Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 61. Di Bawah Air Langit


__ADS_3


Adegan demi adegan masih berputar dalam durasi yang begitu lama. Para tamu undangan sampai dibuat melongo dengan apa yang mereka lihat. Mereka tidak menyangka jika sosok Awan yang terkenal begitu kalem dan tidak neko-neko ternyata memiliki skandal menjijikkan seperti ini. Bahkan lelaki itu tanpa merasa bersalah ataupun berdosa merekam aktivitas ranjangnya dengan sang selingkuhan.


Mereka mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling mencoba mencari tahu wanita mana yang menjadi lawan pergumulan Awan itu. Hingga pandangan mereka tertuju pada sosok Mega yang saat ini terlihat masih begitu shock. Sorot matanya tidak lepas dari layar lebar itu. Para tamu undangan pun saling berbisik, mencela perilaku Mega.


Angkasa menarik lengan tangan Awan dengan kasar. Lelaki yang sebelumnya tersungkur itu kini dalam posisi berdiri. Ia berhadapan langsung dengan sang kakak ipar.


"Ba*jingan. Berani-beraninya kamu menghianati adikku, hah? Kamu lupa dengan janji yang sudah kamu ucapkan di depanku? Kamu lupa dengan pengorbanan adikku sebelum ia memutuskan untuk menjadi istrimu? Di mana hati nuranimu, bang*sat!!!"


Angkasa mencengkeram kuat kerah kemeja yang dipakai oleh Awan. Ia bahkan tidak peduli jika saat ini mulai mengucur darah segar dari sudut bibir Awan. Hatinya seakan ikut remuk redam kala melihat adegan demi adengan yang ada di layar lebar ini. Ia yang notabene sebagai seorang laki-laki saja bisa merasakan luka yang begitu dalam lantas bagaimana dengan adiknya.


Bughhh... Bughhhh... Bughh!!!!


Lagi, tiga pukulan mendarat tepat di wajah Awan hingga darah itu semakin deras mengalir dari bibir Awan.


"Apa mau kamu hah? Apa? Jika kamu memang sudah tidak mencintai adikku, lebih baik kamu kembalikan kepada kami. Jangan sakiti hatinya seperti ini!!!"


Bughhh!!!!!


"Hentikan!!!!"


Mega yang melihat kekalapan Angkasa berteriak lantang untuk menghentikan bogeman mentah yang diberikan oleh Angkasa secara bertubi-tubi itu. Ia berjalan ke arah panggung dan mendekat ke arah Awan. Ia tarik lengan tangan Awan agar bisa terlepas dari cengkeraman Angkasa.


"Ayo lawan dong Mas. Masa kamu diam saja seperti ini? Ayo lawan!!!" titah Mega. Ia teramat gemas karena sang kekasih memilih untuk tidak melawan dan pasrah dengan keberingasan Angkasa.


"Aaahhhhh!!!" pekik Mega saat rambutnya dijambak oleh lelaki yang sedari tadi menyerang kekasihnya ini. Kulit kepalanya terasa begitu perih karena betapa kuat Angkasa menarik rambutnya.

__ADS_1


"Ohhhh... Jadi kamu wanita ja*lang yang sudah berani mengusik ketentraman rumah tangga adikku?" tanya Angkasa dengan nada retoris sembari menarik rambut Mega.


"Aaahhh lepaskan Brengsek! Sakit!!!" teriak Mega. "Akan aku laporkan kamu atas tindakan yang tidak menyenangkan!" ancamnya pula.


"Silakan laporkan, aku tidak takut. Wanita murahan, perusak rumah tangga orang memang pantas untuk aku jambak seperti ini!"


"Aaaaaahhhh!!!" pekik Mega ketika tubuhnya didorong oleh Angkasa hingga dia jatuh terjerembab di samping Awan. Pasangan mesum itu kini seperti seorang pencuri yang sedang dihakimi oleh masa.


"Ingat, urusan kita belum selesai, Bang*sat!! Aku tidak akan pernah berhenti mengusik ketenangan hidupmu sebelum adikku sembuh dari luka batinnya. Camkan itu baik-baik!"


"Aarrrgghhhhh!!!"


"Rasakan! Itu memang pantas kamu dapatkan karena kamu tidak bisa menjaga kehormatanmu sebagai seorang suami!"


Awan mengerang kesakitan ketika Angkasa menghentakkan kakinya tepat di atas benda pusaka miliknya. Seketika rasa ngilu menjalar sampai ke pucuk kepala. Perutnya pun terasa begitu mulas kala merasakan tendangan dari sang kakak ipar.


