Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 52. Pingsan


__ADS_3


Cahya masih dengan santai mengancingkan kemeja Awan yang terbuka. Di di depan matanya, juga nampak jelas noda lipstik dari bibir Mega yang menempel kemeja Awan. Meski keberadaan noda lipstik ini sedikit membuat tercengang, namun Cahya tetap berupaya untuk menahan emosinya.


"Ini kok juga ada noda lipstik di kemejamu Mas? Lipstik siapa ini? Padahal sejak tadi aku belum bermesraan denganmu kan?"


Kedua bola mata Awan semakin terbelalak lebar. Belum hilang degup jantungnya yang bertalu-talu karena kancing kemeja yang terbuka, kini sudah ditambah dengan keberadaan lipstik yang sama sekali luput dari penglihatannya. Tak ayal, hal itulah yang membuat Awan semakin gugup tiada terkira.


"Oh, ini tadi bu Mega sebelum terkapar di lantai dia menubrukku terlebih dahulu Ay. Jadi mungkin ini noda lipstik bu Mega."


Awan berupaya untuk mengatur napasnya. Sebisa mungkin ia tidak boleh terlalu nampak gugup di hadapan Cahya. Apalagi memperlihatkan suaranya yang bergetar karena takut ketahuan.


"Oh lipstik bu Mega? Aku kira dari siapa."


Cahya berbalik badan ketika sudah selesai dengan urusan kancing kemeja sang suami. Ia kembali mendaratkan bokongnya di sofa.


Awan melihat ekspresi yang berbeda di wajah Cahya. Lelaki itu menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya.


"Ay, aku mohon jangan berpikiran yang macam-macam tentang lipstik ini. Ini murni kecelakaan dan satu hal yang tidak disengaja. Di mana bu Mega jatuh yang sebelumnya menubrukku!"


Cahya tersenyum tipis. "Iya. Aku juga tidak berpikiran yang macam-macam kok Mas. Kamu kan lelaki setia."


Awan masih melihat ekspresi berbeda dari raut wajah Cahya. Gegas, ia raih telapak tangan Cahya dan ia genggam dengan erat.


"Kamu percaya kepadaku kan Ay? Aku ini lelaki setia. Aku tidak akan pernah berbuat macam-macam di belakangmu," ucap Awan sembari menatap manik mata Cahya dengan intens.


Mulutmu sungguh manis sekali Mas. Kamu pikir aku wanita bodoh yang mudah kamu tipu? Aku sudah mengetahui semua. Jangan harap aku bisa percaya kepadamu lagi.


Cahya mengangguk pelan. "Iya Mas, aku percaya padamu. Aku juga percaya bahwa kamu tidak akan pernah mencurangiku. Karena aku yakin jika ada sesuatu yang kamu sembunyikan, akan ada kemalangan yang menimpamu."


"Itu sudah pasti Ay. Aku tidak pernah sekalipun menghianatimu."


***


"Aaaarrggghhh ... Sialan! Bisa-bisanya anak-anak kecil itu mengerjaiku!"


Di toilet, Mega masih sibuk berjibaku dengan sisa-sisa permen karet yang masih menempel di bagian belakang rok mini yang ia kenakan. Mega seakan belum mau menyerah sebelum rok yang ia kenakan bersih seperti semula. Oleh karena hal itu, ia seakan di buat frustrasi oleh kejahilan anak-anak Awan ini.


"Kalau saja aku tidak menjaga image di depan mas Awan, akan aku cari anak-anak nakal itu. Akan aku cubit sampai kesakitan. Aaaarrggghhh!!"


Mega masih bermonolog lirih sembari mengumpat. Ia merasa hari ini adalah hari paling sial untuknya. Dikatain purel, jatuh dari pangkuan Awan, pelipisnya terbentur kaki meja, dan sekarang rok nya harus terkena permen karet akibat kejahilan anak-anak Awan. Sungguh begitu sial hari ini bagi Mega.


