Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 34. Semakin Curiga


__ADS_3


Dengan wajah berbinar, Mega memasuki salah satu dealer mobil terkemuka yang berada di pusat kota. Setelah menyerahkan surat pengunduran diri dari tempat kerja, wanita itu segera bertandang ke dealer. Meskipun ia sama sekali tidak mendapatkan pesangon namun dengan keberadaannya di dealer ini sudah cukup membuatnya bahagia tiada terkira.


Ia sama sekali tidak merasa rugi meskipun sudah tidak bekerja karena setelah ini hidupnya akan jauh lebih terjamin dari sebelumnya. Siapa lagi yang akan menjamin jika bukan Awan.


"Selamat siang Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?"


Kedatangan Mega di dealer sudah disambut oleh seorang wanita cantik dengan pakaian rapi. Layaknya para karyawan yang bekerja di dealer mobil, mereka harus mengenakan pakaian yang enak dipandang untuk memberikan sugesti positif kepada para calon pembeli.


"Aku mau cari mobil Mbak. Kira-kira mobil seperti apa yang cocok untukku?"


Mega menjawab pertanyaan pegawai dealer dengan pandangan mata yang mengedar ke arah sekeliling. Penglihatannya seakan dimanjakan oleh mobil-mobil mewah keluaran terbaru yang masih terlihat mengkilap. Ia semakin yakin dengan menggunakan mobil ini, derajat hidupnya akan meningkat seratus persen.


Pegawai dealer itu melihat dengan seksama tubuh Mega dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia tersenyum simpul seakan sudah bisa memberikan rekomendasi mobil yang cocok untuk pelanggannya ini.


"Mari ikut saya Bu!"


Mega berjalan mengekor di belakang punggung si pegawai. Hingga mereka tiba di depan sebuah mobil warna putih mengkilap.


"Nah, mobil ini yang cocok untuk Anda. Keluaran terbaru dengan desain mewah dan sporty."


Mega menatap lekat mobil yang diperlihatkan oleh pegawai dealer. Sebuah mobil type sedan namun nampak begitu mewah, elegan dan juga sporty. Mega langsung jatuh hati dengan mobil ini.


"Oke Mbak, aku ambil yang ini!"


Tanpa ragu dan banyak basa-basi, Mega memutuskan untuk mengmbil mobil ini. Ia sudah sangat yakin jika mobil mewah ini yang akan membuatnya lebih dihormati oleh orang-orang yang berada di luar sana.


"Baik Bu, untuk pembayarannya mau cash atau kredit?"


Pertanyaan sang pegawai sontak membuat wajah Mega semakin pias. Ia baru ingat jika sama sekali belum membuat kesepakatan dengan Awan akan membeli mobil ini secara cash atau kredit. Ia pun hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tiada gatal.


"Sebentar ya Mbak. Aku hubungi kekasihku terlebih dahulu. Aku akan meminta dia datang kemari untuk mengurus semua pembayaran ini."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Bu. Ibu bisa sambil duduk santai di ruangan yang berada di sebelah sana!" ucap si pegawai seraya menunjuk ke arah sebuah ruangan.


Mega memasuki ruangan ini. Ia duduk di sebuah sofa panjang yang sudah tersedia dan ia keluarkan ponsel yang ada di dalam tasnya. Ia menghubungi nomor kontak Awan untuk meminta lelaki itu agar segera datang kemari pastinya untuk menyelesaikan pembayaran mobil baru ini.


***


"Bagaimana Mas? Apa masakannya enak?"


Setelah kemarin gagal bertemu dengan Awan, siang ini Cahya kembali bertandang ke kantor sang suami. Kali ini, ia memberi kabar terlebih dahulu sebelum datang ke kantor sehingga makan siang yang ia bawakan untuk Awan bisa langsung dinikmati oleh sang suami.


"Hmmmm ... Masakanmu selalu enak Ay. Apalagi ayam kecap ini adalah kesukaanku. Aku rasa, akan aku habiskan sendiri makanan ini."


Awan nampak begitu lahap dengan menu ayam kecap yang dibawakan oleh sang istri. Hal itulah yang membuat Cahya tiada henti tersenyum bahagia. Melihat sang suami begitu antusias menikmati masakannya sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seorang Cahya.


