
"Nah Han kenalkan, ini adalah Mentari, yang aku ceritakan kepadamu dan juga yang merupakan teman masa SMA ku dulu."
Di restoran milik Awan di mana dua hari akan opening, Awan mengajak sang istri untuk bertemu dengan Mentari. Seperti janjinya, Awan akan memberi kesempatan kepada Mega untuk menilai sosok Mentari yang nantinya akan menjadi manajer pemasaran. Tiga orang itu duduk di sebuah kursi yang telah tersedia di sana.
"Hallo Mbak, namaku Mentari. Seperti yang pak Awan katakan, dulu aku merupakan teman sekolahnya."
Mentari mengulurkan tangan untuk menyalami Mega. Sembari tersenyum ramah, wanita itu mencoba untuk bersikap sopan di hadapan calon bos nya ini.
"Iya, aku sudah tahu. Sejak beberapa waktu yang lalu Mas Awan sudah banyak bercerita tentangmu. Kamu tidak perlu memperkenalkan diri," jawab Mega dengan ketus.
Mentari harus menelan kekecewaannya kala uluran tangannya ditolak oleh Mega. Meskipun sedikit kesal, namun wanita itu tetap berupaya untuk memberikan senyum terbaik yang ia miliki. Ia harus pandai-pandai menahan diri untuk memberikan kesan yang baik di hadapan Awan maupun Mega.
Awan yang melihat sikap ketus sang istri hanya bisa mengernyitkan dahi. Ia sungguh tudak menyangka jika istrinya akan berperilaku tidak sopan di hadapan orang lain seperti ini.
"Han, jangan seperti itu. Mentari ini nantinya akan membantu kesuksesan resto milik kita. Mengapa kamu bersikap tidak sopan seperti ini? Ayo salaman!"
Mega hanya menanggapi ketus permintaan Awan. Bibir wanita itu mencebik seraya ia silangkan lengan tangannya di depan dada.
"Sudah pak Awan, tidak apa-apa. Mungkin suasana hati mbak Mega ini sedang buruk. Saya memaklumi kok. Karena bawaan bayi itu terkadang memang seperti itu."
Mentari berujar dengan bijak. Apa yang ia tampakkan sungguh berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam hati. Karena sesungguhnya, di hati wanita itu menahan rasa gemas dan kesal sendiri.
"Aku tidak mau janji-janji manis. Yang aku mau adalah bukti. Buktikan bahwa keberadaanmu memang bermanfaat untuk resto milikku."
Jika sebelumnya Mega tidak mau wanita bernama Mentari ini menjadi bagian dari resto miliknya, namun entah mengapa tiba-tiba ia berubah pikiran. Mungkin setelah ditegur oleh Awan yang membuat wanita itu merasa sedikit bersalah sehingga ia tutupi rasa bersalahnya itu dengan mengizinkan Mentari untuk bergabung.
Mentari yang mendengar tantangan dari Mega tersenyum lebar. Sebagai seorang mantan manajer pemasaran di salah satu perusahaan ternama, ia merasa tertantang untuk menerima tantangan Mega.
"Akan saya buktikan Mbak. Jika dalam dua bulan pertama omset resto tidak meningkat, maka saya bersedia mengundurkan diri."
"Baiklah, akan aku tunggu pembuktian darimu." Mega beranjak dari posisi duduknya. Wanita itu seperti bersiap-siap ingin kembali pulang. "Ayo Mas kita pulang!"
__ADS_1
"Loh, kok pulang Han?" tanya Awan sedikit terhenyak. "Lusa resto sudah opening, jadi kita harus stay di sini untuk memastikan semua akan berjalan sempurna."
"Tapi aku capek Mas. Aku masih ngantuk juga. Mau melanjutkan tidurku!" cicit Mega sembari menguap. Yang menandakan bahwa ia masih ngantuk berat.
Awan nampak berpikir sejenak. Di saat-saat seperti ini tidaklah mungkin jika ia tidak stay di sini. Karena siapapun pasti paham, menjelang opening seperti ini akan ada banyak hal yang dipersiapkan.
"Kamu pulang naik taksi online dulu ya Han," ucap Awan memberikan usulan.
"Apa? Pulang naik taksi online?" seru Mega yang terkejut. "Aku punya mobil, kenapa harus naik taksi online Mas?"
"Han, ada banyak hal yang harus aku persiapkan. Tidak mungkin kan kalau aku tidak membawa mobil untuk kesana kemari? Masa iya pemilik resto tidak membawa mobil? Gengsi Han!"
Mendengar alasan yang dikemukakan oleh Awan membuat Mega sedikit berpikir. Ada benarnya juga yang dikatakan oleh sang suami. Akan memalukan jika sampai pemilik resto brand ternama tidak memakai mobil untuk transportasi.
