
Jogjakarta
"Aarrrghhhhhh ... Aku capek Mas! Masa udah satu jam lebih gak keluar-keluar!"
Mega turun dari ranjang dengan perasaan kesal. Wajahnya juga terlihat begitu masam karena pengaruh rasa kesal itu pula. Buru-buru ia punguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai lalu ia kenakan kembali.
"Tapi aku belum keluar Han. Tanggung ini!"
"Bodo amat. Masa udah satu jam lebih gak keluar-keluar. Kamu pikir aku gak capek? Mana perutku udah semkin besar seperti ini. Tidak bisa jika lama-lama bercinta!"
Mega memilih duduk di depan meja rias. Dari tempat duduknya saat ini bisa ia lihat Awan yang masih bergumul di atas ranjang. Meskipun wajah suaminya itu terlihat begitu pias karena belum mencapai pelepasan, namun Mega seakan tak acuh. Tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk mengimbangi permainan Awan.
Awan mengacak rambutnya kasar. Ia geser tubuhnya untuk duduk di tepian ranjang. Sejak tadi sejatinya ia sudah merasa akan mencapai puncak kenikmatan namun entah apa yang terjadi, hal itu tidak terjadi. Selalu saja seperti itu. Seakan ada sesuatu yang menghalangi cairan itu keluar.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana Han? Masa iya aku harus memakai bantuan sabun?"
"Itu sih terserah kamu Mas. Salahmu juga gak keluar-keluar. Kamu pikir aku gak kehabisan tenaga? Gak capek?"
Awan hanya bisa meringis menahan sesuatu yang tidak bisa keluar sedari tadi. Meskipun ia sedikit kecewa karena Mega tidak bisa mengimbanginya sampai puncak, namun ia juga harus sadar akan kondisi sang istri yang perutnya semakin membuncit, yang pasti juga menurunkan performanya.
Mega yang sebelumnya selalu aktif dan terlihat bergairah di atas ranjang, sejak satu bulan yang lalu menjadi lebih pasif. Ia yang dulu selalu puas dengan pelayanan Mega, kini seakan semakin lama semakin tak merasakan kepuasan. Terlebih lagi jika sembari melihat wajah Mega yang semakin hari semakin kusam tak berseri. Sungguh membuatnya hilang ketertarikan.
"Han, kamu masih pakai cream yang dari dokter itu?" tanya Awan mengalihkan topik pembicaraan.
Ia sedikit heran, sudah dari lama istrinya ini memakai cream wajah dan semua produk skincare dari seorang dokter kecantikan, namun hasilnya tetap sama saja tidak ada bedanya.
"Udah aku hentikan Mas. Memang kenapa?"
"Loh kok kamu hentikan? Pantas saja wajahmu semakin kusam seperti itu."
"Bagaimana tidak aku hentikan Mas? Lihatlah, cream dan skincare dari dokter itu hanya membuat jerawatku timbul banyak dan wajahku kemerah-merahan."
__ADS_1
"Ah yang benar Han? Coba aku lihat!" Awan mendekat ke arah Mega dan ia tatap lekat wajah istrinya ini. "Astaga .... Ini sih parah Han. Mengapa jadi seperti ini sih? Jika tidak cocok seharusnya efek seperti ini muncul dari awal kamu memakainya kan? Tapi ini mengapa setelah lama kamu pakai baru muncul?"
Mega juga hanya bisa mengedikkan bahu. Sejatinya, ia juga keheranan dengan wajahnya ini.
"Apa aku ganti dokter saja ya Mas. Aku takutnya semakin parah," tanya Mega mencoba meminta pendapat dari sang suami.
"Ah tidak perlu Han. Hanya buang-buang uang kalau hasilnya tetap sama."
Nyatanya jawaban yang dilontarkan oleh Awan tidak lantas membuatnya puas, namun justru membuat api amarahnya terpantik. Ia membalikkan tubuh dan menatap Awan dengan sorot mata tajam.
"Jadi kamu lebih sayang sama uangmu daripada penampilanku Mas? Masa hanya untuk pindah dokter saja kamu pelit sekali sih Mas?"
"Bukan begitu Han. Tapi kita realistis saja lah. Kalau hasilnya sama saja bukankah itu hanya satu pemborosan? Daripada aku gunakan untuk sesuatu yang tidak pasti, lebih baik aku gunakan untuk menambah gaji Mentari. Karena semakin hari restoku semakin ramai karena hasil pekerjaannya."
Mega terhenyak. Harga dirinya seakan diinjak-injak jika Awan selalu memuji wanita bernama Mentari itu di hadapannya.