***


Pov Cahya


Aku berlari menembus gelap malam dengan cucuran kristal bening yang tiada henti mengalir deras dari bingkai mata. Bak sebuah tanggul yang jebol dihantam oleh banjir bandang, sejak tadi air mata ini mengalir deras dan tak sanggup untuk aku hentikan.


Jika di hadapan mas Awan, Mega dan juga para tamu undangan tadi aku bisa menampakkan raut wajah yang baik-baik saja namun tidak untuk saat ini. Rasa sakit itu benar-benar terasa kian menghimpit dada dan menghujam jiwa. Bak sebuah belati tajam yang menusuk jantung hingga mengalirkan darah luka tak kasat mata. Mungkin sebuah hal yang wajar karena aku adalah makhluk bernyawa yang memiliki hati dan perasaan.


Tubuh yang terasa begitu lemah, aku bawa untuk berlari menembus pekat malam ini. Langit malam yang sebelumnya nampak begitu terang, dengan kilau cahaya lembut sang rembulan dan juga kerlip bintang kini tiba-tiba gelap. Sinar mereka terhalang oleh mega yang terlihat hitam dan pekat. Dan benar saja, sesaat kemudian tetes air langit mulai jatuh di atas bumi.


Entah mengapa di setiap aku mengalami kepelikan hidup seperti ini, hujan selalu jatuh ke bumi. Seakan mewakili air mata yang tertumpah akan kepedihan hati yang mengaliri di setiap aliran darah ini. Hujan turun semakin lebat. Tetes-tetes airnya yang begitu dingin seakan membabibuta mengeroyok tubuhku, dan semakin terasa hingga ke tulang.

__ADS_1


Tubuhku kembali meluruh di bawah deras air langit. Semakin aku menjauh dari area hotel, tempat diadakannya acara ulang tahun perusahaan, justru semakin membuat bulir-bulir kristal itu semakin deras mengalir. Ada sedikit rasa tidak rela ketika aku harus mengakhiri biduk rumah tangga yang dengan susah payah sudah aku bangun selama tujuh tahun ini. Dan juga melepaskan mas Awan untuk aku berikan kepada wanita ja*lang itu.


"Astaghfirullahalazim .... Mengapa rasanya sesakit ini ya Allah..."


Aku tiada henti memukul-mukul dada untuk menghempaskan rasa sakit yang begitu terasa. Namun semua seakan percuma karena rasa sakit itu justru semakin membelenggu jiwa.


Aku yang beranggapan bahwa aku akan baik-baik saja ketika memberikan kejutan ini di depan para tamu undangan, tapi kenyataannya hatiku tidak sekuat itu. Tubuhku seperti dihujam oleh ribuan anak panah hingga melumpuhkan semua kekuatan yang ada dalam diri.


Aku menangis tergugu di bawah deras air langit yang kian melebat ini. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar tempat ini yang melihatku meringkuk di bawah deras air hujan. Rasa sakit itu benar-benar terasa begitu memeluk raga. Aku harap dengan meringkuk di bawah deras air hujan seperti ini, rasa sakit yang aku rasakan bisa hanyut dan meluruh.


"Astaghfirullahalazim .... Apakah ini semua balasan yang aku dapatkan karena dulu aku pernah menentang perintah ayah? Apakah ini balasan yang aku dapatkan karena aku meninggalkan ayah dalam keadaan tidak ridho? Ya Allah..."


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba beberapa kepingan masa lalu kembali merajai pikiranku. Kejadian yang hampir aku hilang dari dalam ingatanku kini seolah kembali hadir di dalam benakku. Tubuhku semakin terpaku kala teringat jika aku pernah menjadi anak durhaka karena menentang perintah ayahku.


"Dek... jangan seperti ini. Bangunlah, ayo kita pergi dari sini!"


Tubuhku sedikit terperanjat kala tiba-tiba terdengar suara seseorang yang merembet masuk ke dalam indera pendengaran. Suara seorang laki-laki yang sedikit familiar di telinga dan sumber suara itu berasal dari balik punggungku.


Aku sedikit berbalik punggung. Hal pertama yang ada di dalam penglihatanku adalah sepatu pantofel yang dipakai oleh lelaki ini. Netraku semakin mengedar ke bagian wajah dan aku pun hanya bisa terperangah tiada percaya kala melihat sosok siapa yang berdiri tegap di hadapanku ini.


"Kak Angkasa????!!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2