Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 45. Teror


__ADS_3


Langit berdiri di balik jendela sembari menikmati lembayung senja yang mulai menghias cakrawala. Di samping tubuh lelaki itu sudah teronggok sebuah koper warna hitam di mana di dalam koper itu berisikan pakaian-pakaiannya. Setelah memikirkan dengan matang, Langit memutuskan untuk pulang ke Kalimantan untuk sementara waktu menetap di sana.


"Baru beberapa bulan aku berada di kota ini untuk mengembangkan bisnis, tapi ternyata aku harus pulang kembali ke tanah kelahiranku."


Kabar kecelakaan sang ayah yang datang secara tiba-tiba, membuatnya harus segera mengambil langkah. Meskipun di kota ini baru saja ia mencoba merangkak untuk mengembangkan bisnis, namun ada hal lain yang menjadi prioritas. Ia harus segera kembali ke tanah kelahiran untuk mendampingi ibu dan juga adiknya menghadapi ujian hidup ini.


Tatapan Langit semakin menerawang kala ada satu hal yang mengusik ketentraman batinnya. Apa lagi jika bukan tentang Cahya? Lelaki itu seakan ingin senantiasa berada di sini, setidaknya untuk menguatkan wanita itu kala menghadapi perselingkuhan suaminya. Namun apa hendak dikata, sepertinya semesta belum mengizinkan.


"Astaghfirullahalazim ... Ingat Lang, Cahya itu masih istri orang. Jangan sekali-kali kamu berniat untuk menjadi tempat sandaran. Itu sama sekali tidak diperbolehkan!"


Langit bermonolog lirih sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak bisa ia ingkari jika sejak mengetahui Cahya diselingkuhi oleh sang suami, ingin rasanya ia menjadi tempat bersandar dan berbagi. Namun, beruntung ia segera disadarkan karena bagaimanapun juga posisi Cahya masih menjadi istri orang. Tidaklah pantas jika ia berharap bisa menjadi tempat wanita itu untuk berkeluh kesah.


"Aku hanya bisa berdoa untukmu, Mbak. Semoga Allah senantiasa melindungimu dan memberikan jalan terbaik untukmu!"


Langit merogoh saku celana. Ia ambil ponsel yang ia simpan di dalam sana. Untuk sementara, ia harus menghubungi salah satu orang yang ia yakini begitu mumpuni untuk meng-handle perusahaan yang ada di Jogja.


"Assalamu'alaikum Ang!"


"Iya Pak Langit. Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Besok aku tiba di Kalimantan. Tolong jemput aku di bandara sekaligus aku ingin membicarakan satu hal kepadamu."


"Baik Pak, besok Pak Langit kabari saja jika sudah tiba di bandara."


"Terima kasih Ang!"


Panggilan berakhir. Langit menghela napas sedikit lega karena sudah menemukan orang kepercayaan yang sementara waktu akan meng-handle perusahaan yang ada di kota ini.


Aku yakin Angkasa adalah orang yang tepat dan bisa aku percaya untuk meng-handle semua. Dengan begitu, aku bisa tenang meninggalkan Jogja.


***


"Mas, baru sampai?"


Dengan senyum sumringah, Cahya menyambut kedatangan sang suami. Kali ini ia harus memerankan aktingnya dengan sempurna agar semua rencananya tidak terendus oleh suaminya ini. Cahya meraih tangan Awan dan ia cium punggung tangannya dengan takzim.


"Iya Ay, maaf ya karena aku baru sampai. Jalanan macet sekali."


Awan seakan menampakkan raut wajah bersalah di hadapan sang istri. Akibat jalanan yang macet sampai-sampai membuatnya sedikit terlambat tiba di rumah.


"Ah tidak apa-apa Mas, yang penting kamu bisa sampai rumah dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun." Cahya meraih tas yang dibawa oleh sang suami. "Sini Mas, biar aku yang membawakan tasmu. Sekarang lebih baik kamu bersih-bersih agar tidak ada kotoran yang menempel di tubuhmu."

