahya menatap lekat wajah lelaki yang saat ini menjadi suaminya. Ia tersenyum manis ke arahnya. Meskipun kisah ini pernah ia lalui dengan derai air mata dan rasa sakit yang mendera, namun ia bersyukur bisa menutup kisah ini dengan sempurna. Tentunya dengan memaafkan dan berdamai dengan masa lalunya.


"Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku untuk melengkapiku, Mas. Semoga Allah memberikan ridho untuk kita berdua dan tidak hanya di dunia saja kita disatukan namun juga di akhirat kelak."


"Aamiin, aamiin ya rabbal alaamiin Sayang. Seperti itulah doa-doa yang selalu aku panjatkan setiap hari."


Cahya kembali menatap wajah Awan dari posisinya. Ia pun hanya bisa tersenyum tipis.


Jika saat ini rasa sakit yang pernah aku rasakan berbalik padamu, percayalah bukan karena aku mendoakanmu yang tidak baik, Mas. Tapi, sempat ada tangis yang kutumpahkan di hadapan Rabb-ku di sepertiga malam yang diijabah oleh Rabb-ku.


Dan pada akhirnya cahaya itu memilih bersinar di kanvas langit yang berbeda. Kanvas langit yang selalu menantikan kehadirannya meskipun terkadang ada mega yang menghalanginya cahayanya.


.


.

__ADS_1


. T A M A T


__ADS_2