
"Baiklah teman-teman, untuk hari ini cukup sampai di sini. Sekarang kalian silakan pulang, beristirahat, dan semoga hari esok jauh lebih baik lagi!"
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebelum para karyawan resto pulang, Mentari memberikan sedikit evaluasi untuk hari ini. Terlebih siang tadi ada sedikit komplain dari pelanggan yang bisa menjadi sarana untuk berbenah.
Mentari membereskan barang bawaannya. Wanita itu juga bersiap untuk segera pulang. Malam ini rembulan tidak terlihat menampakkan wajah. Langit seakan diselimuti oleh awan mendung yang ia yakini akan turun hujan.
"Sepertinya mau hujan. Aku harus segera pulang agar tidak kehujanan di jalan," monolog Mentari dengan kepala mendongak melihat malam yang semakin gelap karena tak berhias rembulan.
Setelah memastikan semua terkunci sempurna, Mentari bergegas menuju tempat parkir, ia kenakan helm di kepala dan bersiap untuk menyalakan mesin. Namun pada saat ia akan menyalakan mesin motor, tiba-tiba ada sorot lampu sebuah mobil yang terlihat begitu menyilaukan. Mentari menoleh ke arah sumber lampu itu dan ternyata mobil Awan yang memasuki pelataran resto.
Mentari mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia lepas kembali helm yang ia pakai dan segera menghampiri Awan.
"Wan, kok kemari? Apa ada yang tertinggal?" tanya Mentari setelah melihat Awan turun dari mobil.
Awan mengulas sedikit senyumnya. Dari wajah dan pakaian lelaki ini nampak jelas jika ia sedang kacau.
"Aku ingin bermalam di sini Tar. Aku malas untuk pulang. Aku masih merasa kesal dengan Mega."
"Tapi bukankah cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah ya Wan? Tapi justru akan menambah masalah baru karena kamu dan istrimu tidak bersegera duduk berdua untuk menyelesaikannya?"
"Aku tidak peduli lagi Tar. Saat ini aku bahkan merasa muak dengan perilaku Mega dan perasaanku untuknya pun sepertinya sudah berubah tidak seperti dulu lagi."
Dahi Mentari mengernyit, seakan tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh Awan. Padahal ia tahu betul maksudnya seperti apa.
"Maksudmu berubah bagaimana Wan? Dan mengapa bisa berubah? Bukankah kamu begitu mencintai istrimu itu?"
Awan membuang napas kasar. Sejatinya sudah sejak lama ia merasakan perubahan rasa kepada istrinya ini. Mulai dari wajah yang tidak menarik lagi, pelayanan di ranjang yang juga menurun dan terakhir kejadian di siang tadi. Apa yang terjadi di siang tadi seakan makin membuat Awan mati rasa terhadap istrinya sendiri.
"Sepertinya aku sudah tidak mencintai Mega, Tar. Dan lebih parahnya, sejak aku kembali bertemu denganmu, melihat sikap dan perangaimu, aku malah merasa terpikat oleh pesonamu."
"Apa Wan, kamu terpikat oleh pesonaku? Bagaimana mungkin Wan? Bukankah dulu kamu sangat jijik ketika bertemu denganku?"
Mentari berpura-pura menampakkan raut wajah penuh keterkejutannya. Padahal di dalam hati, ia bersorak gembira karena pada misinya berhasil.
"Itu dulu saat SMA Tar, tapi sekarang sepertinya aku terkena karma. Aku malah terpesona pada kecantikanmu."
"Ah kamu ini ada-ada saja Wan. Sudahlah, aku pulang dulu Wan. Aku takut kalau keburu hujan."
Mentari berbalik arah, kembali melanjutkan niatnya untuk segera pulang yang sebelumnya terjeda. Namun baru beberapa langkah, ia terhenyak karena lengan tangannya ditarik oleh Awan.
"Tar, tolong temani aku di sini. Aku membutuhkan seseorang untuk berbagi," pinta Awan dengan wajah memelas.
"Kenapa harus aku Wan? Kamu bisa pulang dan membagi semua yang kamu rasakan dengan istrimu."
Awan menggelengkan kepala. "Tidak Tar, aku tidak mau. Aku ingin bersama denganmu."
"Ingin bersama denganku? Kamu gila Wan?" hardik Mentari. "Kamu ini suami orang, masa aku yang kamu minta menemanimu? Bukankah itu sama saja aku ini pelakor?"
