Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 120. Angkat Kaki


__ADS_3


"Mana bisa uang dua puluh lima juta diganti dengan mobil harga setengah milyar Mas? Itu semua tidak sebanding. Tidak, tidak. Aku tidak setuju!"


Mendengarkan negosiasi dari Awan, tidak lantas membuat Mega setuju begitu saja. Pasalnya tidaklah sebanding jika mobil mahal miliknya hanya dihargai senilai dua puluh lima juta. Buru-buru wanita itu menyanggah ucapan Awan.


Awan mengendikkan bahu seraya tersenyum miring. Ia merasa saat ini Mega tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauannya. Jadi, cepat atau lambat Mega pasti akan melepaskan mobil itu.


"Terserah padamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat bahwa saat ini kamu sudah tidak punya pilihan lain. Semua kejahatanmu sudah aku ketahui dan kapanpun aku bisa menuntutmu, menjebloskanmu ke dalam penjara. Karena saat ini, aku akan berdiri untuk membela Mentari."


Mega semakin dibuat terkejut. Kali ini posisinya kian tersudut. Hal itulah yang membuat hati juga pikirannya kalut.


"Apa setega itu kamu kepadaku Mas? Kamu tidak ingat kalau aku pernah menjadi yang paling kamu cinta? Apa kamu lupa kalau kamu pernah berusaha mati-matian mengejarku, untuk menjadi pendamping hidupkuu?"


Mega justru belum mau menyerah meskipun Awan sudah mencampakkan. Ia bahkan memutar kembali memori yang pernah terjadi agar Awan setidaknya memiliki belas kasih.


"Aaarrggghhhh .... Persetan dengan apa yang sudah terjadi Meg. Aku sungguh tidak peduli. Sekarang, semua sudah berbeda, termasuk perasaanku kepadamu. Dan apapun yang terjadi di masa lalu, tidak akan pernah bisa untuk mengembalikan aku kepadamu."


Untuk kesekian kalinya hati Mega dibuat patah. Ternyata seberapa keras ia mencoba bernegosiasi dengan Awan tetap saja tidak bisa mengubah keputusan lelaki yang sudah menjadi mantan suaminya ini. Kepala Mega terasa begitu pening hingga tubuhnya pun limbung dan terduduk di sofa.


"Haduuuhhh .... Ini kenapa harus ada drama rumah tangga seperti ini? Hei, apa kalian ini tidak paham jika aku banyak kesibukan? Ayo segera bayar sisa dua puluh lima jutanya!"


Joni sampai gemas sendiri kala melihat keluarga ini yang justru saling ribut sendiri. Jika tidak menunggu uang sejumlah dua puluh lima juta, rasa-rasanya ia tidak sudi untuk melihat drama rumah tangga yang terlihat membosankan seperti di hadapannya ini. Bahkan lebih baik menonton kartun Doraemon di layar televisi.


"Berapa nomor rekeningmu? Biar aku yang mentransfer sisa bayaran itu!" ujar Awan seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana.


Joni juga turut mengeluarkan ponsel untuk memperlihatkan nomor rekening miliknya kepada Awan. Preman itu tiada henti tersenyum karena sebentar lagi ia bisa berpesta pora dengan uang dua puluh lima juta itu.


"Sudah masuk. Sekarang silakan kalian pergi dari sini. Dan urusan kita sudah selesai!" ucap Awan seraya mengusir dua preman yang datang pagi-pagi seperti ini.

__ADS_1


"Nah, kalau begini kan enak. Dari tadi kek kayak gini. Masa harus pakai acara live drama rumah tangga segala." Joni bangkit dari posisi duduknya. "Ayo Ton, kita pulang. Setelah ini kita berpesta!"


Pada akhirnya dua preman suruhan Mega itu meninggalkan kediaman Awan. Wajah mereka nampak berbinar terang karena uang dua puluh lima juta sudah ada di tangan.


"Sudah selesai semua. Sekarang kalian berdua silakan angkat kaki dari rumah ini. Dan ingat, tidak ada satu barang pun yang bisa kalian bawa kecuali pakaian saja."


Bak seorang mafia, Awan berdiri dengan pongah seraya berkacak pinggang mengusir bapak dan anak ini. Bahkan ia tega karena hanya memperbolehkan Kardi dan Mega hanya membawa pakaian milik mereka saja.


Kardi mendekat ke arah Mega yang tengah duduk terkulai lemah di atas sofa. Ia daratkan bokongnya di samping sang anak. Ia usap-usap punggung anaknya ini dengan lembut.


"Sudah, jangan menangis lagi. Harga diri kita sudah diinjak-injak tanpa belas kasih, dan sekarang lebih baik kita pergi dari sini!"


"T-tapi kita harus ke mana Pak? Kita sudah tidak mempunyai tempat tinggal."


"Kita akan pulang kampung. Di sana masih ada rumah yang bisa kita tinggali."


"T-tapi ibu...? Apakah ibu mau menerimaku kembali setelah apa yang sudah aku lakukan kepadanya? Aku sudah durhaka kepada ibu, Pak."


