
"Alhamdulillah .... Akhirnya sampai juga!"
Cahya bernapas lega kala pesawat yang ia tumpangi mendarat dengan sempurna di bandara tanpa halangan satu apapun. Setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di kota Jogja, akhirnya ia bisa kembali menikmati segala pesona yang ada di kota ini.
"Bagaimana Sayang, apa kamu bahagia bisa kembali ke kota ini?" tanya Langit di sela-sela langkah kakinya keluar dari area bandara.
Lelaki itu juga tiada henti menggenggam tangan sang istri seakan tidak ingin jauh-jauh darinya. Sedangkan tangan yang satu, ia gunakan untuk menggeret koper yang ia bawa. Sungguh sosok suami yang serba guna.
"Tentu Mas, aku bahagia bisa kembali ke kota ini. Meskipun ada sebagian cerita hidup yang menyakitkan terjadi di kota ini, tapi aku tidak bisa mengingkari bahwa kota ini tetap menjadi kota nan indah. Di kota ini, aku banyak belajar tentang arti kehidupan."
"Apa kamu sudah bisa melupakan semua kesakitan yang pernah kamu rasakan ketika berada di kota ini?" tanya Langit memastikan.
Cahya membuang napas sedikit berat. Ia pun juga menggelengkan kepalanya. "Untuk melupakan, mungkin tidak bisa ya Mas, karena bagaimanapun juga itu semua menjadi salah satu bagian jalan hidupku. Namun aku sudah bisa berdamai dengan keadaan. Sudah aku maafkan semuanya, jadi sudah bukan lagi menjadi beban untukku melangkah."
Cahya sejenak menjeda ucapannya. Ia tautkan pandangannya ke arah sang suami yang berjalan di sisinya. "Apalagi saat ini ada kamu, semua kesakitan yang pernah aku rasakan sudah terbalut sempurna dengan kehadiranmu. Kamu adalah penawar, Mas."
Langit turut tersenyum simpul. Ia kecup buku-buku jemari sang istri dengan intens. "Syukur alhamdulillah kalau begitu Sayang. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu selalu bahagia berada di sampingku. Itu saja."
Cahya terkekeh pelan. Ia sungguh heran bagaimana bisa suaminya ini menganggapnya tidak bahagia berada di sampingnya.
"Kalau aku tidak bahagia, mana mungkin ada ini kan Mas?" tanya Cahya sembari mengarahkan telapak tangan Langit ke arah perutnya. "Bahkan bukan hanya aku saja yang bahagia. Alina, Malika juga berbahagia karena sebentar lagi mereka akan memiliki adik."
Langit tergelak. Entah apa yang terjadi ia sampai lupa bahwa saat ini sang istri tengah mengandung dua bulan.
"Ya Allah, aku sampai lupa Sayang. Kalau memang kamu tidak bahagia, mana mungkin bisa aku hamili ya Sayang."
"Nah, itu paham. Jadi, stop bertanya apakah aku bahagia di sisimu atau tidak ya Mas. Karena jawabannya akan tetap sama. Aku sangat, sangat bahagia."
"Baiklah istriku, aku tidak akan lagi bertanya. Tapi jika suatu hari hatiku meragu, boleh kan aku untuk bertanya?"
"Iya Mas boleh."
Sepasang suami-istri itu kembali mengayunkan tungkai kakinya. Menyusuri sudut-sudut yang ada di bandara. Hingga pada akhirnya, tatapan mereka tertuju pada seorang laki-laki yang sudah menunggu di depan.
"Akhirnya sampai juga. Anak-anak benar tidak ikut?" tanya Angkasa yang sudah siap menjemput sang adik sekaligus adik iparnya.
"Anak-anak nanti menyusul Kak, waktu liburan semester. Semua keluarga di Kalimantan rencana akan liburan di Jogja. Jadi nanti kita berkumpul di sini semua."
"Alhamdulillah..." Angkasa meraih koper yang dibawa oleh Langit. Bermaksud untuk meletakkannya di bagasi. "Pak Langit jadi ke Panti Jompo Khusnul Khotimah?"
"Iya Ang, tapi besok. Ini kan sudah malam."
"Oke baiklah. Ya sudah, ayo kita segera pulang. Sepertinya langit gelap, takutnya tiba-tiba turun hujan."
