
Langit senja sore ini terlihat begitu cantik. Semburat warna oranye terlukis jelas membentang di garis cakrawala. Dihiasi awan tipis yang membentuk jaring-jaring kapas.
"Ayo kejar Malika, Kak!"
"Awas ya Dek. Kakak kejar kamu!"
Pekikan suara nyaring itu terdengar jelas memenuhi indera pendengaran. Beradu dengan deburan ombak yang bergulung-gulung memecah batu karang. Sang bayu juga menampakkan keberadaannya. Dengan hembusannya yang kencang hingga menyisakan rasa sejuk dalam raga.
"Hati-hati Sayang, jangan terlalu ke tengah!"
Melihat kedua putrinya berlarian di bibir pantai, membuat Awan sedikit cemas. Lelaki itu harus ikut berlarian mengejar dua gadis kecil itu agar tidak sampai hilang dalam pengawasan. Suasana pantai sore hari ini sangatlah ramai. Awan tidak hanya khawatir jika Alina dan Malika sampai ke tengah, namun juga khawatir jika hilang di antara kerumunan orang-orang yang berada di sini.
"Ayo Yah .... Kejar kami berdua!" teriak Alina yang kini suasana hatinya sudah mulai mencair. Ia seakan sudah melupakan rasa kecewanya kepada Awan setelah mendengar janji sang ayah untuk pergi ke pantai.
Cahya memilih duduk santai di tepian pantai. Sepasang matanya sedari tadi tidak lepas dari suami dan anak-anaknya yang terlihat begitu bahagia. Mereka tertawa lepas sembari berlarian seakan mengabarkan kepada dunia jika hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan.
Senyum manis terbit di bibir Cahya. Hatinya menghangat melihat kebersamaan anak-anak dan sang suami. Inilah untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun yang lalu, Awan kembali mengajak jalan-jalan di pantai. Tak ada hal lain yang membahagiakan bagi Cahya selain melihat wajah kedua putrinya berbinar terang dan tawa mereka yang menggelegar. Rasa-rasanya ia ingin menghentikan waktu, sehingga ia selalu berada di dalam kebahagiaan ini.
Cahya bangkit dari posisi duduknya. Ia ikut mendekat di tempat suami dan anak-anaknya berada. Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore, sudah waktunya mereka untuk membersihkan diri.
"Sayang, sudah yuk mainnya. Kita mandi ya."
"Sebentar Bunda. Istana pasir Alina dan adek belum jadi, kami ingin bermain ini dulu Bunda," ujar Alina bernegosiasi dengan Cahya.
"Iya Bunda, Malika dan kakak sudah susah payah membuat istana pasir ini. Kan sayang Bun, sebentar lagi jadi," cicit Malika ikut mendukung permintaan Alina.
"Sudah Ay, biarkan mereka puas main terlebih dahulu, setelah itu baru mandi," timpal Awan yang juga ikut membuat istana pasir.
Cahya hanya bisa membuang napas sedikit berat. Jika sudah seperti ini, maka dia pun hanya bisa menuruti suara terbanyak.
"Baiklah Mas, tapi setengah jam lagi ya. Lihatlah, badan anak-anak sudah basah. Aku takut mereka masuk angin. Terlebih mereka juga belum makan sejak siang tadi."
"Iya Ay, tenang saja. Lebih baik jika kamu ikut membuat istana pasir. Seru tahu!"
"Hmmmmmm ... Tidaklah Mas. Aku lihat kalian saja."
Cahya memilih untuk kembali mendaratkan bokongnya di atas hamparan pasir putih. Ia melihat dengan lekat suami dan anak-anaknya yang saling berlomba untuk membuat istana pasir yang megah.
__ADS_1
"Oh iya, lebih baik kamu booking tempat dan makanan dulu di resto langganan kita Ay. Jadi, nanti kita tidak perlu menunggu lama masakannya matang," usul Awan.
Cahya sejenak berpikir dan kemudian ia setujui usulan Awan itu. "Baiklah Mas, tapi cepat ajak anak-anak mandi ya. Takutnya masuk angin."
"Iya Ay, sepuluh menit lagi atau maksimal setengah jam, akan aku ajak anak-anak untuk mandi."
Cahya beranjak dari posisi duduknya. Ia tepuk-tepuk bagian bokongnya agar pasir-pasir pantai ini bisa hilang dari sana. Wanita itupun bergegas ke resto untuk memesan tempat dan makanan.
***
"Arrrrgggggghhhh ... Di mana Mas Awan? Mengapa sedari tadi tidak menjawab panggilan teleponku?"
Tiba di stasiun, Mega terlihat frustrasi sendiri kala sejak setengah jam yang lalu ia mencoba menghubungi Awan namun tidak ada jawaban. Ia medengus kesal. Niat hati ingin memberikan kejutan kepada Awan jika ia sudah pulang dari kampung halaman, namun kenyataannya tidak ada respon dari sang kekasih.
Selain memberi kejutan, sejatinya wanita itu juga memiliki niat lain. Meminta Awan untuk menjemputnya di stasiun. Namun apalah dikata, panggilan telepon darinya sejak tadi belum juga dijawab.
