Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 24. Licik


__ADS_3


Cahya berdiri menatap punggung lelaki yang saat ini sedang sibuk berjibaku di depan tempat cuci piring. Kedua mata Cahya memanas hingga membentuk bulir-bulir bening di sudut mata. Tak perlu menunggu waktu lama, bulir bening itu terjun dan meluncur bebas dari bingkainya.


Setelah sekian lama Cahya tidak pernah melihat Awan memegang piring-piring kotor, kini lelaki itu kembali menyingsingkan lengan kemejanya untuk menjamah benda-benda yang bertumpuk wastafel cucian itu. Memorinya seakan membawanya kembali mengenang masa lalu, di mana ia dan Awan saling bekerja sama untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Meskipun kondisi ekonomi keluarganya pada saat itu tidak seberuntung saat ini, namun kemesraan dan kehangatan benar-benar terasa.


"Mas, kamu tidak lelah? Biar aku saja yang mengerjakannya Mas. Kamu segeralah membersihkan diri!"


Cahya berjalan mendekat ke arah Awan yang masih sibuk dengan piring-piring kotor yang ada di sana. Meskipun terkadang ia merasa kelelahan karena melakukan semua pekerjaan rumah sendiri, namun ia tidak tega juga jika melihat Awan yang mengerjakannya.


"Tidak apa-apa Ay. Sepertinya aku memang sudah lama tidak mengerjakan pekerjaan ini. Padahal dulu aku sering melakukan pekerjaan ini kan?"


Awan hanya menanggapi santai perkataan sang istri sembari ia lanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Cahya hanya bisa tersenyum tipis seraya membilas piring-piring yang sudah berbalut oleh busa sabun cuci. Ia bilas piring itu di bawah kran.


"Kok tumben kamu mau mencuci piring-piring kotor ini, Mas? Padahal sudah lama sekali kamu tidak pernah mencuci piring."


Awan menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Ia harus pandai-pandai menguasai diri agar aktingnya tidak diketahui oleh sang istri.


"Aku sadar jika aku salah karena sudah terlalu menuntutmu, Ay."


"Apa yang membuatmu tiba-tiba menyadari bahwa kamu sudah salah karena banyak menuntutku Mas?"


Terkadang Cahya masih dibelenggu oleh rasa ingin tahu akan hal apa yang membuat suaminya ini tiba-tiba menyadari kesalahannya. Meskipun sikap yang ditunjukkan oleh Awan sama seperti yang dulu, namun wanita itu seakan dibuat penasaran akan hal yang menjadi alasannya.


Awan menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia letakkan beberapa piring yang masih kotor itu. Ia pun sedikit menggeser tubuhnya untuk bisa menatap tubuh Cahya.


"Itu karena tausiah salah satu ustadz yang tanpa sengaja aku dengar melalui radio di mobil saat aku berkendara, Ay!"


"Tausiah tentang apa itu Mas?"

__ADS_1


"Tentang keluarga. Akan sangat panjang jika aku ceritakan di sini. Yang jelas, setelah aku mendengarkan tausiah itu, aku semakin menyadari bahwa sikap yang aku tunjukkan ke kamu akhir-akhir ini sudah sangat keterlaluan sekali." Awan meraih telapak tangan Cahya untuk ia genggam dengan erat. "Aku benar-benar minta maaf Ay. Saat ini aku sudah memutuskan akan satu hal!"


Kelopak mata Cahya menyipit dengan dahi yang mengernyit. "Memutuskan akan satu hal? Apa itu Mas?"


"Aku memutuskan untuk mencari asisten rumah tangga untuk bisa membantumu mengerjakan pekerjaan rumah. Aku juga akan mencari seorang security untuk menjaga rumah!"


Cahya dibuat terkejut oleh ucapan yang dilontarkan oleh Awan. Jika tentang asisten rumah tangga, ia masih bisa menerima. Namun jika untuk security, untuk apa suaminya ini mencari security?


"Security? Untuk apa Mas? Aku rasa tidak perlu mencari security karena rumah ini sudah aman."


Awan kembali membuang napas kasar. Wajah lelaki itupun juga terlihat sedikit pias. "Sebenarnya aku masih ragu untuk mengatakannya kepadamu Ay. Tapi mau bagaimana lagi."


Cahya semakin dibuat bertanya-tanya akan maksud dari ucapan sang suami.


"Maksudnya apa sih Mas? Aku sungguh tidak paham. Coba beri penjelasan."


"Setelah tiga hari mendatang, aku harus membagi waktuku di kota ini dan di kota Semarang, Ay. Di Semarang banyak terjadi masalah sehingga aku harus sering-sering berada di sana. Aku memutuskan untuk hari Senin sampai Kamis aku di Jogja, sedangkan Jumat sampai Minggu, aku di Semarang."


