Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 80. Hasutan Istri Baru


__ADS_3


"Mas Bangun!!! Aku ingin bicara sama kamu!"


Mega berteriak lantang sembari menggoyang-goyangkan tubuh Awan yang masih bergelung di bawah selimut tebal. Setelah mendapatkan ide dari Kardi untuk mencari perawat pribadi Marni, wanita itu seakan tidak sabar untuk membicarakannya kepada sang suami. Ia sudah tidak sanggup untuk mengurusi Marni.


Teriakan Mega ini seakan menarik paksa kesadaran Awan yang sebelumnya dihanyutkan oleh lautan mimpi. Ia menggeser tubuhnya untuk bangun dari lelap tidurnya dan terduduk di atas ranjang.


"Ada apa sih Han? Ini masih pagi kan? Mengapa kamu sudah berteriak-teriak seperti ini?"


Awan hanya menanggapi teriakan istrinya ini dengan malas. Rasa kantuk sungguh masih teramat menguasai raga dan ia masih ingin kembali melanjutkan rajutan mimpinya.


"Masih pagi, masih pagi. Enak saja masih pagi. Lihat tuh Mas, mataharinya sudah tinggi!"


Awan menoleh ke arah jendela kamar di mana sudah tidak ada lagi tirai yang menjadi penghalang. Benar saja, anak-anak sinar matahari sudah masuk ke dalam kamar melalui jendela.


"Oh aku kira masih pagi," ucap Awan sembari mengucek-ucek matanya. "Tolong bikinkan aku kopi untuk mengusir rasa kantukku ini Han."


"Ckkkcckkk... Aku membangunkanmu itu bukan untuk ngopi, Mas. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


"Hal penting apa itu Han? Apa tidak kita bicarakan setelah aku ngopi? Jadi aku bisa lebih fokus?"


"Iissshhhh ... Tidak bisa Mas. Ini harus segera diselesaikan!"


Mata Awan yang sebelumnya belum terbuka penuh, kini seketika membelalak. Ia merasa, memang ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Mega.


"Memang hal penting apa sih Han?"


Mega menghela napas dalam dan ia hembuskan perlahan. Ia harus ekstra hati-hati untuk menyampaikan apa yang menjadi maksud dan tujuannya ini. Bagaimanapun juga, Awan harus menuruti apa yang menjadi keinginannya.


"Aku sudah tidak bisa untuk mengurus ibumu lagi Mas. Aku ingin kamu mencarikan perawat pribadi untuk ibumu."

__ADS_1


"Apa Han? Kamu tidak sanggup lagi untuk mengurus ibuku?" tanya Awan dengan ekspresi terkejut. "Memang apa alasannya Han?"


"Ibu kamu itu semakin hari semakin jorok Mas. Kamu tahu? Tadi pipis ibumu berceceran kemana-mana sampai kamar ibumu itu bau pesing. Aku sungguh jijik untuk membersihkannya."


Awan sedikit mengernyitkan dahi. "Bukankah itu hal yang wajar Han? Bukankah selama ini kamu juga sering membersihkan kotoran-kotoran Ibu?"


"Iiihhhh ... Siapa juga yang sering membersihkan kotoran-kotoran ibumu Mas? Kamu lupa jika semua urusan kotoran Ibu, kamu yang membersihkan? Sedangkan aku hanya untuk perkara menyediakan makan?"


Awan seperti disadarkan jika selama hidup bersama Mega, dia sendirilah yang mengurusi kotoran-kotoran sang ibu. Mulai dari memandikan, menceboki, mengganti diapers dan mencuci pakaian sang ibu. Sedangkan Mega hanya bertugas untuk menyediakan makanan saja.


"Jika memang aku, lantas apa yang membuatmu kesal Han? Bukankah kamu tidak harus membersihkan kotoran-kotoran Ibu karena itu semua menjadi tugasku?"


"Itu benar Mas, tapi apa kamu tidak sadar jika dengan keberadaan Ibu yang membuat performa kerjamu semakin menurun? Kamu jadi sering telat bertemu dengan rekan bisnis hanya karena mengurusi Ibu terlebih dahulu. Coba ingat, sudah berapa banyak klien yang tidak jadi bekerja sama denganmu hanya karena kamu telat?"


