
"Ya Allah Mas... Ini cantik sekali..."
Cahya memekik takjub tatkala pandangan matanya menyapu seluruh penjuru area ballroom salah satu hotel di pusat kota yang sudah disulap menjadi sebuah tempat resepsi pernikahan yang terlihat begitu indah dipandang. Resepsi pernikahan dengan mengusung sebuah konsep indoor dan tidak sedikitpun meninggalkan kesan mewah dan elegant. Nuansa merah begitu terasa. Jika pada saat akad bernuansa putih yang dihiasi oleh ratusan tangkai bunga mawar, nanti pada saat resepsi akan dihiasi oleh ribuan tangkai mawar merah.
Meja-meja kecil lengkap dengan kursinya yang sudah dihias sedemikian rupa semakin terlihat menyejukkan pandangan. Tak lupa, sebuah panggung rendah juga dibuat sebagai tempat kedua mempelai untuk duduk bersanding.
Langit hanya terkekeh kecil melihat sang istri yang tengah dipenuhi oleh rasa takjub itu. Ia memang sengaja tidak melibatkan Cahya secara langsung untuk mempersiapkan tempat yang akan digunakan untuk acara resepsi ini. Langit, dibantu oleh rekan-rekannya yang berkecimpung di dunia wedding organizer, pada akhirnya berhasil mempersiapkan tempat ini.
"Apakah kamu menyukainya Sayang? Apakah ini semua sudah sesuai dengan keinginanmu?"
Langit menggeser tubuhnya untuk berada di belakang tubuh Cahya. Ia memeluk tubuh Cahya dari belakang dan melingkarkan lengan tangannya di perut Cahya kemudian meletakkan kepalanya di atas pundak sang istri.
"Mas... Jangan seperti ini. Malu dilihat orang-orang yang sedang berlalu lalang di sini."
Dengan posisi mereka yang seperti ini, membuat hembusan nafas Langit begitu terasa menyapu telinga Cahya. Meskipun kepala Cahya sudah tertutup hijab, namun tetap saja masih begitu terasa di telinganya. Hal itulah yang membuat ada gelenyar aneh yang tiba-tiba dirasakan oleh wanita yang saat ini bergelar nyonya Langit Biru itu.
"Mengapa harus malu Sayang? Bukankah seluruh dunia tahu jika saat ini kamu adalah istriku, hemmmm? Jadi tidak ada salahnya bukan?"
Cahya malu, sangat, sangat malu dengan posisinya yang seperti ini dengan sang suami. Di sekitar tempat ini masih banyak orang yang berlalu lalang untuk menyempurnakan tempat resepsi yang akan digunakan malam ini, dan dengan posisi yang begitu intim seperti ini Cahya takut jika dianggap sedang pamer kemesraan mentang-mentang pengantin baru.
Langit terkekeh. "Sudah, jangan pikirkan apa kata orang. Saat ini kamu adalah pasangan halal ku jadi sah-sah saja jika kita menunjukkan keromantisan kita ini Sayang."
Baru beberapa jam resmi menjadi suami dari Cahya, sepertinya lelaki tampan nan sholeh itu sudah bisa menebak isi yang ada di dalam kepala sang istri. Bahwa memang benar jika Cahyamerasa malu dengan apa yang akan menjadi bahan omongan orang yang kebetulan melihat kemesraannya ini.
"Tapi jangan di sini juga kali Mas!"
Mendengar ucapan dari Cahya, membuat Langit menyeringai nakal. "Jangan di sini? Apakah itu artinya kamu ingin merasakan keromantisanku ini di tempat lain Sayang? Katakan, kamu mau di mana? Atau kita sejenak singgah di salah satu kamar hotel yang ada di sini, sampai acara resepsi akan dimulai selepas sholat Isya' nanti?"
Cahya hanya berdecak. Hari ini rasanya ia benar-benar lelah. Ia ingin segera beristirahat. Karena semenjak kedua putrinya menyusul ke dalam kamar, ia sama sekali belum bisa beristirahat. Bagaimana bisa beristirahat jika Alina dan Malika justru tidak mau tidur siang, tapi malah mengajak sang suami bermain petak umpet.
