Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 41. Berpura-Pura


__ADS_3


"Apa Ay? Kamu minta semua aset rumah, tanah, kendaraan dipindah namakan atas namamu? Kenapa tiba-tiba seperti ini Ay?"


Melalui sambungan telepon, Awan tiada henti mengurut pelipisnya tatkala dengan tiba-tiba Cahya meminta sesuatu yang terkesan terburu-buru. Terlebih ini semua perihal pengalihan nama aset-aset yang ia miliki. Lebih tepatnya harta gono-goni yang ia dapatkan setelah menikahi sang istri.


Mega yang mendengar permintaan istri sah dari sang kekasih melalui mode loudspeaker juga hanya bisa mengernyitkan dahi karena tiba-tiba wanita itu mengangkat pembicaraan perihal pengalihan nama aset-aset milik Awan.


Mega mencoba untuk ikut menimpali, namun buru-buru dicegah oleh Awan. Awan seakan tidak ingin jika sampai keberadaan Mega diketahui oleh sang istri. Mega hanya bisa menuruti permintaan Awan dengan terpaksa meskipun rasa-rasanya ia ingin protes.


"Tidak tiba-tiba Mas. Sudah sejak lama aku ingin semua aset rumah, tanah dan kendaraan menjadi atas namaku. Maka dari itu, tepat di hari ulang tahunku ini aku sengaja memintanya. Boleh ya Mas?"


"Tapi Ay, ini seperti serba mendadak. Apa tidak bisa kita bicarakan ketika aku tiba di rumah? Tidak melalui telepon seperti ini?"


"Anggap saja ini sebagai penebus dosa karena kamu telah mengingkari janjimu, Mas. Kamu yang katanya akan pulang ketika hari ulang tahunku, tapi ternyata tidak kunjung datang juga."


Awan membuang napas kasar. Sejatinya, sedari tadi ia sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah namun dihalang-halangi oleh Mega. Bahkan Mega menggodanya dengan lekuk-lekuk tubuh yang serasa begitu menggairahkan. Alhasil, niat untuk pulang kalah dengan na*fsu yang bergejolak dalam dada.


"Baiklah Ay, aku akan menuruti permintaanmu. Akan aku pindah namakan semua aset yang aku miliki menjadi atas namamu. Tapi tidak dengan perusahaan."


"Tidak masalah Mas. Lagipula aku juga tidak terlalu bisa meng-handle perusahaan milikmu. Jadi aku tidak menginginkannya."


"Oke, nanti setelah pulang akan aku urus semua. Tapi mungkin baru besok siang aku tiba di rumah. Karena aku masih ada pekerjaan di Semarang yang harus aku selesaikan. Bagaimana?"


"Emmmmm .... Kamu tidak perlu terburu-buru untuk pulang, Mas. Selesaikan pekerjaanmu dengan baik. Katapun besok kamu tidak pulang juga tidak masalah. Kamu tinggal menghubungi pengacara kita saja untuk mengurus semua pengalihan nama aset-aset seperti yang aku mau."


"Baiklah, aku akan menghubungi pak Pras untuk mengurus semua. Besok kamu bisa langsung bertemu dengan beliau."


"Baik Mas, besok aku akan bertemu dengan pak Pras. Oh iya, apa kamu tidak mau memberikan ucapan selamat ulang tahun untukku?"


Awan tersenyum kikuk. Ia garuk ujung hidungnya yang tiada gatal. Ia sampai lupa belum mengucapkan selamat ulang tahun untuk istrinya.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun istriku. Semoga kamu selalu bahagia. Sekali lagi aku minta maaf karena pekerjaan, membuatku tidak bisa merayakannya bersamamu."


"Tidak masalah Mas. Dengan permintaanku yang sudah kamu penuhi, sudah cukup bagiku. Kamu hati-hati ya Mas di Semarang. Ingat, tidak perlu buru-buru pulang jika pekerjaanmu memang belum selesai. Aku akan baik-baik saja."


"Oke Ay, terima kasih banyak untuk pengertianmu."


"Ya sudah, aku tutup ya Mas. Aku mencintaimu!"


"I love you too!"


Awan menutup teleponnya ketika sudah terdengar nada tut, tut, tut dari seberang. Lelaki itu kembali mengusap wajahnya kasar, permintaan Cahya yang tiba-tiba ini masih menyisakan sebuah tanya dalam dada.