"Apa maksudmu, Mas? Kamu mau membanding-bandingkan aku dengan Mentari itu?"
"Aku tidak membanding-bandingkan Han. Tapi itu kenyataannya. Daripada aku harus keluar uang banyak untuk wajahmu yang belum tentu akan kembali mulus seperti sedia kala, lebih baik aku gunakan untuk menaikkan gaji Mentari agar dia semakin semangat bekerja."
"Aahhhh ... Sudahlah, aku tidak ingin berdebat lagi Han. Tapi terserahlah kalau kamu mau ganti dokter dan ganti perawatan lagi. Yang jelas aku akan menaikkan gaji Mentari sebagai salah satu bentuk apresiasi."
Awan berdiri dari posisi duduknya. Lelaki itu bergegas untuk melenggang pergi untuk menghindari perdebatan dengan Mega yang jauh lebih tak terkendali lagi. Awan memilih untuk keluar rumah, dan duduk-duduk di teras depan.
"Aarrrghhhhhh .... Lagi-lagi di mata mas Awan aku kalah dari wanita itu. Memang dasar wanita pengganggu. Kalau seperti ini posisiku jauh lebih tidak aman."
Mega mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Ia gulirkan jemarinya di atas layar untuk mencari satu nama kontak yang ada di sana.
"Hallo Jon, ada pekerjaan bagus untukmu."
"....."
"Besok malam kamu datangi rumah yang nanti alamatnya akan aku kirim ke kamu lalu bakar rumah itu. Pastikan penghuni rumah itu juga ikut terbakar atau setidaknya kena luka bakar delapan puluh persen."
__ADS_1
"....."
"Kamu ini kerja belum, yang ditanyakan bayaran. Kalau kamu sampai berhasil, akan bayar kamu lima puluh juta."
"......"
Mega menutup teleponnya dengan senyum seringai yang nampak mengerikan. Dengan cara seperti ini ia yakin bisa menyingkirkan wanita bernama Mentari itu.
"Kita lihat saja. Siapa yang akan menjadi pemenangnya!"
***
Awan duduk santai di resto miliknya sembari menikmati satu gelas jus strawberry yang terasa begitu menyegarkan dinikmati di siang hari yang cukup terik seperti ini. Setelah jam makan siang, kondisi restonya sedikit lebih lengang dan akan kembali membeludak setelah jam tiga sore nanti.
"Tar, aku lihat dari tadi kamu asyik dengan ponselmu. Memang apa yang sedang kamu lihat?"
Awan nampak sedikit keheranan dengan Mentari ini. Karena biasanya di jam-jam lengang seperti ini Tari selalu membicarakan perihal rencana apa yang akan digunakan di bulan depan untuk menggiring konsumen lebih baik lagi. Sehingga omset yang didapatkan semakin meningkat.
"Ini loh Wan, aku sedang membaca salah satu kanal berita yang meliput acara pernikahan mewah seorang pengusaha yang cukup terkenal di kota asal kita. Begitu hebatnya lelaki ini sampai-sampai media lokal meliput acara pernikahannya kemarin malam."
"Maksudmu dari Kalimantan?" tanya Awan dengan Kernyitan di dahi.
"Iya Wan. Pengusaha sukses dari Kalimantan yang baru saja menikah. Dan lebih hebatnya lagi, dia menikahi seorang desainer yang punya butik dan juga konveksi. Bisa kamu bayangkan bukan betapa kayanya mereka setelah menikah?"
Mendengar secuil cerita dari Mentari, membuat Awan sedikit penasaran. Ia ingin tahu siapa sosok lelaki yang merupakan pengusaha sukses yang berasal dari Kalimantan itu.
"Coba lihat Tar, memangnya siapa nama pengusaha itu? Dan bergerak di bidang apa dia? Aku kok malah tidak pernah mendengar."
"Hmmmm ... Itu karena kamu kudet, Wan. Makannya punya ponsel itu juga untuk membaca berita yang tengah hits." Mentari mengulurkan ponsel miliknya ke arah Awan. "Nama pengusaha itu Langit Biru."
"Langit Biru?" Awan sedikit tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Mega.
"Iya, namanya Langit Biru. Pemilik perusahaan Langit Biru Sejahtera."
__ADS_1
Awan pun melihat kanal berita yang ditunjukkan oleh wanita ini. Kedua bola matanya membulat sempurna kala melihat foto yang terpampang di sana. Di mana terdapat sebuah foto dua orang yang sangat familiar di penglihatannya.
"C-Cahya ..... Langit?" pekik Awan yang membuat tubuhnya melemas seketika.