Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 116. Jijik


__ADS_3


"Ya ampun rumahku!!! Mengapa bisa seperti ini?"


Sembari menangis tergugu, Mentari menatap nanar rumah miliknya yang sudah hangus terbakar. Kepulan-kepulan asap tebal masih terlihat membumbung tinggi seakan menjadi pertanda jika rumahnya ini belum lama berhasil dipadamkan seutuhnya.


"Kami juga tidak tahu pasti kejadiannya bagaimana, Mbak. Namun sepertinya kebakaran ini bukan disebabkan oleh korsleting listrik tapi karena sengaja dibakar," ucap Pak RT sedikit memaparkan dugaannya.


"Kok Pak RT bisa yakin bahwa rumah saya ini dibakar? Apa ada petunjuk yang mengarah ke sana Pak?"'


Pak RT menganggukkan kepala. " Betul Mbak, saya dan warga menemukan jerigen besar yang kami yakini sebagai tempat bensin. Jadi, sebelum pelaku membakar rumah mbak Tari, mereka menyiram terlebih dahulu rumah mbak Tari dengan bensin itu."


"Ya Tuhan .... Kok tega sekali orang itu? Apa salahku?" lirih Mentari sembari terisak. Ia sangatlah shock melihat rumahnya dibakar oleh orang tidak dikenal seperti ini.


"Apa mbak Tari sejauh ini punya musuh?" tanya Pak RT mencoba untuk menggali informasi. Barangkali dari informasi yang diberikan oleh Tari, ia bisa tahu siapa pelakunya.


Mentari menggelengkan kepala. Karena ia merasa tidak memiliki musuh. "Tidak Pak, saya sama sekali tidak memiliki musuh. Karena sejauh ini saya jarang berinteraksi dengan orang-orang selain para tetangga dan juga orang-orang yang ada di tempat kerja."


"Pak, apa di sekitar sini ada warga yang memasang CCTV? Mungkin dari CCTV itu kita bisa melihat siapa pelakunya?" ucap Awan menimpali pembicaraan Pak RT dan Mentari.


Pak RT seketika terhenyak kala mendengarkan pertanyaan Awan. Lelaki itu seakan teringat akan satu hal.


"Astaga, aku sampai lupa. Di gapura masuk kampung ini kan ada CCTV-nya, dan langsung terhubung di laptopnya Pak kepala dusun, mungkin bisa kita gali informasi dari sana, Pak."


"Nah, betul itu Pak. Kalau begitu, kita sekarang ke sana saja!" usul Awan.


Pak RT terlihat berpikir sejenak. Sepertinya tidak untuk saat ini mengingat malam sudah semakin larut bahkan sudah mau merangkak ke pagi.


"Untuk itu, kita lanjutkan besok saja bagaimana Pak? Saya sendiri dan para warga sudah sangat lelah. Ingin beristirahat terlebih dahulu."


"Oh kalau begitu baiklah Pak. Nanti untuk urusan tempat tinggal Mentari biarkan saya yang mengurusnya."


Pak RT membubarkan para warga yang masih berkumpul di depan rumah Mentari. Mereka kembali ke rumah masing-masing untuk untuk mengistirahatkan diri. Beruntung rumah Mentari terletak di pojok yang kanan kirinya tidak ada rumah yang berdiri. Hanya ada tanah kas desa yang entah nantinya akan dipakai untuk apa.


"Sekarang aku harus bagaimana Wan? Rumahku sudah hangus terbakar dan aku harus tinggal di mana?" tanya Mentari dengan suara sedikit sumbang karena sudah terlalu lama menangis.


Awan merangkul Mentari dan mengusap-usap lengan tangannya. Ia berikan sedikit ketenangan juga semangat untuk wanita ini.

__ADS_1


"Kamu yang tenang Han. Untuk tempat tinggal, sementara waktu kamu tinggal di rumahku dulu saja. Nanti biarkan aku sembari memanggil tukang untuk memperbaiki rumahmu ini."


Mentari tersentak. "T-tinggal di rumahmu? Ah tidak usah Wan. Lebih baik untuk sementara waktu aku mencari kos-kosan."


"Tapi jauh lebih baik jika kamu tinggal di rumahku Tar, agar aku bisa sekalian menjagamu."


Mentari terlihat berpikir sejenak. Sejatinya ada pergolakan batin antara menerima tawaran Awan ini atau mengabaikannya. Namun pada akhirnya ia menggelengkan kepala.


"Tidak Wan. Lebih baik aku tinggal di outlet saja dulu. Daripada nantinya jika tinggal di tempatmu hanya akan memunculkan banyak masalah. Kamu tahu sendiri kan kalau istrimu begitu membenciku?"


"Baiklah kalau begitu Tar. Kamu tidur di outlet saja dulu. Untuk pakaianmu, biar semua menjadi tanggung jawabku."


"Terima kasih Wan."


"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih kepadaku Tar. Toh mulai sekarang kamu akan menjadi tanggung jawabku karena nantinya kamu akan aku nikahi."


"Memang kamu sudah yakin akan menceraikan istrimu Wan?"


