Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 72. Ketok Palu


__ADS_3


Tok.. tok.. tok...


Suara ketukan palu di atas meja persidangan terdengar menggema di penjuru ruangan yang terasa begitu hening ini. Sebelumnya hakim ketua membacakan putusannya. Dan ketukan palu itu menjadi tanda jika mulai detik ini, Cahya resmi berpisah dari Awan.


Lagi, air mata itu menetes tanpa permisi. Dadanya benar-benar terasa begitu sesak, mengingat apa saja yang pernah terjadi di dalam rumah tangganya yang ia bangun bersama Awan. Semua kenangan manis dan pahit seolah berputar-putar dalam ingatannya. Hingga tibalah hari ini. Hari di mana menjadi akhir dari perjalanan biduk rumah tangga bersama lelaki yang selama tujuh tahun membersamai langkah kakinya.


Sekilas, Cahya melirik ke arah samping di mana ada Awan yang duduk di sana. Cahya tersenyum getir karena ternyata seperti inilah takdir cinta yang tertulis dalam lembar kisah hidupnya. Seorang pendamping yang sebelumnya ia yakini bisa sehidup sesurga bersamanya, tapi ternyata Allah menorehkan takdir yang berbeda.


Cahya beranjak dari posisi duduknya. Ia keluar dari ruang persidangan dengan langkah tegap. Meskipun semua terasa begitu menyesakkan dada namun ia tidak ingin menampakkan kehancurannya d8 depan Awan. Wanita itu kemudian duduk di bangku yang ada di depan ruangan sembari menundukkan wajah mencoba untuk menguasai semua gejolak dalam jiwa. Rasa sakit, rasa sesal, rasa kecewa seolah berkecamuk dalam dada. Berkali-kali ia memegang dadanya berupaya untuk terlepas dari semua beban batin yang ia rasakan.


"Hahaha ... Kamu menangis Mbak? Akhirnya kamu merasa sedih karena kehilangan mas Awan, kan?"


Suara seorang wanita yang tetiba terdengar di indera pendengaran, sukses membuat Cahya mendongakkan wajah. Ia mengusap jejak-jejak air matanya dan mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan Mega.


"Tentu tidak. Aku menangis bukan karena merasa kehilangan melainkan karena rasa syukurku kepada Allah. Akhirnya, aku bisa terlepas dari lelaki tidak setia seperti mas Awan."


"Halaah ... Mengaku saja lah Mbak. Kamu merasa kehilangan mas Awan kan?"


Cahya tergelak pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Apa lagi yang harus aku akui? Aku sama sekali tidak merasa kehilangan karena sampah yang ada dalam hidupku memang layak aku buang. Jadi untuk apa aku merasakan kehilangan ketika aku memutuskan untuk membuang sampah itu?"


"Issshhh .... Kamu ini, masih saja tidak mau mengakui. Tapi tidaklah mengapa. Setelah ini, akan aku buktikan ke kamu bahwa hidup mas Awan akan jauh lebih bahagia jika bersamaku, sehingga membuatmu menangis di pojokan karena tidak bisa membahagiakan mas Awan seperti aku membahagiakannya."


"Oh silakan jika kamu ingin membuktikannya. Aku tunggu, nyonya Mega yang paling sempurna!"


Pandangan Mega sedikit teralihkan ketika melihat sosok Awan yang keluar dari ruang sidang. Wanita itu dengan raut wajah berbinar mendatangi Awan.


"Bagaimana Mas? Sudah beres semua kan?" tanya Mega sembari menggamit lengan tangan Awan.


Awan mengangguk pelan. "Iya sudah beres semua."

__ADS_1


"Syukurlah. Kalau begitu, besok kamu sudah bisa nikahin aku kan?"


"Apa tidak nanti-nanti dulu Han? Ini aku baru saja bercerai, masa langsung menikah?"


"Ckkckkckkckk... Aku tidak mau tahu Mas. Pokoknya aku tidak mau mengulur-ulur waktu lagi. Besok, kamu harus menikahiku."


Awan hanya bisa mengangguk pasrah. Jika sudah seperti ini, tidak ada satupun yang bisa meredam keinginan Mega.


"Sudah, langsung nikahin Mega saja Mas. Sebelum kebobolan!" timpal Cahya seraya beranjak dari posisi duduknya.


"Kebobolan apa maksudmu Ay? Jangan ngadi-ngadi kamu!" ucap Awan memperingatkan.


