
"Mulai hari ini, kamu bukanlah istriku lagi!"
"Apa?!!!"
"Apa?!!!"
Tubuh Mega terperanjat seketika. Wajah wanita itu terperangah dengan bibir menganga lebar seakan tidak percaya akan yang ia dengar. Ekspresi yang sama juga ditampakkan oleh Kardi. Lelaki parah baya itu juga ikut terkejut setengah mati ketika mendengar sang menantu menceraikan anaknya. Bak mendengar petir di siang bolong, bapak dan anak itu sama-sama dibuat shock akan apa yang keluar dari mulut Awan.
"Mas, kamu bercanda kan?" tanya Mega memastikan. "Saat ini aku sedang mengandung anakmu, bagaimana mungkin kamu menceraikanku?" sambungnya pula dengan derai air mata yang membasahi wajah.
"Apanya yang tidak mungkin? Semua keputusan ada di tanganku. Aku sudah menceraikanmu dan mulai detik ini kita bukanlah siapa-siapa lagi."
"Lalu bagaimana dengan anak kita Mas? Sebentar lagi anak ini akan lahir. Apa kamu tega melihat anak ini lahir tanpa adanya sosok ayah yang mendampinginya?" ucap Mega dengan wajah memelas mengharap belas kasihan dari Awan.
"Sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan semua yang berhubungan dengan anak itu Meg. Karena anak itu hasil dari susuk pemikatmu. Jika tidak ada susuk itu, pastinya tidak akan sampai ada anak itu. Toh selama aku bersamamu, hidupku menjadi hancur. Semua yang aku miliki hilang satu persatu. Kamu ternyata pembawa sial untuk hidupku!"
Awan melontarkan kata-kata yang terdengar begitu menyakitkan di telinga maupun hati Mega dan juga Kardi. Lelaki itu mengatakan dengan lantang ucapan-ucapan yang sungguh terdengar begitu mengoyak hati. Membuat bapak dan anak itu semakin tersulut oleh emosi.
Kardi mengepalkan kedua telapak tangannya. Harga diri lelaki itu seakan diinjak-injak kala mendengar Awan mengatakan bahwa anaknya adalah pembawa sial. Ia cengkeram kerah baju Awan dan...
Bughhh... Bughhhh.... Bughhh...
"Bajingan kamu Wan! Bisa-bisanya kamu mengatakan anakku adalah pembawa sial. Apa kamu tidak berkaca diri, hah?!!!"
Tiga bogem mentah mendarat di wajah Awan. Kardi seakan kehilangan kesabaran dan kehilangan kendali karena ucapan menantunya ini. Tak ayal, hal itu membuat darah segar mulai mengalir dari sudut bibir Awan.
"Untuk apa berkaca diri Pak? Apa yang aku ucapkan benar adanya. Mega adalah pembawa sial bagiku. Semua yang aku miliki hilang satu persatu sampai membuatku bangkrut kehilangan perusahaanku!"
__ADS_1
Bughhh... Bughhh... Bughhh...
Lagi, Kardi memberi pelajaran kepada menantunya ini. Jika sebelumnya wajah Awan yang menjadi pelampiasan, kini giliran perut lelaki itu yang menjadi sasaran.
"Jan*uuukkk!!!! Semakin aku biarkan, kamu semakin ngelunjak saja Wan!"
Bughhh.... Bughhh... Bughhhh...
"Apa kamu tidak sadar jika apa yang terjadi kepadamu adalah sebuah karma? Karma karena kamu sudah menghianati istri dan juga anak-anakmu? Dan kamu menyalahkan Mega? Sungguh biadab kamu!"
"Semua tidak akan terjadi kalau Mega tidak memakai susuk itu Pak!"
"B a n g s a t!!! Masih saja kamu tidak mau disalahkan. Lelaki macam apa kamu Wan!"
Kardi kembali mengangkat tangannya untuk besiap-siap meninju wajah Awan yang kini mulai memar-memar namun...
"Sudah cukup Pak, cukup! Tidak perlu lagi Bapak memukul lelaki ini!" teriak Mega yang seketika mengurungkan niat Kardi untuk kembali meninju wajah Awan.
