
"Horee .... Kita bisa pergi makan malam sama-sama lagi."
Malika memekik kegirangan saat kembali melihat semua anggota keluarganya bisa berkumpul bersama. Jika ditilik dari ekspresi wajah Malika, bisa disimpulkan jika gadis kecil itu merindukan kebersamaan seperti ini.
Awan sengaja mengajak seluruh anggota keluarganya untuk dinner di luar. Sebagai bentuk permintaan maaf karena sudah melupakan janji untuk menjemput kedua putrinya dan sebagai upaya meyakinkan Cahya bahwa dirinya masih seperti yang dulu. Meskipun kenyataannya ada satu nama wanita lain yang ia simpan di dalam hati.
Di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kotai inilah Awan seakan membuktikan bahwa ia adalah sosok seorang ayah dan suami yang baik, yang menomorsatukan keluarganya. Awan beserta seluruh keluarganya duduk melingkari meja makan yang sudah tersedia. Sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka pun larut dalam obrolan.
"Adek senang?" tanya Cahya dengan wajah yang berbinar.
Melihat putrinya bahagia seperti ini juga turut membuat hatinya merasa bahagia. Bagi seorang ibu tidak ada hal yang membahagiakan selain melihat putri-putrinya bahagia.
"Tentu Bunda karena malam ini kita bisa pergi bersama-sama. Sudah lama sekali kita tidak makan malam sama-sama seperti ini."
Cahya ingat betul bahwa sudah empat bulan yang lalu terakhir kali mereka dinner di luar. Tepatnya sejak banyak orang yang mengajak Awan bekerja sama. Sehingga hari-hari lelaki itu disibukkan dengan perjalanan ke luar kota.
"Lalu bagaimana dengan Kakak? Apakah Kakak juga senang?" tanya Cahya yang kini ia tujukan kepada Alina.
Sejak di perjalanan, Alina memang terlihat jauh lebih pendiam daripada Malika. Putri sulung Cahya dan Awan itu seakan tidak begitu senang diajak dinner di luar seperti ini.
"Iya Bun, Alina juga senang," jawabnya dengan raut wajah datar. Sungguh berbeda jauh dari si bungsu.
"Tapi wajah putri Ayah ini mengapa masih ditekuk saja sih? Ada apa Sayang? Coba beritahu Ayah."
Bukan hanya Cahya, ternyata Awan juga sedikit menangkap sinyal yang berbeda dari wajah Alina. Ia beranggapan bahwa masih ada hal mengganjal dalam hati putrinya itu.
"Alina hanya tidak suka dengan sikap Ayah yang suka mengingkari janji itu, Yah. Ayah apa tidak tahu jika Alin dan adek sampai kelelahan menunggu?"
Mendengar sang anak mencurahkan seluruh unek-unek dalam hati, membuat Awan hanya bisa tersenyum tipis. Ia menggeser kursinya untuk bisa lebih dekat dengan Malika.
"Sekali lagi Ayah minta maaf ya Sayang. Tadi, Ayah benar-benar disibukkan oleh tamu Ayah yang datang dari Semarang. Sampai-sampai Ayah lupa menjemput Kakak dan adek."
"Tapi itu semua tidak bagus Yah. Kata bu guru di sekolah, kita tidak boleh ingkar janji."
"Iya Sayang. Ayah mengaku bersalah."
"Berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi Wan. Agar anak-anakmu ini tidak krisis kepercayaan kepadamu," timpal Marni mengemukakan pendapatnya.
"Iya Bu, Awan berjanji. Ini adalah pertama dan terakhir kalinya Awan melakukan hal seperti ini."
__ADS_1
"Baguslah. Jika kamu sampai melakukannya lagi, anak-anakmu pasti akan jauh lebih kecewa daripada hari ini."
Obrolan itu terpangkas kala dua orang pelayan menghampiri meja Awan. Dengan sopan mereka menyajikan semua yang dipesan oleh Awan.
***
Di restoran yang sama namun di sudut yang berbeda, Mega nampak tengah duduk sendiri. Di hadapannya telah tersaji dua porsi beef steak spesial lengkap dengan orange juice. Dilihat dari sajian yang tersedia, wanita itu seperti sedang menunggu seseorang.
"Hai Meg, maaf aku terlambat. Aku baru saja selesai meeting dengan bos."
Seorang wanita cantik dengan rambut sebahu menghampiri Mega yang telah lebih dulu tiba di tempat ini. Wanita itu menggeser kursi yang telah tersedia dan ia daratkan bokongnya di sana.
"Kamu ini kebiasaan Mel. Hampir saja aku jamuran nungguin kamu," ucap Mega sembari mendengus kesal.
"Hahaha ... Maafkan aku, bestie." Wanita bernama Imel itu mulai menyeruput orange juice yang ada di depannya. Hingga sensasi kesegaran buah jeruk itu mulai mengaliri kerongkongan. "Oh iya, tumben kamu mengajakku makan malam di luar. Ada kabar bahagia apa?"