"Terus aku harus bagaimana, Tari? Aku ingin bersamamu. Please, temani aku. Aku berjanji akan menuruti semua permintaanmu, asalkan malam ini kamu menemaniku," pinta Awan sembari bernegosiasi. Segala cara akan ia lakukan untuk bisa meluluhkan hati wanita ini.
"Ckkkkckkk ... Aku ini bukan wanita murahan, Wan. Aku ini wanita berkelas yang tidak mau menjadi duri dalam rumah tangga orang lain," ucap Mentari sok jual mahal. Padahal dalam hati ia tertawa puas karena bisa menarik ulur hati Awan.
"Tar, aku mohon temani aku malam ini. Aku membutuhkanmu Tar!"
Mentari nampak berpikir sejenak, hingga akhirnya pun ia menganggukkan kepala. "Baiklah, akan aku temani kamu malam ini."
__ADS_1
Wajah Awan nampak berbinar. "Benarkah? Aaahhh, aku sungguh bahagia Tar!"
"Eiittssss .... Tapi tunggu. Aku hanya akan menemanimu berbincang sembari ngopi atau mungkin sembari makan mie instan. Tidak lebih dari itu!"
Awan tertegun melihat sikap Mentari ini. Ia bahkan menatap penuh damba wanita yang dulu pernah ia tolak mentah-mentah.
Benar-benar wanita berkelas dan berbeda jauh dari Mega. Kalau dulu Mega aku pancing sedikitpun langsung mau bermesraan denganku, tapi kalau Mentari, ia sungguh tidak murahan sekali.
"Deal. Aku hanya memintamu untuk ngobrol, ngopi dan makan mie instan."
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita ke dalam!"
Urung sudah niatan Mentari untuk pulang. Wanita itu kembali masuk ke outlet di mana di belakang punggungnya ada Awan yang mengekor. Lelaki itu tiada henti menyunggingkan senyum karena pada akhirnya, Mentari mau untuk menemaninya.
****
Di satu perkampungan di pinggiran kota, terlihat dua orang laki-laki berpakaian serba hitam berdiri di depan rumah yang tidak telalu besar. Mereka juga mengenakan penutup kepala dan wajah, agar tidak ada satupun yang mengenalinya.
"Kira-kira pemilik rumah ini sudah tidur atau belum ya Ton? Karena perintah bu Mega, penghuni rumah ini juga harus ikut terbakar atau kalau tidak mengalami luka bakar delapan puluh persen."
Toni melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan. "Jam dua belas. Aku kira dia sudah tidur Jon. Jadi, penghuni rumah ini bisa dipastikan akan mati terbakar."
"Benar juga apa katamu Ton. Oke, kamu berjaga-jaga di sini. Aku yang akan menuangkan bensin ini dan segera membakarnya. Ingat, pastikan keadaan aman!" ucap seorang lelaki bernama Joni yang merupakan suruhan Mega.
"Siap Jon. Lekaslah bekerja agar komisi untuk kita segera cair," ucap lelaki bernama Toni yang seakan memberikan semangat untuk Joni.
Joni menganggukkan kepala. Lelaki itu bergegas untuk mengeksekusi rumah ini. Bak seorang penjahat kelas kakap yang sudah begitu ahli, dengan cekatan ia mengelilingi rumah ini sembari menyiram bensin. Setelah dirasa semua sudah terkena bensin, ia ambil korek api dari dalam saku celananya.
"Hahahaha ... Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Setelah ini, aku tinggal meminta bayaran dari bu Mega!"
"Ayo Ton, kita segera pergi dari sini!"
Joni berlarian menuju tempat Toni berada setelah selesai dengan tugasnya. Lelaki itu kemudian duduk di belakang punggung Toni dan bersiap untuk segera pergi meninggalkan tempat ini.
"Oke siap Jon!"
Toni memacu laju motornya dengan kecepatan tinggi menembus malam yang gelap dan dingin ini. Ia pastikan bisa keluar dari kampung ini tanpa ada yang mencurigai.
***
Sementara itu di outlet milik Awan, dua orang itu terlihat sedang menikmati mie instan. Sembari bercerita dan tertawa lepas mengingat apa yang pernah terjadi di masa SMA.
"Emmmmmm Tar, apa kamu tidak berencana untuk menikah lagi?" tanya Awan di sela-sela suapan mie instannya.
"Aku masih belum berencana untuk menikah lagi Wan. Lagipula baru berapa bulan aku menjanda. Aku ingin menikmati masa-masa kesendirianku dulu."
"Tapi, sebagai seorang wanita bukankah kamu membutuhkan sosok seorang pendamping Tar?" tanya Awan yang begitu kepo.
