Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 133. Pintu Maaf


__ADS_3


"Fa Subhaanal lazii biyadihii malakuutu kulli shaiinwwa ilaihi turja'uun.... Sadaqallahul adzziim..."


Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar menggema memenuhi ruang rawat di mana Mega terbaring. Cahya menutup Al-Quran yang baru saja selesai ia baca dan ia letakkan di atas nakas. Wanita itu kembali menatap nanar kondisi Mega yang ada di hadapannya ini.


Air mata Cahya tiada henti mengalir, kala melihat seonggok raga yang akan menjemput ajalnya ini. Napas Mega masih tetap tersengal-sengal seakan begitu kesusahan untuk bernapas.


Wajah yang dulu nampak begitu mempesona sampai-sampai membuat sang suami terpikat, kini berubah seratus delapan puluh derajat. Kini yang nampak hanyalah wajah nan buruk rupa yang siapapun pasti tidak akan mengenali bahwa wanita ini adalah Mega.


Tubuh yang dulu sering berlenggak-lenggok untuk memikat lawan jenisnya, kini hanya bisa terbujur di atas ranjang rumah sakit. Bahkan untuk sedikit bergeser saja, sangatlah kesulitan.


"M-Mbak Cah-ya .... M-Maafkan a-ku. A-aku s-sudah banyak m-mela-kukan k-kesalahan k-kepadamu."


Di sisa-sisa napas yang masih ia miliki, Mega mencoba untuk meminta maaf secara langsung kepada Cahya. Meskipun terbata-bata, namun Cahya paham betul dengan apa yang diucapkan oleh Mega.


Cahya mengulas sedikit senyumnya. Kini tak ada lagi rasa benci yang bersarang di hati kepada sosok yang pernah menjadi duri dalam pernikahannya ini. Yang ada hanyalah perasaan lega, dan lapang untuk memaafkan semua yang pernah Mega lakukan.


Tangan Cahya terulur untuk bisa meraih telapak tangan Mega. Ternyata, seorang wanita yang dulu selalu menunjukkan powernya untuk merebut sang suami, bisa terbaring lemah yang hanya bisa menggerakkan mata dan bibirnya seperti ini.


"Meg, aku sudah ikhlas memaafkanmu. Sekarang, jika kamu masih ingin bertahan untuk sembuh, maka bertahanlah sekuat tenagamu untuk sembuh. Namun jika kamu sudah tidak sanggup, maka pulanglah ke pangkuan Allah dengan tenang. Aku sudah memaafkanmu dan semoga Allah juga mengampuni semua dosa-dosamu."


Mega menautkan pandangannya ke arah Cahya. Wanita itu menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis. Lagi, napas wanita itu kembali tersengal-sengal namun saat ini terdengar jauh lebih sulit dari sebelumnya.


Cahya mendekatkan bibirnya ke samping telinga Mega. Ia bisikkan sesuatu di sana.


"Allah .... Allah .... Allah...," lirih Cahya menuntun wanita yang tengah menghadapi sakaratul mautnya ini.


"A.... Allah...," lirih Mega yang diiringi dengan kedua bola mata yang terbelalak lebar. Sepersekian detik, napas wanita itu terhenti dan diiringi dengan bunyi nyaring dari EKG yang terpasang.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.."


Lastri terhenyak mendengar bunyi nan nyaring itu. Ia tatap monitor yang ada di sisi ranjang Mega dan hanya ada garis lurus yang terpasang. Air matanya kembali mengalir deras menyusuri bingkai wajahnya.

__ADS_1


"Megaaaaaaaa!!!!!"


Lastri memeluk tubuh Mega seraya mengguncang-guncang tubuhnya. Wanita itu masih berharap agar sang anak masih bisa bernapas untuk melanjutkan hidupnya.


"Bagun Nak, bangun! Jangan seperti ini. Ayo bangun Nak!" ucap Lastri dengan suara bergetar. Wanita paruh baya itu masih terlihat belum ikhlas dengan kematian sang anak.


Cahya bangkit dari posisi duduknya. Ia usap air mata yang juga mengalir dari bingkai netra. Ia sedikit membungkuk dan mengusap pelan bahu Lastri ini. Sebagai seorang ibu, ia tentu juga bisa merasakan bagaimana keadaan hati Lastri saat ini.


"Yang sabar ya Bu. InshaAllah Mega sudah tenang di sana dan tidak kesakitan lagi. Semoga dia mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah."


"Tapi kesalahan Mega begitu besar Nak. Ibu khawatir jika tidak ada ampunan dari Allah untuk anakku," ucap Lastri dengan tersedu-sedu.


"Bu, Allah Maha Pengampun dan Maha penerima taubat. Kita tidak pernah tahu, barangkali di waktu-waktu kemarin Mega menangis dalam kesendiriannya, menyadari semua kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah. InshaAllah Allah akan mengampuninya."


"Ya Allah ..... Ampuni dosa-dosa anakku ini..."


