
Taksi online yang ditumpangi oleh Cahya berhenti tak jauh dari lokasi yang dikirim oleh Langit via whatsapp. Ia sengaja memberikan jarak agar keberadaannya tidak diketahui oleh Awan.
"Pak, sampai di sini saja. Ini ongkosnya!" ucap Cahya sembari memberikan dua lembar uang seratus ribuan. Jarak yang cukup jauh, membuat tarif taksi online ini juga sedikit lebih mahal.
"Oh iya sebentar Bu, saya ambilkan kembaliannya dulu."
Driver taksi mencoba untuk membuka dashboard yang sepertinya ingin mengambil uang kembalian. Namun hal itu buru-buru dicegah oleh Cahya.
"Kembalinya ambil saja Pak."
"Tapi ini masih lumayan banyak Bu."
"Sudah, tidak apa-apa. Sekali lagi terima kasih banyak ya Pak!"
"Sama-sama Bu. Saya juga berterima kasih untuk uang tips nya."
Cahya hanya mengangguk kecil seraya menjejakkan kakinya untuk keluar dari taksi. Taksi itu berbalik arah dan segera meninggalkan Cahya yang masih berdiri di posisinya.
Dengan langkah pelan dan santai, Cahya berjalan menuju sebuah rumah yang berjarak hanya beberapa meter saja dari titik ia turun dari taksi. Dari kejauhan, desain rumah ini terlihat minimalis, namun sama sekali tidak mengurangi kesan mewah dan elegan.
"Ternyata kota Semarang pindah di sini ya Mas?" monolog Cahya lirih dengan senyum seringai yang terbit di bibirnya.
Langkah kaki Cahya semakin mendekat ke arah pintu pagar yang tidak terlalu tinggi sehingga membuat wanita itu dapat dengan jelas melihat mobil sang suami yang berada di depan garasi.
Cahya sejenak mengalihkan pandangannya ke dalam isi tas yang ia bawa. Ia tersenyum lebar kala melihat sesuatu di sana. Sesuatu yang sudah ia persiapkan sebelum berangkat ke rumah ini, yang ia yakini akan menjadi shock terapi untuk selingkuhan suaminya.
"Mari kita bermain! Kita lihat, siapa yang akan menjadi pemenangnya."
Cahya melihat bahwa pintu pagar tidak terkunci yang membuatnya mudah untuk menjangkau area teras. Ia menuju pintu depan dengan debaran jantung yang masih begitu terasa. Diimbangi dengan rasa sesak yang tertahan dan seperti menjadi pemicu titik-titik bulir bening kembali berkumpul di pelupuk mata. Tangan wanita itu perlahan terulur untuk menarik tuas pintu yang ada di hadapannya.
Ceklekk...
__ADS_1
Takdir seakan berpihak pada Cahya. Daun pintu bercat putih yang ada di depannya ini tidak terkunci. Hal itulah yang membuat Cahya lebih mudah dan leluasa untuk memasuki area dalam rumah. Seperti seorang pencuri, Cahya mengendap-endap, mulai menjelajahi seluruh ruangan. Sebisa mungkin ia berusaha agar pergerakan kakinya tidak terdengar.
Dada Cahya masih saja bergemuruh, layaknya ombak yang bergulung-gulung memecah batu karang. Beberapa bukti memang sudah ada di dalam genggaman, namun ia tetap ingin menyaksikan secara langsung perselingkuhan yang dilakukan oleh Awan. Meski ia sendiri juga tidak bisa memastikan jika ia akan baik-baik saja saat melihat adegan demi adegan yang terpampang.
Sayup-sayup terdengar suara dua orang manusia yang mulai merembet masuk ke dalam pendengaran milik Cahya. Pandangan wanita itu seketika tertuju pada sebuah pintu yang sepertinya langsung tembus ke arah taman yang berada di belakang rumah. Tanpa basa-basi, Cahya memilih untuk menuju pintu belakang itu.
Namun sebelum Cahya mengayunkan tungkai kakinya untuk menuju ke arah pintu belakang, ia lebih dulu meletakkan sesuatu yang ia bawa di sebuah minibar yang terletak tak jauh dari tempatnya berada. Sudut bibirnya terangkat, disertai oleh kilatan amarah yang terpancar jelas dari sorot matanya.
"Aku yakin, kalian akan terkejut dengan apa yang aku berikan ini. Tapi tenanglah, ini baru awal permainan. Nanti akan ada puncaknya yang akan membuat kalian hancur bersamaan."
***
"Aahhhh ... Tempat ini benar-benar sejuk Mas. Aku pasti akan betah tinggal di sini!"
Mega berjalan-jalan di taman belakang sembari menikmati sajian alam yang ada di sekitar. Meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang, namun suasana sekitar tetap menampakkan wajah yang temaram. Matahari seakan enggan untuk menampakkan wajah dan memilih untuk bersembunyi di balik awan.
"Itu sudah jelas, Han. Aku sengaja memilih lokasi ini agar jauh dari hingar bingar keramaian kota dan juga dari panasnya udara di kota. Di tempat ini aku seakan merasakan ketenangan dan juga ketentraman hidup."