"Pak Angkasa, tunggu!!!"
__ADS_1
Angkasa yang baru akan membuka pintu kemudi, sedikit terperanjat ketika mendengar teriakan seseorang. Bahkan bukan hanya Angkasa saja, Langit dan juga Cahya juga sama-sama ikut terkejut dibuatnya. Ketiga orang itu menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Angkasa itu bagaimana? Saya kan baru di toilet, kok main ditinggal saja?" protes Mentari dengan napas tersengal-sengal.
"Astaghfirullah .... Aku lupa. Sorry, sorry Tar. Aku benar-benar lupa kalau ke sini sama kamu."
"Haaahhh ... Kalau pak Angkasa pulang lalu saya bagaimana? Saya sama sekali tidak membawa dompet, Pak!"
"Ahhahahaha iya, iya, maaf. Ya sudah, yang penting aku kan masih di sini. Ayo masuk semua."
"Sebentar, sebentar!" ucap Cahya yang seketika mengurungkan niat Angkasa untuk membuka pintu mobil. Ia tatap lekat wajah kakaknya ini. "Kak, ini siapa? Kok sepertinya akrab sekali dengan Kakak? Apa dia ini kekasih kak Angkasa?" tanya Cahya penuh selidik.
"Eh, bukan, bukan, bukan Mbak. Saya bukan kekasih pak Angkasa. Saya hanya salah satu karyawan pak Angkasa," ucap Mentari memupus dugaan Cahya yang berlebihan.
"Iya Ay, dia ini salah satu karyawanku. Namanya Mentari. Nah Tar kenalkan, ini Cahya, adikku. Dan ini suaminya pak Langit yang merupakan pimpinan perusahaan di tempat kita bekerja yang sekaligus adik iparku."
Mentari menjabat tangan Langit dan Cahya secara bergantian. Ketika ia menjabat tangan Cahya, hanya ada rasa kagum yang menguasai hatinya.
Ya Allah Wan, istri spek bidadari seperti ini rela kamu tinggalkan hanya untuk mendapatkan istri spek mak Lampir seperti Mega. Sungguh bodoh kamu Wan. Melepaskan berlian dan menukarnya dengan batu kali.
"Mbak, Mbak Tari? Kok melamun?" tanya Cahya yang seketika membuat Tari tersadar dari lamunannya.
"Eh, tidak apa-apa Mbak. Saya hanya kagum pada mbak Cahya. Di usianya yang masih muda tapi sudah sukses menjadi seorang desainer terkenal."
"Mbak Tari terlalu berlebihan. Saya dan desainer yang lainnya sama saja kok Mbak. Tidak ada bedanya."
"Sudah, sudah, ayo kita pulang. Perkenalan dan obrolannya kita lanjutkan di rumah lagi saja ya."
***
"Ya Allah, Nak ... Kenapa kamu memilih jalan pintas seperti ini? Ini dosa, Nak."
Lastri menatap nanar tubuh Mega yang tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit. Setelah dibuat shock dengan gantung dirinya sang anak di dalam kamar, ia dan pak RT bergegas membawa Mega ke klinik terdekat. Setelah mendapatkan pertolongan pertama, wanita itu dirujuk ke rumah sakit besar untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.
Lantas, bagaimana dengan Sulis yang merupakan sang provokator? Ya, wanita paruh baya itu juga semua warga yang menuntut Mega untuk keluar dari kampung, hanya bisa terdiam, membisu dan membeku. Mereka seakan didera oleh rasa bersalah karena apa yang mereka lakukan turut menjadi alasan Mega gantung diri. Sehingga, tak ada satupun dari mereka yang ikut mengantar ke klinik terdekat ataupun rumah sakit.
"Mega pasti sudah sangat frustrasi dengan keadaannya Bu. Apalagi setelah dikeroyok oleh warga yang memintanya untuk keluar dari kampung. Itu pasti menjadi pukulan telak bagi Mega. Kasihan sekali anak itu. Padahal, ia berniat untuk memperbaiki dirinya," timpal Kardi mengemukakan pendapatnya.
"Ya Allah, Ibu juga bersalah Pak. Ibu masih teramat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Mega. Tapi dalam keadaan seperti ini, sungguh hati Ibu tidak sanggup untuk melihatnya. Kasihan sekali dia," ucap Lastri dengan suara bergetar karena menahan tangis.
