Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 99. Kopi yang Membuat Lupa Istri


__ADS_3


Mobil putih yang dikemudikan oleh Awan melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan beraspal yang dihiasi oleh air hujan. Rintik air langit masih jatuh menghujam bumi, menyisakan hawa dingin yang menembus kulit.


"Rumahmu masih jauh Tar?"


Untuk mengusir rasa kantuk karena rasa lelah dan suasana yang sedikit mencekam, Awan mencoba untuk membuka pembicaraan. Meskipun harus membagi fokusnya untuk mengobrol dan untuk mengemudi, namun Awan tetap tidak peduli. Ia pikir lebih baik hanyut dalam obrolan daripada disergap oleh rasa kantuk yang membabibuta.


"Masih lumayan jauh sih Wan. Maklum lah, aku hidup sendiri dan harus membiayai hidupku sendiri. Maka dari itu aku memilih rumah yang berada di pinggiran agar lebih murah."


Lontaran jawaban yang terselip sebuah maksud agar Awan mengasihani. Tari berpikir dengan menjual kesedihan serta kesulitan hidup yang ia jalani akan membuatnya semakin mudah untuk menggaet hati Awan. Biasanya, seorang laki-laki tidaklah tega melihat seorang wanita yang ditimpa kesusahan.


"Murah sih murah Tar, tapi kalau suasananya gelap dan banyak area persawahan seperti ini apa kamu tidak bergidik ngeri jika pulang sendiri?"


Awan sampai tidak habis pikir bagaimana bisa seorang wanita begitu berani melintasi jalanan sepi seperti ini. Yang di sisi kanan kirinya hanya ada area persawahan dan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.


"Awalnya memang takut Wan. Bukan takut karena hantu sih tapi takut kalau sampai ada begal ataupun orang jahat yang berkeliaran," jawab Tari sembari menguap. Ia menggeser posisi kursi sedikit rendah agar tubuhnya bisa terbaring. "Tapi mau bagaimana lagi? Keadaan yang harus memaksaku untuk berani dan lambat laun aku terbiasa dengan jalanan sepi seperti ini."


"Iihhhhh ... Kamu ternyata pemberani juga ya Tar. Kalau aku sih gak mau melintasi jalanan sepi seperti ini," puji Awan. "Eh tapi aku baru ingat kalau kamu sejak dulu memang terkenal pemberani. Aku ingat saat kemah dan ada acara jerit malam. Hantu jadi-jadiannya pun sampai lari terbirit-birit saat bertemu denganmu. Hahahaha...."


Awan tergelak sendiri saat mengingat masa-masa yang telah lalu. Acara jerit malam yang tidak mencekam tapi malah justru begitu konyol karena kejadian itu.


"Mungkin wajahmu lebih menyeramkan ya Tar? Sampai-sampai membuat panitia lari terbirit-birit. Hahahaha!"


Tidak adanya respon dari Tari membuat Awan mengernyitkan dahi. Lelaki itu gegas melirik ke arah samping kemudi.


"Astaga ... Ternyata dia ketiduran."


Sedikit terusik dengan raut wajah teman lama yang sedang tertidur pulas, Awan memlih untuk menepikan sejenak mobilnya di bahu jalan. Ia tatap wajah Tari dengan lekat.


"Tari memang benar-benar berubah. Ternyata di balik wajahnya yang dulu terlihat begitu dekil, tersimpan paras yang cantik luar biasa. Kalau saja sejak dulu wajah Tari seperti ini, pasti tanpa pikir panjang aku langsung menerima cintanya."


Begitu terkesimanya dengan paras sang teman lama, Awan sampai memuji Tari dengan suara lirih. Tanpa ia sadari jika Tari mendengar suara itu karena sejatinya sejak tadi wanita itu hanya berpura-pura tertidur.

__ADS_1


Akhirnya kamu mengakuinya Wan. Setelah ini waktunya untuk menjalankan rencana. Akan aku buat kamu tergila-gila kepadaku.


***


"Ayo Wan mampir dulu!"


Tiba di halaman rumah, Tari mempersilahkan Awan untuk mampir sejenak. Ia merasa sangatlah tidak sopan jika sampai tidak mempersilahkan Awan untuk mampir terlebih dahulu, karena lelaki itu sudah begitu baik untuk mengantarkannya pulang.


"Lain kali saja ya Tar. Ini sudah terlalu malam. Istriku pasti juga sudah terlalu lama menunggu. Karena janjinya aku pulang sore tadi."


Mendengar jawaban Awan, membuat jiwa Tari yang pantang menyerah merasa sedikit tertantang. Ia meyakinkan diri bahwa ia bisa membujuk Awan untuk mampir barang sejenak. Tari mengayunkan tungkai kaki, mendekat ke arah Awan yang masih sibuk memperhatikan kondisi rumah teman SMA nya ini.


"Sebentar saja Wan," pinta Tari dengan suara sedikit manja. Wanita itu semakin merapatkan tubuhnya di tubuh Awan. "Aku lihat kamu sedikit mengantuk, aku buatkan kopi ya. Aku hanya khawatir kalau kamu sampai mengantuk di jalan."