"Kita juga tidak pernah tahu kebaikan-kebaikan apa yang pernah dilakukan oleh Mega yang mungkin bisa menolongnya dari siksa kubur, Bu. Jadi, saat ini Ibu yang ikhlas. Ikhlaskan Mega untuk kembali ke dalam pangkuanNya."


Lastri memaksakan diri untuk menghentikan tangisnya. Ia usap air matanya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Cahya. Tanpa banyak bicara, wanita itu memeluk erat tubuh Cahya.


"Saya sudah ikhlas memaafkan Mega, Bu. Sekarang, kita fokus untuk pemakaman Mega ya. Untuk semua biaya pemakaman, biar menjadi tanggungan saya. Dan untuk seluruh biaya rumah sakit, biar nanti saya yang akan selesaikan."


"MashaAllah Mbak .... Terbuat dari apa hatimu ini Mbak? Padahal Mega sudah menghancurkan hidupmu juga hidup anak-anakmu, tapi mengapa kamu masih ingin membantu Mega?"


Cahya tersenyum simpul. Kembali ia usap-usap punggung wanita paruh baya ini.


"Semua yang terjadi di dalam kehidupan manusia pastinya sudah merupakan garis hidup terbaik yang telah dipilihkan oleh Allah. Sampai saat ini saya percaya akan hal itu Bu. Alhamdulilah, atas jalan kehancuran itulah yang justru telah mempertemukan saya dengan sosok lelaki yang jauh lebih segala-galanya daripada mas Awan. Hal itulah yang saya syukuri sampai saat ini, Bu."


"MashaAllah .... Kamu memang wanita baik Mbak dan kamu pantas mendapatkan sosok lelaki yang jauh lebih baik dari Awan."


****


Lastri terduduk lemas di samping gundukan tanah pemakaman yang masih terlihat basah. Kardi, Rustam, Fatimah, Cahya, Langit, Angkasa, Mentari juga terlihat berdiri di sekitar gundukan tanah itu. Sedangkan para tetangga yang ikut ke pemakaman Mega, satu persatu mulai pulang. Mengingat kanvas langit dihiasi oleh mendung yang mendominasi.

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu, jenazah Mega dikebumikan. Dan saat ini hanya terlihat taburan bunga di atas tanah dengan sebuah papan dari kayu yang menjadi tanda kepemilikan makam. Sebuah siklus kehidupan yang harus dilalui oleh manusia sebelum ia tinggal di kehidupan yang abadi yakni kehidupan di akhirat nanti. Dunia memanglah tempat pemberhentian sementara di mana manusia mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang kekal.


"Bu, ayo kita pulang. Sebentar lagi akan turun hujan."


Kardi menyusul ke tempat sang istri berada. Ia sedikit berjongkok di samping Lastri dan memegang erat pundak istrinya ini.


"Ibu masih ingin di sini Pak, kasihan Mega sendirian di tempat ini!" ucap Lastri masih dengan isak tangis. Wanita itu tiada henti menciumi papan kayu yang bertuliskan nama sang anak.


"Bu .... yang ikhlas. Jika Ibu terus menerus seperti ini bisa memberatkan jalan anak kita. Ikhlas ya Bu."


"Tapi Pak...."


Tidak ingin berdebat terlalu panjang lagi, Kardi sedikit memaksa Lastri untuk berdiri. Ia tegakkan tubuh sang istri untuk berkumpul kembali dengan orang-orang yang masih ada di sini.


"Pak Langit dan semuanya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak atas segala bantuan yang telah diberikan kepada kami. Kami sungguh tidak bisa membalas selain hanya dengan doa semoga keluarga pak Langit dan Mbak Cahya senantiasa diberikan keberkahan."


"Aamiin, aamiin, ya rabbal alamiin."


"Kalau begitu, mari silakan mampir terlebih dahulu di kediaman kami Pak, Mbak.."


"Mohon maaf Pak, kami sepertinya tidak bisa untuk mampir. Ada keperluan lain yang harus kami selesaikan," tolak Langit secara halus. "Kalau begitu kami semua mohon pamit ya Pak, Bu..."


"Baiklah kalau begitu pak Langit, kami tidak bisa memaksa. Terima kasih banyak untuk semua bantuan yang telah diberikan. Semoga perjalanan pak Langit dan keluarga lancar dan selamat sampai tujuan."


"Aamiin... Aamiin..."


Pada akhirnya semua orang yang masih berada di pemakaman mulai meninggalkan tempat ini. Mereka berjalan melewati beberapa batu nisan untuk bisa tiba di pintu gerbang. Sejenak, Cahya menghentikan langkah kakinya. Ia balikkan badan untuk melihat makam Mega dari kejauhan.


Kehidupan di dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Semua yang bernyawa pasti akan mati sesuai ajalnya atas izin, takdir dan ketetapan-Nya. Siapapun yang ditakdirkan mati pasti akan mati meski tanpa sebab, dan siapapun yang dikehendaki tetap hidup pasti akan hidup.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2