
"Wan ... Kamu mau mengajak Ibu kemana? Mengapa semua pakaian-pakaian Ibu kamu masukkan ke dalam tas?"
Marni yang sedang beristirahat di kamar, tiba-tiba saja dikejutkan dengan kedatangan Awan dan juga Mega. Yang membuat Marni lebih terkejut lagi, tanpa banyak kata putranya ini langsung memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas besar. Sedangkan Mega berdiri di ambang pintu sembari menyenderkan bahunya di sana.
"Aku mau mengajak Ibu jalan-jalan. Ibu mau kan?" jawab Awan masih sembari fokus dengan pakaian sang ibu.
"Jalan-jalan? Kok tumben kamu mau mengajak Ibu jalan-jalan?" tanya Marni dengan kernyitan di dahi. Apa yang dilakukan oleh Awan sungguh tidak seperti biasanya.
Awan mengayunkan tungkai kakinya ke arah ranjang sang ibu setelah selesai dengan aktivitasnya. Lelaki itu duduk di tepian ranjang.
"Aku hanya ingin menyenangkan hati Ibu. Selama ini Ibu jarang kan aku ajak jalan-jalan? Maka dari itu hari ini aku ingin mengajak Ibu ke beberapa tempat untuk refreshing."
"Tapi mengapa harus membawa banyak pakaian Wan? Seperti orang mau pindahan?"
Awan tersenyum simpul. Ia berupaya keras bersikap se natural mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Aku sengaja membawa pakaian banyak karena nanti kita akan menginap, Bu. Lagipula saat ini Ibu sering kali buang kotoran dan pipis sampai ke mana-mana kan? Jadi pakaian-pakaian ini aku gunakan untuk cadangan."
Marni masih hening dalam pikirannya sendiri. Ia mencoba untuk memahami setiap kata yang diucapkan oleh Awan, namun sama sekali tidak bisa masuk di dalam logikanya.
"Sudahlah Bu, jangan banyak protes. Mas Awan punya niat yang baik untuk mengajak Ibu jalan-jalan loh. Jadi seharusnya Ibu bersyukur," timpal Mega sembari memainkan jemari di tangannya.
Perkataan Mega tidak lantas memupus semua kegamangan yang dirasakan oleh Marni, tapi malah justru membuat Marni dibelenggu oleh tanda tanya besar. Karena sungguh aneh sikap Awan yang tiba-tiba seperti ini.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan Bu. Ibu harus happy karena kita akan jalan-jalan!" Awan beranjak dari posisi duduknya. Ia ambil kursi roda milik sang ibu dan ia pandu Marni untuk duduk di atas kursi roda.
"Sudah siap semua. Ayo kita berangkat!"
Awan mendorong kursi roda Marni menuju halaman depan, yang mana sudah terparkir sebuah mobil yang akan mereka gunakan untuk mengajak Marni jalan-jalan. Mega yang berjalan di belakang punggung Awan, tiada henti menyunggingkan senyum lebar. Ia puas karena pada akhirnya Marni bisa keluar dari rumah ini.
Akhirnya pergi juga benalu itu dari rumahku. Dengan begini, hidupku akan jauh lebih tenang. Tidak ada yang bikin ribet minta diurusin ini itu. Aku menikah dengan mas Awan itu untuk bahagia dan menjadi ratu. Bukan untuk jadi pembantu wanita lumpuh tua seperti itu!
Awan, Mega dan Marni mengambil posisi masing-masing di dalam mobil. Setelah semua sudah siap, Awan mulai menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Perlahan, mobil putih yang dikemudikan oleh Awan melaju dan meninggalkan halaman rumah.
***
Di kantor Awan, terlihat beberapa karyawan dan kurir duduk lemas selonjoran di atas lantai. Mereka sama-sama menundukkan kepala seraya memegang kening masing-masing.
"Rud, bagaimana? Apa pak Awan hari ini akan datang ke kantor?"
Salah seorang kurir seketika mendongakkan wajah kala melihat salah satu rekan kerjanya selesai dengan panggilan teleponnya. Lelaki bernama Rudi itu hanya bisa menggelengkan kepala pelan.
"Tidak Rom, pak Awan sepertinya tidak akan datang hari ini. Aku mencoba untuk menghubungi pak Awan tapi di reject."