"Tidak biasanya mas Awan mengabaikan panggilan teleponku seperti ini. Sedang apa ya dia? Jangan-jangan dia terpikat sama wanita lain, lagi!"
Mendadak hati Mega di selimuti oleh rasa takut dan kalut jika sampai Awan berpaling kepada wanita lain. Namun buru-buru ia tepis pikiran buruk itu setelah teringat ucapan Ki Suprana jika Awan sudah tidak lagi bisa lepas dari jerat pesonanya.
"Pokoknya aku tidak akan pernah beranjak dari stasiun ini jika tidak dijemput oleh mas Awan. Akan aku tunggu mas Awan sampai mengangkat teleponku."
Tungkai kaki Mega terayun menyusuri peron-peron stasiun. Sembari menenteng travel bag kecil, wanita itu memilih untuk keluar dari area stasiun. Ia ingat jika ada sebuah cafe yang berada tak jauh dari stasiun ini. Ia bermaksud untuk duduk santai di sana sembari menunggu Awan mengangkat teleponnya.
***
Semerbak aroma seafood terasa menusuk indera penciuman. Kini di hadapan Cahya, Awan, Malika dan Alina sudah tersaji berbagai macam hidangan laut. Mulai dari cumi asam manis, udang tepung, kakap laut bakar, sup ikan hiu, juga kerang pedas manis.
Wajah Alina kembali berbinar terang. Hari ini, gadis kecil itu sudah menunjukkan perubahan suasana hatinya. Ia yang semenjak kemarin terlihat begitu tidak bersemangat, hari ini sudah kembali seperti sedia kala.
"Bagaimana? Apakah hari ini Kakak merasa senang?" tanya Awan mencoba untuk memastikan.
Alina menganggukkan kepala seraya mencomot sepotong uang tepung ini. Tanpa banyak berpikir, langsung ia lahap udang tepung itu. Polah tingkah Alina inilah yang membuat hati Cahya dan Awan semakin menghangat.
"Iya Yah, Alina senang sekali. Bisa berlarian di pantai, bisa membuat istana pasir dan itu," tunjuk Alina ke arah sunset yang nampak begitu jelas dari tempatnya duduk saat ini.
Cahya dan Awan sama-sama menoleh ke arah telunjuk sang anak. Resto yang ia tempati saat ini memang sedikit menjorok ke laut sehingga dari sini bisa dengan jelas melihat langit sore yang dihiasi oleh sunset. Tak heran jika resto ini begitu ramai.
"Itu namanya sunset atau matahari tenggelam, Sayang," ucap Cahya memberitahu.
__ADS_1
"Lalu, kalau matahari terbit namanya apa Bunda?"
"Kalau matahari terbit namanya sunrise."
Alina hanya mengangguk pertanda mengerti akan apa yang diucapkan oleh sang Bunda. Gadis kecil itu kembali fokus pada makanannya.
"Kalau Kakak senang, itu artinya Kakak sudah tidak marah lagi kan sama Ayah?" timpal Awan kembali memastikan. Lelaki itu juga mulai menikmati sajian seafood yang sudah mengisi piringnya.
"Iya Yah, Alina sudah tidak marah lagi sama Ayah. Tapi kalau lain kali Ayah ingkar janji lagi, Alina juga pasti akan marah lagi," ucap Alina sedikit mengintimidasi.
"Iya Kak, Ayah janji tidak akan pernah ingkar janji lagi."
Cahya yang juga tengah menikmati menu makanannya, tiba-tiba dibuat terkejut akan getaran ponsel dari dalam tas yang berada di sampingnya. Ia ambil ponsel itu dan ternyata ponsel milik Awan yang bergetar.
Dahinya sedikit berkerut kala membaca nama yang muncul di layar ponsel itu.
"Megaku, ini siapa Mas?" tanya Cahya sembari mengulurkan ponsel milik Awan.
Kedua bola mata Awan terbelalak dan membulat sempurna. Hampir saja ia tersedak makanan yang ia telan. Namun cepat-cepat ia seruput air putih yang ada di hadapannya.
Belum sempat ponsel itu diterima oleh Awan, namun Cahya lebih dulu menggeser icon warna hijau dan seketika telepon itu tersambung.
"Hallo ... Maaf, ini siapa? Mas Awannya sedang makan sehingga tidak bisa mengangkat telepon.
Dahi Cahya semakin berkerut dalam saat terdengar sambungan telepon itu tiba-tiba terputus hingga hanya menyisakan bunyi tut... tut ... tut...
Jantung Awan berdegup tidak beraturan. Terlebih saat melihat raut wajah Cahya yang seakan begitu penasaran.
"Kok dimatikan ya Mas? Memang Megaku itu siapa?" tanya Cahya sembari meletakkan ponsel Awan di atas meja.
"Oh itu dari bank Mega, Ay. Biasa, menawarkan pinjaman."
"Oh ya? Kok sepertinya kurang kerjaan sekali ya Mas, orang dari bank menawarkan pinjaman di jam-jam seperti ini? Bukankah saat ini sudah bukan lagi jam kerja?"
Wajah Awan nampak pias. Ia kehabisan kata untuk menanggapi pertanyaan istrinya ini.
Mati aku. Sekarang aku harus menjawab bagaimana?
.
__ADS_1
.
.