
"Pokoknya aku mau kamu tetap di sini Mas. Aku tidak mau kamu pergi. Aku takut!"
Di atas ranjang, Mega masih memeluk erat tubuh Awan. Wanita itu tak ingin melepaskan pelukan Awan karena rasa takut itu masih membelenggu hati. Banyak kejadian-kejadian aneh yang ia dapati semalam yang sampai saat ini pun masih belum ia temui jawabannya.
Tiba-tiba di dalam tas ada kumpulan cacing yang entah berasal dari mana. Tiba-tiba ia melihat dua sosok kuntilanak yang membuatnya shock sampai pingsan. Dan terakhir, ketika ia terbangun dari pingsannya, ia sudah berada di atas ranjang. Entah siapa yang memindahkannya. Hal itulah yang membuat Mega meminta Awan untuk menemaninya dan ketika lelaki itu datang, tidak ia biarkan Awan sejengkal pun jauh dari dirinya. Bahkan ketika Awan buang air di kamar mandi pun diikuti oleh Mega.
"Apa lagi yang kamu takutkan Honey? Sejak semalam aku memelukmu seperti ini. Apa kamu tidak lelah?"
Mega menggelengkan kepala. "Tidak Mas. Pokoknya sebelum kamu pasang CCTV di rumah ini, aku tidak mau kamu pulang ke rumah istrimu. Kamu harus tetap menemaniku di sini."
"Mana bisa begitu Han?" Awan membuang napasnya sedikit kasar. "Aku punya pekerjaan di kota dan tidak mungkin jika harus aku tinggalkan begitu saja."
"Pokoknya tidak Mas. Kalau kamu mau kembali ke kota, kamu harus mengajakku juga."
"Lalu, jika kamu ikut ke kota, bagaimana dengan rumah ini Han? Masa kamu tinggalkan begitu saja?"
Mega mengedikkan bahu. "Itu bukan urusanku Mas. Kamu harus bisa mencari jalan keluarnya. Pokoknya aku tidak mau tinggal sendirian di sini. Aku masih trauma dengan teror demi teror yang datang padaku, Mas. Paham tidak sih kamu itu?"
Bibir Mega nampak maju sepuluh centimeter. Pipinya juga menggembung layaknya ikan buntal. Ia teramat kesal karena Awan tidak paham-paham juga dengan apa yang menjadi kemauannya.
Awan semakin frustrasi karena seakan sulit untuk mencari jalan keluar. "Lalu aku harus bagaimana Han? Sumpah, saat ini aku bingung sekali."
Meskipun wajahnya terlihat begitu kesal, namun wanita itu juga membantu Awan untuk mencari jalan keluar. Akhirnya, seutas senyum simpul terbit di bibirnya.
"Kalau tidak, kamu bisa mencarikan pembantu untukku, Mas. Sehingga aku tidak kesepian dan ketakutan di rumah ini. Bagaimana?"
"Pembantu?" tanya Awan menegaskan.
"Hehem. Lumayan bukan bisa menemaniku di sini?"
Awan terlihat sejenak berpikir. "Ah begini saja Han. Daripada mencari pembantu, bagaimana kalau kamu minta ibu dan juga bapakmu untuk datang kemari? Jadi mereka bisa menemanimu. Bagaimana, sama saja bukan?"
Giliran Mega yang menimbang-nimbang usulan dari Awan. "Aku setuju dengan usulanmu itu Mas. Tapi ada syaratnya."
"Syarat? Syarat apa lagi Han? Perasaan kamu sering sekali mengajukan persyaratan kepadaku."
"Ya itu sih terserah kamu bagaimana mengartikannya. Tapi kalau kamu benar-benar cinta sama aku, pasti kamu akan mengabulkan semua permintaanku kan Mas?"
"Haaahhh....," helaan napas kasar keluar dari romgga hidung Awan. "Baiklah, katakan persyaratan apa yang kamu ajukan."
"Bapak dan ibuku ke sini tapi kamu sudah harus mulai merenovasi rumahku yang ada di kampung? Bagaimana? Persyaratan yang cukup mudah bukan?"
"Tapi Han, belum ada satu bulan aku baru membelikanmu rumah, mobil, dan berlian. Masa di bulan yang sama juga kamu memintaku untuk merenovasi rumahmu? Ini semua terlalu terburu-buru Han?"
Awan sampai tak habis pikir bagaimana bisa Mega meminta sesuatu secara beruntun tanpa jeda seperti ini. Renovasi rumah bukanlah sesuatu yang murah dan pastinya akan memerlukan banyak biaya. Lelaki itu khawatir jika sampai menghabiskan dana perusahaan. Meskipun ia masih ada tabungan, namun itu semua untuk berjaga-jaga.
