
"Maaf, Bapak-Bapak ini ada keperluan apa ya?"
Kedatangan Rustam dan Kardi di PT Langit Biru Sejahtera sudah disambut oleh security kantor yang tengah bertugas. Setelah berada di perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya dua orang itu tiba di kantor yang mereka yakini sebagai milik suami dari Cahya.
"Saya ingin bertemu dengan pak Langit, apa bisa Pak?" tanya Rustam mengungkapkan maksud dan tujuannya.
"Pak Langit?"
"Iya benar pak Langit. Beliau pemilik kantor ini kan Pak?"
"Benar Pak, pak Langit memang pemilik kantor ini. Namun sepertinya pak Langit masih ada di Kalimantan dan belum kembali ke Jogja," terang si security kantor.
"Oh begitu ya Pak?"
"Iya Pak, karena Pak Langit sejauh ini lebih sering berada di Kalimantan. Hanya sesekali saja di Jogja."
Wajah Kardi mendadak pias. Jalan yang ia yakini bisa mempertemukan Mega dengan Cahya sepertinya mengalami kebuntuan.
"Bagaimana Pak Kardi?" tanya Rustam.
"Ya mau bagaimana lagi Pak. Sepertinya saat ini belum waktunya Mega bertemu dengan Cahya."
"Ya sudah, kita pulang ya."
Kardi hanya bisa mengangguk pasrah. "Baik Pak."
"Ya sudah kalau begitu Pak. Terima kasih untuk informasinya," ucap Rustam kepada security kantor.
"Sama-sama Pak."
Dengan langkah kaki gontai, Kardi bersama Rustam menuju tempat parkir. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil warna hitam mulai memasuki pelataran kantor. Terlihat, Angkasa, Mentari, Langit dan Cahya keluar dari dalam mobil.
"Loh, ini Pak Langit datang," ucap si security saat melihat sang bos ada di hadapannya.
"Kok terkejut seperti itu Pak? Memang ada apa?" tanya Langit yang justru semakin penasaran karena melihat ekspresi sang security.
"Itu Pak, ada yang mencari Bapak!" ucap si security sembari menunjuk ke arah mobil yang mulai bergerak pelan.
Tak ingin melewatkan kesempatan, security kantor langsung mengambil langkah kaki lebar untuk menghentikan laju mobil yang sudah bergerak perlahan itu.
"Pak, Pak tunggu!"
Dug... Dug... Dug....
Rustam yang melihat keberadaan si security seketika langsung menginjak pedal rem dan ia turunkan kaca jendela.
"Ada apa Pak?"
"Itu pak Langit baru saja tiba Pak. Sepertinya rezeki Bapak-Bapak ini untuk bisa bertemu dengan beliau."
"Benarkah?" tanya Kardi memastikan. Meskipun sedikit tidak percaya namun binar kebahagiaan tercetak jelas di wajah lelaki paruh baya itu.
Kardi membuka pintu mobil. Ia tatap kumpulan beberapa orang yang berada di depan lobi kantor dari tempatnya berdiri. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Kardi berlari menghampiri Cahya yang ia yakini ada diantara kumpulan orang-orang itu.
"Cahya....?" lirih Kardi ketika melihat seorang wanita yang menjadi tujuan pencariannya.
__ADS_1
Cahya terhenyak. Ia berupaya untuk mengingat-ingat sosok lelaki yang menyapanya ini namun kemudian bibirnya menganga lebar.
"A-Anda .... Ayah Mega?"
Tanpa terasa bulir kristal bening menetes dari pelupuk mata Kardi. Air mata syukur karena bisa berjumpa dengan wanita ini. Tubuh Kardi meluruh. Ia bersimpuh di bawah telapak kaki Cahya yang seketika membuat semua orang yang ada di sini terkejut setengah mati.
"Maafkan Bapak, Nak. Maafkan Bapak karena telah gagal menjadi orang tua. Bapak tidak bisa mendidik anak Bapak dengan baik sehingga anak Bapak menjadi penghancur kehidupan rumah tanggamu."
