
Pov Langit
Seusai berbelanja di supermarket, aku masuk ke sebuah kedai teh yang berada di seberang jalan. Aku sengaja berjalan kaki untuk menjangkau kedai teh ini dan tetap memarkirkan mobilku di parkiran supermarket. Aku melakukan hal itu karena tidak ingin dibuat ribet dengan mencari tempat untuk memarkirkan mobil.
Di meja yang berada di sudut, aku menunggu seseorang yang sebelumnya sudah aku ajak untuk berbincang sebentar di kedai teh ini. Entah topik apa yang ingin aku bicarakan, tiba-tiba saja dalam dada menyeruak sebuah niat untuk mengajak berbincang sosok wanita itu. Tak selang lama setibaku di kedai ini, kulihat wanita yang aku tunggu bediri di depan pintu masuk. Ia terlihat celingak-celinguk yang pastinya sedang mencari keberadaanku.
"Di sini Mbak!"
Aku sedikit berteriak sembari melambaikan tangan dan Cahya mulai mengayunkan tungkai kakinya untuk Menghampiriku.
"Silakan duduk Mbak!" ucapku mempersilahkan.
Kulihat Cahya menggeser kursi dan ia mendaratkan bokongnya di sana.
"Mas Langit ingin berbincang perihal apa? Kok sepertinya ada yang penting."
Aku tergelak pelan kala tiba-tiba wanita ini langsung menanyakan maksud dan tujuanku mengajaknya berbincang-bincang. Rasanya seperti terburu-buru.
"Mbak Cahya tidak ingin pesan minuman terlebih dahulu?" tanyaku sembari membuka-buka buku menu.
"Sepertinya tidak perlu Mas. Sebentar lagi aku harus menjemput anak-anak. Terlebih rasa-rasanya kurang pantas jika aku terlalu lama berada di sini bersama lelaki yang bukan suamiku."
Jawaban Cahya sukses membuatku mengalihkan perhatianku dari buku menu ini. Sekilas kutatap mata bening wanita berhijab yang tengah duduk di hadapanku. Oh ya Tuhan, wanita ini benar-benar menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Ia bahkan menjaga semuanya agar tidak menimbulkan fitnah. Di mana yang secara tidak langsung, ia juga menjaga perasaan suaminya.
"Jadi mbak Cahya terburu-buru?"
"Bukan terburu-buru Mas. Tapi ada baiknya jika Mas Langit langsung berbicara pada pokok pembicaraan saja."
__ADS_1
Hatiku kalut. Aku yang sebelumnya ingin memberitahu Cahya tentang perilaku suaminya di luar sana, mendadak aku merasa tidak tega untuk mengatakannya. Aku merasa ini masih terlalu dini untuk memberitahu wanita ini perihal perselingkuhan suaminya. Lagipula, aku tidak memegang bukti apapun untuk memperlihatkan Awan selingkuh di hadapan Cahya.
"Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin aku bicarakan sih Mbak. Aku hanya ingin membalas kebaikan mbak Cahya karena waktu itu sudah membelikan air mineral dan juga roti. Aku merasa harus membalas kebaikan mbak Cahya itu."
Akhirnya, aku memilih untuk tidak membicarakan perihal Awan. Aku masih belum sanggup melihat kesedihan yang dirasakan oleh wanita ini jika sampai ia tahu tentang perselingkuhan itu.
"Astaghfirullah ... jadi maksud mas Langit mengajakku berbincang ini hanya untuk membalas air mineral dan roti yang saat itu aku belikan? Itu kan memang sengaja aku beli karena mas Langit sudah memperbaiki mesin mobilku."
"Ahahahaha ... Iya juga ya Mbak. Aku malah yang lupa pernah memperbaiki mesin mobil mbak Cahya." Aku tergelak lumayan keras untuk menghilangkan rasa keki yang merajai. "Oh iya, ngomong-ngomong mbak Cahya dari mana?"
"Aku dari kantor suamiku, Mas. Niat hati ingin mengantarkan makan siang tapi ternyata dia sedang meeting di luar."
Ya Allah, hatiku seakan berdenyut nyeri mendengar cerita Cahya. Ia beranggapan jika suaminya sedang meeting di luar padahal kenyataannya suaminya itu sedang bermesraan dengan wanita lain di luar sana. Bahkan mereka sempat melakukan hal menjijikkan di dalam mobil. Sungguh rasanya aku ingin mengatakannya saat ini juga tapi entah mengapa mulutku seakan dibuat bungkam oleh rasa tidak tega.
"Aku yakin suami mbak Cahya ini suami yang romantis dan sayang keluarga. Karena seorang laki-laki yang berhasil atas kerja keras yang ia lakukan biasanya yang sayang istri dan sayang keluarga. Nyatanya perusahaan suami mbak Cahya ini sekarang semakin besar kan?"
