Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 38. Membongkar


__ADS_3


Cahya hanya bisa menatap gemas wajah-wajah kedua putrinya yang tengah terlelap dalam buaian mimpi itu. Setelah puas menikmati es krim yang sudah disiapkan oleh Langit di ruang kerjanya, kini dua gadis kecil itu sama-sama terlelap mengarungi lautan mimpi. Bahkan mereka terlihat begitu nyenyak meskipun tertidur di sofa ruang kerja Langit.


Pandangan mata Cahya mengedar ke arah pintu yang sepertinya dibuka dari arah luar. Benar saja, tak selang lama raga Langit muncul dari balik pintu.


"Mbak Cahya ... Maaf ya kalau me...."


Langit yang bersuara sedikit lantang seketika mengecilkan volume suaranya kala melihat dua anak kecil sedang tertidur pulas. Ia pun hanya bisa tersenyum simpul melihat pemandangan yang cukup menyejukkan ini.


"Maaf kalau terlalu lama menunggu ya Mbak. Bahkan anak-anak sampai tertidur seperti ini," sambung Langit melanjutkan ucapannya yang terjeda.


"Tidak apa-apa Mas, mungkin saya juga yang salah karena tidak memberi kabar terlebih dahulu jika akan datang kemari. Saya juga minta maaf karena anak-anak saya ini menghabiskan banyak es krim yang ada di freezer Mas Langit."


"Tidak masalah Mbak. Itu semua juga sengaja aku siapkan untuk mereka. Karena aku sudah janji dan janji harus ditepati bukan?"


"Tapi ini seperti terlalu berlebihan Mas. Padahal saat itu anak-anak pasti juga hanya bercanda."


Langit turut mendaratkan bokongnya di sofa yang masih kosong. Lagi-lagi pandangannya tertuju pada anak-anak Cahya yang tengah terlelap. Sebagai seorang lelaki dewasa, rasa ingin memiliki anak seperti itu tiba-tiba saja datang merayunya.


"Tidak apa-apa Mbak, santai saja. Aku justru ikut senang jika melihat anak-anak senang. Oh iya, Mbak Cahya datang kemari ada perlu apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?"


Seutas senyum tipis terbit di bibir Cahya. Sejatinya ia merasa tidak enak hati karena beberapa hari yang lalu, ia sempat tersinggung dan sedikit marah atas apa yang disampaikan oleh Langit perihal sebuah artikel tentang seorang suami yang mendua.


"Sebenarnya aku datang kemari karena anak-anak, Mas. Mereka sedari tadi merengek untuk diajak kemari, katanya ingin menikmati es krim yang sudah kamu janjikan."


"Ahahaha benarkah seperti itu Mbak?" tanya Langit dengan gelak tawa yang menggema memenuhi ruangan. "Ternyata harus berhati-hati jika menjanjikan sesuatu kepada mereka. Daya ingat mereka sepertinya kuat," sambungnya lagi masih dengan kekehan kecil dari bibir.


Cahya ikut tergelak pelan. "Memang seperti itu Mas. Aku yang merasa tidak enak sendiri."


"Tidak apa-apa Mbak, santai saja. Entah mengapa setelah kedatangan anak-anak beberapa hari yang lalu, aku juga langsung memesan sebuah freezer untuk aku letakkan di ruangan ini. Tapi sepertinya keputusan itu menjadi langkah yang benar."


Cahya meraup udara dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Tiba saat baginya untuk mengutarakan tujuan lain ia datang kemari.

__ADS_1


"Selain itu akuu ingin minta maaf atas sikap yang aku tunjukkan saat di kedai teh beberapa hari yang lalu, Mas. Aku rasa sudah sangat berlebihan."


"Sikap? Sikap yang mana Mbak?" tanya Langit dengan sedikit mengernyit.


"Aku sempat kesal dan langsung pergi setelah kamu mengutarakan perihal artikel seorang suami yang bersikap romantis untuk menutupi perselingkuhannya."


Langit tersenyum penuh arti seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Justru aku yang seharusnya minta maaf, Mbak. Mungkin aku sudah terlalu lancang karena mengatakan hal itu."


"Tapi sepertinya ada benarnya juga yang kamu sampaikan itu Mas."


Langit terhenyak dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. Dari perkataan Cahya, ia seakan bisa menangkap sinyal bahwa wanita ini sudah tahu tentang perselingkuhan suaminya.


"Maksud Mbak Cahya bagaimana? Apakah ada perilaku atau sikap suami Mbak Cahya yang mencurigakan?"


Pandangan mata Cahya nampak menerawang. Ia seperti mencoba untuk mengingat-ingat kejadian apa yang belakangan ia alami terlebih setelah Dina mengutarakan semua.


"Kecurigaan itu aku dapatkan dari finance di kantor suamiku, Mas. Baru kemarin dia memberikan sebuah informasi yang cukup mencengangkan bagiku dan seakan membenarkan apa yang pernah kamu sampaikan perihal artikel itu."


"Mas Awan menggunakan uang perusahaan sejumlah satu koma lima milyar untuk membeli rumah dan juga dua ratus juta untuk uang muka mobil baru. Selain itu, aku juga sempat menemukan berlian di dashboard mobil." Cahya menjeda sejenak ucapannya ia kembali meraup udara dalam-dalam. "Aku ragu, apakah rumah, mobil dan berlian itu adalah kejutan yang akan ia berikan di hari ulang tahunku atau untuk wanita lain?"