"Pak .... Jangan seperti ini. Bangun Pak!" ucap Cahya sembari sedikit membungkukkan tubuh. Ia memegang pundak Kardi untuk meminta lelaki paruh baya ini berdiri.
"Mega sudah mendapatkan balasan atas semua yang telah ia lakukan. Saat ini, ia minta dipertemukan dengan nak Cahya untuk minta maaf. Tolong temui Mega, Nak. Mungkin ini merupakan permintaan terakhir Mega."
Cahya menoleh ke arah Langit dan Angkasa. Dari raut wajah wanita itu seakan tersirat makna agar suami dan kakaknya ini menegakkan tubuh Kardi. Paham dengan maksud Cahya, Langit dan Angkasa merengkuh tubuh Kardi untuk bisa berdiri tegak.
"Mari berdiri Pak. Jangan seperti ini. Tidak enak jika sampai dilihat oleh orang lain. Semua bisa dibicarakan baik-baik," ucap Langit seraya berupaya untuk menegakkan tubuh Kardi.
Kardi menurut saja. Tubuh lelaki itu pada akhirnya bisa berdiri tegak. Wajahnya namun masih menunduk seakan menjadi gambaran rasa bersalahnya kepada Cahya.
"Mari kita ke dalam Pak. Kita bicarakan semua di sana. Kalau di depan lobby seperti ini akan kurang pantas untuk dilihat."
Langit menuntun tubuh Kardi untuk ia bawa ke dalam ruang kerjanya. Ia merasa sungguh sangat tidak elok jika membicarakan perihal pribadi di depan lobby. Tak selang lama, mereka semua tiba di ruangan Langit dan duduk di posisi masing-masing.
"Jadi sebenarnya ada apa Pak? Apa yang telah terjadi kepada Mega?" tanya Cahya langsung pada pokok pembahasan.
"Beberapa waktu yang lalu, Mega diceraikan oleh Awan, Nak. Awan menceraikan Mega karena saat ini wajah Mega telah hancur akibat susuk yang ia pasang di wajahnya."
"Apa? Susuk?"
"Betul Nak. Mega ternyata selama ini memakai susuk pemikat untuk memikat Awan dan ternyata Mega lupa akan yang menjadi pantangannya. Hingga pada akhirnya wajah Mega benar-benar hancur akibat susuknya sendiri," ucap Kardi menjelaskan.
"Astaghfirullahalazim....," lirih Cahya sembari menutup mulutnya.
"Ya Allah..."
"Maka dari itu, Bapak sengaja mencari keberadaan nak Cahya untuk meminta kerelaan hati memaafkan Mega. Selain itu, Bapak juga minta agar Cahya mau ikut dengan Bapak untuk bertemu Mega secara langsung. Karena ini juga merupakan permintaan Mega."
Cahya menoleh ke arah Langit. Bagaimanapun juga jika ia menuruti permintaan Kardi, harus dengan izin sang suami.
"Mas, bagaimana? Apa aku boleh menemui Mega?"
"Kamu sendiri bagaimana Sayang? Apa sudah siap untuk bertemu dengan Mega?"
Cahya nampak sejenak berpikir. Masih ada sisa rasa perih yang menggerus batin jika teringat akan apa yang telah dilakukan oleh Mega kepadanya. Namun, wanita itu segera tersadar bahwa semua orang yang bersalah berhak untuk mendapatkan pintu maaf.
"Iya Mas, aku sudah siap untuk bertemu dengan Mega."
"Baiklah kalau begitu." Langit menautkan pandangannya ke arah Kardi. "Baik Pak, mari kita sama-sama ke sana. Semoga dengan kehadiran istri saya bisa memudahkan jalan Mega untuk segera sembuh seperti sedia kala."
"Alhamdulilah...." ucap Kardi dan Rustam bersamaan.
Drrtttt.... Drrttt..... Drrtttt....