__ADS_1


"Kotoran?" tanya Awan dengan kening yang sedikit berkerut. "Kotoran apa maksudmu, Ay?"


Kotoran dari dosa yang sudah kamu lakukan, Mas. Dosa karena kamu sudah menghianati istri dan keluargamu dan juga banyak kebohongan-kebohongan yang kamu sembunyikan di balik punggung ku.


Cahya terkekeh lirih. "Maksudku dari keringat dan juga asap-asap kendaraan, Mas. Kamu baru saja melakukan perjalanan jauh dari Semarang ke Jogja bukan? Jadi pasti banyak keringat di badanmu."


"Ah kamu ini, buat aku penasaran saja Ay. Aku kira kotoran kucing atau ayam yang menempel di bajuku!" seloroh Awan sembari tersenyum kecil.


Awan mengayunkan tingkai kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan tidak ia dapati putri-putrinya menyambut kepulangannya.


"Anak-anak sudah tidur Ay?"


"Iya Mas. Setelah aku ajak shalat Isya mereka langsung tertidur."


"Baiklah kalau begitu. Besok pagi biar aku yang mengantar anak-anak ke sekolah."


"Baik Mas." Cahya mengekor di belakang tubuh Awan untuk masuk ke dalam kamar pribadinya. "Oh iya Mas, sebentar lagi ulang tahun perusahaan bukan? Apa kamu sudah membuat rencana untuk acara itu?"


"Belum Ay. Aku malah belum sempat untuk memikirkan membuat rencana acara seperti apa. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi sampai membuatku tidak punya waktu."


Jelas saja tidak punya waktu, Mas. Waktumu sudah kamu habiskan dengan selingkuhanmu, sampai tidak ada yang tersisa untuk keluargamu.


Cahya tersenyum penuh arti. Ia menggamit lengan tangan suaminya ini dengan mesra. "Bagaimana kalau aku yang meng-handle semua, Mas? Akan aku buatkan konsep acara yang matang untukmu?"


"Iya Mas. Akan aku buatkan konsep yang matang dan sempurna untukmu. Bagaimana? Kamu mengizinkan kan Mas?"


Awan nampak sejenak berpikir namun pada akhirnya ia menganggukkan kepala. "Baiklah Ay. Aku serahkan semua kepadamu. Tapi aku ingin yang spesial di ulang tahun ke lima perusahaanku ini. Pastinya yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya."


Cahya tersenyum lebar. "Tenang saja Mas. Di dalam otakku ini sudah ada sebuah konsep yang begitu dahsyat. Di ulang tahun ke lima perusahaanmu, aku akan membuat kilas balik kamu mendirikan perusahaan ini."


"Kilas balik? Maksudnya seperti apa Ay?"


Cahya membuang napas sedikit kasar. Ia menggeser tubuhnya untuk bisa behadapan langsung dengan Awan. Ia menepuk-nepuk bahu tegap milik suaminya ini.


"Aku masih menyimpan beberapa dokumentasi saat awal-awal kamu merintis perusahaan, Mas. Perusahaan yang awalnya tidak dikenal oleh siapapun sampai saat ini dikenal oleh banyak orang. Akan aku buatkan semacam film dokumenter untuk perjalanan bisnismu ini. Bagaimana?"


Wajah Awan nampak berbinar terang. Ia tidak menyangka jika sang istri memiliki rencana yang dahsyat seperti ini.


"Sumpah, itu ide yang keren sekali, Ay. Aku setuju. Pokoknya aku serahkan semua kepadamu."


"Siap Mas. Kamu tinggal duduk manis. Biar semua aku yang meng-handle."


"Terima kasih istriku!"

