Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 42. Bertemu Pengacara


__ADS_3


Cahya mematutkan tubuhnya di depan cermin sembari menatap lekat bayangan yang terpantul di sana. Kedua matanya masih nampak sembab, setelah semalam ia larut dalam tangis. Tangis dan lara yang ia tanggung sendirian, tak mengizinkan seorang pun untuk mengetahuinya. Ia terpaksa harus memakai make-up sedikit tebal untuk menyamarkan sisa-sisa tangis yang mungkin masih nampak jelas di wajah.


"Terkadang, jatuh cinta membuat manusia bertindak bo*doh. Tapi aku bersyukur karena kebo*dohan mas Awan yang sedang dimabuk cinta, ia sampai tidak curiga ketika aku meminta pengalihan nama aset-aset miliknya."


Cahya bermonolog lirih seraya mengoleskan lipstick di bibirnya. Meskipun luka hati itu masih menganga lebar dan terasa begitu perih, namun ia berupaya untuk mengabaikannya. Bagaimanapun hidup harus tetap berjalan ke depan, tidak mungkin untuk kembali ke belakang.


"Aku tidak peduli seberapa besar badai itu menghantam bahtera rumah tanggaku. Aku tidak peduli bagaimana kondisi hatiku yang remuk redam yang berserakan di dasar jiwa. Aku tidak peduli bagaimana aku harus tertatih untuk memulihkan luka ini sendirian. Dan aku tidak peduli apa penghianatan apa yang telah mas Awan lakukan di belakangku. Saat ini, hak anak-anak lah yang harus aku perjuangkan. Aku tidak mau apa yang menjadi hak anak-anakku direbut oleh wanita itu."


Cahya mengambil tas yang di dalamnya berisikan surat-surat berharga milik Awan. Pagi ini, ia sudah siap untuk bertemu dengan Prasetyo, yang merupakan pengacara keluarga.


"Kamu boleh merebut mas Awan dariku, duhai wanita ja*lang. Tapi tidak untuk hak-hak kedua putriku."


Cahya melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar. Wanita itu menuju ruang makan, di mana di sana terlihat kedua putrinya yang sudah menikmati sarapan paginya. Sang ibu mertua pun juga terlihat duduk di salah satu kursi di sana.


"Selamat pagi putri-putri Bunda!"


"Selamat pagi Bunda." Alina menatap lekat bundanya ini. "Bunda kok sudah rapi, memang mau ke mana?" sambingnya pula.


"Nak, pagi ini kalian pergi ke sekolah diantar pak Kasim dan bik Asih dulu ya. Bunda ada urusan sebentar."


"Tumben Ay, pagi -pagi seperti ini kamu sudah mau pergi. Memang mau ke mana Ay?" tanya Marni pula yang sedikit ingin tahu.


"Mau keluar sebentar Bu. Aku ada janji dengan pak Pras."


Dahi Marni sedikit berkerut. "Pak Pras? Bukankah itu pengacara kita?"


"Iya Bu."


"Kok seperti mendadak sekali kamu ingin bertemu dengan pak Pras, Ay? Memang ada masalah apa? Apa kamu tidak menunggu Awan pulang terlebih dahulu? Nanti kalau Awan pulang dari Semarang tidak ada yang menyambutnya Ay."


Cahya tergelak pelan. Sebisa mungkin ia harus menguasai emosinya. Itu semua agar sang mertua tidak curiga bahwa sebenarnya telah terjadi prahara di dalam rumah tangganya.


"Tidak perlu disambut Bu. Karena hari ini mas Awan juga belum tentu tiba di rumah. Semalam dia mengatakan jika pekerjaan di Semarang begitu banyak sehingga ia belum bisa pulang."


Pandangan Cahya kembali fokus ke arah putri-putrinya. Ia rapikan kerudung kecil yang membalut kepala mereka.


"Nah, putri Bunda yang cantik-cantik ini sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Belajar yang rajin ya Sayang."