Tiba-tiba saja aku ingin tahu trik apa yang digunakan oleh Awan untuk bisa mencurangi istri dan keluarganya. Hingga terlontar pertanyaan seperti itu di hadapan Cahya.
"Sedikit banyak apa yang mas Langit katakan itu benar. Apalagi akhir-akhir ini mas Awan terlihat begitu romantis kepadaku. Dia sering membelikanku pakaian-pakaian baru dan juga perhiasan."
Oh, aku mulai paham sekarang. Ternyata Awan menggunakan trik semacam itu untuk mengelabui istrinya. Ia menunjukkan sikap yang romantis untuk menutupi perselingkuhannya. Benar-benar licik.
Pandangan mata Cahya kulihat menerawang dan berbinar terang. Bahkan wanita ini tiada henti menyunggingkan senyum di bibirnya. Ya Allah, aku semakin tidak tega untuk mengatakannya.
"Akhir-akhir ini terlihat lebih romantis? Memang sebelumnya tidak seperti itu Mbak?"
Hembusan napas kasar lirih terdengar dari bibir Cahya. Entah mengapa aku merasa jika ada sesuatu yang mengganjal dalam hati wanita itu yang coba untuk ia hempaskan.
"Hmmmmmmm... Sempat terjadi sedikit salah paham di antara kami. Contohnya perihal asisten rumah tangga. Mas Awan sebelumnya tidak mengizinkanku memakai jasa asisten rumah tangga, namun tanpa kuduga tiba-tiba dia sudah mencarikannya."
__ADS_1
"Oh seperti itu ya Mbak. Tapi apakah Mbak Cahya tidak merasa sedikit janggal?"
Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari bibirku. Seandainya aku belum bisa secara langsung memberikan bukti-bukti perselingkuhan Awan, tapi setidaknya aku sudah memberikan sebuah jalan agar Cahya tidak terlalu mempercayai kebaikan suaminya itu.
"Janggal? Janggal bagaimana maksud mas Langit?"
Aku tersenyum tipis. Setidaknya dengan membuka obrolan seperti ini bisa menjadi jalan ninja bagiku untuk aku memberitahu Cahya tentang perilaku suaminya. Meskipun tidak aku ungkapkan secara gamblang jika Awan berselingkuh, tapi setidaknya Cahya bisa memikirkan apa yang aku katakan.
"Aku pernah membaca sebuah artikel tentang trik-trik seorang lelaki yang berselingkuh. Dalam artikel itu disebutkan jika seorang suami yang tiba-tiba bersikap jauh lebih manis dari sebelumnya, bisa menjadi salah satu indikasi jika ia berselingkuh. Ia sengaja membangun image yang baik di depan si istri untuk menyembunyikan kecurangan yang sedang ia permainkan. Ia sengaja me...."
"Stop Mas!"
Aku tersentak kala tiba-tiba Cahya menghentikan ucapanku. Aku melihat raut wajah wanita ini sudah berbeda dari sebelumnya. Kali ini aku bisa menangkap ada kilatan rasa marah dan rasa tidak percaya akan apa yang aku katakan. Aku terdiam dan mencoba untuk mengetahui respon apa yang akan ditunjukkan oleh Cahya.
"Jadi mas Langit beranggapan bahwa suamiku berselingkuh karena sikapnya jauh lebih manis dan romantis dari sebelumnya? Sungguh keterlaluan kamu Mas. Apakah mas Langit paham jika menuduh seseorang tanpa bukti itu bisa disebut fitnah? Dan sekarang mas Langit memfitnah suamiku?"
Aku terhenyak. Tidak menyangka jika Cahya telah salah dalam mengartikan ucapanku.
"B-bukan, bukan seperti itu maksudku Mbak. Aku hanya ingin me..."
"Aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini Mas. Aku tidak mau mendengarkan perkataanmu yang secara tidak langsung sudah menjelek-jelekkan suamiku. Aku permisi!"
Cahya bangkit dari posisi duduknya. Ia ayunkan tungkai kakinya dengan sedikit tergesa-gesa seakan menggambarkan jika rasa kesal sudah menguasai hatinya. Punggung yang tertutup oleh hijab lebar itu perlahan menghilang dari pandanganku.
Mungkin saat ini aku masih belum bisa membuatmu percaya Ay, namun aku akan melakukan sesuatu yang aku yakin nantinya akan bermanfaat untukmu.
.
.
__ADS_1
.
Mau tahu apa yang diam-diam akan aku lakukan untuk Cahya? Tunggu episode selanjutnya ya. Mohon maaf penulis cerita sedang kurang sehat, jadi part ini hanya sedikit dan mungkin feel nya terasa kurang. -Langit-🥰