"Baik, aku terima keputusanmu untuk menceraikan aku Mas. Tapi sekarang kamu pergi dari sini. Rumah ini atas namaku, jadi kamu tidak berhak untuk tinggal di sini!" ucap Mega dengan hati yang ia paksa untuk lebih tegar.
"Apa? Kamu minta aku untuk keluar dari rumah ini?" tanya Awan dengan nada sinis. "Kamu lupa? Rumah ini aku beli dengan memakai uangku? Jadi kamu tidak berhak untuk memilikinya."
"Persetan dengan uang siapa rumah ini dibeli Mas. Yang pasti rumah ini atas namaku, jadi kamu silakan pergi dari rumah ini!" timpal Mega yang saat ini sudah menunjukkan powernya. Wanita itu tidak gentar untuk melawan Awan.
"Hahahaha ... Jadi kamu ingin aku keluar dari rumah ini?" tanya Awan dengan nada sinis. "Yakin?"
"Iya, aku yakin! Kamu tidak pantas untuk tinggal di rumah ini lagi. Karena rumah ini adalah milikku."
Awan kian menatap sinis wajah istri yang baru saja ia talak ini. "Apa kamu lupa kalau rumah ini menjadi jaminan untuk hutang di bank? Apa kamu sanggup untuk membayar cicilan sepuluh juta tiap bulannya?"
__ADS_1
Pertanyaan Awan sukses membuat Mega terhenyak seketika. Ia baru ingat jika sertifikat rumah ini menjadi jaminan untuk hutang senilai satu milyar.
"Aku bisa menggunakan uang outlet untuk membayar cicilan itu. Karena memang dari outlet lah cicilan itu dibayar."
"Eh enak saja kamu mau menggunakan uang outlet. Kamu lupa yang menandatangani MOU dengan Pak Sigit adalah aku? Itu artinya outlet itu milikku. Lagipula kamu tidak punya kontribusi apa-apa untuk membuat outlet begitu ramai oleh para konsumen di awal-awal buka. Jadi kamu tidak berhak atas outlet itu."
Kedua bola mata Mega semakin membuat sempurna. Ia tidak menyangka jika Awan akan melakukan hal semacam itu. Jika seperti itu, sudah jelas sertifikat rumah tidak akan pernah bisa kembali sebelum hutang di bank terlunasi.
"K-Kamu sungguh keterlaluan Mas!"
"Hahahaha, sekarang kamu sadar kan kalau aku ini tidak mudah untuk dilawan?"
Mega kian tersudut. Kali ini ia benar-benar tidak memiliki senjata untuk mempertahankan rumah ini lagi. Cicilan sepuluh juta setiap bulan sangatlah berat untuk orang yang tidak memiliki pekerjaan. Namun masih ada satu benda yang bisa ia pertahankan.
"Oke, aku tidak akan mengusik rumah itu lagi. Tapi, mobil itu akan aku bawa. Karena BPKB mobil itu atas namaku!"
Awan terdiam dan berpikir sejenak. Lelaki itu seakan dibuat kalut akan permintaan Mega. Bagaimanapun juga, mobil itu menjadi milik Mega karena di BPKB yang tertera adalah nama Mega dan jika mobil itu tidak ada, ia kebingungan bagaimana caranya untuk beraktivitas setiap harinya.
Lama Awan berpikir namun sepertinya belum ia temui jawaban ataupun keputusannya juga. Jika saat ini ia harus membeli mobil, pasti akan sangat memberatkan karena ia berecana untuk merenovasi rumah Mentari terlebih dahulu.
"A-aku ....."
Tok.... Tok.... Tok....
Baru saja Awan membuka mulutnya untuk menanggapi permintaan Mega, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Suara ketukan pintu itulah yang membuat ucapan Awan terjeda. Ia memilih turun ke bawah untuk melihat siapa gerangan yang datang.
.....
Tebak berhadiah.
__ADS_1
Kira-kira siapakah yang datang? Author akan pilih satu pembaca dengan jawaban benar dan yang lebih awal berkomentar. Akan ada hadiah pulsa 20 ribu bagi yang beruntung ☺☺☺ Silakan tulis di kolom komentar ya kak.. 🥰🥰