"Habiskan saja Mas. Bukankah pagi tadi kamu juga melewatkan sarapanmu?"


"Iya Ay. Entah mengapa setiap pagi perutku ini selalu terasa tidak nyaman sehingga membuatku malas untuk sarapan." Awan meneguk air mineral setelah makanannya tandas tanpa bekas. Ia usap bibirnya dengan tisu yang ada di atas meja. "Terima kasih banyak Ay. Perutku sangat kenyang dan ini enak sekali!"


Cahya hanya tergelak pelan seraya membereskan lunch box yang sebelumnya digunakan oleh Awan. "Sama-sama Mas. Besok aku bawakan lagi bekal makan siang untukmu!"


Jantung Awan berdegup kencang saat mendengar ponsel barunya yang berada di dalam saku celana berdering memenuhi indera pendengaran. Lagi-lagi ia teledor karena lupa tidak menggunakan mode silent pada ponsel barunya itu.


"Loh Mas, itu suara ponsel siapa? Bukankah ponselmu ada di atas meja?" tanya Cahya sembari menunjuk ke arah ponsel di atas meja kerja Awan yang sama sekali tidak berdering.


"Eh ini Ay. Aku membeli ponsel baru khusus untuk relasi bisnis yang ada di Semarang. Sebentar ya, aku angkat telepon dulu."


Awan bangkit dari posisi duduknya. Dengan langkah tergesa-gesa lelaki itu keluar dari ruangan dan meninggalkan Cahya yang masih dalam mode tertegun.


Dahi Cahya semakin berkerut dalam. Karena sikap yang ditunjukkan oleh Awan sungguh mencurigakan sekali.


"Aneh, jika telepon itu dari relasi bisnis di Semarang, mengapa Mas Awan tidak mengangkat telepon di sini saja? Mas Awan seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa? Apa yang disembunyikan?"


Cahya semakin larut dalam pikirannya sendiri. Jika sudah larut seperti ini, ucapan Langit kemarin lah yang tiba-tiba mengusik hati dan pikirannya. Di mana seorang laki-laki yang berselingkuh akan menunjukkan sikap manis dan romantis untuk menutupi kecurangan yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim .... Mengapa aku jadi sering berpikiran buruk terhadap suamiku sendiri? Apakah benar jika Mas Awan telah berselingkuh?"


Cahya mencoba menghempaskan segala pikiran buruk yang merajai otaknya. Namun semakin ia berusaha untuk menghindar, sikap Awan justru semakin terlihat mencurigakan.


"Mungkin ada baiknya aku memang harus mencari tahu. Tapi, aku harus mulai darimana?"


Cahya semakin hanyut dalam pikirannya sendiri. Hingga pintu ruangan terbuka dan muncul raga Awan kembali ke dalam ruangan.


"Ay, aku minta maaf karena harus pergi menemui relasi. Tidak apa-apa ya kalau kamu aku tinggal?"


Cahya tersenyum simpul. Meskipun dalam hati dan juga otaknya sedang bergelut oleh prasangka-prasangka buruk terhadap sang suami, namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya.


"Oh tidak apa-apa Mas. Sebentar lagi aku juga harus menjemput anak-anak. Jadi silakan saja kalau kamu ingin pergi."


"Baiklah Ay. Aku pergi dulu."


Tanpa basa-basi lagi, Awan bergegas keluar dari dalam ruangan. Lelaki itu nampak begitu tergesa-gesa seakan ada hal urgent yang ia hadapi. Sedangkan Cahya masih berusaha untuk tetap tenang dan menetralisir semua kekalutan yang ia rasakan.


Cahya ikut beranjak dari posisi duduknya. Ia juga turut keluar dari dalam ruangan sang suami. Dan ketika ia baru akan keluar dari lobi kantor tiba-tiba...


"Bu Cahya!"


Terdengar suara seorang wanita dari balik punggung Cahya. Wanita itupun berbalik badan dan ternyata sosok Dina lah yang memanggilnya. Finance di perusahaan suaminya itu berjalan mendekati Cahya.


"Dina, ada apa?"


"Bu, apakah saya bisa berbincang sejenak? Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Ibu."


"Tentang apa Din?"


"Tentang pak Awan, Bu."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2