"Kamu tidak salah memberikan semua aset yang kamu miliki untuk istrimu Mas?"


Mega nampak tidak terima dengan permintaan istri sah kekasihnya ini. Sama seperti Awan, wanita itu juga sedikit curiga karena tiba-tiba Cahya meminta hal itu.


"Sudahlah Han, tidak masalah katapun Cahya meminta semuanya. Semua itu tidak terlalu berharga daripada dia meminta perusahaan."


Awan nampak berpikir sejenak. "Mungkin kisaran tiga milyar, Han!"


Mega terkejut setengah mati dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. "Gila, tiga milyar kamu anggap tidak berharga? Kamu bercanda Mas?"


"Sudahlah Han, kamu tidak perlu memikirkan akan hal itu. Itu semua tidak ada artinya daripada ia mengetahui hubungan kita. Aku akan memenuhi semua permintaan Aya agar ia tidak mencurigai pergerakanku."


"Tapi itu semua nilainya jauh melebihi dari apa yang sudah kamu berikan kepadaku Mas. Aku tidak ikhlas Mas jika apa yang aku dapatkan jauh di bawah istri sah mu."


Awan tersenyum simpul sembari membelai pipi kekasih gelapnya ini dengan lembut. "Kamu tenang saja Han. Rumah, mobi, berlian yang aku berikan untukmu baru hal kecil yang aku berikan. Nanti seiring berjalannya waktu, akan aku berikan semua yang kamu mau."


"Benarkah seperti itu Mas?"


"Hehem ... Asal...."

__ADS_1


"Asal apa Mas?"


"Asal kamu bisa selalu memuaskanku di atas ranjang. Bagaimana? Apakah kamu sanggup?"


Mega terkekeh lirih. Perkara ranjang, hanyalah sesuatu yang mudah bagi wanita itu. "Itu sudah pasti Mas. Aku pasti akan selalu memuaskanmu!"


Senyum seringai terbit di bibir Awan. Tangan lelaki itu mulai kembali menjelajahi bukit kembar milik wanita yang masih tak berbalut sehelai benang pun ini. Sentuhannya secara otomatis membuat tubuh Mega meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.


"Kalau begitu, ayo kita ulangi sekali lagi!" ucap Awan sembari menin*dih tubuh Mega di bawah tubuhnya.


***


Di tempat yang berbeda, air mata Cahya kembali mengalir sesaat setelah ia akhiri obrolannya dengan Awan melalui telepon. Dadanya seakan ditindih oleh bongkahan batu besar, terasa begitu sesak yang membuatnya sulit untuk bernapas.


Pura-pura tidak mengetahui kecurangan sang suami padahal sejatinya ia telah mengetahui semua, sungguh membuatnya merasakan sakit yang tiada terkira. Hati bergejolak antara ingin melawan atau membiarkan. Ingin rasanya detik ini juga ia menyusul sang suami untuk memergoki secara langsung perselingkuhan itu. Namun ternyata akal sehatnya lebih mendominasi, sehingga ia masih bisa berpikir secara jernih.


Cahya meraup udara dalam-dalam. Mencoba mengisi rongga-rongga dadanya dengan sisa oksigen yang masih berada di ruangan ini. Perlahan, ia usap air matanya yang sedari tadi mengalir.


"Aku harus bermain cantik. Aku akan berpura-pura menjadi wanita bo*doh yang tidak pernah tahu perselingkuhan suamiku sembari aku susun rencana untuk mengakhiri ini semua."


Cahya beranjak dari posisi duduknya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk memasuki kamar pribadinya. Ia kembali meraih sebuah map yang berisikan tentang beberapa sertifikat aset-aset milik Awan.


Sudut bibir Cahya terangkat ke atas. Ia tatap lekat surat-surat berharga ini.


"Permainan baru akan di mulai Mas. Kamu keliru karena mencoba untuk melawanku. Lihat saja, akan ada kejutan apa yang nantinya akan aku berikan kepadamu. Sebelumnya kamu tidak memiliki harta yang melimpah seperti ini. Aku pastikan kamu akan kembali menjadi Awan yang tidak memiliki apa-apa lagi."


Rasa sakit yang dirasakan oleh Cahya, kini seakan tertutup oleh rasa kecewa yang mendalam kepada sang suami. Kilatan amarah dan dendam seakan terpancar jelas di raut wajah wanita yang kini tepat berusia dua puluh delapan tahun itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2