
"Kusam bagaimana sih Mas?" tanya Mega masih belum begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh Awan.
"Ya kusam, Han. Seperti beda dari biasanya. Biasanya wajahmu itu nampak begitu cantik dan berseri-seri tapi mengapa malam ini beda ya?"
Begitu penasarannya dengan apa yang dikatakan oleh Awan, Mega beranjak dari posisi duduknya. Ia sedikit berlari masuk ke dalam kamar mandi dan melihat pantulan wajahnya di cermin. Sejenak kemudian ia kembali menghampiri Awan yang masih duduk santai di ruang tengah.
"Kamu ini ada-ada saja Mas. Aku baru saja bercermin di kamar mandi tapi wajahku tetap cantik. Bahkan aku lihat jauh lebih berseri dari sebelumnya."
Awan yang mendengar ucapan Mega hanya bisa berdecak pelan. Ia tetap kembali wajah istrinya ini.
Ini sih benar-benar kusam. Aku tidak salah lihat karena mataku masih normal. Tapi mengapa yang dilihat oleh Mega berbeda dari apa yang aku lihat? Masa iya wajah Mega berubah-ubah sesuai dengan yang melihat?
Masih begitu penasaran, Awan memiliki rencana untuk memanggil sang mertua. Jika memang yang dilihat oleh Kardi seperti apa yang ia lihat, berarti wajah Mega memang bermasalah.
"Pak, Pak, coba kemari sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan!"
Seruan Awan membuat Kardi langsung menghampiri sang menantu. Ia yang sedang ngopi di teras, bergegas untuk menemui sang menantu.
"Ada apa sih Wan? Ganggu orang yang sedang ngopi saja," kesal Kardi karena acara santainya diganggu oleh sang menantu.
"Coba perhatikan wajah Mega, Pak! Apa menurut Bapak ada yang berbeda?"
Kardi seketika menuruti permintaan Awan. Ia tatap wajah sang anak dengan intens. "Berbeda bagaimana sih Wan? Wajah Mega sama seperti biasanya. Ini bahkan jauh lebih berseri."
"Yang benar Pak? Coba dilihat lebih detail lagi Pak!" pinta Awan dengan sedikit terkejut. Ia tidak menyangka jika yang melihat perubahan wajah sang istri hanya dirinya seorang.
"Apa sih Wan? Berapa kalipun aku melihat wajah Mega ya sama saja. Dia masih terlihat cantik seperti biasanya."
Mega hanya bisa membuang napas kasar. Bisa-bisanya sang suami mengatainya lebih kusam dari biasanya.
"Sudah, sudah Mas, tidak perlu diributkan lagi. Toh bapak juga mengatakan kalau wajahku tidak kusam kan? Itu artinya penglihatanmu yang bermasalah."
"Tapi..."
"Sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat Mas. Aku rasa kamu kecapekan sehingga membuat penglihatanmu jadi aneh begitu."
__ADS_1
Tak ingin meributkan perkara wajah kusam lagi, Mega melenggang pergi untuk kembali masuk ke dalam kamar. Namun sebelum ia menaiki anak tangga, ia sempatkan dulu untuk ke meja dapur. Ia mengambil satu sisir pisang mas yang ada di sana.
"Loh, mau bawa kemana pisang itu, Han?" tanya Awan sedikit keheranan.
"Mau aku bawa ke kamar, Mas."
"Untuk apa?"
"Ya untuk dimakan Mas, masa untuk dipajang?"
"Kenapa tidak dimakan di dapur saja Han? Kalau di kamar kan justru bisa mengundang semut."
"Sekalian untuk persiapan kalau tiba-tiba di tengah malam aku ingin makan pisang ini, Mas. Entah mengapa aku lagi suka sekali makan pisang mas ini. Tadi dua sisir pisang yang dibawakan oleh para tetangga sudah habis dan ini tadi aku beli lagi di kios sayur."
"Kok tumben kamu mau makan buah pisang Han? Selama aku bersamamu, ini baru pertama kali aku melihatmu makan buah pisang loh."
"Aku juga tidak tahu Mas. Sepertinya aku ngidam buah pisang."
"Hahahaha ngidam buah pisang? Sudah persis seperti monyet saja, Han!"
Bibir Mega hanya mencebik kesal. Meskipun yang dikatakan oleh Awan sedikit menurunkan harga dirinya karena disamakan dengan monyet, namun ia tidak begitu peduli. Yang ia pedulikan justru buah pisang yang terlihat begitu menggoda ini. Entah mengapa ia menjadi hobi sekali memakan buah dengan warna kuning menyala ini.
***
Suara tepuk tangan terdengar menggema memenuhi angkasa. Seluruh para tamu undangan mulai masuk ke dalam area resto. Mereka menikmati beberapa hidangan yang telah tersaji.
Senyum penuh kebahagiaan tiada henti mengembang di bibir Awan dan juga Mega. Akhirnya setelah melalui proses yang sedikit panjang, mereka tiba di titik ini. Bisa membuka usaha baru yang mereka yakini akan jauh lebih sukses dari sebelumnya.