"Karena ada aku juga kan Mas?" tanya wanita itu dengan kerlingan mata sembari menggamit lengan Awan dengan mesra.
"Aaahhh ... Kamu ini sukanya gombal, Mas!"
"Tidak ada yang gombal. Itu semua tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam."
"Hmmmmmmm ... Aku makin cinta kepadamu, Mas!"
Mega bergelayut manja di dalam dekapan Awan, diikuti oleh kecupan yang diberikan oleh Awan di pucuk kepalanya. Mereka pun memilih untuk duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari kayu.
"Apalagi aku Han. Semakin hari, aku semakin terjerat dalam pesonamu. Kamu sungguh pandai menyenangkan dan memuaskan batinku."
Mega tersenyum genit. Ia yang sebelumnya duduk di samping Awan, ia geser posisinya dan kini wanita berusia dua puluh lima tahun itu berjongkok di depan Awan.
Awan sedikit terkesiap kala Mega mulai membuka p a h a n y a. "Han .... Kamu?"
__ADS_1
Mega menganggukkan kepala. "Ya, akan aku puaskan lagi kamu Mas. Agar kamu semakin terjerat ke dalam cintaku!"
Mega membuka resleting celana yang dipakai oleh Awan. Jemari lentiknya mulai melesak masuk ke dalam celana sampai ia temukan tongkat ajaib milik lelaki ini. Ia berikan sentuhan-sentuhan s e n s u a life hingga tongkat ajaib itu menegang dan mengeras.
"Aaaahhhhhh ... Honey!!!" lenguh Awan saat merasakan kenikmatan yang mulai menjalar ke dalam aliran darah.
"Aku ingin bercinta di tempat terbuka seperti ini, Mas!"
"Arrrggghhh ... Kamu sungguh b i n a l, Han!"
Bak bara api yang disiram dengan bensin, kobaran hasrat dan n a f s u dua manusia itu berhasil membakar akal sehat mereka sebagai manusia. Tanpa sedikitpun merasa malu, keduanya saling melucuti pakaian masing-masing dan di tempat terbuka seperti ini hingga tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka.
Cahya yang berdiri di ambang pintu, hanya bisa menatap adegan demi adegan yang tersaji dengan tatapan nanar. Untuk kesekian kalinya, hati wanita itu dibuat remuk redam oleh perilaku sang suami. Ternyata, memergoki sang suami berselingkuh secara langsung dengan mata kepalanya sendiri membuat hatinya seakan dihujam oleh ribuan anak panah yang mengalirkan darah luka tak kasat mata.
"Sungguh menjijikkan, kamu Mas! Perilakumu ini sudah seperti binatang!"
Dengan tangan bergetar, Cahaya mengambil ponsel dari dalam tas. Ia rekam adegan demi adegan yang terpampang di depan mata. Lelehan air mata itu kembali mengalir deras. Tak menyangka jika orientasi s e k s suaminya akan seperti ini.
Merasa cukup dengan bukti yang ia kumpulkan, Cahya kembali melangkahkan kaki sembari berjinjit untuk bisa keluar dari rumah ini. Wanita itu juga merasa tidak sanggup lagi untuk lebih lama berada di tempat ini. Tak lagi ia hiraukan hati yang sudah semakin hancur, napas yang semakin sesak, jantung yang berdenyut nyeri dan juga kepala yang terasa semakin berat.
Bruk!!!!
Tubuh Cahya terhuyung hingga wanita itu jatuh ketika berada di beranda rumah mewah ini. Ia terduduk di depan pintu dengan air mata yang semakin deras mengalir. Air mata itu kini tumpah ruah seperti ikut menumpahkan semua rasa sakit yang ia rasakan. Berkali-kali wanita itu memukul dadanya untuk mengusir rasa sakit yang begitu menghujam jiwa.
Otaknya juga serasa buntu, dengan siapa ia harus mengadu dan membagi perih yang saat ini terasa begitu menusuk kalbu. Dan dinding beranda rumah yang membisu ini seperti turut menjadi saksi betapa luka itu benar-benar terasa tak terperi.
"Kamu harus kuat Ay. Lelaki seperti dia tidak pantas untuk kamu tangisi. Dia mungkin bisa menghancurkan hidupmu, namun dia tidak dengan sisa-sisa harapan yang ada di masa depan!"
Cahya tak henti-hentinya merapalkan kalimat itu seperti sebuah mantra untuk menguatkan batinnya. Ia kembali berdiri tegap seraya mengusap sisa-sisa air matanya dan kembali melangkah untuk bersegera pergi dari rumah terkutuk ini.
"Cahayaku tidak akan pernah meredup meskipun ada mega yang menghalangi pandanganmu ke arahku, Mas. Aku akan tetap bersinar terang sampai Tuhan memintaku untuk pergi menghilang dari kanvas langitmu yang tak pantas lagi untuk aku sinari!"
.
__ADS_1
.
.