
"Ibu mohon cabut gugatan cerainya Ay. Ibu tidak mau kehilanganmu!"
Di kamar pribadi miliknya, Marni mengajukan permohonannya kepada Cahya. Dengan derai air mata yang tiada henti mengalir, wanita paruh baya itu mengiba agar sang menantu mencabut gugatannya.
Cahya hanya bisa menatap sendu wanita paruh baya yang selama tujuh tahun sudah menemani hidupnya ini. Keadaan seperti ini juga tak pernah sedikitpun terlintas di dalam benaknya, namun pada akhirnya takdir lah yang berbicara.
"Aya mohon maaf ya Bu. Untuk kali ini Aya tidak bisa memenuhi permintaan Ibu. Aya tetap akan bercerai dengan Awan. Aya bisa menerima apapun keadaan mas Awan kecuali dengan perselingkuhan."
"Apa kamu tidak kasihan kepada Ibu, Ay? Apa kamu tega membiarkan Ibu dirawat oleh wanita seperti Mega itu?"
Cahya tersenyum penuh arti. Ia genggam jemari tangan Marni dengan erat untuk mentransfer rasa tenang dalam diri mertuanya itu.
"Aku yakin Mega bisa menggantikan peranku, Bu. Mas Awan pasti sudah berpikir masak-masak sebelum ia memutuskan untuk berselingkuh. Pasti dia sudah yakin jika Mega bisa menjadi sosok seorang istri dan menantu yang baik."
Marni menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak sependapat dengan apa yang diutarakan oleh Cahya. "Tidak Ay, itu semua tidak benar. Bahkan wanita itu sama sekali tidak bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Kamu lihat keadaan rumah, kamu lihat keadaan Ibu. Semuanya serba tidak terurus."
Cahya membenarkan penuturan Marni. Kala masuk ke dalam rumah ini, semua terlihat serba berantakan dan kondisi Marni pun juga seperti tidak terurus. Wajah mertuanya ini terlihat kusam, pakaiannya juga tidak bersih dan tubuhnya sedikit lebih kurus.
"Kamu tega melihat Ibu setiap hari hanya makan mie instan saja, Ay? Lama-lama usus Ibu bisa keriting seperti mie instan," sambung Marni yang seketika membuat Cahya terbangun dari lamunannya sendiri.
"Bu, Ibu yang tenang ya. InshaAllah mas Awan bisa mengatasi ini semua. Mas Awan pasti bisa membimbing Mega untuk menjadi wanita yang serba bisa. Bisa mengurus suami, mengurus mertua dan mengurus dirinya sendiri. Ibu tidak perlu khawatir."
"Tapi Ibu tidak mau Ay. Ibu tetap ingin kamu yang mengurusi Ibu. Tidak mau yang lainnya. Atau kamu memilih untuk bercerai dari Awan karena kamu sudah tidak mau mengurus Ibu lagi Ay? Sehingga kamu tidak memberikan kesempatan kepada Awan untuk memperbaiki semua? Apakah seperti itu Ay?"
Cahya terhenyak mendengarkan penuturan Marni. Tidak ia sangka jika sang Ibu mertua justru menyudutkannya.
"Bu, tolong berhenti menuduhku seperti itu. Apakah Ibu tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat mengetahui mas Awan berselingkuh di belakangku? Apakah Ibu tidak memikirkan bagaimana aku pontang-panting mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan mengurus Ibu, mengurus anak-anak sedangkan mas Awan justru enak-enakan tidur dengan wanita lain di luar sana? Apa Ibu tidak kasihan kepadaku?" cecar Cahya dengan suara sedikit bergetar dan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.
Marni seketika terdiam dan membisu saat mendengar nada bicara Aya yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Cahya seakan menumpahkan semua beban luka yang bersarang di dalam dadanya.