"Bisa jadi saat ini Mega tengah mengandung benihmu. Bukankah setiap kali main, kalian tidak pernah memakai pengaman?" tanya Cahya dengan sinis.


Entah mengapa jika melihat gestur tubuh wanita pelakor ini, ia merasa saat ini Mega memang tengah berbadan dua.


"Jangan ngawur kamu Mbak!" pekik Mega seakan tidak terima jika ia dikatakan hamil.


Cahya mengedikkan bahu. Ia mendekat ke arah Awan dan ia ulurkan tangannya.


Awan meraih sesuatu yang diberikan oleh Cahya. Sebuah cincin yang dulu ia sematkan di jemari tangan Cahya ketika acara akad. Dengan tatapan nanar Awan menatap cincin ini. Hatinya sedikit berdesir kala teringat saat-saat yang telah lalu.


Mega yang melihat Awan begitu terpaku dengan cincin yang diberikan oleh Cahya mendadak dibuat kalut setengah mati. Ia teramat khawatir jika kenangan yang telah berlalu membuat hati Awan kembali luluh dan akhirnya rujuk dengan sang mantan istri. Tanpa pikir panjang, Mega merebut cincin itu dan ia lempar entah kemana.


"Isshhh ... Untuk apa juga kamu kembalikan Mbak. Cincin seperti itu tidak ada gunanya lagi. Jadi mending dibuang."


Lagi-lagi Cahya hanya bisa menarik sudut bibirnya. "Terserah mau kamu apakan benda itu. Oh iya mas Awan, selagi aku masih bisa bertemu denganmu, aku ingin mengucapkan beberapa hal kepadamu."


Dahi Awan sedikit berkerut. "Apa yang ingin kamu katakan Ay?"


Cahya melukiskan senyum di depan Awan. Kali ini, ia benar-benar sudah ikhlas menerima segala ketetapan yang sudah digariskan. Termasuk melepaskan Awan.

__ADS_1


Cahya mengulurkan kembali jemarinya, layaknya seseorang yang mengajak lawan bicaranya untuk bersalaman. Awan sedikit tersentak namun perlahan tangannya terulur jua dan....


Plak... Plak... Plak...


"Aya??? Apa-apaan kamu??" pekik Awan ketika tiga tamparan dari tangan sang mantan istri mendarat di pipinya.


Sudut bibir Cahya terangkat sebelah. Ia tatap sinis wajah lelaki ini.


"Tiga tamparan itu tidak sebanding dengan kehancuran yang sudah kamu ciptakan, Mas. Hancurnya hidupku, hancurnya hidup anak-anakmu dan juga hancurnya bahtera rumah tangga kita. Aku berdoa, semoga suatu saat nanti kamu merasakan apa yang saat ini aku rasakan."


Mega ikut terhenyak kala melihat Cahya yang menampar Awan. Tangan wanita itu juga terayun untuk membalaskan. Namun...


Hap!!


Cahya berhasil mencengkeram pergelangan tangan Mega menggunakan tangan kirinya dan...


Plak... Plak... Plak...


"Aaaawwwwww!!!" teriak Mega setelah terkena tamparan dari Cahya. Wanita itu memekik kesakitan. Merasakan sensasi rasa panas dan nyeri yang menjalar di syaraf-syaraf pipi.


Cahya menanggapi santai ekpresi-ekspresi pelakor dan penghianat yang tengah kesakitan ini. Rasanya sungguh puas bisa memberikan satu pelajaran kepada keduanya. Dengan cara seperti ini, ia yakin tidak akan lagi dianggap remeh.


"Ini pantas untuk kalian dapatkan wahai pelakor dan penghianat. Ingat, aku menghadiahkan tamparan ini sebagai ucapan selamat. Selamat, pada akhirnya cinta kalian bisa menyatu. Semoga langgeng sampai kematian memisahkan."


Cahya mengayunkan tungkai kakinya. Hatinya terasa jauh lebih lega dan lapang setelah berhasil menampar dua orang itu. Dengan tubuh tegap, ia melangkah meninggalkan Awan dan juga Mega.


Cahya menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Apapun yang akan terjadi nanti, ia telah siap menjadi orang tua tunggal bagi kedua putrinya.


Aku hanya minta, semoga Engkau menguatkan bahu serta kakiku untuk kedua putriku ya Rabb.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2