Getaran ponsel dari dalam saku celana Rustam, membuat tubuh lelaki itu sedikit terperanjat. Ia rogoh saku celananya dan ia ambil ponsel dari dalam sana.
"Fatimah?" lirih Rustam.
"Siapa Pak?" tanya Kardi yang penasaran. Ia khawatir jika ada kabar yang kurang mengenakkan dari rumah sakit.
__ADS_1
"Istri saya Pak." Rustam bersegera mengangkat teleponnya. "Iya Bu, ada apa?"
"Pak, cepat pulang Pak. Mega kritis!"
"Apa?!!!" pekik Rustam. "Iya Bu, iya kami akan segera pulang. Ini alhamdulillah kami sudah bertemu dengan mbak Cahya."
"Cepat ya Pak. Mega kritis!"
Rustam kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana setelah sang istri mengakhiri pembicaraannya. Wajah lelaki itu tiba-tiba menjadi panik tiada terkira.
"Ada apa Pak?" tanya Kardi yang juga ikut panik melihat ekspresi wajah Rustam.
"Mega Pak, Mega.... Mega kritis!"
"Astaghfirullahalazim.... Ya Allah...."
"Bapak yang tenang ya. InshaAllah semua akan baik-baik saja," ucap Langit menenangkan. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah sang istri. "Ayo Sayang kita berangkat."
***
"Ya Allah Nak, mengapa bisa seperti ini? Astaghfirullahalazim.... Astaghfirullahalazim... Astaghfirullahalazim..."
Air mata Lastri tiada henti mengalir saat melihat kondisi sang anak yang tengah kritis. Napasnya tersengal-sengal seakan kesulitan untuk meraup oksigen yang ada di sekelilingnya. Wanita itu juga tiada henti beristighfar di samping sang anak, untuk memohonkan ampun semua dosa-dosa Mega.
"Bu Fatimah ... Ini bagaimana Bu? Mega bagaimana?"
Fatimah hanya bisa mengusap-usap lengan tangan warganya ini dengan lembut. Mentransfer ketenangan dalam diri wanita paruh baya ini.
"Sabar ya Bu... Kita sama-sama berdoa, semoga Mega bisa pulih seperti sedia kala."
"Suami saya bagaimana Bu? Apakah sudah bisa bertemu dengan Cahya?"
"Alhamdulilah sudah Bu. Mereka sedang dalam perjalanan menuju sini."
"M-Mbak Cah-ya.... M-Mbak Cah-ya..."
Lastri kembali fokus dengan tubuh sang anak yang masih terbaring lemah. Meskipun tertutup ventilator namun dapat terdengar jelas akan nama yang dipanggil oleh Mega.
"Sabar ya Nak... Sebentar lagi mbak Cahya akan datang. Kamu bertahan ya."
"M-Mbak Cah-ya..."
"Ya Allah Nak, apa saat ini kamu merasa berdosa dan menyesal akan apa yang sudah kamu lakukan kepada mbak Cahya... Semoga Allah memberikanmu kesempatan untuk meminta maaf secara langsung ya Nak..."
Lastri sungguh tak mampu lagi menahan semua kesedihan yang membelenggu jiwa. Mungkin saat ini sang anak bertahan hanya untuk menunggu kedatangan Cahya. Dan setelah itu, ia bisa pergi dengan tenang.
Fatimah juga hanya bisa menatap iba kondisi Mega. Dari sini ia belajar banyak hal tentang konsep tabur tuai. Sungguh, semua yang kita tuai adalah hasil dari apa yang kita tabur. Jika kita menabur kebaikan, maka kebaikan pulalah yang akan kita tuai. Begitupun sebaliknya.
"Assalamualaikum...."
Keheningan yang tercipta di ruangan ini dipecah oleh ucapan salam dari ambang pintu. Lastri dan Fatimah sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Terlihat sosok wanita cantik yang berbalut hijab berdiri di sana.
"Mbak Cahya.....!" pekik Lastri sembari berlari ke arah wanita itu.
.
.
__ADS_1
.