Imelda tahu betul karakter sahabat karibnya ini. Mega dengan tiba-tiba akan mengajaknya keluar untuk sekedar jalan-jalan atau makan jika wanita itu tengah berbahagia. Benar saja, karena rona kebahagiaan itu nampak jelas di wajah Mega.
"Tahu saja kamu Mel. Hari ini aku benar-benar bahagia karena aku baru saja berkenalan dengan pemilik ekspedisi N3P," cerita Mega sembari mengiris beef steak di depannya menggunakan pisau yang telah tersedia.
"Pemilik ekspedisi N3P? Bukankah itu pak Awan Surya Atmaja?" tanya Imel mempertegas bahwa yang dia maksud memang seperti yang dimaksud oleh Mega.
Dahi Mega sedikit berkerut. Sejenak, ia letakkan pisau dan garpunya. "Kok kamu kenal Mel?"
"Oh seperti itu? Aku kira kamu kenal secara intens dengan pak Awan."
"Eh tapi tunggu." Imel mencondongkan tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Mega. "Kamu bilang kalau hari ini kamu bahagia karena bisa berkenalan dengan pak Awan?"
Mega menganggukkan kepalanya. "Iya Mel. Memang kenapa?"
"Wah, wah, wah, jangan-jangan kamu menaruh hati sama pak Awan?"
"Memang kenapa Mel kalau aku menaruh hati? Ada yang salah?"
"Parah kamu Meg," ujar Imel sembari menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu tahu kan kalau pak Awan itu sudah beristri dan mempunyai dua anak?"
"Loh justru di sana tantangannya Mel. Mencintai suami orang itu membuat adrenalin kita jauh lebih terpacu, hahaha," kelakar Mega.
"Jangan gila kamu Meg!" ucap Imel memberi sebuah peringatan. Sebagai seorang sahabat, ia tidak ingin jika Mega terjerumus dalam hal yang salah. "Membuat adrenalin lebih terpacu tidak selalu dengan menjadi simpanan suami orang. Kamu bisa naik rollercoaster dan aku rasa itu jauh lebih aman."
"Aku tidak gila Mel. Justru karena aku waras, aku tahu mana lelaki yang dapat membahagikan aku dan mana lelaki yang tidak akan pernah bisa membahagiakanku."
__ADS_1
"Tapi pak Awan itu sudah memiliki keluarga Meg. Kamu mau menjadi duri atau perusak rumah tangga wanita lain?"
Mega mengedikkan bahunya seraya tersenyum sinis. "Aku tidak akan pernah menjadi perusak rumah tangga wanita lain karena lelaki itupun juga mencintaiku, Mel. Ingat, cinta itu tidak akan pernah salah."
"Namun yang salah itu manusianya Meg. Kamu diberikan akal sehat untuk bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah."
"Hmmmmmm.... Sudahlah Mel. Kamu itu aku undang kemari agar kamu bisa merasakan kebahagiaanku. Bukan untuk menceramahiku."
Imel berdecak pelan. Jika sudah seperti ini, rasa-rasanya tidak ada yang bisa menasihati Mega. "Terserah apa katamu saja Meg. Tapi ingat, siap-siap saja kamu terbakar oleh bara api yang kamu ciptakan sendiri."
Mega tak terlalu mengindahkan pesan dari Imel. Wanita itu tetap terlihat santai dan tidak terpengaruh sama sekali.
***
Awan menuju taman bagian belakang setelah keluar dari kamar mandi. Di tempat ini ia ingin menghisap rokoknya mengingat di dalam ruangan resto tidak bisa untuk merokok. Di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu, Awan mendaratkan bokongnya.
Awan menghembuskan napasnya melalui mulut hingga menimbulkan kepulan-kepulan asap di sekelilingnya. Pandangannya pun mengedar ke arah sekitar.
"Hmmmmmm ... Lumayan nyaman juga di tempat ini," monolog Awan lirih.
Hingga pada akhirnya netra lelaki itu menangkap bayangan sosok wanita yang ia kenal. Wanita itu terlihat tengah keluar dari kamar mandi yang berada di sebrang tempat ia terduduk.
Awan bangkit dari posisi duduknya. Ia lambaikan tangannya ke arah Mega. Sedangkan Mega yang melihat ada seseorang melambaikan tangan ke arahnya, gegas ia tatap lekat lelaki itu. Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok lelaki yang baru saja ia bicarakan dengan Imel berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Mas Awan?" pekik Mega. Tanpa basa-basi wanita itu menghampiri Awan.
"Kamu di sini juga?" tanya Awan berbasa-basi.
"Iya Mas, aku sedang makan malam bersama sahabatku."
"Kok bisa ya kita bertemu di sini? Padahal kita tidak janjian bukan?"
"Entahlah Mas. Mungkin hanya kebetulan saja."
"Kebetulan?" tanya Awan yang diangguki oleh Mega. "Tapi sepertinya bukan," sambungnya pula.
"Lantas apa Mas kalau bukan kebetulan?"
"Aku rasa, kita memang berjodoh, Meg!"
.
__ADS_1
.
.