Mega tersenyum manis. Melihat respon Awan yang seperti ini, ia tahu apa yang harus dilakukan. Wanita itu mulai membelai tongkat ajaib milik Awan dan memberikan sentuhan-sentuhan sensual di sana. Ia yakin dengan cara seperti ini Awan pasti akan menuruti semua keinginannya.
"Itu semua terserah padamu Mas. Kamu tinggal memutuskan mau atau tidak. Tapi kalau kamu benar cinta sama aku, pasti kamu akan melakukan semua yang aku mau."
Awan tak lagi bisa berkutik kala mendapatkan rang*sangan dari Mega. Lelaki itu sampai merem melek saat merasakan sensasi nikmat memenuhi laju aliran darahnya.
"Aaaarrggghhh ... Kalau seperti ini aku tidak bisa untuk bilang tidak Han. Baiklah, akan aku lakukan untukmu!"
Tanpa banyak bicara, Awan mendorong tubuh Mega hingga wanita itu dalam posisi terlentang di atas ranjang. Ia buka pakaian yang membungkus tubuh Mega dengan kasar hingga membuat wanita itu tak terlapisi sehelai benang pun. Dan, keduanya mulai larut dalam gelora hasrat yang membara.
__ADS_1
****
"Oh Honey.... Aku mau sampai Han! Aku....!!!"
Brakkkk... Brakkk....Brakkkk!!!!
"Buka pintunya!!! Buka!!!"
Brak... Brakkkk... Brakkkkk...
Awan yang baru akan mencapai puncak kenikmatan, seketika buyar semua saat ia mendengar suara pintu depan yang didobrak. Saking kerasnya dobrakan pintu itu sampai-sampai membuat Awan dan Mega terkejut setengah mati. Persis seorang debt collector yang ingin menagih utang nasabahnya.
"Siapa sih Han? Mengganggu saja! Apa mereka tidak tahu jika sebentar lagi aku mencapai pelepasan? Kita biarkan saja ya? Tanggung ini!"
Mega menggelengkan kepala. "Lebih baik kamu buka dulu Mas. Kamu tahu sendiri kan, dobrakan pintu itu benar-benar memekak telinga?"
"Tapi, Han?"
"Sudah, buka dulu sana pintunya!"
Dengan rasa dongkol Awan turun dari tubuh Mega. Ia kenakan kembali pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Gegas lelaki itu menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
Ceklekkkk...
Pintu terbuka dan...
Hap!!!!
Salah seorang pemuda yang sebelumnya diperintahkan untuk menggerebek rumah Mega ini dengan gerak cepat langsung menangkap dan mengunci pergerakan tubuh Awan. Ia tidak ingin jika sampai lelaki ini tiba-tiba melarikan diri.
"Nah, ini dia pasangan kumpul kebonya. Ayo katakan di mana wanita yang menjadi pasangan kumpul kebomu itu!"
"Eh, bukan Mas, saya bukan pasangan kumpul kebo. Saya di sini bersama istri saya!" kilah Awan.
"Alaaahhh.... Masih ngeles saja kamu. Jika benar kamu ini bukan pasangan kumpul kebo, sekarang coba tunjukkan buku nikahmu!"
Awan terhenyak. Ucapannya justru hanya menjadi buah simalakama. Mau terus berbohong tapi tidak punya bukti, dan jika jujur ia takut diamuk warga ataupun diarak keliling kampung."
"Eh .... Tapi...."
"Wooiiii.... Itu pasangan kumpul kebonya. Ayo tangkap dia!" teriak salah seorang pemuda yang melihat keberadaan Mega di lantai dua. Mendapatkan perintah seperti itu, sebagian warga mencoba untuk menangkap Mega.
Mega kebingungan mencari tempat sembunyi. Akhirnya ia pasrah ditangkap oleh beberapa warga ini. Dan kini pasangan mesum ini di sidang oleh warga.
"Jadi, mana buktinya jika kalian sudah menikah? Kami semua minta diperlihatkan buku nikah, KTP dan juga KK kalian!" ucap kepala pemuda itu.
Pikiran Awan seakan buntu. Ia tidak bisa berbuat banyak karena memang, dia tidak memiliki bukti apapun untuk ia tunjukkan bahwa ia bukanlah pasangan sah. Awan hanya bisa terdiam dan membisu.
"Bagaimana? Kalian tidak bisa membuktikan bukan? Jadi, sekarang waktunya kami mengarak kamu keliling kampung sembari ditelanjangi!"
Awan semakin terhenyak. Jika sampai ia diarak keliling kampung, pasti akan menjadi berita viral dan itu semua akan berdampak buruk bagi kelangsungan perusahaannya.
