Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 47. Mengadu


__ADS_3


"Mas .... Cepat datang kemari. Aku takut. Ada yang menerorku!"


Mega kembali masuk ke dalam kamar setelah menerima kejutan demi kejutan di pagi hari ini. Ia bersegera mengambil ponsel dan menghubungi Awan.


Kejutan di pagi hari yang tidak membuatnya bahagia namun justru membuat wanita itu ketakutan tiada terkira. Sembari berkomunikasi dengan Awan via telepon, netra wanita itu masih mengedar ke setiap sudut ruangan, khawatir jika masih ada sisa-sisa teror yang berada di kediamannya.


"Teror apa maksudmu, Han?"


"Lihatlah foto-foto yang aku kirim ke kamu Mas. Cepat datang kemari. Aku takut!"


Sejenak, tidak ada respon dari Awan. Sepertinya lelaki itu membuka terlebih dahulu foto-foto yang dikirimkan oleh Mega. Sedangkan Mega masih diliputi oleh degup jantung yang bertalu-talu. Rasa takut itu masih menggerogoti jiwanya. Takut jika teror itu benar-benar akan terjadi padanya.


"Astaga, mengapa itu semua ada di rumahmu, Han? Sejak kapan benda-benda itu ada di sana?"


"Sejak kemarin Mas. Awalnya aku menemukan boneka santet yang ditusuk oleh jarum itu setelah kamu pulang. Lalu, pagi ini saat aku mendapatkan kembali teror seperti itu lagi dan jauh lebih mengerikan."


"Siapa yang melakukan ini semua? Apakah selama ini kamu mempunyai musuh?"


"Tidak Mas, aku sama sekali tidak memiliki musuh. Aku benar-benar takut Mas. Kamu datang ke sini lagi ya. Temani aku!"


Helaan napas sedikit kasar terdengar keluar dari bibir Awan seakan menandakan jika saat ini lelaki itu juga tengah bingung akan berbuat apa.


"Tidak bisa Han. Aku tidak bisa datang ke sana. Tiga hari lebih aku tidak ada di rumah. Aku takut jika Cahya sampai curiga."


Mendengar Awan mengucapkan nama Cahya membuat hati Mega dipenuhi oleh emosi yang membara. Ia seakan tidak terima jika Awan jauh lebih memprioritaskan Cahya.


"Jadi kamu lebih mengkhawatirkan istrimu tahu tentang hubungan kita daripada keselamatanku? Tega kamu Mas. Padahal bisa saja peneror itu masih berkeliaran di sini dan siap mencelakai ku!"


"Bukan, bukan begitu Han. Aku juga sudah lama tidak ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tolong mengertilah. Toh aku bekerja untuk kamu juga kan? Untuk memenuhi semua permintaanmu? Apalagi kamu memintaku untuk merenovasi rumahmu yang ada di kampung."


Mendengar alasan yang terlontar dari bibir Awan membuat hati Mega yang sebelumnya dipenuhi oleh amarah dan rasa kesal, kini kembali menghangat. Senyumnya merekah karena permintaan untuk merenovasi rumahnya di kampung akan dikabulkan oleh Awan.


"Lalu aku harus bagaimana Mas? Aku sungguh ketakutan."


"Begini saja Han. Lebih baik kamu jalan-jalan keluar. Kamu bisa shopping di mall, berburu kuliner, atau pergi ke tempat-tempat wisata. Setidaknya untuk membuatmu lupa akan teror itu. Sambil aku pikirkan apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal ini."


"Pasang CCTV saja di rumah kita Mas, agar kita bisa tahu siapa yang melakukan hal ini!"


"Iya, aku juga berpikir seperti itu. Baiklah, besok akan aku kirimkan orang untuk memasang CCTV. Sekarang kamu lebih baik jalan-jalan keluar, Han!"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Mas."


"Ya sudah, aku tutup teleponnya ya."


"Oke Mas!"


Mega meletakkan kembali ponselnya di samping bokongnya. Ia meraup udara dalam-dalam dan ia hembuskan perlahan mencoba untuk menetralisir rasa takut yang ia rasakan.


"Betul kata Mas Awan. Lebih baik aku jalan-jalan keluar. Shopping, makan-makan, atau ke tempat wisata."


***


Cahya menghentikan pijakan kakinya yang tidak jauh dari posisi Awan yang saat ini memunggunginya. Diari tempat Cahya berdiri saat ini, Awan nampak serius berbicara dengan seseorang yang menjadi lawan bicaranya di balik telepon. Sesekali Cahya melihat Awan memijit-mijit pelipis seakan menandakan jika lelaki itu tengah merasa gusar.