Setelah itu ia menemani seluruh anggota keluarga besarnya yang tengah berkumpul, pastinya dengan acara mengobrol hingga lupa waktu. Dan menjelang jam tiga sore ini, ia ke hotel untuk melihat persiapan acara resepsi malam nanti. Hal itulah yang membuat tubuh Cahya terasa begitu lelah. Matanya juga terasa berat, karena sejak pukul tiga dini hari tadi, ia sama sekali belum sempat memejamkan matanya.
Cahya menganggukkan kepala. Ia merasa ide dari sang suami tidaklah buruk. Ia hanya ingin segera memejamkan mata.
__ADS_1
"Baik Mas, kita istirahat sejenak ya. Aku ingin tidur sebentar karena sudah tidak bisa menahan rasa kantukku."
Dengan raut wajah memelas, Cahya meminta untuk tidur sebentar. Ia khawatir jika tidak menyempatkan diri beristirahat, ia akan kelelahan di acara nanti malam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia harus berjam-jam berdiri di atas pelaminan untuk menyalami seluruh tamu undangan. Dengan senyum yang tiada henti tersungging di bibirnya, yang mungkin saja bisa membuat bibirnya terasa kebas karena syaraf-syaraf di bibirnya tertarik ke atas.
Langit hanya mengulas sedikit senyumnya. Tanpa basa-basi, ia melepaskan pelukannya kemudian berjongkok di depan Cahya.
"Ayo Sayang kita ke kamar. Kebetulan aku sudah memesan satu kamar untuk kita."
Dahi Cahya mengernyit. "I-ini mengapa kamu jongkok seperti ini Mas?"
"Kok pakai tanya mengapa sih Sayang? Ayo naik ke punggungku, biar aku gendong kamu sampai ke kamar hotel!"
Cahya tersentak. "T-tapi Mas...."
"Sudah jangan pakai tapi-tapi. Bukankah saat ini kamu harus patuh kepada perintah suami? Lekas naik ke punggungku Sayang!"
Cahya hanya menghembuskan nafas pelan. Jika sudah seperti ini, ia harus menuruti semua perintah sang suami. Dengan hati-hati, Cahya mulai naik ke punggung Langit, dan setelah itu Langit beranjak dari posisi jongkoknya, perlahan mulai melangkahkan kaki untuk menuju kamar hotel yang sudah ia pesan.
Seluruh karyawan hotel yang kebetulan berpapasan dengan pengantin baru itu hanya bisa menahan senyum mereka. Mungkin dalam pikiran mereka terbesit sebuah pemikiran yang sama jika pengantin baru ini sangatlah romantis.
Seorang laki-laki yang setelah menikah memperlakukan istrinya begitu manis dan romantis. Sungguh satu hal yang patut dicontoh untuk bisa membahagiakan seorang wanita bergelar istri.
Cahya memandang wajah tampan Langit dari samping. Bisa melihat wajah sang suami dengan jarak sedekat ini semakin membuat Cahya tersadar jika suaminya ini benar-benar tampan sekali.
Semoga aku bisa selalu menjadi sumber kebahagiaan untukmu ya Mas. Semampuku, aku akan berupaya menjadi yang terbaik untukmu.
***
Langit dan Cahya nampak serasi duduk bersandingan di atas pelaminan. Jika pada saat akad nikah di dominasi dengan warna putih, kini saat resepsi didominasi oleh warna merah. Berpuluh-puluh tangkai mawar merah seolah menjadi saksi, jika hari ini memang hari yang membahagiakan untuk keduanya.
Langit tiada henti memandang wajah Cahya yang duduk di sampingnya. Malam ini Cahya benar-benar sudah terlihat seperti jelmaan putri kerajaan saja, dengan ball gawn warna merah dan di atas hijabnya tersemat sebuah mahkota kecil yang terlihat begitu elegan.