Tak jauh dari tempat Mega berada, terlihat Dina yang memasuki area toilet. Senyum lebar mengembang di bibir kala ia dapati Mega masih sibuk sendiri dengan aktivitasnya membersihkan rok yang ia kenakan.

__ADS_1


"Loh, Anda kenapa Bu? Kok terlihat sibuk sekali?" tanya Dina mencoba membuka pembicaraan.


"Bukan urusanmu. Segera tunaikan apa keperluanmu di toilet ini. Jangan ikut campur dengan urusanku," timpal Mega dengan sinis plus sadis.


Idiihhh... Songong sekali. Pantas Alina begitu membenci orang ini. Awas saja kamu. Tiba di rumah pasti kamu akan kelonjotan dengan cacing-cacing yang aku bawa.


Dina melirik ke arah tas milik Mega yang diletakkan di depan cermin di atas wastafel. Posisi Mega begitu pas karena wanita itu memunggungi cermin sembari membungkukkan tubuh. Dina menghidupkan kran dan berpura-pura mencuci tangan. Ia rogoh saku celana yang ia kenakan. Satu plastik cacing tanah sudah siap untuk ia masukkan ke dalam tas wanita ini.


Dina merobek plastik yang membungkus cacing-cacing tanah dan isinya ia masukkan ke dalam tas. Senyum lebar terbit di bibir kala wanita itu berhasil melakukan misinya.


Tanpa banyak kata Dina melenggang pergi meninggalkan area toilet dan hanya ada Mega yang tersisa di tempat ini. Dalam posisi membungkuk, Mega melihat bayangan tubuh Dina yang mulai menghilang. Bibir wanita itu sedikit mencebik kala tanpa permisi Dina keluar dari area toilet.


"Dasar wanita aneh. Jadi, dia ke kamar mandi hanya untuk cuci tangan?"


***


Dengan raut wajah penuh kekesalan, Mega keluar dari mobil kala kuda besi itu sudah mendarat mulus di garasi. Selepas dari toilet, tiba-tiba Awan memintanya untuk segera pulang saja karena Cahya sudah sedikit curiga dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya. Meskipun rasanya begitu berat karena harus berpisah lagi dengan sang kekasih, namun Mega hanya bisa menuruti.


"Haaaahhh .... sampai juga di rumah." Mega melepas safety belt yang ia kenakan. "Setelah drama kejebak macet karena banyak pohon yang tumbang akhirnya tiba di rumah tercinta."


Hembusan napas penuh kelegaan keluar dari rongga hidung wanita itu. Cuaca yang sebelumnya panas, mendadak gelap gulita hingga membuat kota ini diguyur oleh hujan lebat yang disertai oleh angin kencang. Hal itulah yang membuat akses jalan yang dilalui oleh Mega terhambat karena ada beberapa pohon yang tumbang.


Mega keluar dari dalam mobil. Ia lihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sebentar lagi waktu maghrib akan segera tiba.


Tik.. Tik.. Tik...


"Semoga tidak pakai angin kencang lagi. Sedikit mengerikan jika sampai pakai angin."


Mega mengayunkan kaki masuk ke dalam rumah. Ia melepas semua aksesoris yang ia pakai dan bersegera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu, di area samping rumah Mega, terlihat dua orang yang tengah mengendap-endap. Dua orang itu sepertinya menunggu sampai waktu yang tepat untuk bisa bergerak dan kini waktunya mereka beraksi.


"Pak, tugas apa lagi yang diberikan oleh bu Cahya kepada kita?" tanya Asih dengan pelan.


"Ini tugas terakhir kita Bu. Kita matikan sekering listrik milik pelakor ini dan kita takut-takuti dia menggunakan atribut yang sudah kita bawa!"


"Bapak yakin akan aman?" tanya Asih sedikit gusar. Ia khawatir jika akan ketahuan.


