
"Ayo Om, lempar bolanya! Ahahahaaaaa..."
Teriakan riang dari dua anak kecil yang masih mengenakan seragam sekolah itu terdengar memekakkan telinga. Teriakan mereka beradu dengan hembusan sang bayu yang lumayan kencang. Membuat daun-daun kering berjatuhan ketika tak lagi mampu mengeratkan pelukan mereka di dahan.
"Sini gantian lempar ke Malika Om!!!"
Kedua gadis kecil itu bergantian berusaha menangkap bola yang dilempar oleh Langit dan berlarian kesana kemari ketika bola itu tak sanggup mereka tangkap. Wajah mereka nampak cerah. Secerah sinar matahari yang mulai tergelincir ke arah barat, untuk berpamitan kepada dunia.
"Aduh Nak, istirahat dulu ya. Om Langit lelah sekali!"
Napas Langit terlihat ngos-ngosan memenuhi permintaan kedua anak Cahya yang tidak mau berhenti bermain bola. Di sebuah taman kecil yang berada di seberang kantor Langit yang selalu ramai oleh anak-anak ketika sore hari seperti ini, Langit menemani Alina dan Malika bermain bola. Sudah persis seperti sosok ayah yang tengah bermain dengan putri-putrinya.
"Yaaaah ... Om Langit ini payah. Masa gitu aja udah capek?" ucap Alina dengan membuang napas sedikit kasar. "Ayo Dek, kita mainan ayunan saja di sana!" sambungnya pula, mengajak sang adik untuk bermain ayunan.
Langit terkekeh pelan. Ia acak rambut Alina sedikit kasar. "Boleh main ayunan tapi jangan kencang-kencang ya Nak."
"Siap Om!"
Dua anak kecil itu berlarian ke arah ayunan sembari bergandengan tangan. Langit menatap sosok wanita yang tengah duduk di salah satu bangku taman yang terbuat dari beton. Wanita itu terlihat larut dalam pikirannya sendiri. Masih terlihat jejak-jejak kristal bening yang berada di pelupuk mata, namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya. Langit berjalan ke arah Cahya dan ia daratkan bokongnya di bangku taman yang terpisah dari bangku yang diduduki oleh Cahya.
"Lalu, apa yang saat ini akan kamu lakukan Mbak?"
Cahya tersenyum getir. Ia mencoba untuk menarik sudut bibirnya ke atas namun bulir bening itu kembali menetes perlahan.
__ADS_1
"Memang apa yang harus aku lakukan selain menjalani segala ketetapan yang sudah digariskan Mas? Tinta takdir sudah tergores dalam lembaran kisah hidupku dan aku hanya bisa menerima dan menjalani semua."
Sekilas, Langit menatap wajah wanita yang masih terlihat begitu memesona meskipun berhias air mata yang ada di hadapannya.
"Kita memang tidak pernah tahu siapa saja yang akan hadir dalam kehidupan kita karena itu sudah menjadi ketetapan. Namun, kita masih punya pilihan untuk memutuskan, apakah seseorang itu layak untuk kita pertahankan atau tidak. Saat ini semua keputusan ada padamu Mbak. Karena hanya waktu dan diri kita sendirilah yang bisa menyembuhkan luka hati yang kita alami."
Cahya menggelengkan kepala pelan. Tatapan mata wanita itu masih terlihat kosong dan menerawang. "Entahlah Mas, saat ini aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Ini semua seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang menyapa di dalam lelap tidurku. Raga dan juga hatiku sungguh tidak siap menerima keadaan seperti ini. Aku seper...."
Ucapan Cahya terjeda kala rasa sesak itu kembali membelenggu dada. Air mata yang sebelumnya ia paksa agar berhenti mengalir, kini seakan tumpah ruah kala memori otaknya memutar kembali video yang diperlihatkan oleh Langit.
"Aku seperti tidak sanggup untuk menerima semua ini," sambung Cahya dengan lirih yang disertai oleh sisipan isak tangis yang terdengar jelas.
Langit mencoba untuk memahami semua rasa yang membelenggu raga wanita ini. Ia sangat paham, siapapun yang berada di posisi Cahya pasti akan merasakan kehancuran yang sama. Tinggal jalan seperti apa yang akan mereka ambil untuk menjadi pembedanya.