__ADS_1
"Ya ampun, sampai di reject? Sebenarnya pak Awan itu punya iktikad baik untuk menyelesaikan ini semua tidak? Sudah dua bulan ini loh, gaji kita tertahan," keluh lelaki bernama Romi itu.
Rudi mengedikkan bahu. "Aku juga tidak paham Rom. Kalau seperti ini kita yang dirugikan. Kita juga perlu makan dan menghidupi keluarga. Dan kalau seperti ini bikin semua berantakan kan? Mana istriku ngomel-ngomel lagi setiap hari gara-gara dua bulan ini tidak gajian."
"Kalau itu sih kita senasib Rud. Istriku juga uring-uringan melulu karena dua bulan tidak aku kasih jatah," keluh Romi pula. "Lalu sekarang kita harus melakukan apa?"
"Aku juga tidak paham Rom. Keadaan perusahaan semakin bobrok setelah pak Awan tidak lagi menjadi suami bu Cahya. Kamu ingat kan Rom, dulu ketika bu Cahya masih ada, selalu saja ada bonus untuk kita tiap bulan?"
Romi menganggukkan kepala. "Betul sekali Rud tapi sekarang? Jangankan bonus, gaji pokok kita selama dua bulan saja masih tertahan," cerita Romi sembari otaknya berwisata ke masa lalu di mana perusahaan ini berada di puncak kejayaan.
Rudi mengacak rambutnya sedikit kasar. Semua rasa lelah, kesal dan kecewa seakan menguasai raganya. Gaji dua bulan yang masih tertahan membuatnya seperti kerja rodi di zaman Belanda.
"Ternyata beda istri beda rezeki juga ya Rud dan sekarang perusahaan semakin morat-marit. Mana banyak pelanggan setia yang tidak lagi memakai jasa ini lagi."
"Ya begitulah Rom, balasan untuk suami yang kurang bersyukur dengan apa yang sudah ia genggam. Jika menuruti hawa na*fsunya, manusia itu tidak akan pernah merasa puas."
"Betul itu Rud, lalu sekarang kita harus bagaimana?" tanya Romi semakin frustrasi.
Rudi nampak berpikir sejenak. "Lebih baik kita adakan pertemuan tanpa sepengetahuan pak Awan, Rom. Kita satukan suara untuk mencari jalan keluar tentang permasalahan ini."
"Baiklah Rud, aku sependapat denganmu. Kalau bisa hari ini juga kita adakan rapat intern, antara karyawan dan juga kurir."
"Oke Rom, nanti aku share di grup khusus para pekerja."
***
Marni semakin dipeluk oleh rasa heran dan gelisah kala sejak tadi mobil yang dikemudikan oleh putranya ini tidak kunjung sampai di tempat tujuan. Ia yang memulai perjalanan sejak matahari berada di atas kepala sampai matahari condong ke barat, masih juga belum menemukan tempat tujuannya. Marni merasa berada semakin jauh dari kediamannya.
Mega melirik ke arah Awan yang di balas dengan lirikan Awan. Sorot mata mereka seakan berbicara untuk melakukan rencana selanjutnya dan Mega pun hanya bisa mengangguk pelan.
"Sebentar lagi akan sampai, Bu. Ibu tenang saja." Mega mengulurkan satu botol air mineral ke arah Marni. "Lebih baik Ibu minum dulu. Aku yakin Ibu pasti haus."
Tanpa berpikir macam-macam, Marni menerimanya air mineral pemberian Mega. Kerongkongannya seakan kering kerontang karena sejak tadi tidak ada air yang membasahinya.
Begitu hausnya, satu botol air mineral yang diberikan oleh Mega seketika tandas tanpa bekas. Setelah itu Marni lebih banyak menguap. Perlahan, matanya tertutup dan wanita paruh baya itu terlelap dalam tidurnya.
"Bagus Mas, Ibumu sudah tidur karena efek obat tidur yang kita campur di air mineral. Sekarang kita bisa dengan bebas membawa Ibu ke panti jompo. Sudah dekat kan Mas yang menjadi tujuan kita?"
"Tenang Han, lima menit lagi kita sampai!"
Mega tersenyum lebar. Wanita itu sudah tidak sabar untuk segera tiba di panti jompo. Dengan begitu, Marni bisa cepat-cepat enyah dari kehidupannya.