"Di sini Aya korban, Bu. Korban dari keserakahan dan kurangnya rasa bersyukur mas Awan. Tapi mengapa Ibu seakan menyudutkanku dengan kata-kata bahwa aku sudah tidak lagi mau mengurus Ibu? Apakah aku harus tetap bertahan di sisi mas Awan padahal dia sudah melakukan kesalahan yang paling fatal?"
Hati Marni kian serasa tertampar. Ia sadar sudah sangat egois jika sampai ia tetap meminta Cahya untuk bertahan di sisi Awan. Padahal Cahya masih berhak untuk mendapatkan kebahagiannya.
__ADS_1
Cahya menarik napas dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Ia sadar sedikit keterlaluan karena berkata dengan nada tinggi di hadapan sang ibu.
"Aku minta maaf Bu, aku tidak bermaksud untuk membentak Ibu. Tapi segala sesuatu pasti akan ada awal dan akhir dan saat inilah terakhir kalinya aku bisa bertahan di sisi mas Awan."
"Ckkckkckk... Ibu ini masih saja kekeuh mempertahankan menantu seperti ini. Memang apa hebatnya dia sih Bu? Kalau hanya mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengurus mas Awan dan mengurus Ibu, aku pun juga bisa, Bu. Sudahlah, biarkan mas Awan bercerai!"
Suara seorang wanita yang tiba-tiba terdengar menggema memenuhi ruangan, sontak membuat perhatian Cahya dan Marni menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Mega sudah berdiri di ambang pintu yang sepertinya sedari tadi menguping pembicaraan Marni dan juga Cahya.
Cahya menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Ternyata sang pelakor tidak mau dikalahkan oleh siapapun dan apapun.
"Nah, Ibu dengar sendiri bukan? Mega sudah memastikan bahwa dia bisa menjadi sosok seorang istri yang sempurna dan serba bisa. Jadi Ibu tidak perlu khawatir."
"Cih tentu saja aku bisa Mbak. Selama ini kamu selalu saja dipandang sempurna oleh Ibu, tapi nanti akan aku buktikan jika kesempurnaanku bisa melebihimu," ucap Mega dengan penuh percaya diri.
"Baguslah kalau begitu Meg. Aku jadi lebih tenang untuk meninggalkan Ibu."
Cahya bangkit dari posisi duduknya. Ia rasa, sudah tidak ada lagi yang perlu ia bicarakan bersama sang mertua. Ia berjalan mendekat ke arah sang wanita penggoda.
"Kamu tidak perlu merasa tersaingi karena kita memang tidak pernah bersaing. Jadi, cukup buktikan saja jika kamu memang lebih baik daripda aku," bisik Cahya dengan suara lirih.
Mega tersenyum remeh. "Cih, katapun kita bersaing toh aku sudah menjadi pemenangnya. Kamu lihat kan Mbak, siapa yang dipilih oleh mas Awan? Dia jauh lebih memilih untuk mempertahankanku daripada mempertahankan rumah tangga kalian. Apa kamu tidak ingin memberikan selamat kepadaku?"
Mega terkekeh lirih. "Hahaha, akhirnya kamu mengakui kekalahanmu juga, Mbak!"
"Tapi kamu harus ingat akan satu hal nona Mega yang terhormat." Cahya menatap manik mata Mega dengan tajam. "Kamu mendapatkan mas Awan dengan cara merebutnya dariku. Maka persiapkan dirimu jika suatu hari nanti kamu juga akan mengalami hal yang serupa."
Mega terkesiap, tidak terlalu paham dengan apa yang diucapkan oleh Cahya. "Maksudmu apa?"
Cahya tergelak lirih. Melihat ekspresi wajah Mega yang kalut seperti ini sudah cukup membuatnya kegirangan setengah mati.
"Ingat Mega, hukum tabur tuai itu pasti akan ada. Caramu mendapatkan mas Awan bukanlah cara yang benar, maka suatu saat nanti mas Awan pun juga akan direbut oleh orang lain dari tanganmu. Dan apakah kamu tahu???" tanya Cahya dengan menggantung yang membuat Mega semakin penasaran.