Tatapan mata Cahya tertuju pada satu titik yang ditunjuk oleh Langit. Terlihat wajah-wajah polos kedua putrinya yang harus tetap mendapatkan kebahagiaan. Cahya masih terdiam dan membeku, larut dalam pikirannya sendiri.
"Mereka adalah satu-satunya alasan untuk kamu lebih kuat, Mbak. Sehancur apapun hati dan juga hidupmu, kebahagiaan mereka masih berada di pundakmu."
Ucapan Langit menancap tepat di jantung milik wanita yang saat ini masih memilih untuk membisu tak berucap sepatah katapun itu. Ia tersadar jika ujian hidup apapun yang menghampiri, ada kehidupan yang harus tetap berlanjut. Pastinya kehidupan bersama kedua putrinya.
Memori Cahya kembali memutar masa-masa sulit yang ia lalui bersama Awan di tahun pertama mereka mengarungi biduk rumah tangga. Ia berhasil melewati itu semua hingga detik ini ia bisa menikmati semua kenikmatan materi. Kini ketika ujian hati menyapa, ia pun yakin jika akan sanggup untuk menghadapinya.
Benar apa yang dikatakan mas Langit, Ay. Kamu boleh merasa hancur namun tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan juga kehancuran itu. Kamu harus kuat karena ada dua malaikat kecil yang harus kamu bahagiakan.
***
__ADS_1
Shodaqallahul'adziim....
Lantunan ayat suci, menggema memecah keheningan sepertiga malam terakhir di dalam kamar yang terlihat temaram. Hanya ada pantulan cahaya lembut sang rembulan dari kaca jendela yang menjadi penerang.
Masih dengan mukena yang menempel di badannya, Cahya bersujud, bersimpuh menghadap kiblat mencoba mencari ketenangan dalam batinnya. Air mata wanita tiada henti menetes seakan menjadi sebuah isyarat jika luka batin yang ia rasakan itu belum mengering dan masih menganga lebar.
Ia mencoba untuk kuat, namun tetap saja ketika mengingat kecurangan yang dilakukan oleh sang suami, hatinya seakan tertikam oleh pisau tak kasat mata yang membuatnya tak sanggup untuk berdiri. Seorang lelaki yang begitu ia muliakan dan ia cintai, tega merobek dan menghancurkan hati dan juga kehidupannya dengan perselingkuhan yang ia lakukan di balik punggungnya.
Raga bagaikan tak bernyawa. Denyut nadi seakan berhenti. Jantung seakan berhenti berdenyut dan menghentikan laju aliran darah yang menjadi sumber kehidupannya. Dan hati seakan hancur hingga hanya menyisakan kepingan-kepingan luka yang berserakan di dasar batinnya.
Tertatih wanita itu mencoba untuk kembali berdiri. Dengan sisa harapan dan doa jika suatu hari nanti Sang Maha pemilik kehidupan akan mengganti rasa sakit ini dengan sebuah kebahagiaan yang tak terkira. Seberat apapun hari-hari yang ia lalui saat ini, ia harus segera beranjak dari keterpurukan ini.
Cahya mengusap air mata yang sedari tadi mengalir tiada henti. Sembari menghela nafas dalam, mencoba menerima dengan ikhlas goresan tinta takdir apapun yang telah dituliskan oleh Allah.
"Aku mohon ampun jika nantinya harus memilih jalan yang mungkin Engkau benci, ya Rabb. Aku bisa menerima apapun keadaan mas Awan namun tidak dengan sebuah perselingkuhan. Maaf atas segala kelemahanku, yang mungkin tidak dapat mempertahankan bahtera rumah tangga yang telah aku bangun ini," ucap Cahya lirih mengakhiri doanya.
Cahya beranjak dari posisinya. Ia raup udara dalam-dalam untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa kekuatannya. Ia melangkahkan kaki menuju sebuah laci di mana di sana tersimpan surat-surat berharga milik sang suami.
"Wanita itu sudah berhasil mendapatkan semua kemewahan dari suamiku. Tidak akan aku biarkan ini semua juga direbut olehnya. Aku akan mencari cara untuk membalik nama aset-aset ini menjadi namaku."
.
.
.
__ADS_1