Awan menganggukkan kepala. "Yakin seratus persen Tar. Aku janji dalam waktu dekat ini aku akan menceraikannya."


"Kamu tenang saja Tari. Biarkan ini semua menjadi urusanku. Kamu tinggal mempersiapkan diri untuk menjadi nyonya Awan Surya Atmaja."


***


Dug... Dug.... Dug....


"Meg.... Buka pintunya Meg, buka pintunya!!"


Pagi ini, kediaman Awan sudah dihebohkan dengan suara pintu yang digedor-gedor. Sejak tadi, Kardi tiada henti menggedor pintu kamar milik Mega namun sama sekali tidak ada respon dari si pemilik kamar. Hanya terdengar sayup-sayup isak tangis sang anak yang terdengar menembus dinding kamar ini.


Kardi menyerah. Lelaki paruh baya itu teramat khawatir dengan keadaan sang anak yang sejak semalam memilih untuk mengurung di dalam kamar. Tepatnya sejak ia mendapati sebuah kenyataan bahwa ia sudah termakan oleh susuknya sendiri.


"Tidak ada cara lain. Aku harus mendobrak pintu kamar ini. Kalau aku biarkan seperti ini terus menerus, bisa-bisa Mega berbuat nekat."


Kardi berancang-ancang mengumpulkan tenaga untuk mendobrak pintu kamar Mega. Dan dalam tiga kali hentakan, ia bisa membuka pintu kamar ini dengan paksa. Kedua bola mata lelaki paruh baya itu membeliak kala melihat Mega yang sudah berada di sudut kamar, terduduk sembari menenggelamkan wajahnya di sela p a h a.


"Mega!!" Kardi mendekat ke arah sang anak dan sedikit membungkukkan tubuh. Ia pegang pucuk kepala anaknya ini. "Kamu kenapa Nak? Mengapa terlihat kacau seperti ini?"

__ADS_1


"Hidupku sudah hancur Pak. Wajahku sudah tidak bisa kembali seperti semula lagi. Mas Awan pasti akan meninggalkanku," ucap Mega terbata-bata karena menahan isak tangisnya.


Kardi mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. Ia melihat betapa kacaunya kamar Mega ini. Sudah persis seperti kapal pecah yang baru saja dihantam oleh gelombang tsunami.


"Nak, jangan putus harapan seperti itu. Awan tidak mungkin meninggalkanmu hanya karena wajahmu berubah. Ingat, kamu sedang mengandung anak Awan, dia pasti akan selalu ada di sampingmu."


"Tapi itu tidak mungkin Pak. Mas Awan pasti akan meninggalkanku karena dia terpikat padaku hanya karena pengaruh susuk itu," kilah Mega semakin frustrasi.


"Bapak rasa tidak, Meg. Seiring berjalannya waktu, Awan pasti benar-benar jatuh cinta kepadamu. Anak yang ada di dalam kandunganmu itulah yang membuat Awan akan bertahan. Percaya pada Bapak."


Mega masih hening dan menenggelamkan wajahnya di sela p a h a mencoba untuk meresapi apa yang diucapkan oleh sang ayah. Sedangkan Kardi, ia kembali mengusap-usap punggung sang anak dengan lembut.


"Sudah ya Nak. Sekarang kamu bersih-bersih diri dan rapikan kamar ini. Sebentar lagi Awan pasti akan pulang. Sambut dia dengan sikap dan penampilan terbaik yang kamu miliki. Jika wajahmu sudah tidak cantik seperti dulu, setidaknya perilakumu yang kamu perbaiki."


Perkataan Kardi berhasil membuat Mega kembali mendapatkan semangat untuk melanjutkan hidup. Apa yang diucapkan oleh sang ayah memang benar adanya. Perlahan, ia pun menegakkan wajahnya dan kini pandangannya bersiborok dengan sang ayah.


"Hah, Mega!!!! Kenapa wajahmu jadi seperti ini?"


Kardi berteriak dengan suara lantang hingga terdengar menggema di setiap sudut kamar. Tanpa ia sadari jika Awan sudah berdiri di ambang pintu, menyaksikan apa yang tengah dilakukan oleh ayah dan anak itu.


"Wajah Mega kenapa Pak? Kok Bapak berteriak seperti itu?"


Awan masih belum bisa melihat dengan jelas ada apa dengan wajah sang istri, karena pandangannya ke arah Mega terhala oleh tubuh Kardi. Kardi menoleh ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia kala melihat sang menantu sudah berdiri di depan pintu.


"Awan?"


Tak ingin dibuat penasaran, Awan mengayunkan tungkai kakinya. Ia dekati istri dan mertuanya ini. Tatapannya pun langsung tertuju pada wajah Mega. Lagi-lagi lelaki itu menampakkan ekspresi yang dipenuhi oleh keterkejutan persis seperti Kardi. Kedua bola matanya terbelalak sempurna dan...


Hooeekkk..... Hoeekkkk....


"Wajahmu mengapa bernanah seperti itu Meg? Sungguh menjijikkan sekali!!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2