"Iya Bunda."


Malika dan Alina turun dari kursi makan. Mereka bergantian mencium punggung tangan Cahya.


"Bik Asih, tolong antar anak-anak ya. Kalau sudah selesai mengantar langusng pulang saja karena Ibu kasihan di rumah sendirian."

__ADS_1


Asih mengangguk patuh. "Baik Bu. Apa mobilnya dipakai Bu Cahya saja, biar saya dan pak Kasim mengantar anak-anak menggunakan jasa taksi online?"


"Tidak perlu Bik. Mobil silakan dibawa. Biar aku yang naik taksi online."


"Baik Bu."


Asih dan kedua putri Cahya melangkahkan kaki menuju teras. Sedangkan Cahya masih berada di ruang makan bersama sang mertua. Cahya berjongkok di hadapan Marni dan tanpa basa-basi ia peluk erat tubuh wanita paruh baya ini.


Cahya hanya terdiam dan membisu kala mendekap erat tubuh Marni. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Ingin rasanya ia membagi derita dan lara ini kepada sang ibu mertua namun lidah wanita itu seakan begitu kelu. Ia tidak sanggup untuk menceritakan semua yang mungkin nantinya juga akan melukai hati Marni.


"Ay, ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Marni sembari mengusap lembut punggung menantunya ini.


Aku tidak pernah tahu sampai kapan aku bisa bertahan, Bu. Apapun yang akan terjadi nanti, percayalah bahwa aku begitu mencintai Ibu seperti Ibu kandungku sendiri. Dan ketika aku sudah tidak lagi berada di sisi Ibu, itu artinya tugasku untuk mengurus Ibu sudah selesai.


Cahya menggeleng pelan. Ia mungkin bisa menanggung semua kehancuran hidup yang ia rasakan sendirian namun tidak dengan air matanya. Kristal bening itu tanpa terasa meluncur bebas dari pelupuk mata.


"Tidak Bu, aku hanya ingin memeluk Ibu seperti ini saja."


"Ay, ada apa? Cerita sama Ibu!" bujuk Marni agar menantunya ini mau untuk berbagi cerita.


Cahya mengurai pelukannya dari tubuh Marni. Ia raih telapak tangan sang mertua dan ia kecup punggung tangannya.


"Tidak apa-apa Bu. Terima kasih, karena kehadiran Ibu lah yang ternyata menjadi sebuah jalan bagiku untuk mengumpulkan bekal untuk akhiratku nanti. Aku minta maaf jika selama aku mengurus Ibu, aku masih kurang sabar atau mungkin ada sikapku yang kurang berkenan di hati Ibu."


Mendengar kata demi kata yang terucap dari lisan sang menantu, membuat dada Marni juga seakan didera oleh perasaan haru. Ia menggeleng-gelengkan kepala, sebagai isyarat jika sedikitpun Cahya tidak pernah melukai hatinya.


Cahya tersenyum simpul. Ia peluk kembali tubuh mertuanya ini. "Terima kasih Bu, Terima kasih. Sekali lagi aku minta maaf jika selama ini aku terlalu banyak salah kepada Ibu."


***


Di kantor pengacara keluarga, Cahya duduk berhadapan dengan Prasetyo dan juga salah seorang notaris. Di hadapan mereka terdapat beberapa sertifikat beberapa aset milik Awan.


"Nah, sudah beres. Mulai sekarang, semua aset tanah, rumah, dan kendaraan yang sebelumnya atas nama pak Awan, kini sudah sah menjadi milik Bu Cahya."


Kata yang diucapkan oleh Prasetyo seketika membuat hati Cahya terasa begitu lega. Setelah dua jam lebih berada di ruangan ini, akhirnya semua dapat selesai selesai sesuai dengan keinginannya. Senyum sumringah tiada henti terbit di bibir Cahya yang menandakan jika saat ini wanita itu merasa puas akan rencana yang berjalan sempurna.