Menimbang-nimbang tawaran Tari membuat Awan hening sejenak. Namun pada akhirnya lelaki itu menganggukan kepala juga. Ia merasa tidak ada salahnya mampir sejenak untuk sekedar ngopi.


"Baiklah Tar, tapi sebentar saja ya."


Tari memberikan senyum manis yang ia punya. "Iya Wan. Aku juga tahu kalau di rumah istrimu sudah menunggu. Toh aku menawarkan kopi juga agar kamu tidak mengantuk di jalan."


"Silakan di minum Wan, mumpung masih panas. Kalau sudah dingin rasanya jadi tidak enak," ucap Tari mempersilahkan. Wanita itu juga ikut mendaratkan bokong di kursi yang masih kosong.


"Terima kasih Tar." Awan menyeruput perlahan kopi buatan Tari. Seketika sensasi rileks mengaliri aliran darah lelaki berusia tiga puluh tahun itu. "Aaaaaahhhh .... Nikmat sekali kopi buatanmu ini Tar!"


"Ah masa iya?"


"Serius Tar. Rasa kopi ini jauh lebih enak dari buatan istriku."


"Ah kamu ini pasti bercanda. Aku tidak percaya Wan."


"Beneran Tar. Istriku itu paling tidak bisa perkara bikin kopi dan memasak. Pernah nih ya, waktu awal-awal dia membuatkan kopi eh yang dimasukkan ke cangkir itu garam. Aku sampai keasinan. Pernah lagi nih waktu memasak sayur bening, aku suruh memasukkan kaldu bubuk eh yang dimasukkan malah bubuk merica. Alhasil tenggorokanku seperti terbakar karena pedas."


"Hahahaha masa iya sampai seperti itu Wan? Padahal aku merasa istrimu itu wanita sempurna yang serba bisa," ucap Tari mengemukakan argumennya.

__ADS_1


"Hmmmm kalau urusan ranjang, dandan dan belanja dia memang ahlinya Tar. Tapi kalau untuk mengurus pekerjaan rumah, haduuuhhhh bisa stress sendiri aku menghadapinya."


Tari kembali terbahak mendengar curahan hati seorang suami yang kurang puas akan pelayanan sang istri. Baru kali ini ia menjumpai seorang suami yang menceritakan kekurangan sang istri di depan orang lain.


Ternyata bukan perkara ranjang yang menjadi kekurangan Mega. Itu artinya aku tidak perlu menggunakan tubuhku untuk menggoda dan menarik perhatian Awan. Aku akan servis Awan dengan total melalui masakan ataupun kopi. Tak lupa, akan aku tunjukkan perangai yang baik di hadapan Awan. Aku yakin dengan cara seperti itu, perhatiannya kepada Mega bisa berkurang sedikit demi sedikit.


"Ah kamu ini bisa saja. Jangan seperti itu lah. Bagaimanapun juga dia itu istrimu Wan. Kalau memang kurang ini, kurang itu ya ditegur."


"Iya juga sih tapi mau bagaimana lagi aku tidak sampai hati untuk menegurnya Tar. Khawatir dia akan tersinggung."


"Hmmmmm padahal zaman SMA dulu kamu itu terkenal raja tega loh Wan...."


"Hahaha hahahaha sampai-sampai kamu menjadi korbannya kan Tar?"


"Hahahaha...."


Keduanya larut dalam canda tawa yang ada. Begitu asyiknya mereka saling bercengkrama sampai-sampai membuat lupa bahwa malam semakin larut. Sampai obrolan hangat keduanya terusik kala nada dering ponsel milik Awan terdengar nyaring di telinga.


"Astaga, keasyikan ngobrol sambil ngopi, aku sampai lupa istri." Awan bergegas bangkit dari posisi duduknya. Ia cepat-cepat memasuki mobil miliknya. "Aku pulang dulu ya Tar!"


"Iya Wan, hati-hati!"


Mobil yang dikemudikan Awan mulai menghilang dari pandangan Tari. Sedangkan senyum manis masih saja tiada henti mengembang di bibirnya.


"Ini baru kopi sudah bisa membuatmu lupa istri. Bagaimana jika aku tambah dengan bodyku yang montok dan seksi ini Wan!"


.


.


.


Mohon maaf jika alurnya sedikit lambat dan mungkin tidak ada pergerakan ya Kak... ini saya kasih bocoran sedikit ya. saya terpaksa harus memperbanyak episode agar bisa menarik pendapatan. saya tidak munafik, saya menulis di platform ini selain untuk menyalurkan hobi, menghibur para pembaca, juga untuk mencari uang. sekali lagi mohon dimaklumi ya Kak...

__ADS_1


Sekali lagi saya ucapkan Terima kasih untuk kakak-kakak yang masih setia singgah di tulisan saya ini. Ya meskipun masih banyak kekurangannya di sana-sini. 😘😘😘😘


__ADS_2