Para tamu yang berasal dari rekan-rekan bisnis Cakra, Langit dan Cahya sendiri sudah mulai berdatangan. Satu persatu mereka memberikan ucapan selamat kepada keduanya, berharap pernikahan mereka akan sakinah mawadah warahmah. Di temani alunan musik akustik bernuansa cinta yang seakan menambah suasana romantis di malam hari ini. Meski udara malam ini terasa begitu dingin, namun tidak mengurangi kehangatan yang tercipta di dalamnya.
Di salah satu sudut tempat ini, anak-anak dari rumah baca dan dari panti asuhan juga terlihat sudah berdatangan. Selepas mengucapkan selamat sembari menyematkan sebuah doa kepada kedua mempelai, mereka terlihat menikmati semua menu yang berada di atas meja prasmanan. Dari raut wajah anak-anak kecil itu nampak jelas binar-binar kebahagian yang terpancar. Sesekali mereka berlarian ke sana kemari bersama teman-temannya sambil tertawa lepas seperti tidak memiliki sedikit pun beban kehidupan.
__ADS_1
Hal itulah yang membuat hati Cahya sedikit tercubit. Berhadapan langsung dengan anak-anak itu semakin membuatnya mengerti jika masih banyak orang-orang yang kurang beruntung yang berada di sekelilingnya. Ia berharap, hal kecil yang ia lakukan dengan menjadikan mereka tamu spesial di acara malam hari ini, bisa membagi kebahagiaan yang tengah ia rasakan kepada anak-anak itu.
"Sudah Pak, adik saya jangan dilihat terus menerus seperti itu. Kalau sudah tidak sabar, langsung naik ke kamar saja. Langsung gas pol!"
Meskipun saat ini Angkasa telah resmi menjadi kakak ipar Langit, namun ia tetap harus hormat kepada adik iparnya ini. Bagaimanapun juga Langit adalah boss di tempatnya bekerja.
"Apa boleh seperti itu Ang?"
Angkasa mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling. "Aku rasa bisa Pak. Para tamu undangan sudah hadir dan beberapa media lokal juga sudah meliput acara ini. Jadi Pak Langit bisa segera kembali ke kamar. Lagipula para tamu undangan akan sangat memaklumi jika kedua mempelai pengantinnya ingin cepat-cepat kembali ke kamar."
"Apa Kak, media lokal?" tanya Cahya yang sedikit keheranan. "Kok bisa sampai ada media lokal yang meliput sih Kak?"
Angkasa hanya tergelak. Sepertinya sang adik belum sepenuhnya mengetahui siapa Langit ini.
"Ay, suamimu ini salah satu orang penting di kota ini. Dia banyak dan sering berinteraksi dengan para pejabat-pejabat untuk mengerjakan proyek mereka. Dan satu hal yang mungkin belum kamu ketahui, jika Pak Langit ini mendirikan bebrapa panti asuhan dan rumah baca. Kegiatan-kegiatan sosial seperti itulah yang membuat Pak Langit sering diliput oleh media."
Cahya menautkan pandangannya ke arah Langit. "Jadi itu tadi anak-anak dari panti asuhan dan rumah baca yang kamu dirikan Mas?"
"Iya Sayang."
"Kok kamu tidak pernah cerita kepadaku bahwa kamu orang hebat, Mas?"
Langit tergelak. Ia raih telapak tangan Cahya dan ia kecup buku-buku jemarinya.
"Sayang, aku tidak perlu pengakuan menjadi hebat untuk orang-orang di luar sana. Aku hanya perlu menjadi hebat untukmu dan untuk anak-anak kita. Karena muara kebahagiaanku hanya ada di dalam rumah tangga kita."
"Tapi Mas.... "
"Sudah Sayang, aku hanya ingin hebat untuk keluargaku. Oke?"
Tanpa malu-malu Langit melabuhkan kecupannya di kening dan pipi sang istri. Hal itulah yang membuat Angkasa semakin keki sendiri.
"Haaahhhhh .. . Sungguh malang nasib jomblo seperti aku ini. Sudah, sudah, lebih baik sekarang kalian kembali ke kamar untuk melaksanakan ritual berikutnya!"
.
__ADS_1
.
.