Persis dengan apa yang diucapkan oleh Awan, akhirnya mobil yang dikemudikan olehnya tiba di sebuah panti yang ada di pelosok daerah. Lelaki itu bergegas keluar dari mobil dan memindahkan tubuh sang ibu di atas kursi roda.
"Selamat sore Pak, Bu, apa ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
Kehadiran Awan dan Mega sudah disambut ramah oleh seorang wanita yang berusia empat puluh tahun dengan mengenakan hijab lebar di kepala.
"Saya ada perlu sebentar dengan Ibu. Apa kita bisa bicara?" ucap Awan.
"Oh bisa saja Pak, mari kita duduk di pendopo yang ada di sana," jawab si Ibu pengurus panti sembari menunjuk ke arah pendopo yang ada di halaman belakang.
Awan dan Mega berjalan mengekor di belakang punggung si ibu pengurus panti. Mereka pun tiba di pendopo yang dimaksud.
"Sebelumnya kenalkan, saya Rusma, pengurus panti jompo ini," ucap wanita bernama Rusma memperkenalkan diri.
"Saya Awan, Bu dan ini istri saya Mega. Sedangkan yang ini adalah Ibu saya, Marni," ujar Awan memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.
"Salam kenal ya Pak, Bu. Jadi, ada keperluan apa Bapak bisa sampai di sini di sore hari seperti ini?"
"Saya sengaja datang kemari untuk menitipkan Ibu saya di panti jompo ini, Bu."
Rusma tersenyum penuh arti. Sejatinya ia sudah paham dengan maksud kedatangan Awan ke panti jompo ini. Tidak ada maksud dan tujuan orang-orang yang datang kemari selain untuk menitipkan orang tua mereka.
"Kalau boleh tahu, apa yang menjadi alasan pak Awan menitipkan Ibu Marni di sini?" tanya Rusma.
"Begini Bu, saat ini hidup saya sedang sulit. Saya merasa tidak bisa mengurus Ibu saya lagi. Karena untuk makan saya dan istri saja juga sudah susah. Maka dari itu saya ingin menitipkan Ibu saya di panti ini."
Awan terpaksa harus berkata bohong agar terlihat begitu menyedihkan di depan Rusma. Dengan begitu permintaannya untuk menitipkan sang ibu di panti ini bisa terwujud.
"Oh seperti itu?" tanya Rusma menegaskan. "Saya tidak keberatan jika bu Marni tinggal di sini, namun apa pak Awan rela kehilangan banyak pahala dan surga ketika bu Marni tidak lagi pak Awan urus sendiri? Mengurus orang tua di usia senja seperti ini akan menjadi bakti yang berhadiah surga loh Pak," ujar Rusma yang ia harap bisa membukakan mata hati Awan agar tersadar.
Mendengar penuturan Rusma, membuat Mega terhenyak. Ia merasa Rusma ini ingin menghasut Awan agar mengurungkan niatnya.
"Tidak Bu, suami saya tidak takut kehilangan surga dari ibunya. Karena surga itu bisa didapatkan dengan beribu-ribu jalan. Jadi, kami tidak takut kehilangan surga hanya karena tidak mengurus Ibu Marni," timpal Mega dengan susra lantang. Hal itulah yang membuat Rusma sedikit shock.
"Jadi bagaimana Bu? Apakah saya bisa menitipkan Ibu saya di sini?" ulang Awan.
Rusma menganggukkan kepala. Melihat respon dari istri Awan, membuat Rusma mengerti bahwa Mega ini yang menjadi akar dari semua perkara.
"Saya menerima permintaan pak Awan dan istri. Silakan bawa bu Marni ke kamar yang hanya tinggal menempati saja."
Awan dan Mega sama-sama tersenyum lebar, akhirnya semua yang mereka harapkan berbuah manis. Keduanya mulai mengikuti ke mana Rusma pergi.
Tanpa mereka sadari, wanita yang tengah terlelap dalam tidur di atas kursi roda itu meneteskan air mata. Dalam tidurnya pun wanita itu bisa menangis. Matanya tertutup namun hatinya terkoyak. Semua ini seakan menjadi tanda bahwa ujian hidup yang Marni jalani sungguh begitu berat untuk dirasakan. Terlebih ketika ia dibuang di panti jompo oleh satu-satunya anak yang ia miliki.
.
.
.
__ADS_1