__ADS_1


Awan melenggang pergi untuk segera membersihkan diri. Sedangkan Cahya masih menatap lekat punggung sang suami yang perlahan mulai hilang di balik pintu kamar mandi. Wanita itu tersenyum sinis dengan kilatan amarah yang terpancar di wajah.


Sepertinya kamu lupa akan dua hal, Mas. Tidak ada hal yang lebih mengerikan dari marahnya orang yang sabar dan kecewanya orang yang setia.


***


Mega menuruni anak tangga sembari memainkan ponsel yang ada di dalam genggaman tangan. Ia menuju ruang keluarga dan ia daratkan bokongnya di sofa yang telah tersedia. Wanita itu mulai berselancar di dunia maya. Ingin melihat respon seperti apa yang diberikan oleh para followers terhadap foto-foto yang baru beberapa jam lalu ia bagikan.


"Ternyata enak juga hidup dalam kemewahan seperti ini. Lihatlah, banyak teman-temanku yang dulu satu kantor memuji kehidupanku saat ini. Mereka sepertinya iri karena aku baru beberapa hari resign tapi sudah bisa membeli barang-barang mewah."


Mega tiada henti memuji dirinya sendiri. Wanita itu seakan membutuhkan pengakuan dari orang-orang bahwa saat ini hidupnya begitu mewah dan bergelimang harta. Hal itulah yang membuat Mega sering memposting apa saja yang ia punya.


Mega mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Baru beberapa jam Awan meninggalkannya sendirian di rumah mewah ini yang membuatnya merasa sepi. Ia bangkit dari posisi duduknya, untuk kemudian menuju minibar yang berada tak jauh dari posisinya.


Mega menyiapkan bubuk cokelat dan sebuah mug. Di malam yang terasa begitu dingin ini sepertinya akan sangat pas jika ia menikmati segelas cokelat panas pastinya sambil duduk santai dan bermain sosial media.


Dahi Mega sedikit mengernyit kala melihat sebuah kotak yang berada di samping termos. Ia raih kotak warna merah itu dan ia tatap lekat-lekat.


"Kotak apa ini? Perasaan aku tidak pernah meletakkan kotak merah ini di sini."


Mega masih bertanya-tanya akan kotak merah yang tiba-tiba berada di minibar. Namun seketika senyum manis mengembang di bibir kala teringat akan satu hal.


"Ah, ini pasti kejutan yang diberikan oleh mas Awan. Dia kan paling suka memberikan kejutan secara diam-diam seperti ini. Kira-kira kali ini ia membelikan aku apa ya?"


Mega sudah tidak sabar untuk membuka sebuah kotak yang tidak terlalu besar ini. Kotak merah yang dihiasi oleh pita warna pink yang terlihat manis sekali. Ia buka kotak warna merah ini dan....


"Aaaaarrggghhhhh!!!!"


Mega seketika melempar kotak warna merah yang ada di tangan hingga membuat isi di dalam kotak itu berhamburan. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang kala sekilas melihat isi kotak merah ini.


"Kerjaan siapa ini? Mengapa ada barang seperti ini di rumahku?"


Mega masih begitu shock melihat isi dalam kotak merah itu. Sebuah boneka yang sering ia lihat dalam ritual-ritual santet kini ada di dalam rumahnya. Yang lebih membuatnya terkejut, boneka itu ditusuk menggunakan beberapa jarum dan dilumuri oleh warna merah yang ia yakini berasal dari sebuah lipstick.


Mendadak nyali Mega dibuat menciut. Ia menautkan pandangannya ke arah sekeliling untuk mencari sesuatu yang mencurigakan. Tapi tetap saja tidak ia temukan.


"Sial, di sini juga tidak ada CCTV jadi tidak bisa aku lihat siapa yang melakukan ini semua."


Mega mengurungkan niatnya untuk membuat cokelat panas. Ia kembali ke sofa dan ia raih ponselnya. Gegas, ia hubungi Awan yang belum genap sehari meninggalkannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2