"Pak Kardi, Bu Lastri, atas nama warga, saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini. Saya juga tidak menyangka jika bu Sulis melakukan provokasi seperti ini. Padahal sebelumnya sudah saya peringatkan untuk tidak melakukan hal semacam ini."
Rustam juga seakan didera oleh rasa bersalah. Ia yang seharusnya bisa mencegah kejadian seperti ini, justru ini semua terjadi di luar kendalinya. Pada saat kejadian, ketua RT itu tengah menghadiri kenduri di RW sebelah, dan ketika pulang sudah terjadi kekacauan seperti ini.
"Sudahlah Pak, Pak RT tidak perlu merasa bersalah. Mungkin ini semua memang pantas diterima oleh anak saya," tutur Kardi menenangkan Rustam.
Ketiga orang itu sama-sama terdiam sembari menatap iba sosok Mega. Wajah hancur, keadaan hamil dan ditinggal oleh sang suami seakan semakin menambah derita wanita ini.
__ADS_1
"Maaf, bisa bicara dengan keluarga dari Bu Mega?"
Suara bariton yang tiba-tiba merembet masuk ke dalam indera pendengaran, membuat Kardi, Lastri dan Rustam sama-sama terhenyak. Mereka menoleh ke arah sumber suara dan terlihat sang dokter memasuki ruang rawat.
"Iya Dok, bagaimana?"
"Pak, saya minta maaf karena harus menyampaikan berita yang mungkin kurang mengenakkan."
"Berita? Berita apa itu Dok?" tanya Kardi semakin penasaran.
"Maaf, sepertinya janin yang ada di dalam kandungan Bu Mega tidak dapat diselamatkan. Perkiraan, sudah sejak tiga hari yang lalu janin Bu Mega meninggal di dalam kandungan."
"Apa Dok? Meninggal?" tanya Lastri dengan histeris. "Astaghfirullahalazim...."
"Betul Bu. Jadi, setelah ini akan saya ambil tindakan operasi untuk mengeluarkan janin yang ada di dalam kandungan Bu Mega."
"Ya Allah...."
"Mungkin hanya ini berita yang bisa saya sampikan, Pak, Bu. Saya akan menyiapkan ruang operasi. Setelah itu akan kami ambil tindakan operasi untuk Bu Mega."
Dokter yang masih terlihat muda dan tampan itu bergegas keluar ruangan. Tubuh Lastri terhuyung. Hampir saja ia terjatuh di lantai namun segera ditangkap oleh Kardi.
"Sabar Bu, sabar...."
Rustam hanya bisa menundukkan wajah melihat keadaan suami istri yang begitu terpukul akan keadaan sang anak yang bertubi-tubi mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dilakukannya ini. Sejenak kemudian, dahi Rustam sedikit mengernyit kala melihat jemari tangan Mega bergerak.
"Pak Kardi, Bu Lastri, lihatlah, tangan Mega bergerak!"
Lastri dan Kardi sama-sama menoleh ke arah jemari Mega. Benar saja, jemari itu bergerak-gerak. Keduanya kemudian duduk di sebuah kursi yang telah tersedia.
"Nak, kamu sadar Nak? Kamu sadar?"
Lastri mencoba untuk mengusap kening Mega. Kelopak mata anaknya ini juga sudah mulai bergerak-gerak meskipun masih dalam keadaan terkatup. Perlahan, kelopak mata itu mulai terbuka.
"Ibu .... Bapak .... Ampuni aku," ucap Mega dengan lirih sembari menatap lekat wajah kedua orang tuanya.
"Ibu sudah memaafkanmu Nak. Ibu sudah memaafkanmu. Sekarang kamu semangat untuk pulih ya Nak. Bertaubat dan perbaiki dirimu untuk bisa lebih baik lagi."
"Bu .... Tolong!"
"Apa Nak? Kamu mau minta apa? Mau makan? Mau minum?"
Mega menggelengkan kepala. Wanita itu seperti kesusahan untuk menghirup udara melalui ventilator yang terpasang di mulutnya.
"Carikan mbak Cahya. Aku ingin minta maaf kepadanya!"
.
__ADS_1
.
.