"Apa?"
"Selingkuh adalah penyakit. Sekali saja seorang lelaki berselingkuh, tidak menutup kemungkinan ia akan mengulanginya lagi dan itu semua bisa terjadi kepadamu."
__ADS_1
Mega terhenyak. "Tidak, tidak, itu semua tidak mungkin. Mas Awan bilang jika ia tidak akan pernah menghianatiku dan akan menjadikanku satu-satunya wanita yang ada di dalam hidupnya."
"Hahahaha, mas Awan mengatakan hal itu?" tanya Cahya dengan gelak tawa yang semakin menggema. "Asal kamu tahu Meg. Sebelum mas Awan menikahiku dia juga menjanjikan hal seperti itu kepadaku. Tapi kenyataannya apa? Dia ingkari juga bukan?"
"Tidak. Semua pasti akan berbeda jika aku yang menjadi istri mas Awan. Aku akan selalu memuaskannya di atas ranjang, sehingga dia tidak pernah menghianatiku!"
Cahya semakin tergelak mendengar ucapan Mega. Rupanya wanita ini belum paham jika pernikahan bukan hanya sekedar urusan di atas ranjang semata. Namun akan menjadi kesiaan jika ia sampaikan kepada wanita ini.
"Syukurlah kalau kamu bisa menjamin itu semua. Tapi aku ucapkan terimakasih kepadamu Meg, karena kehadiranmu lah yang membuatku semakin mengerti bahwa sampah dalam hidupku memang harus aku buang. Silakan ambil sampah itu dan silakan nikmati bekasku, Mega!" ucap Cahya dengan sinis.
"K-kamu???!!!" pekik Mega yang semakin terperangah karena mentalnya diserang oleh Cahya.
Cahya melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memandang remeh pelakor yang masih tampil begitu percaya diri ini. "Ternyata, wanita berpendidikan tinggi sepertimu rela untuk menjadi pemulung yang menikmati barang bekas orang lain. Sungguh mengenaskan sekali kamu, Meg!"
Harga diri Mega semakin terinjak-injak setelah mendengar ucapan Cahya. Emosinya seakan berkumpul di ubun-ubun. "Keterlaluan kamu Mbak!"
"Ay, ayo kita pulang. Anak-anak sepertinya sudah kelelahan," timpal Angkasa yang sadari tadi memilih untuk duduk di ruang tamu.
Cahya menganggukkan kepala. "Mas Awan, kemarilah sebentar! Aku ingin bicara."
Awan keluar dari dalam kamar. Dengan malas, ia menuruti permintaan Cahya. "Apa lagi Ay?"
Cahya tersenyum sinis. Ia ambil sesuatu dari dalam tas yang ia bawa. "Rumah dan semua aset yang kamu miliki sudah sah menjadi milikku, Mas. Sekarang, aku minta kamu, Mega dan ibu keluar dari rumah ini. Aku tidak izinkan kalian untuk tinggal lebih lama lagi di rumah ini!"
Awan terhenyak. "Tidak bisa seperti itu Ay. Ini semua hasil kerja kelasku. Kamu tidak bisa melakukan semua itu!"
"Kamu tidak terima untuk aku usir Mas? tanya Cahya dengan tatapan tajam. "Semua ini sudah sah menjadi milikku, jadi silakan pergi dari rumah ini!"
"Tapi Ay...."
"Stop Mas. Aku tidak ingin mendengarkan apapun dari mulutmu!" Cahya meraup udara dalam-dalam untuk mengisi rongga-rongga dadanya dengan oksigen. "Kamu yang sudah menyalakan api itu jadi jangan salahkan siapapun jika kamu ikut terbakar. Sekarang, keluar dari sini. Keluar!"
.
.
__ADS_1
.
Selamat menyambut bulan suci Ramadan, Kakak-kakak semua. Berkah selalu untuk kita semua... 🥰🥰🥰