"Iya juga sih, tapi aku rasa belum membutuhkannya. Aku masih bisa melindungi diriku sendiri." Mentari meneguk air putih yang ada di hadapannya. "Kamu tahu sendiri kan kalau aku ini jago bela diri? Jadi aku bisa menjadi pelindung untuk diriku sendiri."
"Hahahaha benar juga ya. Aku sampai lupa kalau kamu itu jago bela diri Tar." Gelak tawa Awan terdengar menggema. "Lalu, kapan kira-kira kamu mau membuka hatimu kembali Tar?"
Mentari sedikit mengerutkan dahi. "Memang kenapa Wan? Kok kamu sepertinya ingin tahu sekali?"
"Kalau kamu sudah membuka hatimu, aku ingin mengisinya, Tar."
"Apa, kamu ingin mengisinya?" tanya Tari seakan-akan terkejut. "Kamu itu sudah mempunyai istri, Wan. Masa aku akan kamu jadikan yang kedua? Aku sih tidak mau Wan."
__ADS_1
Awan meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangan. Ia raih telapak tangan Mentari dan ia genggam dengan erat.
"Aku bisa menceraikan Mega, Tar. Karena saat ini aku benar-benar sudah tidak mencintainya lagi. Setelah aku menceraikan Mega, aku akan menjadikanmu satu-satunya ratu di istana hatiku."
Iiuuuuhhhh ... Mau muntah rasanya aku dengar gombalanmu ini Wan. Pernikahan pertamamu gagal, dan setelah ini pernikahan keduamu juga akan gagal. Dari kedua pernikahanmu itu sudah cukup membuatku paham bahwa kamu itu memang bukanlah tipe lelaki setia.
"Bagaimana Tar? Apa kamu menyetujuinya?" sambung Awan yang seketika membuyarkan lamunan Mentari.
"Memang kalau aku menjadi istrimu, kamu akan memberikan untukku apa Wan?"
"Apapun boleh kamu minta. Semua yang aku miliki boleh kamu minta," ucap Awan sembari mengecup punggung tangan Mentari.
Mentari nampak memutar kedua bola matanya. "Kalau memang semua yang kamu katakan itu benar. Aku mau kamu membuktikannya Wan."
"Oke katakan apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya?"
Mentari tersenyum penuh arti. Ia sungguh bahagia sekali karena rencananya mendapatkan jalan semulus ini.
"Selain menjadi manajer pemasaran, aku juga ingin menjadi manajer keuangan di resto milikmu ini Wan. Semua omset harian yang masuk, harus aku pegang. Bagaimana? Apa kamu bisa mengabulkannya?"
Tanpa basa-basi, Awan menganggukkan kepala. "Baik, akan aku turuti semua permintaanmu, Tari. Tapi sebagai langkah awal, aku juga ingin menuntut pembuktian darimu."
Mentari sedikit terhenyak. Di dalam otaknya sudah berseliweran permintaan Awan yang aneh-aneh. Namun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Apa itu Wan?"
"Berikan ciuman bibir untukku!" ucap Awan dengan memasang wajah mesum.
"Hahahaha cuma itu? Baiklah, akan aku turuti permintaanmu."
Mentari memejamkan mata, bersiap untuk mendapatkan ciuman dari Awan. Awan yang melihat sudah bersiap siaga, merasa begitu bahagia karena wanita ini mau menuruti permintaannya. Ia kikis jarak yang tercipta dengan mendekatkan wajahnya. Semakin lama semakin terkikis dan pada saat bibirnya akan berlabuh di bibir Mentari tiba-tiba...
Drrttt.. Drrttt... Drrttt...
Getaran ponsel milik Mentari membuyarkan keintiman dua orang itu. Mentari membuka mata dan kemudian memilih untuk mengangkat teleponnya.
"Pak RT? Kok tumben Pak RT menelponku?" lirih Mentari dengan penasaran. Gegas, ia mengangkat telepon itu.
"Iya Pak, ada apa?"
"Loh, mbak Tari tidak ada di dalam rumah?"
"Tidak Pak. Malam ini saya ada pekerjaan tambahan jadi saya tidak pulang. Memang ada apa ya Pak?"
"Syukurlah kalau mbak Tari tidak ada di rumah. Setidaknya saya lega."
"Lega? Memang kenapa Pak?"
"Mbak Tari yang sabar ya. Rumah mbak Tari kebakaran!"
"Apa?????!!!!!"
.
.
.
__ADS_1