"Aku tahu siapa yang menelponmu Mas. Dia pasti selingkuhanmu yang sedang mengadu jika saat ini dia mendapatkan teror. Kita lihat, sampai mana dia akan bertahan."


Cahya tersenyum sinis. Ia merasa begitu puas karena bisa memberikan shock terapi untuk wanita murahan itu. Bagi Cahya, teror yang ia berikan masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan rumah tangganya yang berada di ambang kehancuran.


Cahya bergegas pergi dari tempatnya. Ia tidak ingin jika sampai Awan tahu jika sedari tadi ia menguping pembicaraannya dengan Mega. Wanita itupun kembali ke kamar kedua putrinya untuk mempersiapkan segala keperluan sekolahnya.


"Sudah siap semua Sayang?"


"Sudah, Bunda."


Cahya beserta kedua putrinya menuju ruang makan. Marni juga sudah terlihat duduk anteng di kursi makan. Wanita paruh baya itu melemparkan senyumnya kala melihat cucu-cucunya sudah terlihat cantik dengan seragamnya.


"Cucu-cucu Nenek sudah siap berangkat ke sekolah ya?" ucap Marni membuka obrolan dengan Alina dan Malika.


"Iya Nek, hari ini kami akan diajak jalan-jalan oleh ibu guru," cerita Alina dengan raut berbinar.


"Jalan-jalan? Memang jalan-jalan ke mana Nak?"


"Kata bu guru jalan-jalan ke sawah."


"Waaah ... Asyik ya..."


"Iya Nek."


"Ya sudah, sarapan dulu gih. Makan yang banyak ya biar cucu-cucu Nenek ini cepat besar."


"Iihhhhhh .... Tidak boleh banyak-banyak makan, Nek," timpal Malika.

__ADS_1


"Oh ya? Memang kenapa Nak?"


"Karena kata bu guru, makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Jadi tidak boleh banyak-banyak biar tidak kekenyangan."


"Wah, cucu-cucu Nenek ini pintar-pintar semua. Anak siapa sih?"


"Anak bunda Cahya dong Nek!" seru kedua gadis kecil itu bersamaan.


Cahya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua putrinya ini. Wanita itu baru sadar jika ternyata kedua putrinya ini tumbuh menjadi anak-anak yang pintar. Mereka bisa merespon dengan sempurna setiap apa yang ditanyakan oleh orang lain.


"Ay, Awan kemana? Kok belum terlihat?" tanya Marni sembari mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru.


"Ada di taman depan Bu. Sepertinya ada rekan bisnis yang sedang menelpon Mas Awan. Terlihat Mas Awan yang begitu antusias ngobrol dengan penelepon itu."


"Oh seperti itu? Ibu kira sudah berangkat Ay."


"Hallo putri-putri Ayah yang cantik-cantik. Selamat pagi!"


Suara Awan tiba-tiba terdengar menggema memenuhi ruang makan. Lelaki itu merapatkan tubuhnya seraya mencium kedua putrinya itu secara bergantian. Empat hari tidak berinteraksi dengan kedua putrinya sungguh membuatnya merasa rindu.


"Ihhhhh ... Ayah jahat, ayah ingkar janji. Katanya Ayah mau pulang saat bunda ulang tahun. Tapi ternyata tidak," ucap Alina sedikit memberikan serangan mendadak untuk Awan.


"Oh, karena itu? Iya Nak, Ayah memang tidak bisa datang di ulang tahun bunda karena Ayah sedang banyak kerjaan. Ayah juga sudah minta maaf kok ke bunda."


"Lain kali jangan seperti itu Yah. Kasihan bunda sudah menunggu terlalu lama," nasihat Alina.


"Oh iya Ay, pak Kasim dan bik Asih kok tidak terlihat? Kemana mereka?" tanya Awan setelah tersadar jika ada dua orang yang luput dari pandangannya.


"Oh, pak Kasim dan bik Asih sedang pulang kampung sejenak Mas. Mereka sepertinya kangen dengan keluarga yang ada di Temanggung."


Cahya tersenyum kikuk. Ia terpaksa harus berbohong tentang keberadaan Kasim dan Asih. Padahal kedua orang itu masih berada di kota ini.


"Oh seperti itu. Aku kira kemana mereka. Eh tapi mereka tidak akan menginap kan?"


"Tidak Mas. Mereka sebentar lagi pasti akan pulang."


Tak ada lagi respon dari Awan. Lelaki itu mengambil posisinya dengan duduk di bangku yang masih kosong dan mulai menyantap sarapan paginya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2