Awan menggelengkan kepala. "Aku paham Ay, namun mau bagaimana lagi. Ini semua demi nama baik perusahaan yang sudah susah payah aku bangun dan aku besarkan. Nanti jika semua sudah selesai, pasti akan kembali seperti semula."


"Apa tidak bisa kamu balik Mas? Weekend kamu di rumah sedangkan weekdays kamu di Semarang?" tanya Cahya bernegosiasi.


"Tidak bisa Ay. Ini merupakan keputusan yang aku buat." Awan membelai lembut pipi sang istri dengan jemarinya. Seutas senyum manis terbit di bibirnya. "Maka dari itu aku carikan security untukmu, Ay. Selain dia bisa menjaga rumah, dia juga bisa menjadi supir pribadi yang bisa mengantarmu ke mana kamu mau ketika kamu sedang jenuh."


"Tapi bukan security yang aku dan anak-anak inginkan Mas, melainkan kamu. Jika perkara pergi ke mana pun aku juga bisa melakukannya sendiri tanpa adanya supir."


"Percayalah, ini semua hanya sementara. Jika semua masalah di Semarang sudah selesai. Rutinitas ku akan kembali seperti sedia kala. Oke?"


Cahya nampak hening dan larut dalam pikirannya sendiri. Ia mencoba untuk tetap berpikir positif namun tidak dapat ia ingkari jika sekelebat pikiran buruk itu berseliweran di otaknya. Bagaimanapun juga, semua yang dikatakan oleh Awan seakan tidak masuk akal.

__ADS_1


Cahya membuang napas sedikit berat. Sebisa mungkin ia singkirkan terlebih dahulu pikiran-pikiran buruk itu. Bagaimanapun juga hubungannya dengan Awan baru saja membaik dan sikap yang ditunjukkan oleh Awan seperti sedia kala.


"Baiklah kalau begitu Mas. Aku hanya bisa mendoakanmu, semoga langkah kakimu senantiasa diberkahi oleh Allah. Ingat, sedikit waktu yang masih ada, tolong manfaatkan itu untuk anak-anak."


Awan mengecup kening Cahya dengan lembut. "Iya Ay, aku janji. Akan memanfaatkan waktu yang ada untuk anak-anak."


"Baiklah Mas. Aku tinggal ya. Sudah waktunya memandikan Ibu. Kamu selesaikan cucian piring ini. Kalau semisal berkenan, tolong bantu aku untuk menyapu halaman juga. Banyak daun-daun yang jatuh selepas hujan," pinta Cahya dengan gelak tawa yang menggema.


"Siap Ratu. Akan hamba kerjakan!" kelakar Awan dengan membungkukkan sedikit punggungnya.


Cahya terkekeh geli melihat perilaku Awan ini seraya melenggang pergi untuk menghampiri sang ibu yang masih berada di teras menemani anak-anak.


"Ibu, mandi dulu yuk. Nanti kesorean."


Marni menatap wajah sang menantu. Hatinya ikut menghangat saat melihat binar bahagia yang nampak begitu kentara. Ia yakin jika hubungan anak dan menantunya sudah kembali harmonis seperti sedia kala.


"Ibu lihat, kamu seperti bahagia sekali Nak? Ada apa?"


Cahya menyunggingkan sedikit senyumnya. Ia pegang pundak Marni yang masih setia duduk di kursi roda ini.


"Mas Awanku yang dulu sudah kembali Bu. Di dapur dia mencuci piring, sama persis saat awal kami merintis usaha. Cahya sungguh bahagia Bu!"


"Alhamdulillah ... Ibu ikut senang Ay. Ternyata kesabaranmu selama ini yang telah meluluhkan hati Awan untuk merubah sikapnya."


"Iya Bu, alhamdulillah!"


Cahya dan Marni yang begitu bahagia karena bisa melihat sikap Awan kembali seperti sedia kala, sangat jauh berbeda dengan Awan sendiri. Sembari mencuci piring, lelaki itu tiada henti tersenyum. Hatinya merasa puas karena bisa memainkan sandiwara ini dengan sempurna.


Hahahaha ... Tidak tahu saja Cahya jika hari Jumat, Sabtu dan Minggu yang aku bilang tadi akan aku gunakan untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktu bersama Mega.

__ADS_1


Cahya ... Cahya ... Ternyata sangat mudah untuk mengelabuimu. Hanya tinggal diberikan perhatian sedikit, dibelikan barang-barang mewah dan dibantu cuci piring, kamu sama sekali tidak curiga.


__ADS_2