Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 131. Titik Terang


__ADS_3


"Kak, mengapa ada mobil ini di rumahku?"


Tiba di halaman rumah Langit, Cahya langsung menuju ke carport di mana di sana terlihat ada sebuah mobil putih yang masih ia ingat dengan jelas siapa pemiliknya. Milik seorang wanita yang telah menjadi duri dalam rumah tangga yang ia bangun bersama sang mantan suami dan seorang wanita yang telah menghancurkan kehidupannya serta kedua putrinya.


"Ay, duduk dulu. Biar aku jelaskan!" ucap Angkasa mempersilakan.


Lelaki itu bisa melihat perubahan ekspresi wajah Cahya yang tiba-tiba mendung. Mungkin masih tersisa gejolak rasa sakit yang ia rasakan.


Cahya mendaratkan bokongnya di kursi yang telah tersedia. Tatapan wanita itu tidak lepas dari mobil warna putih yang ada di carport. Entah mengandung magnet apa, yang jelas ia masih enggan untuk berpaling.


"Beberapa waktu yang lalu, aku dan Mentari memiliki sebuah misi. Kebetulan Mentari ini memiliki dendam pribadi dengan Awan, maka dari itu aku dan Mentari bekerja sama untuk menghancurkan mantan suamimu itu."


"Menghancurkan mas Awan? Maksudnya bagaimana Kak? Dan apa hubungannya dengan mobil ini?"


"Jadi begini Ay, aku meminta Mentari untuk menggoda Awan sampai pada akhirnya mantan suamimu itu terjerat akan pesona Mentari. Aku meminta Tari untuk bagaimana caranya bisa mendapatkan mobil ini. Karena mobil ini merupakan hak mu dan anak-anakmu. Kamu paham kan maksudku?"


"Ya Allah ... Tapi apa yang dilakukan oleh mbak Mentari ini untuk menghancurkan mas Awan, Kak? Apa mbak Mentari melakukan sesuatu yang tidak pantas?"


"Tenang Mbak, aku tidak sampai mengotori tanganku untuk menghancurkan Awan. Karena dia sudah hancur karena perbuatannya sendiri," timpal Mentari meyakinkan. "Mbak Cahya pasti sudah melihat berita yang viral dan tranding beberapa hari belakangan bukan?"


"M-maksudnya berita razia tempat lokalisasi itu?"


"Nah betul sekali Mbak. Jadi, usaha Awan hancur karena ulah dia sendiri."


"Ya Allah ...." Cahya menautkan pandangannya ke arah Langit yang duduk di sampingnya. "Mas, apa aku harus menerima mobil ini? Mobil ini memang hak-ku dan anak-anak karena dulu mas Awan membelinya ketika masih hidup bersamaku dan tanpa sepengetahuanku. Tapi kenapa hatiku seakan enggan menerima mobil ini ya Mas?"


"Sayang, itu semua terserah padamu. Kamu boleh menerimanya karena itu memang hakmu dan anak-anak. Dan kamu pun juga boleh menolak jika memang kamu sudah ikhlas melepaskan mobil itu. Jadi, hak kamu untuk memilih Sayang."


Cahya kembali menatap lekat mobil putih ini. Dulu, ia memang ingin mengambil alih kepemilikan mobil ini, namun saat ini rasa-rasanya ia sudah tidak menginginkannya lagi. Ia sudah cukup bersyukur dengan apa yang sudah ia miliki saat ini.


"Kak, mobil ini Kakak jual saja. Untuk hasil penjualan, nanti biar aku sumbangkan ke panti jompo yang akan didatangi mas Langit. Atau mungkin panti-panti sosial lainnya."


"Serius kamu ingin menjual mobil ini Ay?" tanya Angkasa memastikan.


"Iya Kak, aku serius. Jual saja mobil ini dan hasilnya bisa aku gunakan untuk berbagi kepada sesama. Saat ini aku tidak memerlukan mobil ini karena alhamdulillah berkah dari Allah teramat melimpah untukku."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Nanti biar aku urus semua. Yang terpenting niatku adalah mengembalikan mobil ini kepada yang berhak memiliki dan seandainya kamu ingin menjual mobil ini ya akan aku lakukan."


"Ya sudah Ang, besok kita lanjutkan lagi obrolan kita ini. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan lupa untuk mengantar Mentari terlebih dahulu. Awas jangan sampai kalian berada di tempat yang sama, bisa bahaya," ucap Langit memberikan peringatan.


Angkasa berdecak pelan. "Jadi ceritanya ngusir nih?"


"Bukan ngusir Ang. Kamu tahu kan kalau aku dan istriku baru saja dari perjalanan jauh? Jadi biarkan kami istirahat."


"Haissssshhh, bilang saja mau bermesraan." Angkasa bangkit dari posisi duduknya. "Ayo Tar, kita pulang. Sepertinya ada yang sedang tidak ingin diganggu. Bisa-bisa kita jadi obat nyamuk kalau di sini terlalu lama."


Tari ikut bangkit dari posisi duduknya. Wanita itu sedikit membungkukkan tubuh sebagai isyarat berpamitan.


"Kalian menikah saja! Sepertinya serasi," teriak Langit yang sukses membuat bibir Angkasa mencebik. Pemuda yang masih betah melajang itu tak merespon perkataan sang adik ipar. Ia masuk ke dalam mobil dan bergegas meninggalkan kediaman Langit.