"Baiklah, aku akan pulang naik taksi online Mas. Tapi Mentari juga harus pulang. Ngapain juga dia berlama-lama ada di sini?"
"Astaga Honey.... Kamu ini kenapa sih?" ucap Awan lirih sembari mengelus dada. Ia sungguh heran akan perubahan mood istrinya ini. "Mentari harus tetap ada di sini untuk mengatur strategi agar resto kita viral sejak awal opening. Dan itu juga harus sesuai persetujuan dariku."
"Itu artinya dia ada di sini sama kamu Mas?"
Mega membuang napas kasar. Ternyata tuntutan dari dirinya sendirilah yang membuat wanita bernama Mentari ini tetap stay di sini.
"Ya sudahlah, terserah kamu saja Mas. Tapi awas, jangan macam-macam!" pesan Mega dengan tegas.
Awan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mega yang sungguh berbeda di hari ini. Ada saja kelakuannya yang membuat Awan mengelus dada untuk lebih bersabar.
Mega keluar dari area resto untuk menunggu taksi online yang di pesannya. Awan pun tidak lupa untuk mengantarkan sang istri sampai di depan. Tak selang lama taksi yang dipesan tiba di tempat ini.
"Hati-hati ya Han. Ingat langsung istirahat kalau sudah sampai di rumah," pesan Awan seraya membukakan pintu mobil untuk Mega.
"Ingat ya Mas, jangan macam-macam. Kalau sampai kamu macam-macam, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan," ancam Mega.
"Ya ampun Honey ...," ucap Awan sembari merapikan anak-anak rambut sang istri yang sedikit berantakan. "Masa iya kamu masih ragu akan cinta yang aku miliki untukmu? Aku tidak mungkin mendua, Sayang. Karena di hati dan juga pikiranku hanya ada kamu seorang."
__ADS_1
Mega tersenyum tipis. Setidaknya, mendengar Awan mengatakan hal ini sudah cukup membuat hati juga pikirannya lebih tenang. Ia pun juga semakin yakin jika susuk pemikat yang ia gunakan yang akan tetap menjerat Awan ke dalam pesonanya.
"Benar ya Mas, awas kalau bohong." Mega membenahi posisi duduknya dan bersiap-siap menutup pintu mobil. "Kalau begitu aku pulang dulu Mas. Kamu pulangnya jangan malam-malam. Ada aku dan calon anakmu yang menunggumu di rumah."
"Iya Han, iya. Sudah, kamu hati-hati."
Awan menutup pintu mobil yang dinaiki oleh sang istri. Taksi online ini bergerak dan perlahan mulai hilang dari penglihatan Awan. Lelaki itu kemudian kembali menemui Mentari yang masih menunggu di tempatnya terduduk.
"Maafkan atas sikap istriku ya Tar. Aku juga tidak paham mengapa sikapnya begitu aneh. Padahal biasanya tidak begitu," ucap Awan sedikit tidak enak hati. Ia daratkan bokongnya di kursi yang ada di hadapan Mentari.
"Tidak apa-apa Wan, santai saja. Biasa, orang hamil itu mood nya suka berubah-ubah," jawab Tari dengan santai. "Oh iya, ngomong-omong istrimu itu kehamilan anak keberapa Wan?"
"Untuk istriku yang ini merupakan kehamilan anak pertama, Tar."
Tari terkesiap. "Untuk istrimu yang ini? Memang istrimu ada berapa Wan?"
Awan terdiam sejenak. Sejatinya ia merasa tidak nyaman jika menceritakan kehidupan rumah tangganya. Namun ia rasa tidak ada salahnya menceritakan kepada Tari.
"Sebenarnya sebelum bersama Mega aku sudah menikah, Tar. Dari istriku yang pertama aku sudah dikaruniai dua orang putri. Lalu kami bercerai dan sekarang aku menikahi Mega."
"Oh seperti itu. Kalau boleh tahu, mengapa sampai bercerai Wan?"
Awan tersenyum tipis. Untuk perkara ini, ia rasa tidak perlu diceritakan kepada orang lain. "Kalau untuk hal itu maaf karena aku tidak bisa menceritakannya Tar. Biarlah itu semua menjadi rahasia."
"Oh iya Wan, tidak apa-apa. Aku yang justru minta maaf karena begitu ingin tahu."
Keduanya larut dalam keheningan masing-masing. Sedangkan Tari sesekali melirik ke arah Awan yang saat ini tengah fokus pada ponsel di tangannya. Wanita itu tersenyum tipis, yang entah apa maksudnya.
Sepertinya ada yang tidak beres di dalam pernikahan Awan dan Mega. Mungkin dulunya Mega merupakan selingkuhan Awan sehingga membuat pernikahan pertama Awan kandas. Wah, wah, sepertinya akan sangat menantang nih berhadapan dengan pelakor.
.
.
__ADS_1
.