Langit menatap lekat wajah cantik berbalut hijab yang duduk di hadapannya ini. Dalam hati, ia merutuki perilaku Awan yang benar-benar keterlaluan karena sudah menggoreskan luka di hati wanita sesempurna Cahya ini.


Langit bangkit dari posisi duduknya. Sejatinya hati lelaki itu bergejolak antara membongkar perselingkuhan Awan atau tidak. Namun ia sungguh tidak tega jika harus melihat Cahya menderita lebih lama lagi. Ia ambil sebuah map warna biru dari dalam laci meja kerjanya. Ia kembali duduk di hadapan Cahya dan ia serahkan map biru itu kepada wanita ini.


"Semoga ini semua bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang berkutat di kepala dan juga keraguan yang Mbak Cahya rasakan!"


***


"Astaghfirullahalazim ... Ternyata rumah itu untuk wanita lain..."


Langit menatap nanar wajah wanita yang saat ini tengah berderai air mata. Berkali-kali Cahya mengurut dada untuk membuang rasa sesak dan sakit yang mendera setelah membaca isi map yang diberikan oleh Langit. Di mana di dalam map itu terdapat surat perjanjian jual beli rumah mewah yang dibeli oleh Awan beberapa hari yang lalu.


Langit hanya bisa terdiam dan membisu sembari menunggu respon apa lagi yang akan disampaikan oleh Cahya.

__ADS_1


"Jadi, mas Awan membeli rumah dari kamu Mas?" tanya Cahya dengan isak tangis yang masih terdengar jelas.


Langit menganggukkan kepala pelan. "Iya Mbak, aku lah yang mencarikan rumah untuk pak Awan. Awalnya aku mengira rumah itu untuk Mbak Cahya karena pak Awan mengatakan jika rumah itu untuk istrinya. Namun aku sungguh terkejut saat tiba di hari proses jual beli, wanita yang dibawa oleh pak Awan bukanlah Mbak Cahya, melainkan wanita lain yang bernama Mega."


"Ya Allah .... Aku sungguh tidak menyangka jika mas Awan melakukan hal ini. Sudah berapa lama dia berselingkuh dengan wanita itu? Sampai dia rela membelikan rumah seharga satu milyar lebih dan juga membelikan mobil baru."


Air mata dari jendela hati wanita itu tiada henti mengalir seiring dengan lisan yang mengeja kata demi kata yang tertulis di dalam surat perjanjian jual beli. Nama Mega tertulis jelas di sana. Sosok wanita yang sama sekali tidak Cahya kenal dan belum pernah sekalipun Cahya jumpai.


"Aku juga kurang paham perihal itu Mbak, namun menurut pandanganku, seorang laki-laki itu sanggup memberikan dan melakukan apapun demi wanita yang dicintainya meskipun baru sekejap mereka berkenalan."


"Apakah mungkin mas Awan melakukan hal itu tanpa adanya cinta? Namun jika memang mas Awan melakukan hal itu atas dasar cinta, lantas sejak kapan ia jatuh cinta kepada wanita itu? Mengapa semuanya terasa begitu cepat dan kilat seperti ini?"


Cahya semakin membombardir Langit dengan pertanyaan-pertanyaan yang bagi Langit sendiri sungguh sulit untuk ia jawab. Namun lelaki itu dapat menyimpulkan satu hal akan apa yang terjadi di dalam rumah tangga Cahya ini.


"Aku rasa ini bukan hanya tentang cinta, Mbak, namun juga karena naf*su dan kurang bersyukurnya seorang suami kepada istrinya sendiri." Langit mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia perlihatkan video yang sempat ia rekam ketika berada di rumah Awan. "Jika melihat ini, aku yakin jika dasar hubungan mereka bukan hanya karena cinta tapi juga karena naf*su."


Dengan tangan bergetar, Cahya meraih ponsel milik Langit. Ia tatap lekat adegan apa yang berada di dalam fitur video milik lelaki ini. Bak sebuah tanggul yang jebol setelah dihantam oleh banjir bandang, air mata Cahya kembali mengalir deras membanjiri bingkai wajahnya.


"Astagfirullahalazim ... Di ruang terbuka saja mereka sanggup melakukan hal semacam ini. Lantas, apa yang mereka lakukan jika berada di ruangan tertutup Mas? Ya Allah ......"


Cahya meletakkan kembali ponsel milik Langit di atas meja. Ia menangis tergugu dengan menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangan. Ia tumpahkan semua kehancuran yang ia rasakan di hadapan Langit, lelaki yang bahkan baru beberapa hari ia kenali.


Jantung Langit seakan dihujam oleh pisau tak kasat mata. Hati lelaki itu juga ikut tergerus kala melihat betapa hancurnya seorang istri kala mengetahui perselingkuhan suaminya. Tanpa terasa setetes bulir bening juga turut meluncur bebas dari bingkai mata lelaki beralis tebal itu.


Ya Allah ... Bahkan dalam situasi seperti ini, aku tidak bisa membantumu untuk memenangkanmu, Mbak. Aku bukan mahrommu, yang tidak boleh menyentuhmu.


.


.


.


Hayolohhhh ... Langit udah membongkar semua nih. Lalu, kira-kira apa ya yang akan dilakukan oleh Cahya? Hehehe hehehe ... ikuti selalu ceritanya ya Kak.. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2