"Ayo Sayang masuk! Kamu pasti lelah sekali setelah melakukan perjalanan ini," ajak Langit.


"Iya Mas, rasa-rasanya sungguh lelah. Padahal kita tidak jalan kaki kan?"


"Hahahaha kamu ini ada-ada saja. Ya sudah, ayo masuk nanti aku pijitin di kamar!"


Cahya menatap penuh selidik wajah suaminya ini. "Benar hanya pijit saja?"


"Biasanya dari pijit langsung minta imbalan dijepit!" seloroh Cahya asal.


"Hahahaha kamu ini ingat saja," gelak tawa Langit menggelegar. "Ya kalau kamu mau ya ayo-ayo saja Sayang!"


Cahya terhenyak kala tiba-tiba Langit membopong tubuhnya ala-ala bridal style. "Masssss!!!"


"Sepertinya aku berubah pikiran Sayang. Aku minta dijepit dulu, baru setelah itu aku pijit!"


***


"Mbak Cahya .... Mbak Cahya..."


Mentari naik ke singgasana. Sinar keemasannya membuat siapa saja berbahagia. Menutup lembaran yang telah lalu dan kembali meraih asa.


Mega masih terbaring lemah di atas ranjang khas rumah sakit. Setelah melakukan operasi pengangkatan janin, wanita itu kembali tak sadarkan diri. Namun dalam ketidaksadaran itu, ia masih saja memanggil-manggil nama Cahya.

__ADS_1


"Pak, ini bagaimana? Sepertinya kita harus segera menemui Cahya. Barangkali setelah bertemu dengan Cahya, anak kita bisa pulih seperti sedia kala Pak!" ucap Lastri mengemukakan pendapatnya.


"Bapak juga berpikir demikian Bu. Tapi Bapak tidak tahu di mana keberadaan Cahya saat ini. Yang Bapak dengar, dia sudah tidak tinggal di Jogja setelah bercerai dari Awan."


"Ya Allah, terus bagaimana ini Pak? Ibu yakin setelah bertemu dengan Cahya dan minta maaf, keadaan Mega bisa kembali pulih seperti sedia kala. Dan kalaupun tidak pulih, setidaknya anak kita bisa minta maaf secara langsung dengan wanita yang pernah ia rebut suaminya Pak."


"Iya Bu, Bapak juga sependapat. Tapi Bapak harus mencari Cahya ke mana? Karena sepertinya ia sudah tidak ada di Jogja."


"Ya Allah Pak... Lalu bagaimana ini? Ibu yakin jika kedatangan Cahya bisa menjadi jalan kesembuhan untuk Mega."


Lastri terduduk di kursi plastik yang ada di sisi ranjang tempat Mega terbaring. Wanita itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Saat ini ia ikut kebingungan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Cahya.


"Pak Kardi, bu Lastri, kok murung seperti itu? Ada apa? Mungkin ada yang bisa saya bantu?"


Pagi-pagi seperti ini, Rustam sudah tiba di rumah sakit bersama sang istri. Dengan membawa buah-buahan dan camilan untuk bisa mengganjal perut dua orang paruh baya ini yang sejak semalam mungkin belum terisi oleh apapun.


"Kami sedang bingung pak RT. Saat ini kami harus mencari keberadaan Cahya. Cahya itu adalah wanita yang suaminya pernah direbut oleh Mega. Sejak tadi Mega terus menerus memanggil nama Cahya. Dan kami yakin jika ini bisa menjadi jalan kesembuhan untuk Mega," terang Kardi dengan raut wajah sendu.


"Cahya? Kok sepertinya Ibu tidak asing ya Pak, dengan nama Cahya?" ucap Fatimah, istri Rustam.


"Memang Ibu tahu siapa Cahya?" tanya Rustam memastikan.


"Sebentar, sebentar."


Fatimah mengambil ponsel dari dalam tas yang ia bawa. Wanita itu mencari salah satu akun yang ada di instagram.


"Ini adalah akun milik Cahya Kamila. Dia merupakan seorang desainer yang namanya cukup terkenal beberapa bulan terakhir ini. Jika dari info yang ada, Cahya ini dulunya tinggal di Jogja dan sekarang menikah dengan salah satu pengusaha kaya bernama Langit. Dan Langit ini kabarnya juga mendirikan perusahaan di Jogja."


Rustam meraih ponsel yang ditunjukkan oleh sang istri. Ia melihat foto profil yang menampilkan sepasang suami-istri dan dua anak kecil.


"Pak Kardi, apa ini Cahya yang Bapak maksud?" tanya Rustam seraya memperlihatkan foto-foto yang ada di akun instagram milik Cahya.


Kardi menatap lekat foto-foto yang ditunjukkan oleh Rustam. Dahi lelaki itu mengernyit seakan mengingat-ingat sesuatu, dan sejenak kemudian wajah lelaki itu berbinar terang.


"Ya Allah, iya, ini benar Cahya Pak. Ini Cahya yang dulu suaminya pernah direbut oleh Mega. Alhamdulilah ya Allah .... Akhirnya anakku bisa menemukan jalan untuk kesembuhannya."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2