Mega berupaya penuh membuka ingatan Awan tentang semua yang sudah terlewati. Terlebih perkara gagalnya Awan mendapatkan klien baru untuk mengembangkan bisnisnya hanya karena terlambat. Dengan seperti ini Awan pasti akan menyetujui keinginannya untuk mencari perawat pribadi.


Awan kembali terdiam dan berpikir. Ia pikirkan masak-masak apa yang diucapkan oleh istrinya ini.


Awan larut dalam pikirannya sendiri perihal perawat yang diusulkan oleh Mega namun sesaat kemudian ia teringat akan satu hal.


"Tapi jika kita memakai jasa perawat, bagaimana bisa aku membayar gaji perawat itu Han? Kamu tahu sendiri kan kalau keuangan perusahaan sedang guncang?"


Kali ini jawaban Awan sukses membuat Mega tersadar bahwa saat ini kondisi keuangan perusahaan Awan sedang tidak baik-baik saja. Pastinya akan lebih banyak mengeluarkan biaya hidup jika sampai ada seorang perawat yang ia sewa.


Benar juga apa yang dikatakan oleh Mas Awan. Dalam keadaan sulit seperti ini sayang sekali jika harus ada uang yang keluar rutin tiap bulan untuk menggaji perawat. Lebih baik uangnya aku gunakan untuk kebutuhan calon anakku.


Mega semakin larut dalam pikirannya sendiri. Dalam diamnya, wanita itu mencoba untuk mencari jalan keluar yang jauh lebih efektif.


"Aha! Aku punya jalan keluar, Mas!" pekik Mega ketika dalam otaknya muncul sebuah ide yang cukup cemerlang.


"Jalan keluar seperti apa itu Han?"

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya Ibu kamu taruh di panti jompo saja Mas? Di panti jompo nanti kamu tidak perlu lagi memikirkan keadaan ibu karena di sana sudah ada yang mengurus. Dengan begitu kamu bisa lebih tenang dalam bekerja. Tidak lagi diganggu dengan keberadaan ibu."


"Tapi Han, apa itu tidak keterlaluan?" tanya Awan sedikit ragu. "Aku ini masih punya kewajiban untuk mengurusi ibuku, Han. Apa tidak berdosa jika aku menempatkan ibu di panti jompo?"


"Alaaaahhhh, lupakan dulu tentang dosa Mas, yang terpenting performamu dalam bekerja. Jangan sampai ada lagi yang menjadi penghambatmu dalam bekerja."


"Tapi Han.... "


"Sudahlah Mas, percaya padaku. Lagipula kamu tidak akan berdosa dengan menempatkan ibu di panti jompo. Banyak kok para pengusaha ataupun para pembisnis yang menempatkan orang tua mereka ke panti jompo."


Mega ikut mendaratkan bokongnya di tepian ranjang. Ia dekati suaminya ini agar bisa semakin yakin untuk mengabulkan permintaannya.


"Lagipula saat ini aku tengah hamil Mas. Apa kamu mau jika aku stress karena keberadaan ibumu dan itu semua akan berpengaruh pada calon anak kita?"


Awan menggelengkan kepala. Bagaimanapun juga ia tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan calon anaknya ini.


"Tentu saja aku tidak mau Han. Aku ingin anak kita ini lahir dengan sehat dan selamat tanpa kurang satu apapun."


"Maka dari itu Mas, turuti kemauanku ini. Aku memberikan solusi pastinya tidak akan pernah merugikanmu," ucap Mega sembari mengusap-usap lengan tangan Awan. "Jadi, kamu setuju kan Mas kalau kita bawa ibu ke panti jompo?" tanya Mega sekali lagi untuk memastikan.


Seperti mengandung sebuah mantra, Awan menganggukkan kepala dan menurut saja dengan apa yang menjadi kemauan Mega. Ia merasa bukanlah hal buruk menitipkan sang ibu di panti jompo. Toh di sana, sang ibu juga akan dirawat dengan baik oleh pengurus panti. Itu artinya dia tidak menelantarkan Marni.


"Baiklah Han, aku setuju. Lalu, kapan kita akan membawa ibu ke panti jompo?"


"Kalau bisa hari ini juga Mas. Lebih cepat lebih baik!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2