Banyaknya orang-orang yang menjadi saksi dibukanya resto baru ini seakan menjadi bukti bahwa resto ini mendapatkan respon positif dari khalayak umum. Awan dan Mega yakin jika lambat laun resto miliknya ini akan mengalami progres yang cukup signifikan.
"Bagaimana bu Mega? Apakah acara ini cukup menjadi bukti bahwa resto ini mendapatkan respon positif dari masyarakat?"
Di tengah keramaian, Mentari mencoba untuk berdiskusi bersama Mega. Sebagai seseorang yang diberikan tanggung jawab penuh atas keberhasilan resto ini, Mentari harus sering-sering meminta pendapat sang bos.
"Ramai sih, tapi ini semua kan merupakan tamu undangan. Konsumen sesungguhnya belum ada kan?" jawab Mega seakan meremehkan acara opening ini.
Mentari tersenyum tipis. Diremehkan oleh atasan memang sudah menjadi makanan sehari-hari. Jadi, ia tidak merasa berkecil hati.
__ADS_1
"Kita baru akan membuka orderan di jam satu siang nanti, Bu. Jadi nanti bisa kita lihat sama-sama bagaimana respon pasar yang sesungguhnya."
Mega hanya mengedikkan bahu seraya tersenyum remeh. "Ya sudah, kita lihat sama-sama saja nanti. Karena nantinya itu semua akan menjadi penentu nasibmu. Semoga saja kamu beruntung!"
Tak ingin berlama-lama lagi berbincang dengan Mentari, Mega langsung melenggang pergi sembari membawa satu porsi makanan. Ia memilih untuk duduk di sebuah kursi yang ada di pojokan untuk menikmati sajian yang ia pilih.
"Ckkkkkckkk.... Sombong sekali wanita bernama Mega itu. Benar-benar harus diberi pelajaran dia."
Jemari Mentari bergulir di atas layar ponsel yang ada di tangan. Melalui aplikasi Whatsapp, ia mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang yang entah siapa.
***
Waktu terus bergulir, tak terasa matahari mulai tergelincir. Suasana yang sejak tadi terasa begitu terik, kini perlahan terganti lebih redup ketika sang raja siang mulai merangkak turun dari singgasana. Membiaskan warna jingga yang terlihat merona.
"Gila, gila, gila .... Pekerjaanmu benar-benar mantap Tar. Kalau seperti ini tidak sampai enam bulan aku sudah balik modal!"
Awan tiada henti memuji hasil kerja Mentari. Bagaimana tidak memuji jika sejak open order di jam satu siang tadi, para konsumen datang silih berganti tiada henti. Sampai membuat para karyawan tidak sempat untuk beristirahat. Baru menjelang maghrib seperti ini, mereka bisa beristirahat.
"Syukurlah kalau pak Awan puas. Saya juga tidak menyangka jika respon pasar begitu antusias seperti ini. Semoga setiap hari bisa seperti ini Pak."
"Ckkkkkckkk... Kamu benar-benar hebat Tar. Sampai bagian gudang kewalahan untuk menyetok daging ayam. Pak Sigit pun juga sampai geleng-geleng kepala melihat betapa membludaknya konsumen yang datang ke resto ini," sambung Awan yang masih tiada henti memuji Mentari.
"Iiihhhh ... Apaan sih kamu Mas, kok tidak habis-habisnya memuji Mentari? Ini kan hal yang lumrah karena The Ceker's Ayam merupakan brand yang besar. Jadi apa yang perlu dibanggakan sih?"
Mega yang sejak tadi mendengar pujian sang suami kepada Mentari, hanya bisa berdecak kesal. Bagaimana tidak kesal jika sejak jam satu siang tadi Awan terus menerus memuji Mentari. Wanita itu semakin merasa tersaingi dengan kedatangan Mentari.
"Memang lumrah Han, tapi untuk resto yang baru buka tidak pernah kedatangan konsumen sebanyak ini. Pak Sigit saja sampai keheranan loh. Karena hal ini di luar ekspektasi dan prediksi," ucap Awan tetap kekeuh memuji Mentari.
"Huh kamu ini kok polos banget sih Mas. Bisa saja ini semua hanya kebetulan kan? Jadi bukan karena kerja keras Mentari."
"Aduh Honey... Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia bisnis. Ini semua karena strategi yang sudah dibuat oleh Mentari. Lihatlah, strategi Mentari membuahkan hasil mencengangkan seperti ini kan?"
Hati Mega seakan kian kesal karena sang suami masih saja memuji Mentari. Ia pun menghentakkan kaki dan memilih untuk meninggalkan sang suami yang masih terkesima dengan suasana resto miliknya ini.
Iiihhhhh .... Aku kira resto akan sepi pembeli, tapi ternyata yang ada justru sebaliknya. Kalau seperti ini bisa-bisa wanita bernama Mentari itu semakin besar kepala dan tinggi hati. Itu mas Awan juga kenapa gak berhenti memuji Mentari? Benar-benar tidak menghargai perasaanku!
.
__ADS_1
.
.