Kardi membuang napas kasar. Sejatinya lelaki itu juga teramat bersalah karena tidak mendengarkan semua yang diucapkan oleh sang istri. Bahkan dia rela membela Mega yang jelas-jelas bersalah hanya demi bisa hidup enak dengan bergelimang harta. Namun pada kenyataannya, tidak ada satu pun harta yang ia bawa ketika akan keluar dari rumah ini.


"Bapak juga bersalah kepada ibumu, Meg. Tapi sudahlah, kita berdoa saja semoga ibumu mau memaafkan kita berdua. Karena saat ini hanya dia lah satu-satunya orang yang bisa kita harapkan."


Awan merogoh saku celana di mana ada uang lima ratus ribu di sana. Gegas, ia lempar lembaran uang itu ke arah Kardi dan juga Mega.


"Silakan ambil uang itu untuk kalian gunakan membeli tiket pulang kampung. Lumayan bukan, untuk menghemat sisa uang yang kalian miliki?"


Kardi terhenyak kala wajahnya terkena lembaran-lembaran warna merah itu. Telapak tangannya mengepal dan dadanya terasa begitu bergemuruh mendapatkan perlakuan seperti seorang pengemis seperti ini. Lelaki itu kemudian bangkit dari posisinya.


Plak.... Plak... Plak...

__ADS_1


"Kamu benar-benar keterlaluan Wan. Kamu sudah merendahkanku dan juga menginjak harga diriku." Ucap Kardi dengan napas yang memburu. "Jangan jumawa kamu Wan karena kamu tidak sesuci itu. Aku bersumpah hidupmu akan sial dan suatu hari nanti kamu akan mendapatkan balasan yang lebih buruk dari ini. Camkan itu!"


"Hahaha sial? Itu tidak mungkin. Orang yang membawa sial dalam hidupku sudah pergi dari sisiku, jadi bisa aku pastikan setelah ini kehidupanku jauh lebih bahagia."


Awan tidak menyerah untuk mengolok-olok mantan istri dan bapaknya ini. Ia bahkan semakin berdiri tegap meskipun sudah bertubi-tubi ia dihajar oleh Kardi.


Kardi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi untuk berlama-lama berada di sini meladeni kegilaan Awan.


"Ayo Meg, kita segera pergi dari rumah ini. Pakai pakaianmu yang panjang dan tutupi wajahmu menggunakan cadar atau apapun itu agar tidak ada orang yang mengolok-olokmu."


Mega berdiri dari posisinya. Kali ini tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengikuti perintah sang bapak. Karena memang kehidupannya bersama Awan sudah berakhir tragis seperti ini.


Beberapa saat kemudian, Mega dan Kardi sudah berdiri di depan halaman dengan dua tas jinjing yang berisikan pakaian masing-masing. Sejenak, langkah kaki Mega terhenti. Ia tatap lekat bangunan rumah mewah yang ada di depan matanya ini. Juga mobil warna putih yang berada di garasi. Wanita itupun hanya bisa menatap nanar dua benda kesayangannya ini. Benda kesayangan yang bahkan tidak bisa ia miliki sampai ia mati.


"Jadikan pelajaran berharga dalam hidupmu bahwa sesuatu yang kamu dapatkan dengan cara tidak baik, maka itu semua tidak akan berlangsung lama. Dan sesuatu yang kamu dapatkan dengan cara merebut milik orang lain, maka suatu saat kamu juga akan kehilangan dengan cara direbut oleh orang lain pula," ucap Kardi dengan lirih.


Ucapan sang bapak itulah yang membuat hati Mega tertampar. Kata-kata yang diucapkan oleh Kardi sama persis dengan kata-kata yang diucapkan oleh Cahya ketika wanita itu memintanya untuk segera pergi meninggalkan rumah milik Awan dulu. Tanpa sadar, lelehan air mata itu kembali mengalir membasahi wajah.


"Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Jika kita menanam kebaikan, maka keberkahan pulalah yang akan kita panen. Namun jika keburukan yang kita tanam maka bersiaplah karena hanya ada kehancuran yang akan kita dapatkan."


Kardi berujar dengan bijak di samping Mega. Kejadian yang menimpanya ini juga seakan menjadi jalan baginya untuk bisa menjadi manusia yang jauh lebih baik lagi. Ia seakan teringat bahwa usianya semakin tua, dan seharusnya ia banyak berbuat baik dan beribadah untuk bekal di kehidupan yang kekal nanti.


Bapak dan anak itu melangkahkan kaki, meninggalkan rumah besar yang pernah mereka tinggali. Mata hati keduanya seakan kian terbuka bahwa memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Dalam sekejap semua bisa diambil oleh Allah jika Dia menghendaki.


Awan tersenyum lebar kala melihat mantan istri dan mantan mertuanya sudah semakin menjauh dari rumahnya. Perlahan bayang dua orang itu tidak lagi nampak di pandangannya.


"Akhirnya aku bebas. Setelah ini, aku bisa menikahi Mentari!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2