Kasim tersenyum penuh arti. "InshaAllah akan aman Bu. Bu Cahya pasti juga akan mendoakan kita agar tidak ketahuan. InshaAllah doa istri sah yang teraniaya akan dikabulkan oleh Allah."


"Semoga ya Pak. Kalau seperti ini kasihan bu Cahya. Dia yang mendampingi pak Awan dari nol eh malah dihianati."


"Iya Bu. Ya sudah, sekarang kita cari sekering listrik dan kita matikan. Setelah itu pelan-pelan kita masuk ke dalam."

__ADS_1


Asih menganggukkan kepala. Dua orang yang diutus oleh Cahya itu bergerak cepat untuk mencari sekering listrik. Tak selang lama, mereka pun menemukannya.


Klik!!!!


Suasana rumah yang sebelumnya terang benderang, kini gelap gulita. Suasana yang gelap inilah yang dimanfaatkan oleh Kasim dan Asih masuk ke dalam rumah. Mereka bergegas mencari kamar milik Mega.


Nasib baik seakan berpihak kepada Kasim dan Asih. Pemilik rumah ini masih betah di kamar mandi, sehingga memudahkan mereka untuk mengambil posisi berdiri di balik tirai yang menjuntai hingga di atas lantai. Dua orang itu pun bersiap-siap untuk mengenakan kostum yang sudah mereka siapkan.


"Aaarrggghhh... Pakai mati lampu segala. Kalau seperti ini jadi menyusahkan aku!"


Mega keluar dari dalam kamar mandi sembari mengumpat. Entah sudah berapa kali dirinya mengumpat seharian ini. Yang pasti membuatnya kesal sekali.


Hujan yang turun di luar sana semakin lebat saja. Sesekali terlihat kilatan petir dan kemudian menimbulkan suara yang menggelegar. Ditambah dengan aliran listrik yang padam sehingga membuat suasana mencekam semakin terasa.


Mega duduk di depan meja rias. Ia gunakan senter yang ada di ponsel untuk menjadi sumber penerangan. Meskipun dalam keadaan gelap seperti ini, ia masih tetap melakukan rutinitasnya memakai skincare.


Mega merogoh tas yang sejak dari toilet kantor Awan tidak ia buka sana sekali untuk mengambil pouch skincare. Dahi wanita itu berkerut kala merasakan sesuatu yang aneh di dalam tasnya.


"Ini apa? Kok kenyal-kenyal seperti bakmi?"


Saking penasarannya, Mega mengarahkan senter ke dalam tas dan....


"Aaaaaaaaaa .... Cacing!!!!!"


Tubuh Mega berjingkat saat melihat kumpulan cacing ada di dalam tas. Ia bangkit dari posisi duduknya dan berdiri di samping ranjang. Jantungnya berdegup kencang kala membayangkan kumpulan cacing-cacing itu bisa berada di dalam tas.


"Kerjaan siapa ini? Mengapa ada cacing di dalam tas ku?"


Mega mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, mencari tahu siapa yang melakukan ini semua. Namun sayang ia tidak menemukan apapun selain hanya suasana gelap yang ada. Hingga tatapan matanya terhenti pada tirai di kamar. Ia merasa sedikit aneh karena tirai itu bergerak-gerak.


Perlahan, tungkai kaki Mega terayun untuk mendekati tirai. Saking penasarannya ia buka tirai itu dan...


Ba!!!


"Aaaaaaaaaa ... Kuntilanak!!!!!"


Bruk!!!


Tak sanggup lagi menahan rasa takutnya, tubuh Mega terjatuh di atas lantai dalam posisi terlentang. Wanita itu pingsan setelah pandangannya bersiborok dengan sosok dua kuntilanak yang ada di balik tirai kamar.


.


.

__ADS_1


.


Scene terakhir memberikan sedikit pelajaran untuk Mega ya kak... hehe hehe setelah ini, kita sambut kejutan besarnya... 🤗🤗🤗


__ADS_2