"Mas, saya mohon jangan arak kami. Kami mengaku bersalah dan tidak akan mengulanginya lagi. Kita damai saja ya Mas!" pinta Awan dengan memelas.
"Yaaahhhh ... Cemen sekali kamu. Berani selingkuh tapi tidak berani mengambil resiko. Dasar pecundang!" timpal seorang pemuda yang tubuhnya dipenuhi oleh tato.
"Saya benar-benar minta maaf Mas. Kita damai saja. Saya akan memberikan uang berapapun asalkan kejadian ini tidak viral dan selesai sampai di sini."
__ADS_1
Orang-orang yang menjadi suruhan Cahya itu tersenyum lebar. Akhirnya, Awan masuk ke dalam perangkapnya.
"Berapa uang damai yang kamu tawarkan?" tanya pemuda itu.
Awan nampak berpikir sejenak. "Sepuluh juta. Bagaimana kalau saya berikan uang sepuluh juta sebagai uang damai, Mas?"
"Hahaha, sepuluh juta? Kamu pikir kami bisa disuap dengan hanya nominal segitu? Jangan bermimpi kamu."
"Tiga puluh juta?"
Pemuda itu menggelengkan kepala.
"Lima puluh juta?"
Pemuda itu juga masih menggelengkan kepala.
"Lalu berapa Mas? Berapa yang harus aku bayar untuk bisa menjadi uang damai?" tanya Awan sedikit frustrasi.
"Kami minta dua ratus juta sebagai uang damai!" ucap pemuda itu. Persis seperti yang diperintahkan oleh Cahya.
"Apa? Dua ratus juta? Ini namanya pemerasan Mas. Aku tidak mau!" tolak Awan. Ia tidak rela jika sampai uang dua ratus juta yang merupakan satu-satunya tabungan yang ia miliki harus diberikan kepada kumpulan orang kampung ini.
"Ya itu sih terserah kamu. Tapi jika kamu tidak setuju, sudah dapat dipastikan jika kalian akan diarak keliling kampung sambil ditelanjangi. Dan yang pasti akan kami viralkan," ancam pemuda itu. "Kamu seorang pembisnis kan? Bisa kamu bayangkan bagaimana reputasimu di hadapan relasi jika sampai berita ini viral!" sambungnya pula yang membuat Awan semakin gusar.
"Mas, sudah berikan saja apa yang menjadi kemauan mereka. Daripada kita viral karena hal ini," bisik Mega.
"Tapi dua ratus juta itu banyak sekali, Han!"
"Kamu masih punya perusahaan kan? Itu saja yang kamu pertahankan. Daripada perusahaanmu hancur karena kejadian ini."
Awan menimbang-nimbang ucapan Mega. Memang ada benarnya semua yang diucapkan oleh Mega. Daripada ia harus kehilangan perusahaan, lebih baik ia kehilangan dua ratus juta. Ia yakin masih bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah melalui perusahaannya.
"Baiklah, akan saya tranfer senilai dua ratus juta. Saya minta nomor rekening salah satu dari kalian."
Ketua karang taruna itu bersorak dalam hati. "Pakai nomor rekeningku saja!"
"Tunggu sebentar, biar saya ambi ponsel milik saya terlebih dahulu untuk mentransfer."
Awan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel miliknya. Ia mengacak rambutnya kasar karena hal semacam ini terjadi di luar dugaannya. Langkah kakinya terasa begitu lemas, karena dengan terpaksa ia harus merelakan uang dua ratus juta untuk hal yang sia-sia seperti ini.
Sembari menunggu Awan mentransfer, ketua pemuda itu diam-diam mengirimkan pesan yang mungkin sudah ditunggu-tunggu. Kepada siapa lagi jika bukan kepada Cahya.
Rencana berjalan lancar Bu. Sebentar lagi target akan mentransfer sejumlah uang seperti yang Anda inginkan.
Bagus. Jaga selalu rahasia ini. Jangan sampai bocor bahwa aku yang ada di balik ini semua.
Siapp Bu!!!
.
.
.
Yuhuuuuu..... waktunya pengumuman pembaca yang beruntung... 🤗🤗🤗
setelah membaca komentar kakak-kakak di bab sebelumnya, maka jawaban yang mendekati benar adalah punya kak... Kecupannya selalu menjadi candu.
__ADS_1
Selamat ya kak... InshaAllah pulsa akan dikirim di hari Ahad.. ditunggu yah... 😘😘😘
untuk pembaca yang lain, InshaAllah nanti akan ada kuis lagi... hehehehe semoga nanti beruntung ya Kak... 🤗🤗