"Terima kasih banyak pak Pras. Maaf jika ini semua serba mendadak."


"Tidak masalah Bu. Apakah ada lagi yang bisa saya bantu?"


Cahya nampak berpikir sejenak. Sejatinya ia memiliki beberapa pertanyaan yang berseliweran di dalam kepala dan juga hati.


"Pak, apakah kasus perselingkuhan itu bisa dipidanakan?"


Prasetyo sedikit terhenyak mendengar pertanyaan dari clientnya ini. "Bu, mengapa tiba-tiba Anda menanyakan akan hal itu? Apakah ini semua ada hubungannya dengan pak Awan?"

__ADS_1


Cahya tergelak pelan untuk bisa menutupi perasaannya. "Ah tidak sama sekali Pak. Saya hanya ingin menambah wawasan saja."


Prasetyo membuang napas sedikit lega. Ia seakan teramat khawatir jika sampai terjadi hal yang serius di rumah tangga clientnya ini.


"Bu Cahya ini bikin saya syok saja." Prasetyo sejenak menjeda ucapannya dan kemudian ia lanjutkan kembali. "Perselingkuhan suami atau istri bisa dipidanakan. Ini semua merujuk pada pasal 284 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana selama sembilan bulan."


"Lantas bagaimana dengan barang-barang yang didapatkan oleh seorang wanita selingkuhan dari suami orang, Pak? Apakah barang-barang itu berhak untuk menjadi miliknya?"


"Barang seperti apa itu contohnya Bu?"


"Misalnya rumah, tanah dan mobil."


"Sesuai dengan Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung Nomor 701 K/ PDT/ 1997 dijelaskan bahwa jual-beli tanah, yang merupakan bentuk perbuatan hukum terhadap harta bersama yang dilakukan tanpa persetujuan istri, tidak sah dan batal demi hukum."


"Jadi, apakah itu artinya istri sah bisa menggugat, Pak?"


"Bisa saja Bu. Karena istri sah juga memiliki hak atas harta bersama yang ia miliki setelah menikah dengan suaminya. Sehingga jika seorang suami diam-diam membelikan sesuatu untuk selingkuhan tanpa sepengetahuan istri sah, itu semua bisa diibaratkan seseorang yang diam-diam melakukan tindakan pencurian."


Cahya mengangguk-anggukan kepala. Ia semakin paham akan apa yang harus ia lakukan. "Baiklah Pak Pras, terima kasih untuk penjelasannya. Sekarang saya jauh lebih paham tentang hal ini."


"Sama-sama Bu, dengan senang hati saya akan menjawab semua pertanyaan Bu Cahya."


"Karena semua sudah selesai, saya pamit pulang terlebih dahulu Pak. Terima kasih banyak atas waktunya."


Cahya beranjak dari posisi duduknya diikuti oleh Prasetyo yang juga ikut bangkit dari posisinya. Wanita itu merapikan sedikit pakaiannya untuk bersegera keluar dari dalam ruangan ini.


"Sama-sama Bu Cahya. Hati-hati di jalan."


"Saya permisi, Pak!"


"Silakan Bu!"


Cahya keluar dari ruangan Prasetyo dengan wajah yang berbinar terang. Senyum penuh kebahagiaan juga tiada henti tersungging di bibir wanita dengan maxi dress motif floral berbahan sifon itu. Kali ini hatinya sedikit lebih ringan dari sebelumnya.


Cahya berdiri di depan kantor Prasetyo. Wanita itu fokus dengan gawai di tangan, bermaksud untuk memesan taksi online. Namun baru saja ia membuka aplikasi, tiba-tiba berhenti sebuah mobil warna hitam di hadapannya.


Cahya mendongakkan wajah. Terlihat seorang lelaki bertubuh tinggi tegap dan berpakaian formal keluar dari dalam mobil.


"Mas Langit!"


.


.


.

__ADS_1


Sumber berita : Hukumonline.com (30 Desember 3021)


__ADS_2